My Favorite You

My Favorite You
Khawatir katanya sayang


__ADS_3

Citra mengusap peluh di keningnya. Tangan kanannya memegang botol minuman sedangkan tangan kirinya memegang buku biologi. Siang ini ia tak langsung pulang ke rumah setelah sekolah bubar. Siswi berambut panjang hitam legam itu memutuskan untuk berjalan-jalan di taman kota untuk melepas penat di kepala dan hatinya ditemani buku biologi. Membaca cukup ampuh menjadi arena healingnya tidak peduli buku biologi atau buku sejarah sekalipun yang pasti ia butuh pengalihan dari sosok baru yang mengusik pikirannya.


Gluk gluk gluk.


"Aaaaaah segeeer." Citra mendesah lega setelah membasahi tenggorokannya dengan minuman rasa jeruk di tangannya. "Jajan apa lagi ya?" ia memperhatikan semua gerobak di sekitarnya, hampir semua sudah di cobanya, uang daruratnya bahkan sudah diambil selembar. Langkahnya bergerak menuju gerobak popcorn. Sejak tadi letupan-letupan jagung menggodanya untuk dibeli.


"Satu ya, Pak." Ujarnya setelah pembeli di depannya mendapatkan miliknya.


"Mau rasa apa, Dek?"


"Ori."


"Siap. Tunggu sebentar ya Dek."


Citra mengangguk. Ia berbalik namun langsung dibuat kaget oleh seorang siswa yang mengenakan seragam celana abu-abu dan baju hitam.


"Citra kan?"


Citra mengerutkan kening, "Maaf.Siapa ya?"


Siswa itu tersenyum sambil mengulurkan tangan, "Kenalan lagi aja. Ahmad. Yang pernah bertemu di ruang tes." ujarnya terlampau ramah.


"Ooh, iya. Sorry." Citra menyambut tangan itu, "Maaf ya. Ingatan saya memang tidak bisa diandalkan." ujarnya tak enak pada Ahmad.


"Santai." Ahmad tersenyum cerah, "Sekolah di sekitar sini?"


Citra menggeleng.


"Jauh juga ya mainnya."


"Cari suasana baru. Kamu di sekitar sini sekolahnya?"


Ahmad mengangguk, "Iya, di sebrang jalan sana." Terangnya sambil menunjuk arah jalan berbelok.


"Oh."


"Sendiri saja kan? Saya temani boleh?" Izin Ahmad penuh harap.


Citra yang sebenarnya sedang ingin sendiri tak enak jika menolak karena Ahmad sudah cukup ramah menegurnya terlebih dulu sementara dirinya melupakan laki-laki ini.


"Boleh. Mau pesan juga?" Tanyanya menawarkan popcorn pada Ahmad.


"Boleh deh." Ahmad mendekat pada bapak penjual, "Seperti biasa ya, Pak."


"Oke, Boss."


Citra mengernyit melihat interaksi keduanya. "Sudah sering kesini?" tanyanya penasaran.

__ADS_1


"Iya. Rumah juga dekat sini. Mau main ke rumah?"


Citra menggeleng. Terlalu tidak biasa menerima keramahan orang baru. "Lain kali aja."


"Oke, lain kali ya." Ujar Ahmad terdengar seperti sebuah janji.


Citra meringis, "Iya."


Tak lama keduanya akhirnya mendapatkan pesanan masing-masing. Ahmad memimpin jalan menuju salah satu bangku taman yang terbuat dari bambu.


"Dengar-dengar kamis besok pengumuman lomba dilakukan." Kata Ahmad membuka obrolan. Tempat duduk mereka tepat dibawah pohon membelakangi jalan raya.


"Oh ya? Bagus deh supaya hasilnya ketahuan." Ujar Citra sembari menikmati tiap butir popcorn masuk dalam tenggorokannya.


"Kamu optimis nggak dengan hasil pekerjaanmu?" Tanya Ahmad memperhatikan Citra dari samping.


Citra mengedikkan bahu, "Biasa aja sih." Lagipula tes TIK itu bukan keinginannya tapi kalau menang sudah pasti akan menjadi kehebohan baru di sekolah. Tim yang tidak diunggulkan ternyata tembus sebagai pemenang tentu saja akan menjadi plot twist yang akan sangat mengguncang sekolah.


"Tapi kelihatan kamu jago main komputer-- Eh maaf ini---"


"Sudah cuci tangan belum?"


Tangan Ahmad tertahan ke udara saat seseorang menyela nya yang hendak mengambil popcorn yang tersesat di ujung bibir Citra.


"Loh, Pak? Bapak kok disini?" Citra langsung berdiri melihat Pak Arif yang muncul tiba-tiba di belakang mereka.


"Maaf, bapak siapa ya? Kok Datang-datang langsung ngatur?" Ahmad yang tak senang di ganggu ikut berdiri.


"Bukan urusan kamu." ujarnya pada Ahmad. "Ayo pulang." Pak Arif menarik tas Citra untuk ikut dengannya.


Citra yang kebingungan tak bisa berkata-kata saking sulitnya memahami keadaan yang sedang terjadi sekarang. Ia bahkan tidak berpamitan pada Ahmad yang tak bisa berbuat banyak melihatnya diam saja dibawa oleh Pak Arif. Langkah Citra mengikuti langkah kaki Pak Arif membawanya menuju parkiran motor.


"Naik!" Titah Pak Arif setelah memakaikan helm dikepalanya.


Citra menahan dirinya, "Bentar deh Pak. Ini kenapa saya harus pulang ya? Saya udah izin sama Papi dan Mama. Popcorn saya juga belum habis." katanya menunjukkan popcorn nya yang bahkan baru beberapa biji dimakan.


"Sini, saya yang bawa." Pak Arif mengambil popcorn itu. Wajahnya tampak kelelahan, seragam hitam khaki nya bahkan tidak serapi saat di sekolah tadi.


"Bapak belum pulang ke rumah ya?" Tanya Citra melihat penampilan gurunya itu.


"Gara-gara kamu." Ujarnya. Tangannya melambai memanggil Bapak-bapak tukang ojek yang tadi membawa Citra ke taman itu. "Bawa motornya pelan-pelan, Pak."


"Siap, Pak guru." Bapak Ojek itu naik diatas motornya, "pegangan, Mbak." katanya pada Citra.


Citra yang belum mendapatkan jawaban tak ingin memperpanjang urusan apalagi melihat wajah tak ramah Pak Arif. Ia naik dan duduk dengan tangan berpegangan di besi belakang motor.


"Jalan, Pak." Ujar Pak Arif menepuk bahu bapak ojek itu yang menjalankan motornya meninggalkan taman. Pak Arif kemudian menyusul mengikuti dari belakang.

__ADS_1


Sepanjang jalan Citra tak berani menoleh kebelakang. Mereka sekarang tampak seperti iring-iringan pengantin. Bukannya membonceng nya, Pak Arif malah menyuruh ojek untuk membawanya pulang. Benar-benar sulit dipahami jalan pikiran bapak gurunya itu.


"Pak gurunya baik ya Mbak?!"


"Baik gimana, Pak?" Citra tidak melihat kebaikan dari aksi Pak Arif tadi. Yang ada ia malah dibikin kesal.


"Iya, Mbak. Beliau mau susah-susah cari siswanya. Untung tadi saya tanyain kalau nggak pasti sudah diputarin satu kota untuk cari mbaknya." jawab Bapak Ojek.


"Seriusan, Pak?" Bukannya tersanjung, Citra malah takut. Mode angry nya Pak Arif benar-benar hal yang sangat dihindari oleh Citra. Bukan saja membersihkan mushola atau toilet satu sekolah, tapi bisa lebih dari itu. Benerin genteng misalnya atau mengecet pagar. Haduh.


"Iya, Mbak, benar."


Citra meringis. Sekarang sudah hampir pukul empat sore berarti Pak Arif sudah mencarinya selama tiga jam? Makan siangnya bagaimana?


Tak lama motor berhenti di depan rumahnya. Citra mengembalikan helm dan membayar ojeknya namun Pak Arif langsung menyodorkan uang sambil mengucapkan Terima kasih pada bapak ojek itu. Citra berharap ada seseorang diantara mereka sekarang karena berdua Pak Arif dalam mode muram nya ini benar-benar membuat menggigil.


"Masuk." Perintahnya.


Citra mengangguk namun baru saja hendak masuk melewati gerbang, Pak Arif kembali bersuara.


"Lain kali kalau mau keluyuran kasi tau saya."


"Kenapa, Pak?"


"Kenapa apanya? "


Citra menatap Pak Arif serius, "Kenapa saya harus ngasi tau bapak kalau mau keluyuran?"


"Saya khawatir."


"Papi dan Mama biasa saja. Yang penting saya izin, jelas kemananya." Ujar Citra masih belum menangkap maksud Pak Arif.


"Papi dan Mama kamu pasti khawatir kan makanya itu kamu izin sama mereka?"


Citra mengangguk.


"Itu karena mereka sayang sama kamu kan? Takut kamu kenapa-kenapa."


Citra mengangguk lagi.


"Selain Papi dan Mama kamu, Sekarang ada saya juga yang khawatir sama kamu. Jadi tolong kabari saya juga." Pak Arif mengusap peluh di keningnya. Helem yang masih bertengger dikepalanya di lepasnya namun tatapannya masih tertuju penuh pada Citra.


"Kenapa bapak khawatir?" Tanya Citra pelan. ia deg degan menanyakan hal ini tapi penasaran.


Pak Arif menarik nafas dalam lalu menghembuskannya, "Karena saya sayang sama kamu, Citra Jenaya."


Citra membeku.

__ADS_1


***


__ADS_2