
Mandi sudah, makan siang sudah, Sholat sudah, rebahan sudah, sekarang waktunya update status. Citra mengambil HP diatas meja TV dimana Pak Arif tengah menonton sendirian. Alul yang tidak mau menyia-nyiakan hari minggu yang penuh berkah ini ditemani tukang kebun keluarga Pak Arif untuk jalan-jalan di area perkebunan menggunakan sepeda gunung. Pak Arif seyogyanya menemani tidak bisa pergi karena Citra sedang malas untuk keluar Vila.
"Yah, lobet." Citra menatap lesuh layar hpnya yang gelap. "Bapak bawa chargeran? "
"Ada. Di tas." Jawabnya tanpa mengalihkan perhatiannya dari layar kaca yang sedang menampilkan laga tinju bebas favoritnya, "Ambil sendiri." Katanya saat Citra kebingungan karena Pak Arif tak juga berdiri untuk mengambilkan nya.
"Nggak apa-apa, Pak? Nggak takut saya ambil barang penting atau apa gitu?" Tanya Citra menguji. Biar bagaimana pun dia ini hanyalah orang lain, siapa tau saja punya penyakit suka mengutip barang orang.
Pak Arif menoleh dengan wajah datar, "Kamu bisa memiliki semuanya kalau mau." katanya enteng lalu kembali fokus ke layar datar super lebar itu.
"Beneran, Pak?" Tanya Citra tak benar-benar bermaksud melakukannya tapi di tantang seperti itu dia ingin membuktikannya.
"Benar, asal kamu mau saya nikahi, semua milikku akan jadi milikmu." Katanya masih dengan mode enteng bin annoying nya.
"Nggak deh, makasih. Saya mau sekolah dulu." Katanya lalu pergi mengambil charger di tas Pak Arif.
Pak Arif menoleh ke belakang lalu menggumam pada dirinya sendiri, "Memangnya sejak kapan syarat menikah harus putus sekolah?!"
Di bilik kamar, Citra membongkar tas bawaan gurunya. Memang tidak ada barang mewah tapi ada wangi Pak Arif dalam tas, ada dompetnya juga.
"Lancang nggak yah? Penasaran pengen liat uangnya hehehe." Citra mengintip keluar, saat akan membuka dompet tersebut malaikat kebaikan berbisik di telinganya, "Jangan lancang cit, tidak baik, punya orang." ujarnya mengingatkan diri sendiri. Akhirnya sesuai niat awal ia hanya mengambil charger milik gurunya tersebut lalu kembali ke ruang TV.
Citra duduk bersila di dekat colokan, mengaktifkan hpnya untuk berselancar di medsos yang akhir-akhir ini mulai di geluti nya.
"Jangan di lantai, dingin." Tegur Pak Arif. Namun Citra yang sedang asik sendiri tidak menghiraukan.
Pak Arif lantas beranjak dari kursi lalu mengambil karpet dan menggelar nya dekat kaki Citra, "Berdiri dulu, duduk di karpet." katanya lagi.
Tanpa mengalihkan perhatiannya dari layar hpnya, Citra berdiri dan membiarkan Pak Arif mengatur tempat duduk yang nyaman untuk nya. "Terima kasih."
"Sama-sama. Jangan main HP sambil di charger!"
"Gabut, Pak. Bapak nontonnya yang tonjok-tonjokan gitu. Mau keluar, panaaaas. Maleees." Ujarnya sembari menyandarkan punggungnya di dinding.
Pak Arif menghela nafas. Laki-laki dewasa itu mengambil hpnya diatas meja dan di serahkan pada Citra, "Pake punya saya."
Citra mendongak, di depan mukanya ada hp pak gurunya, yang diserah kan dengan suka rela padanya, "Saya nonton youtube loh, Pak. Habis kuota bapak ntar."
"Beli lagi, uang saya banyak, ibu dan ayah saya orang baik tidak akan melarang."
Kok terdengar seperti promosi diri ya, Pak?
Citra tampak kebingungan, terus terang saja dia sangat tertarik mengambil HP itu sekalian ingin mengecek apa saja di dalamnya siapa tau saja ketemu asrama ukhti.
__ADS_1
"Mau atau---"
"MAUUUU!!!" Citra langsung merebut HP itu. Kesempatan tidak akan datang untuk kedua kalinya. Kapan lagi sidak dadakan hp guru, biasanya para siswa yang kena sidak sekarang gantian, "Passwordnya, Pak."
"Suka-suka kamu."
"Lah, kok suka-suka saya, Pak? Nggak kebuka lah."
"Pasword nya ya itu, suka-suka kamu."
Citra mulai jengkel, "Yaudah deh kalau nggak ikhlas, nggak usah ngasih." ia meletakkan hp tersebut diatas karpet sedangkan Dia melipat tangan dengan kesal.
Pak Arif menarik nafas pendek, ia mendekat pada siswinya itu mengambil hp lalu berjongkok di depannya sembari menunjukkan layar mengetikkan kata suka-suka kamu dan--- Terbuka. "Gitu, Mbak Jen." ujarnya gemas campur geli.
Citra yang merasa bodoh memasang muka tebal, "Ngasi pasword tuh yang jelas, Pak. Jangan bikin salah paham. " katanya mengambil hp tersebut lalu mulai berselencar.
"Ya sudah, ganti saja yang baru." Pak Arif beranjak dari dekat Citra lalu kembali ke tempat duduknya.
"Gantinya apa, Pak?"
"Mbak Jen nya Mas Arif."
Citra melongok, ada ya bapak-bapak muka kaku tapi bikin ketar ketir seperti ini. Duh, duh, Paaaak, bahaya, Paaaak. Anak gadis orang ini.
***
Terganggu dengan suara notifikasi yang tidak juga berhenti, ia mengambil hp milik Pak Arif tersebut lalu mensiletkannya. Bukan hanya dari hp Pak Arif, hpnya yang di cash pun sangat ribut dengan nada yang sama. Penasaran, Citra mengambil hpnya lalu melihat notifikasi tersebut dan banyaknya pesan yang masuk adalah spam dari teman-temannya. Citra lantas membuka satu pesan dari Abu dan betapa terkejutnya dia membaca pesan singkat disertai hasil screenshot sebuah feed instagram dimana ada foto dirinya memegang ikan dengan caption #mancingmania
Abu Gosok🤡
Mantuuuul, sekalinya Debut langsung di HP Pak Arif Sayang 🙌🙌🙌
Citra menutup mulut syok.
Lisna
Kami butuh penjelasan. 😤
Sari.
Cit, ini beneran? 🙀
Agus.
__ADS_1
Wuiiiiih go public. Keren keren, Mbak 👏👏👏
Dan masih banyak lagi chat dari teman-temannya yang tak kalah syok dengan dirinya.
Citra lunglai terbaring diatas karpet dengan tatapan kosong. Seingatnya ia mengupload foto di IG nya sendiri tapi kenapa ini-- YaTuhaaaaan. Ia buru-buru bangun lalu mengambil hp Pak Arif, hal pertama yang dibuka adalah IG dan ia hanya bisa menutup mulut kala melihat akun tersebut adalah milik Pak Arif. Banyak komentar masuk dalam kebanyakan menanyakan siapa gerangan dirinya yang mengisi feed dari seorang Arif Rahman. Tak ketinggalan Bu Wardah yang juga mengomentari alasan keberadaan dirinya disana.
Citra melempar jauh-jauh hp tersebut, tak sanggup lagi membaca komentar lain.
"Jadi aku tadi ngaplod di akunnya Pak Arif?" Ia menatap dinding dengan tatapan kosong lalu menatap kedua tangannya ngeri, "MAMAAAAAAAAA!!!"
Teriakan itu memancing langkah cepat dua orang laki-laki beda generasi menghampiri nya.
"Mbak, Mbak jen kenapa?" Alul mengguncang tangan kakaknya, panik melihat keadaanya yang kacau. "Mbak, Jen? Mbak jen nggak kesurupan kan? " Matanya bahkan berkaca-kaca.
"Jenaya?" Pak Arif memanggil nama Citra lembut, namun tak seperti Alul, ia sama sekali tak menyentuh gadis itu.
Citra berhenti berteriak, ia menatap dua orangnya itu satu persatu. Tatapannya lama berakhir pada Pak Arif.
"Ada apa?" Tanya Pak Arif khawatir melihat wajah panik dan syok siswinya tersebut.
"Bacain doa, Mas. Mbak Jen nanti kenapa-napa." Alul mengguncang lengan Pak Arif. Satu tangannya menggenggam tangan Citra erat.
"Tenang, Lul. Mbakmu tidak apa-apa." Ujar Pak Arif menenangkan bocah SD itu. Dia kemudian berdiri mengambil air minum lalu menyerahkannya pada Citra yang belum juga membuka mulut. Gadis itu masih menatap padanya dengan tatapan kosong. "Minum dulu." Citra tidak menolak. Bahkan menghabiskan satu gelas air minum tersebut.
"Sudah tenang?" Tanya Pak Arif.
Citra mengangguk, lalu anggukan itu berubah menjadi wajah yang siap menangis, "Paaaaaaak--"
"Iya, ada apa?"
"Aku udah buat kesalahan besar, Pak--hiks." Akhirnya ia menangis juga.
Pak Arif yang tak tega menoleh pada Alul yang juga ikut-ikutan berkaca-kaca.
"Maafin saya, Paaaak. Dosa saya besar."
Pak Arif tidak begitu senang mendengar kata aku yang di pakai Citra kini berganti dengan kata saya. Padahal seharian ini dia sudah senang karena Citra tidak lagi formal padanya. Tanpa sadar siswi kesukaannya itu ber-aku kamu dengannya. Tapi sekarang---
"Mbak Jen ngelakuin apa emangnya?"
Citra menyusut air matanya dengan punggung tangan. Kemudian dia mengambil hp dan menunjukkan layaranya pada Pak Arif, "Saya upload foto di akun bapak--HUAAAAAAAA"
***
__ADS_1