
Jika begini terus sepertinya Citra tidak perlu lagi ragu untuk merealisasikan keinginannya untuk migrasi ke planet lain. Gedoran keras di pintunya belum juga berhenti sejak sepuluh menit yang lalu, siapa lagi pelakunya kalau bukan adik semata wayangnya kesayangan Pak Arif, Alul Ekadanta. Padahal ini hari minggu. Harinya orang-orang seperti dirinya yang harus bangun setiap pagi karena harus ke sekolah bisa lebih panjang menghabiskan waktu diatas kasur bergulung di dalam selimut. Tapi akhir-akhir ini memang ketenangan jauh dari jangkauan hidupnya.
"MBAK JENAAAAAA!!!"
Citra menarik bantal lalu menutup kepalanya mengabaikan panggilan Alul. Semenit saja, semenit lagi deh, dia akan keluar tapi tidak sekarang. Kasurnya terlalu empuk untuk ditinggalkan.
"MBAK JEEEEEEEN!!!"
"ARGGHHHHH!!!" Citra terduduk dengan wajah kesal menatap pintu kamarnya, "Tuhaaaaan, pindahkan aku sejenak ke bulaaaan." rengeknya ngereog diatas kasur.
"MBAK JENAYAAAAA!!!" Teriakan itu belum juga menyerah.
"MBAK JE---"
"APA?" Citra membuka pintu kesal. Di depannya Alul menyengir tanpa rasa bersalah. Anak SD itu sudah rapi padahal masih terlalu pagi untuk beraktifitas di hari minggu. "Ada apa? Mbak masih mau tidur, ngantuk." Citra kembali ke kasurnya membiarkan pintu kamar terbuka.
"Mbak lupa ya, hari ini kan kita mau liburan ke kebunnya Mas Arif." Alul duduk di kasur menunggui mood sang kakak membaik.
Citra yang kembali memejamkan matanya menggumam tidak jelas.
"Ayolah, Mbak. Pak Arif udah nungguin tuh." Bujuk Alul menarik selimut kakaknya namun di tarik lagi yang empunya.
"Malas, Dek. Lain kali aja deh, kebunnya nggak bakal kemana-mana ini." Ujar Citra dengan suara serak setengah sadar.
Alul mengerucutkan bibir. Sudah rapi begini masa harus batal jalan.
"Padahal Mas Arif udah menolak undangan temannya karena janji buat temenin kita. Kasian Mas Arif."
"Temannya siapa?" Seingat Citra gurunya itu tidak punya teman dekat di kota ini kecuali teman kantor dan teman futsal sekaligus mendaki dan disitu ada Abu yang menjadi mata-matanya jika ada jadwal mereka untuk keluar.
Alul mengedikkan bahu, "Nggak tau. Guru Mbak Jen juga, masa nggak kenal."
Sontak mata Citra terbuka. Jangan bilang itu Bu Wardah? Wah tidak bisa! Pak Arif tidak boleh bertemu wanita lain di luar sana apalagi di hari minggu.
"Kalau Mbak Jen males, nggak usah pergi aja deh. Alul mau bilang sama Mas Arif supaya ke acara temannya aja."
"EH-- NGGAK!" Cegat Citra cepat, kesenangan dong Bu Wardah kalau Pak Arif ke tempatnya, PD nya bisa makin menjadi. "Aku ikut Tungguin di luar, bilangin Pak Arif kalau Mbak lagi siap-siap." bergegas turun dari kasur menyambar handuknya. Alul sampai bengong melihat semangat kakaknya yang langsung terisi penuh. Anak itu keluar dari kamar menemui Pak Arif.
__ADS_1
***
"Bapak bisa nyetir mobil?" Citra berdiri di jalan depan rumah Pak Arif. Lelaki itu masih mengangkut barang-barang yang mereka butuhkan di perkebunan nanti dan dimasukan kedalam mobil. Walaupun hanya sehari tapi banyak hal yang ia ingin lakukan disana bersama Citra dan Alul.
"Kamu baru tau?" Pak Arif membuka pintu depan di samping kursi pengemudi memberi jalan untuk Citra masuk dalam mobil. Alul sudah lebih duluan masuk di kursi belakang. Mobil yang mereka tumpangi adalah mobil jeep yang biasa di pakai para penjahat di dalam film-film zaman dulu.
"Saya mau lihat SIM bapak." Citra mengulurkan tangan di depan muka Pak Arif. Laki-laki itu mengambil dompet lalu mengeluarkan SIM dan memberikannya pada Citra. Gadis muda itu manggut-manggut.
"Kita bisa jalan sekarang?" Tanya Pak Arif mengambil kembali SIMnya dari tangan Citra.
Citra mengangguk, "Jangan ngebut ya, Pak. Saya masih mau hidup lama."
Pak Arif menghiraukan ucapan asal gadis kesukaannya itu. Ia melirik ke spion, "Pimpin doa, Lul."
Alul langsung mengangkat tangan memimpin doa, "Bismillahi Majrehaa walmursaha, Aamin."
"Aamin." Ujar Citra dan Pak Arif bersamaan.
"Pake seatbeltnya, Mbak Jen." Tegur Pak Arif. Di belakangnya Alul melakukan hal yang sama.
"Udah. Ayo, jalan." Ujarnya sudah siap untuk liburan bersama Pak Arif.
"Mengantuk?" Tanya Pak Arif melihat mata sayu Citra.
Citra mengangguk, "Pengen tidur tapi bapak nggak ada temannya menyetir. " katanya dengan mata hampir terpejam.
"Tidak apa-apa, saya sudah biasa menyetir sendiri sampai lokasi. Kamu tidak bawa jaket?"
"Lupa " Citra menyandarkan kepalanya di jendela menghadapkan muka kearah Pak Arif menatap wajah teduh itu dalam diam.
"Kenapa liatin saya?"
Citra mengerjap lalu memperbaiki duduknya kembali melihat kedepan, "Siapa yang ngeliatin. PD bangat."
Pak Arif menyunggingkan senyum tipis. "Jangan diliatin ya Mbak Jen, nanti saya tidak konsen menyetir." katanya membuat telinga Citra sontak memerah.
Gadis itu membuang pandangannya keluar jendela. Tak pernah terlintas sedikitpun di pikirannya bahwa ia akan duduk diatas mobil yang sama dengan Pak Arif, berdua, menuju satu tempat dengan tujuan untuk liburan. Benar kata Lisna, jarak antara benci dan suka itu hanya setipis daun bawang, persis kesabaran seorang Citra Jenaya yang super tipis.
__ADS_1
"Masih jauh ya Pak?" Citra mengalihkan topik pembicaraan. Ia kembali mencuri lirik Pak Arif setelah memenangkan sedikit degup jantungnya.
"Sekitar Empat puluh menitan lagi." Jawab Pak Arif. "Tidur saja." Melihat Citra yang diserang kantuk, Pak Arif melipir ke pinggir jalan. Dia meraih jaket yang disimpan di kursi belakang di samping Alul lalu menyelimuti Citra. Tak lupa ia menurunkan sandaran kursi agar Citra bisa tidur dengan nyaman.
"Makasih, Pak." Ujar Citra mengeratkan jaket Pak Arif di badannya. Wanginya sangat menenangkan, hangat seperti dipeluk. "Pak Arif dekat sama Bu Wardah ya?" tanya Citra saat mobil kembali melaju di jalan raya.
"Dekat seperti apa?"
"Ya dekeet, masa nggak ngerti sih." Citra menjawab kesal. Paling malas kalau Pak Arif mode pancing seperti ini. Ujung-ujungnya dia lagi pasti yang berakhir menyatakan perasaan pada laki-laki dewasa ini.
"Teman kerja saja, Mbak Jen." Katanya kalem.
"Tapi Bu Wardah suka sama bapak tuh."
"Tau dari mana?"
"Dengar langsung."
Pak Arif menoleh, menaikkan satu alisnya, "Kamu nguping guru sendiri?"
"Nggak sengaja. Siapa suruh ngobrol di tempat umum." Ujar Citra membela diri. "Jadi bener kan, Pak?" lanjutnya setelah beberapa menit keduanya terdiam.
Pak Arif mengedikkan bahu, "Yang saya tahu Citra Jenaya yang suka sama saya." jawabnya datar. Di sampingnya Citra mengerucutkan bibir sebal. Tuh, kan. Pasti dia lagi yang kena.
"Tau ah, bapak nyebelin." Citra menyamping memunggungi Pak Arif.
"Jangan khawatir, sampai saat ini dan insya Allah sampai nanti Mas Arif nya Mbak Jen ini hanya akan menyukai satu orang."
"Siapa?" Tanya Citra tanpa menoleh.
Bukannya menjawab, Pak Arif malah menarik kaca spion dan diarahkan pada Citra, "Liat sendiri."
Citra menoleh dan langsung melihat wajahnya sendiri. Pipinya langsung bersemu.
"Gimana Mbak Jen, cocok kan sama Mas Arif?"
Citra yang tak bisa lagi menahan kedutan dan hangat di wajahnya langsung meringkuk di kursinya seperti janin berusaha untuk tidak berteriak seperti gorila.
__ADS_1
AAAAAAAAAAA!!!!!
***