
Jalan bersama Pak Arif jangan berpikir kelima remaja itu akan bersikap lebih kalem dari biasanya. Yang semula berpikir bahwa hari ini akan sangat membosankan dengan adanya Pak Arif, malah yang terjadi sebaliknya. Keberadaan Pak Arif menjadi anugrah terbesar bagi kelima remaja itu sebab guru mereka bukan hanya mengajak makan di restoran bintang lima, tapi juga diajak jalan-jalan di pantai yang cukup terkenal di daerah tersebut.
"Cit, berasa dijajanin om-om nggak sih?" Bisik Sari yang tengah membantu Citra membersihkan ikan. Dari kejauhan Pak Arif terlihat santai di dipan-dipan, membiarkan mereka mengurus ikan yang mereka beli di pelelangan untuk di bakar sambil melihat gulungan ombak.
"Biasa aja sih. Pak Arif emang seroyal itu kok." Bela Citra. Karena kebaikan Pak Arif bukan lagi hal baru dalam hidupnya. Teman-temannya mungkin baru merasakannya tapi tidak untuk keluarga mereka apalagi Alul dan masyarakat kompleks.
"Emang baik gitu ya? Perasaan di sekolah galak." Ujar Sari lagi. Masih berbisik di samping telinga Citra.
Citra mengernyit, "Bukannya guru kesayangan kalian ya? Kalau saya sih jelas sering dapat ketidakadilan dari beliau." kata Citra mengingat saat-saat dulu ia menjadi sasaran Pak Arif setiap dia membuat masalah.
"Ya emang sih, tapi tetap aja kan tegas gitu orangnya. Kalau di sekolah sih wajar tapi kalau di rumah juga ketemunya yang kayak gitu lagi, kok saya ngeri ya." Ujar Sari bergidik.
Citra terkekeh, "Enggak kok. Baik bangat orangnya. Sabar. " Pujinya. Selama ia tidak melakukan kesalahan kayaknya hidup sama Pak Arif akan baik-baik saja, "Banyak uangnya juga." lanjut Citra menyengir yang langsung mendapat tatapan horor dari Sari.
"Matre ih."
"Nggak apa-apa. Pak Arif nggak akan masalah kalau saya matre. Udah suka dia." Ujar Citra jumawa.
"Yang banyak duitnya mah bebas." Timpal Abu yang datang sembari membawa kayu bakar di susul Lisna dan Agus. Citra menoleh hanya untuk memelet kearah Abu.
"Udah bersih belum?" Lisna melempar dua ranting kayu di dekat kakinya lalu duduk melantai diatas pasir. Agus menyusul melakukan hal yang sama.
"Bentar lagi. Ini baru mau nyiapin bumbunya." Citra mengambil rempah-rempah yang mereka beli di pasar lalu meracik bumbu yang akan di balur diatas ikan.
"Jago juga kamu masaknya." Ujar Agus melihat kelincahan Citra memegang pisau dan bumbu dapur. Terlihat sekali bahwa peralatan masak sudah tidak asing lagi untuk temannya itu.
"Gini doang sambil tutup mata juga bisa." Jawab Citra memutar bola mata malas. Hal seperti ini sudah menjadi makanannya sehari-hari. Hidup tanpa ART tentu saja membentuk Citra menjadi anak perempuan yang bisa diandalkan untuk membantu ibunya di dapur.
"Udah siap jadi istri Pak Arif Dia. " Celetuk Lisna menggoda.
"Iya, udah pantes, Cit." Tambah Sari ikut-ikutan menggoda Citra.
"Ini keahlian dasar seorang wanita ya, jangan sok muji-muji deh." Ujar Citra menggelengkan kepala heran dengan kelakuan teman-temannya.
"Beruntung Pak Arif dapat kamu, Mbak Jen." Ujar Agus lagi menarik turunkan alisnya mengganggu Citra yang sudah kemerahan entah karena malu atau sinar matahari yang menyengat.
"Apaan sih." Citra menampik, "Mending bantuin. Bakar ikannya." Katanya menyerahkan piring yang diatasnya ada ikan mentah di balur bumbu.
***
Citra tidak pernah berpikir sejauh ini Pak Arif memperlakukannya dengan begitu spesial. Diantara teman-temannya gurunya itu menanyakan hal paling tidak pernah melintas dikepalanya.
__ADS_1
"Mau mahar apa Mbak?" Tanyanya saat mereka sedang duduk sambil bermain monopoli.
Citra yang sedang berpikir keras bagaimana mendapatkan Mall milik Abu langsung mendongak, "Apa, Pak?" tanyanya kurang paham. Keempat temannya juga saling melirik, menunggu kejelasan pertanyaan Pak Arif. Lelaki itu tidak bermain monopoli hanya menjadi penonton dan kadang memberi ide pada Citra untuk memenangkan permainan.
"Mau mahar apa dari saya?" Ulangannya, serius menatap gambar-gambar pada kertas monopoli.
Citra menggeleng, "Bapak nanya saya? Emangnya saya boleh milih?" tanyanya bingung. Ya maklum saja, anak SMA yang tidak pernah kenal cinta-cintaan yang tiba giliran langsung dilamar sudah pasti kosong isi kepalanya.
"Boleh. Mahar akan jadi milikmu, hakmu." Kata Pak Arif menatap sesaat siswinya itu. Tersenyum kecil melihat wajah bingungnya.
Citra menoleh pada teman-temannya yang bengong menonton, sama kosongnya dengan dirinya. Mungkin memang ia terlalu nihil ilmu soal urusan orang dewasa makanya kelihatan sekali begonya. Untung tidak sendiri. Temannya yang empat ini mana paham juga soal mahar sih.
"Minta mobil, Cit." Abu yang pertama bersuara. Setelah beberapa kali saling melirik. Terlebih pada Pak Arif yang tenang-tenang saja di tempat duduknya.
"Kebun sawit saja, prospeknya lebih mantap." Timpal Agus tidak mau kalah. Ia mengangguk yakin saat melihat wajah Pak Arif yang belum berubah panik. Kali aja kan Pak Arif cuma mau show off saja sama mereka padahal aslinya iseng belaka.
"Apartemen aja nggak sih? Biar ada rumah sendiri." Ujar Sari tak mau ketinggalan menyuarakan isi kepalanya. Pasti akan sangat seru bisa kumpul di rumah Citra tanpa harus sungkan sama kedua orangtuanya.
"Emas, Cit. Bisa di jual lagi." Lisna menjentikkan jari ke udara seolah idenya lah yang paling juara.
Citra mengerjap. Tambah bingung, Ini kenapa malah teman-temannya yang bersemangat.
"Iya. Mbak Jen bisa pilih apa saja." Kata Pak Arif serius.
Citra kembali melirik ke empat temannya lalu setelah berpikir sebentar ia bersuara, "Surah Al-Fatihah saja gimana, Pak?"
Bukan saja keempat temannya, Pak Arif pun ikut mengernyit mendengar permintaan Citra.
"Surah Al-Fatihah?" Tanyanya memastikan. Bukan apanya, setahu Pak Arif biasanya para pengantin minta Surah Ar-Rahman, tapi gadis di depannya ini lain sendiri. "Bukan Ar-Rahman?"
Citra menggeleng, "Terlalu panjang. Al Fatihah saja, Pak."
"Saya bisa Ar-Rahman." Kali aja Citra ragu pada kemampuan hafalannya. Biarpun bukan seorang hafidz tapi dirinya mempunyai cukup banyak hafalan Surah-surah pendek dalam Al Qur'an.
"Maunya Al-Fatihah saja, Pak." Kata Citra menolak saran Pak Arif.
"Tapi---"
"Kata bapak saya boleh memilih. Gimana sih."
"Baiklah." Pak Arif mengangguk.
__ADS_1
Citra tersenyum senang, "Makasih ya Pak."
"Sama-sama."
Sementara keduanya kembali fokus pada kertas papan monopoli, Keempat temannya masih diam. Mereka belum mampu mencerna permintaan teman mereka barusan. Bukannya meminta harta benda, malah meminta bacaan surah Al Fatihah. Bukannya merendahkan tapi, ya gimana yah, kalau bacaan surah itu kan bisa dibaca sendiri tapi ini--- segala harta benda Citra abaikan. Memang luar biasa si anak Papi ini.
***
"Untuk Mbak Jen." Citra dan Pak Arif baru saja sampai di depan rumah, masih dalam mobil. Sebuah cincin dengan permata kecil berbentuk lumba-lumba disodorkan padanya.
"Buat apaan, Pak?" Tanya Citra mengambil kontak cincin tersebut dan memperhatikan detailnya, lucu.
"Hadiah kelulusan."
Citra menoleh, sebuah hadiah kelulusan yang sangat mahal. Emas bertahta permata. Luar biasa tuan muda Arif Rahman tetangganya ini.
"Nggak mau, Pak. Mahal. Takut hilang." Citra mengembalikan Cincin itu pada Pak Arif. Ia bukan tipikal yang suka memakai perhiasan apalagi yang mahal seperti ini.
"Dijaga." Kata Pak Arif mengambil cincin itu dari kotaknya lalu meminta Citra mengulurkan jari-jarinya, "Hadiah tidak bisa di tolak." katanya saat Citra menolak untuk memakainya.
"Ganti yang murah aja deh, Pak. Ini bapak simpan saja."
"Mbak Jen tidak suka ya?"
"Suka. Suka bangat. Modelnya lucu." Jawab Citra cepat tidak mau membuat Pak Arif salah paham. Memang lucu cincinnya, tapi harganya jelas tidak lucu. Citra takut di culik kalau pakai barang mahal seperti itu.
"Kalau begitu jangan di pakai. Simpan saja." Pak Arif mengembalikan cincin tersebut dalam kotaknya lalu mengambil tas Citra yang ada di samping gadis itu dan memasukkan cincinnya di dalam.
"Tapi, Pak---"
"Turun, lalu istrahat." Potong Pak Arif tak membiarkan Citra menolak.
Citra mendesah pelan, "Yaudah deh. Saya pamit ya Pak. Makasih hadiahnya."
"Sama-sama. Jangan begadang." Katanya saat Citra sudah berada di luar mobil.
"Iya, Pak. Assalamu'alaikum. " Citra melambaikan tangan, lalu masuk dalam area rumahnya.
"Waalaikumsalam." Pak Arif menunggu hingga Citra benar-benar masuk dalam rumah sebelum kemudian memasukan mobilnya di halaman rumahnya sendiri.
***
__ADS_1