My Favorite You

My Favorite You
Nyonya Arif Rahman


__ADS_3

"Saya terima nikan dan kawinnya Citra Jenaya Binti Guntoro dengan mas kawin tersebut dibayar tunai."


TERSEBUT!!!!


SEBUT SAJA, SEBUAH APARTEMEN DI KAWASAN KAMPUS NEGERI DI KOTA ITU, LAHAN KEBUN SAWIT SEPULUH HEKTAR DI KALIMANTAN, EMAS SERATUS GRAM, MINI COOPER yang Citra belum cek harganya berapa. Dan tak lupa Surah Al Fatihah yang langsung dibacakannya saat itu juga. Siapa yang tidak syok mendengarnya. Citra bahkan harus dikejutkan oleh teriakan SAH dari segala penjuru rumah untuk mengembalikan kesadarannya. Sebelumnya Pak Arif tak pernah memberitahunya mengenai mahar tersebut. Jadi tolong siapapun jawab pertanyaan Citra, SIAPAKAH PAK ARIF INI SEBENARNYA? APAKAH TURUNAN LANGSUNG DARI SULTAN DI JAZIRAH ARAB SANA? Ataukah punya piaraan Jin lampu ajaib. Benar-benar seorang Hidden Sultan.


"Ada apa?"


"Hah?" Citra mengerjap. Di depan mukannya Pak Arif menatapnya khawatir. Tersadar bahwa dirinya masih di tengah-tengah keramaian orang yang sedang menyaksikan fase hidupnya yang baru, ia langsung memperbaiki ekspresi wajah bingungnya. Di depannya tangan Pak Arif terulur.


"Salim." Kata Pak Arif lembut.


Citra menatap sesaat tangan itu lalu ke wajah Pak Arif lagi.


"Salim." Ulang Pak Arif saat Citra tak juga meraih tangannya untuk disalami sedangkan orang-orang dan kameramen siap untuk mengambil momen penting itu.


Citra mengangguk lalu segera menangkup tangannya di dada dengan khidmat.


Suara kekehan terdengar, begitupun tawa dari orang-orang di sekitarnya.


"Salim, Mbak. Cium tangan suaminya." Tegur Papi yang menjadi wali nikahnya.


"Oh?" Citra tersadar. Orientasinya sempat terganggu tadi gara-gara mahar yang tidak habis pikir bisa diberikan Pak Arif padanya. "Boleh, Pak?" masih bertanya juga yang sontak membuat Pak Arif tertawa renyah.


"Boleh, Mbak. Pak Arif ini punya Mbak Jena sekarang." Ujarnya berbisik lembut. Spontan Citra memukul tangan lelaki itu karena merasa malu mendengar ucapan Pak Arif dan juga gestur nya seperti hendak memeluknya.


"Loh, kok di pukul, Mbak?" Tegur Papi yang disambut tawa orang-orang yang hadir di akad tersebut.


Citra yang sudah malu setengah mati langsung menunduk menutup wajahnya, sementara Pak Arif masih dengan tawa kecilnya lantas menarik belakang kepala Citra mendekat lalu mengecup keningnya ringan, "Selamat datang di hidup saya, Mbak Jen."


***

__ADS_1


Citra berdiri di depan pintu kamarnya dengan canggung. Disamping ada lelaki dewasa yang juga sama canggung nya. Keduanya masih mengenakan pakaian saat akad tadi.


"Pak, bapak pulang aja ya." Pinta Citra memelas. Ia takut, kali pertama baginya ada orang asing yang akan memasuki wilayah teritorial nya. Apalagi ini Pak Arif, guru Kimia yang sering menghukumnya di sekolah, guru yang sering ia kerjai karena dendamnya di kelas.


"Nggak bisa." Ujar Pak Arif melirik kebelakang dimana orangtua dan kerabat masih asik bercengkrama di ruang TV yang di sulap menjadi tempat akad yang penuh bunga-bunga.


"Tapi, Pak, saya---"


"Di bicarain di dalam saja ya mbak jen." Bujuk Pak Arif lembut memotong ucapan Citra. Ini malam pertama mereka dan sangat ganjil jika sepasang suami istri malah membuka diskusi di depan pintu kamar pengantin mereka daripada beristirahat dan memikirkan masa depan bersama. "Saya izin masuk ya." Pak Arif bisa-bisanya masih sangat sopan dengan meminta izin pada pemilik kamar yang tidak lain adalah istrinya sendiri.


Citra tak menahan saat Pak Arif memutar knop pintu lalu mengintip sebentar kedalam. "Banyak bunganya." ujarnya seperti baru pertama kali melihat bunga-bunga.


Citra melakukan hal yang sama padahal sudah sepagian tadi ia berada di dalam kamar tersebut untuk berias tapi tetap dibuat takjub dengan banyaknya mawar merah yang menghiasi kamarnya. Ranjangnya bahkan penuh kelopak mawar. Siapapun yang memberikan ide untuk melakukan ini harus ia acungi empat jempol.


"Ayo." Pak Arif masuk di susul Citra. Tak lupa lelaki itu menutup pintu setelah keduanya sudah berada di dalam. Untuk sesaat mereka dibuat takjub, menikmati keindahan yang dibuat sedemian rupa hingga membuat sang pemilik sampai lupa dimana letak barang-barangnya sebelumnya.


Citra berdehem saat menyadari kecanggungan dan suasana sepi yang tercipta di ruangan itu. "Kalau bapak mau mandi, kamar mandinya disana." ia menunjuk pintu putih yang merupakan satu-satunya benda yang selamat dari tempelan bunga-bunga.


"Oh, Iya." Pak Arif mengusap tengkuknya yang mendingin. Ia melirik gadis cantik yang hari ini tampak seperti peri dengan gaun putihnya. "Nggak mau mandi duluan?"


"Mandi duluan biar sholatnya bareng."


"Hah? Mandi bareng?" Citra melotot.


Pak Arif tak tahan lagi untuk tidak tertawa. Citra tampak lucu dengan ekspresi terkejutnya. Terlihat sekali siswi yang sudah ganti status menjadi istrinya ini masih kebingungan dengan status barunya sampai tidak mampu mencerna kalimatnya dengan benar. Sebagai yang paling dewasa dan juga kepala rumah tangga bukankah dirinya yang harus membimbing disini?


"Sholat bareng, Mbak Jen." Ulang Pak Arif tersenyum geli. Tangannya terulur menyentuh puncak kepala Citra, "Saya bikin Mbak Jen tidak nyaman ya?"


"Bapak nyaman memangnya?" Tanya Citra dengan kepala mendongak menatap laki-laki dewasa yang masih menyentuh kepalanya tersebut.


Pak Arif mengangguk "Nyaman-nyaman saja." Hanya canggung, batinnya melanjutkan. Bagaimanapun ia tidak pernah terjebak dengan seorang gadis dalam satu ruangan sebelumnya. Apalagi ini adalah gadis yang sudah sah menjadi miliknya, euforia itu ada dalam dirinya sebagai seorang lelaki dewasa tapi tentu saja ia paham keadaan Citra. Meskipun mereka menikah atas kehendak sendiri, tapi hubungan ini harus dibangun dengan dasar pertimbangan bersama.

__ADS_1


"Tapi kok bapak keringatan?" Citra menunjuk sebulir keringan yang meluncur diujung pelipis Pak Arif.


"Oh? " Pak Arif buru-buru mengusapnya. Ah, ternyata ia juga panik. Pak Arif terkekeh, "Iya. Gerah." ujarnya mencari alasan.


Citra manggut-manggut percaya saja dengan alasan yang dibuat Pak Arif. Padahal aslinya laki-laki itu sama canggung nya dengan dirinya cuma sok cool saja.


"Bapak mandi aja duluan. Jena mau buka-bukain ini dulu." Kata Citra menunjuk perintilan di badannya.


"Oh, iya." Pak Arif lantas berbalik cepat. Gerakannya terlihat kaku dan kebingungan seperti mencari-cari sesuatu.


"Bapak cari apa?"


Pak Arif menoleh, mengerjap polos.


"Handuk? " Tanya Citra.


Pak Arif mengangguk, "Saya tidak bawa dari rumah." Katanya menyadari kelalaiannya yang tidak menyiapkan banyak hal untuk tinggal di rumah Citra dalam beberapa hari ini.


Citra melangkah menuju lemari, membuka asal buket bunga yang terangkai cantik di handle pintu lemari dan menyerahkannya pada Pak Arif. Laki-laki itu menerimanya begitu saja, memeluk buket bunga tersebut seperti bayi.


Citra menarik satu handuk diantara tumpukan handuk bersih lainnya, "Udah disiapin sama Mama." ujarnya menyerahkan handuk berwarna abu pada Pak Arif. Mamanya memang sedetail itu memperhatikan kebutuhan sepasang suami istri baru ini. Ia tahu bahwa putri semata wayangnya ini masih belum tau banyak tentang sebuah acara pernikahan dimana lelaki biasanya akan menginap beberapa hari di rumah mempelai wanita sebelum memboyongnya ke tempat baru untuk membangun rumah tangga.


"Terima kasih."


"Sama-sama." Jawab Citra lalu kembali menghadap lemari yang terbuka menghindar dari tatapan Pak Arif.


Pak Arif yang menyadari rona merah yang menjalar diwajah Citra bukan hanya karena pemerah pipi tersenyum kecil. Pengantin kecilnya ini sedang malu. Bagaimana ia tidak menyukai Citra, ekspresinya selalu membuatnya terpesona.


"Ngadep sini." Ia menarik bahu Citra agar menghadap padanya. Ditatap nya gadis itu lamat-lamat dan semakin memerah lah wajah Citra. "Cantik sekali." Pujinya dengan suara lembut. "Ada merah-merahnya." katanya mengusap pipi Citra dengan ibu jarinya, "Izin ya mbak Jen." yang tadinya menatap perona di wajah Citra, beralih menatap mata cantik itu.


Citra yang tidak tahu apa yang sedang Pak Arif minta izinkan hanya berdiri kaku, terkunci oleh tatapan Pak Arif dan selanjutnya, wajahnya langsung berubah seperti kepiting rebus saat laki-laki itu mengecup pipinya tepat di bagian merah-merahnya. Tak lama tapi sukses menarik separuh kesadaran Citra keluar dari badannya.

__ADS_1


Ini Pak Arif lagi ngapain? Mau membunuhnya apa gimana?! Ya ampuuuuun, aduuuuuh. Wajah ini sudah tak murni lagi. Hiks.


***


__ADS_2