My Favorite You

My Favorite You
Pesan Misterius


__ADS_3

Citra tidak percaya ia benar-benar melakukan instruksi Pak Arif, mengirim foto plat taksi online yang membawanya. Untungnya supirnya mengerti kekhawatiran keluarga penumpangnya sama sekali tidak tersinggung. Tadi setelah mencari makan di sekitar kampus bersama Lisa, Citra di telfon oleh Lisna yang mengabarkan bahwa dirinya masih ada kegiatan di prodi akhirnya Citra memutuskan pulang sendiri setelah menolak tawaran Lisa pulang bersama karena arah rumah mereka berlawanan.


Citra tak langsung pulang melainkan berhenti di minimarket dekat rumah untuk membeli kebutuhan dirinya dan Pak Arif seperti sabun dan sebagainya. Sebagai istri dirinya belajar pelan-pelan untuk memenuhi kewajibannya mengurus segala keperluan di dapur meskipun kadang lebih banyak missing nya daripada yang dibelinya. Kata Pak Arif pelan-pelan saja yang penting mau belajar dan tentunya tidak menyulitkan dirinya sendiri.


"Eh, Maaf." Citra terdorong kebelakang saat sebuah trolinya di tabrak.


"Oh, nggak apa-apa. Adek nggak apa-apa?" Citra tersenyum pada ibu muda di depannya yang juga berbelanja keperluannya di temani oleh anaknya yang duduk dalam troli.


"Tidak apa-apa. Maaf ya Mbak." Ujar ibu muda itu tak enak.


Citra mengangguk, "Iya." lalu berjalan meninggalkan ibu muda itu dan menyempatkan menyapa balita kecil dalam troli tersebut. Lucu.


Citra tak berlama-lama di minimarket mengingat jam pulang Pak Aris sebentar lagi. Ia segera membayar belanjaannya di kasir sempat menyapa ibu muda tadi yang juga ikut mengantri di belakangnya.


Sesampainya di rumah Citra langsung membersihkan diri lalu istrahat sebentar setelah menunaikan kewajibannya. Waktu masih menunjukkan pukul dua siang. Akhir-akhir ini Pak Arif selalu pulang sore karena harus menyelesaikan administrasi sekolah karena memasuki tahun ajaran baru. Niatnya yang hanya ingin baring-baring sambil menunggu Pak Arif, ia malah ketiduran.


Citra terbangun saat mendengar suara percikan air di kamar mandi. Sebuah selimut tersampir di badannya. Ia mencari-cari hpnya yang tadi ia letakkan di samping bantalnya yang ternyata sudah di pindahkan diatas nakas di samping HP Pak Arif. Citra melihat jam yang sudah menunjukan pukul empat sore. Ia lantas bergegas kearah kamar mandi.


"Mas?" Panggilnya setelah mengetuk kamar mandi.


"Kenapa Mbak Jen?" Balas Pak Arif mematikan keran air.


"Mas mandi?"


"Iya. Mau gabung?"


Citra memutar bola matanya, "Mesum!" ujarnya pelan. "NGGAK! MAKASIH!" Balasnya lalu menjauh dari kamar mandi. Terdengar suara tawa Pak Arif di dalam sana. Selalu berhasil membuat sebal.


Citra memutuskan untuk ke kamar mandi luar untuk mengambil air wudhu. Saat melewati meja makan ia melihat banyak makanan yang sepertinya di beli oleh Pak Arif dan semuanya adalah kesukaannya. Senyumnya langsung terbit.


"Untung aja baik." Kata Citra sembari memcomot martabak telur dan memakannya dengan lahap, "Yummy! Terbaik." setelah selesai ia melanjutkan kembali niatnya keluar kamar yaitu berwudhu.


Saat kembali ke kamar, bertepatan ia membuka pintu, Pak Arif juga membuka pintu kamar mandi hanya dengan handuk sepinggang. Citra langsung memalingkan wajahnya kearah lain. Bulu-bulu halus di dada lelaki sangat tidak aman untuk kesehatan jantung nya. Seolah minta di belai. Sangat menyebalkan! Kenapa ada orang se mempesona ini sih?!


"Baru mau solat?"


Citra reflek mundur saat Pak Arif mendekat.


"Mbak Jen kenapa?" Tanya Pak Arif heran. Ia hanya mau membuka lemari untuk mengambil pakaiannya.


Citra menggeleng, "Enggak. Takut batal." ujarnya memeluk mukenah nya erat. Melihat tampang was-was Citra malah membuat Pak Arif kumat isengnya. Lelaki itu merentangkan tangannya, fokus Citra sontak terpecah karena bulu-bulu di badannya.

__ADS_1


"Peluk dong. Hari ini Mas capek bangat. Butuh pelukan." Katanya menyeringai. Kalau sudah mode iseng seperti ini karisma seorang guru langsung lenyap yang ada hanya lelaki dewasa penggoda daun muda. Sangat berbahaya!


"Nggak sekarang. Jena mau solat." Tolak Citra mundur teratur.


"Nanti wudhu lagi." Kata Pak Arif masih dalam posisi yang sama.


Citra menggeleng cepat, "Mas, kalau Jena makin telat solatnya, Mas yang dosa loh." katanya mengingatkan. Benar saja, lelaki itu langsung beristighfar.


"Maaf. Yaudah, Mbak Jen lanjut solatnya." Ujarnya menjauh setelah mengambil pakaian ganti dalam lemari.


Citra menghela nafas lega. Lalu setelah itu menunaikan solat.


***


"Mbak Jen, sini!" Pak Arif menepuk sofa di sisinya. Waktu sudah menunjukkan pukul delapan malam dan Citra baru saja selesai mencuci alat makan mereka.


"Kenapa, Mas?" Tanya Citra duduk disamping Pak Arif, menunggu suaminya itu bicara.


"Nggak apa-apa. Mas cuma mau cerita-cerita sama Mbak Jena." Ujar Pak Arif merangkul bahu Citra agar bersandar padanya. "Gimana tadi di kampus? Lancar?"


Citra mengangguk, memperbaiki posisinya agar lebih nyaman. "Alhamdulillah lancar. Kenalan sama orang baru juga."


"Perempuan?" Tanya Pak Arif selidik.


"Memangnya sudah mulai Orientasinya?" Pak Arif berucap sembari mengambil hpnya yang ada di atas meja saat notifikasi pesan muncul.


"Belum sih tapi katanya ada kegiatan." Jawab Citra tanpa sengaja melihat pengirim pesan tanpa nama yang masuk di HP suaminya. Tumben sekali ada nomor iseng di HP suaminya. Setahunya Pak Arif paling jarang berinteraksi dengan hpnya di rumah tapi sepertinya hari ini beda. Bahkan di meja makan tadi lelaki itu beberapa kali memeriksa hpnya.


"Siapa, Pak?"


"Oh, kenalan." Jawab Pak Arif seadanya. Citra si manusia yang paling jarang kepo manggut-manggut saja. Kenalan Pak Arif sudah tentu bukan anak-anak seperti dirinya.


"Pak, masa tadi---"


"Mas, Mbak Jen." Potong Pak Arif, tidak senang mendengar panggilan yang dipakai Citra untuknya.


"Iya, Mas, maksudnya." Ralat Citra hampir lupa dengan apa yang ingin dia sampaikan.


"Tadi kenapa?" Ulang Pak Arif saat Citra tak lagi lanjut cerita.


Citra yang akhirnya teringat bagian paling menyebalkan dari Pak Arif yaitu cemburunya memutuskan untuk tidak lanjut cerita. Ia menggelengkan kepala, "Bukan apa-apa, lupa."

__ADS_1


Pak Arif mendengus, "Masih muda sudah lupa-lupaan." katanya mencium rambut atas Citra. "Besok temani Mas di sekolah ya."


"Nggak mau, males ketemu guru-guru ntar dicie-ciein." Teringat bagaimana hebohnya guru-guru nya saat tahu hubungan mereka di resmikan. Ia bahkan menjadi trending topik di sekolah. Setiap kali guru masuk di kelas pasti dibilangin, 'Beruntung kamu dapat Pak Arif, Nak' padahal kenyataannya Pak Arif yang beruntung mendapat gadis muda semanis dirinya. Hanya saja titel guru teladan menutupi titel nya sebagai siswa hampir berprestasi.


"Nggak. Kan ada Mas. Besok adik-adikmu tanding lawan sekolah lain. Mungkin ada alumni juga yang akan datang termasuk angkatan yang baru lulus."


"Lah, ngapain?"


"Memberi motivasi pada para siswa baru."


Citra menggeleng, "Tetap nggak mau. Jena mau rebahan di rumah seharian nungguin bapak."


"Nanti Mas jajanin. Telur gulung di depan sekolah sudah ada lagi. Mang nya sudah pulang dari kampung." Ujar Pak Arif memberi tawaran yang cukup menarik di telinga Citra.


"Oke deh, mau." Jawab Citra cepat. Telur gulung legend itu sudah terkenal di mana-mana apalagi di kalangan siswa siswi sekolah tempat mangkalnya.


"Ya sudah, sekarang ke kamar, istrahat. Mas masih harus menyelesikan pekerjaan."


"Mau nonton netfl*x dulu bentar, ada film baru. Boleh ya Mas?" Kata Citra memohon.


"Jangan begadang."


Citra mengangguk, "Siap." Palingan juga sebelum jam sebelas filmnya selesai. Sudah lama sekali ia tidak nonton. "Pinjam."


"Apa?" Tanya Pak Arif heran melihat tangan Citra terulur padanya.


"HP. Kuota Jena udah tipis banget. " Ujar Citra memang wajah paling kasihan.


"Mas beliin." Pak Arif hendak mengetik untuk membeli pulsa namun tangan Citra menahannya.


"Layar HP bapak lebih jernih, suaranya juga. "


Pak Arif melihat Citra dengan selidik untuk sejenak, lalu karena tak tega akhirnya menyerahkan HP nya. "Ingat, jangan begadang!"


"Oke!" Citra berdiri sambil menghormat. Setelah mendapatkan HP Pak Arif ia bergegas ke kamar, "Jena tinggal ya, Mas." tak lupa meninggalkan kecupan di dahi Pak Arif yang terpaku dengan wajah menahan senyum. Dasar ABG!


Citra melangkah dengan riang menuju kamar, ia langsung masuk dalam selimut dan tak lupa memasang headset di telinganya. Baru saja membuka aplikasi untuk mulai nonton, sebuah notifikasi di susul pop up pesan membuat tanda tanya besar di benaknya.


0852xxxxxxxx


Tolong, Mas. Mas Rahman udah janji mau nikahin aku. Anak ini butuh bapak.

__ADS_1


***


__ADS_2