My Favorite You

My Favorite You
Kelulusan


__ADS_3

Citra tak bisa menahan diri untuk tidak bersorak saat melihat namanya berada di urutan pertama pada papan pengumuman hasil ujian. Dia yang biasanya berada di posisi lima kini naik posisi pertama, keluar sebagai juara umum untuk angkatannya.


"Cieeee, selamat ya." Lisna, Sari, Abu dan Agus bergantian memberikannya selamat atas apa yang diraihnya saat ini. Semua tentu saja berkat usaha dan doa-doanya yang tak pernah putus. Ia bertekad memberikan yang terbaik untuk dirinya dan tentu saja kedua orangtuanya.


"Makasih, kalian juga hebat loh. Apalagi Abu, beuuhhh masuk sepuluh besar." Puji Citra tulus sambil menepuk-nepuk bahu sahabatnya itu dengan bangga.


"Yoiii, Abuuu." Abu menepuk dadanya jumawa.


"Jangan sombong, temennya iblis tuh." Ujar Sari mengingatkan.


"Iya ah, udah saya Alhamdulillah hin dari tadi." Kata Abu menjentik kening Sari gemas. Pertemanan mereka memang seperti ini kadang rame kadang rese.


"Jadi kemana kita hari ini? Bakso apa soto?" Agus menyela. Cowok hobi makan itu selalu suka acara kumpul-kumpul semacam ini apalagi bersama komplotannya.


"Bakso aja. Tapi cari yang tempatnya adem biar nggak kejebak konvoi." Citra memberi saran.


"Setuju.Pasti bakal banyak sekolah lain di jalan. Takutnya kenapa-kenapa, kita jangan pakai seragam." Tambah Lisna.


"Jadi balik ke rumah dulu?" Citra memastikan.


"Iya.Titik kumpulnya di gerbang sekolah biar di tengah-tengah." Kata Lisna lagi.


"Oke." Semua sudah setuju. Citra dan kawan-kawan kemudian bergabung dengan keriuhan lain untuk merayakan kebahagian mereka menyelesaikan tiga tahun tanpa ada yang tertinggal.


Dari kejauhan Pak Arif memperhatikan mereka. Disampingnya berdiri Bu Wardah dan Pak Alfian.


"Sejak awal saya sudah yakin Citra anak yang cerdas. Dia mau belajar dan anaknya pantang menyerah." Puji Pak Alfian mengikuti arah tatapan Pak Arif.


"Iya, walaupun terkadang masih suka terburu-buru dan mudah terpengaruh." Timpal Bu Wardah melakukan yang sama, menyorot gadis SMA yang sudah berhasil mendapatkan lelaki yang diinginkannya.


"Dia masih muda dan masih banyak yang bisa dia capai dengan potensi yang dimiliknya." Pak Alfian kembali berbicara.


"Apa yang dia putuskan sekarang pun masih sebatas rasa menggebu-gebu seorang anak remaja. Kedepannya mungkin saja ia akan menyesali apa yang diputuskannya hari ini." Sambung Bu Wardah. Kedua guru itu seolah sengaja memancing Pak Arif untuk membahas masalah hubungan pribadi mereka.


Sejak awal Pak Arif tak menyembunyikan ketertarikannya pada Citra di depan rekan-rekan kerjanya. Sejak insiden foto salah upload itu, ia sudah mengatakan pada mereka secara tersirat bahwa dirinya memiliki hubungan yang spesial dengan salah satu siswinya tersebut. Tak heran bila orang TU pun mengetahui hal ini. Sebuah berita memang selalu menyebar begitu cepat tapi Pak Arif sudah mengatakan dengan tegas pada kepala sekolah maupun guru-guru lain bahwa ia akan tetap profesional dalam menjalankan tugasnya sebagai seorang guru. Tak ada perlakukan istimewa untuk seorang Citra Jenaya kecuali di luar sekolah dan atau di luar jam sekolah. Sampai hari ini pun ia mampu mempertahankan ke profesionalannya walaupun terkadang harus menerima kritikan dari Citra.


"Bagaimana menurut Pak Arif?" Pak Alfian menoleh pada Pak Arif.

__ADS_1


Pak Arif mengedikkan bahu, "Itu urusan pribadi seseorang jadi saya tidak akan berkomentar apapun." jawabnya sembari tersenyum kecil. Di dalam sekolah dia hanyalah guru dari seorang siswi bernama Citra Jenaya sehingga tidak ada wewenang baginya untuk mengomentari urusan siswinya tersebut. Lain lagi kalau di luar sekolah, dirinya adalah seseorang yang sudah memantapkan hati untuk memiliki gadis itu seutuhnya tentu saja dia punya banyak waktu jika harus menjelaskan pendapatnya tentang ini.


"Ya, bapak memang selalu profesional." ujar Pak Alfian sarkas. Guru bahasa Inggris kesayangan Citra ini memang tidak menentang secara terang-terangan hubungan keduanya tapi cukup nampak bahwa ia tidak setuju keputusan Pak Arif untuk menikahi Citra yang baru saja lulus sekolah. Menurut Pak Alfian, Citra memiliki potensi untuk berkembang dan menjadi orang yang sukses di masa depan. Sayang sekali Pak Alfian tidak memahami bahwa dibanding orang lain, Pak Arif lah yang paling menginginkan Citra menjadi orang yang berguna untuk orang banyak.


Disamping mereka Bu Wardah tak lagi berkomentar. Dia sudah kalah jadi apalagi yang perlu ia katakan. Sekarang dirinya hanya perlu menguatkan hatinya sendiri saat nanti melihat pria idamannya bersanding dengan gadis lain.


***


Citra sudah mematut dirinya sekali lagi di depan cermin memastikan penampilannya sudah rapi. Ia sudah siap dengan pakaian ala gadis bumi yang tengah viral saat ini. Setelah memastikan tidak ada yang kurang dan berlebih, ia lalu mencaklok tas dan keluar kamar.


"Ma, Jena jalan dulu ya?" Pamitnya pada sang mama yang tengah santai di ruang tengah.


"Iya. Bilangin Pak Arif hati-hati menyetir."


"Hah? Pak Arif?"


"Iya. Tuh, di depan sama papi." Kata mamanya.


"Tapi kan--" Citra menghentikan ucapannya. lebih baik ia memastikannya sendiri, "Assalamu'alaikum, Ma." ia menyalim mamanya lalu bergegas keluar untuk mengecek keberadaan gurunya itu.


"Papi--" Citra menyalami Papinya sambil melirik Pak Arif yang sudah siap dengan pakaian kasualnya.


"Sayang, ini Pak Arif udah lama tungguin." Kata Papinya mengusap kepala putrinya lembut.


"Bapak mau kemana?" Tanya Citra to the point. Seingatnya ia tidak membuat janji sama gurunya untuk keluar.


"Loh, pertanyaan macam apa itu? Ya jelas pergi sama kamu dong, Mbak Jen." Jawab Papi menjawab keheranannya.


"Saya sudah izin sama teman-temanmu." Kata Pak Arif tanpa dosa, "Saya boleh ikut kan?"


Citra menoleh pada papinya, meminta izin. Mau sebaik apapun tetangga mereka ini tetap saja mereka belum memiliki hubungan yang halal apalagi tidak ada Alul yang menjadi pihak ketiga. Pak Arif jelas lebih tau.


"Boleh. Lebih bagus lagi supaya ada yang jagain mereka." Ujar Papi.


Citra kembali menoleh pada Pak Arif, "Bapak nggak apa-apa jalan sama kami? Kami kalau udah bareng, suka rese loh, Pak." Citra mengingatkan Pak Arif kalau teman jalannya ini adalah para remaja yang sudah pasti tempat tujuan mereka selain makan ya hunting tempat-tempat foto yang keren.


"Tidak apa-apa." Jawab Pak Arif kalem. Sepertinya Citra lupa bahwa laki-laki di depannya ini bukanlah laki-laki random di luar sana melainkan gurunya sendiri yang sudah terbiasa menghadapi anak-anak labil seperti mereka.

__ADS_1


"Oh, yaudah." Citra lantas berpamitan pada papinya begitupun Pak Arif.


"Hati-hati." Teriak Papi saat keduanya sudah mencapai gerbang.


Pak Arif menoleh sembari mengangguk mengiyakan.


"Bapak beneran nggak apa-apa?" Tanya Citra lagi memastikan pada Pak Arif. Bukannya ia tidak senang gurunya ini ikut tapi dia tidak tega jika harus membiarkan Pak Arif merasa bosan atau ribet dengan mereka nantinya.


"Tidak apa-apa, Mbak Jen." Ujar Pak Arif membukakan pintu mobil di depan.


"Saya nggak di belakang aja, Pak?" Biasanya kalau tanpa Alul, ia akan berada di jok belakang kalau cuma berdua Pak Arif.


"Sudah penuh."


"Ya?" Citra melihat kebagian belakang, membukanya dan betapa terkejutnya ia mendapati empat temannya disana.


"Lama bangat sih." Abu yang protes duluan.


Citra menatap teman-temannya tak percaya, "Kalian dari tadi? Kok bisa?"


Lisna dan Sari terkekeh.


"Di jemput Pak Arif." Kata Lisna.


Citra menutup mulut tak percaya. Ia menoleh pada lelaki itu yang masih setia memegang pintu mobil, "Bapak jemput mereka satu satu?"


"Iya. Sekarang, naik!" Kata laki-laki itu tanpa banyak bicara.


Citra melongok. Yang benar saja dong, ini rumah mereka beda arah semua loh.


"Cepetan naik. Saya sudah lapar." Kata Agus yang sejak tadi menggelepar nyaman di kursi paling belakang di samping Abu.


Citra menggeleng tak percaya. Gilak. Pak Arif benar-benar se berkorban ini untuk dia.


Citra lantas naik ke kursi depan tak lupa mengucapkan Terima kasih pada gurunya karena sudah berbaik hati mau menemani mereka.


***

__ADS_1


__ADS_2