My Favorite You

My Favorite You
Pura-pura Sakit


__ADS_3

"Lis, izinin sama Pak Arif, ya. Sakit nih." Citra memegang perutnya mempraktekan ilmu ektingnya yang sudah di pelajari di kelas seni budaya. Pelajaran bahasa Indonesia baru saja berakhir dan setelah istrahat nanti akan ada pelajaran Kimia. Itulah kenapa Citra melakukan pembohongan publik.


"Yakin, sakit?" Tanya Lisna selidik.


Citra mengangguk lemes. Pokoknya apapun yang terjadi ia harus bebas dari kelas Pak Arif,"Tidak ada ulangan kan? "


"Nggak ada sih, tapi---"


"Nah, pas. Saya izin ke UKS." Potong Citra cepat lalu tanpa pikir panjang langsung melesat menuju UKS yang letaknya paling ujung.


"Cit, nggak mau di temenenin?" Teriak Lisna.


"Nggak usah." Jawab Citra sembari mempercepat langkahnya. Sejak semalam Ia sudah menyusun rencana pelariannya. Setelah jam istrahat ada pelajaran Kimia dan karena hari ini ia malas mendapat hukuman, Citra memutuskan untuk bolos dengan alasan sakit. Sungguh bukan seorang Citra Jenaya tapi keadaan memaksanya bertindak tidak terpuji seperti ini terlebih hari pertama datang bulan, ia takut emosinya meluap-luap dan berakhir menghantam muka Pak Arif pada papan tulis.


"Huuufff selamat." Citra membaringkan badannya di ranjang UKS. Sedang tidak ada petugas jaga jadi ia tidak perlu pusing memikirkan jawaban-jawaban pertanyaan petugas.


Yang tidak disadari Citra adalah keberadaan seseorang yang tadi memperhatikan tindak tanduknya saat menuju UKS. Pak Arif yang baru saja melaksanakan sholat dhuha melihat bagaimana senyum lebar siswinya itu kala berlari menuju UKS. Ia hanya bisa menggeleng kecil melihat kelakuan salah satu siswinya itu.


Bell jam ke empat telah berbunyi. Seluruh siswa bergegas masuk kelas untuk mengikuti kelas berikutnya. Citra yang berada dalam UKS seorang diri tidak tahu harus melakukan apa sembari menunggu jam Kimia berakhir. Akhirnya untuk membunuh rasa bosan, siswi yang senang memakai sepatu tinggi itu mengabsen setiap benda yang ada dalam UKS. Mulai dari menimbang berat badan, mengukur tinggi badan sampai bermain ala dokter-dokteran dengan menjadikan guling sebagai pasiennya. Memang sebentar lagi bakal masuk RSJ siswi kesayangan Pak Arif ini.


Citra sedang berbicara ala dokter dan pasien pada guling yang terbaring tak berdaya di atas ranjang saat mendengar langkah kaki seseorang mendekat. Dengan gerakan kilat ia langsung melesat lompat diatas ranjang dan memunggungi arah pintu sembari memejamkan mata, Pura-pura itu.


"Wah, benar, Pak. Disini siswi, Bapak." Pintu di buka dari luar.


Citra menggigit bibirnya panik mendengar kakak petugas kesehatan mendekat dengan seseorang yang di panggilnya Bapak. Bapak siapa ini? Bapak Kepala sekolah kah? Bapak Alfian kah? Bapak TU kah? Bapak Taufik kah atau--- mata Citra sontak membola. Jangan bilang kalau---


"Tolong di cek ya Bu. Dia sakit perut kata teman-temannya."


Suara itu--- Citra mau mati saja rasanya. Bagaimana mungkin Pak Arif sampai menjenguknya kesini?! NO-- BUKAN MENJENGUK! TAPI MEMASTIKAN KEBOHONGANNYA! ASTAGHFIRULLAH!!!


Citra menutup matanya sekuat mungkin. Tidaaaak, setelah setelah ini Pak Arif pasti akan menggantungnya di tiang bendera.


"Citra? Kamu tidur, Dek?" Kakak Petugas itu memegang bahu Citra memastikan kesehatan siswi yang selalu menempati juara kelas itu.


Citra menggeliat, Pura-pura senatural mungkin seperti orang yang baru di ganggu tidurnya sembari menahan sakit perut pura-pura.


"Kakak periksa ya, Dek?" Kakak perugas menekan perutnya pelan, melakukan cek awal. Citra yang memang tidak sakit menatap lurus ke langit-langit tak ingin melihat ke arah manapun takut tertangkap basah Pak Arif yang sudah seperti tukang jagal berdiri di samping Kakak petugas.

__ADS_1


"Tidak sarapan ya Dek? "


Duh, harus bilang apa ini? Citra tidak mau berbohong lebih lanjut apalagi memfitnah sang Mama yang sudah sangat baik membuat sarapan untuk orang serumah.


"Sarapan, Kak." Jawabnya pelan. Ia tak berani melirik di samping kanannya. Sudah jelas Pak Arif mengetahui kebohongannya. Sejak kapan coba seorang guru yang harusnya masih mengajar mau sibuk-sibuk mengecek siswinya di UKS?! Sudah pasti kebohongannya telah terbongkar.


"Perutnya masih sakit?" Tanya kakak petugas itu lembut. Sumpah, Citra tidak tega sudah berbohong pada orang-orang baik ini. Citra kapok. Kakak petugas yang seharusnya mengerjakan pekerjaan lain malah harus sibuk mengurusi kasus kebohongannya.


Maafkan Citra ya Allah.


"Sedikit, Kak." Jawabnya.


Kakak petugas itu menoleh sama Pak Arif, "Maaf, Pak. Saya mau periksa Citra dulu."


"Oh ya. Silahkan." Pak Arif langsung menjauh menarik tirai memisahkan ranjang dengan kursi petugas.


"Permisi ya, Dek." Kakak petugas mengangkat seragam Citra lalu menekan sedikit perutnya. "Aman kok." Ujarnya menurunkan lagi seragam yang selalu dibilang seragam pinjaman adik SD oleh Pak Arif.


"Kakak bikinin teh hangat ya."


Citra menggeleng, tak mau membuat sibuk lebih jauh lagi. "Ini hari pertama saya M, Kak." Ujarnya agar kakak petugas itu berhenti mengkhawatirkannya, "Udah biasa kayak gini." lanjutnya mengkambing hitamkan siklus bulanannya.


"Eh, nggak usah, Kak. Ini udah mendingan kok." Tolak Citra cepat.


"Yakin?"


Citra mengangguk. Kakak petugas menarik tirai membuat Citra bisa melihat sosok Pak Arif yang memunggunginya.


"Gimana, Bu?" Tanya Pak Arif melirik sekilas Citra yang kembali menatap langit-langit. Anak itu jelas menghindarinya.


"Biasa, Pak, perempuan. Hari pertama." Terang Kakak petugas tidak menjelaskan lebih eksplisit lagi karena Pak Arif sudah jelas paham maksudnya. "Hanya butuh sedikit istrahat." Lanjut Kakak petugas sembari duduk di kursinya.


Pak Arif mengangguk paham, "Kalau begitu saya titip dia, Bu. Kalau ada apa-apa tolong hubungi saya langsung. Kebetulan rumah kami bersebelahan."


"Oh iya, Pak. Baik."


Pak Arif pamit keluar diantar oleh kakak petugas sampai di depan pintu UKS. Sementara Citra hanya melirik dengan ekor matanya melihat gurunya itu pergi. Helaan nafas lega lolos begitu saja.

__ADS_1


Hufff akhirnyaaaaa.


"Istrahat aja, Dek. Pak Arif sudah nitipin." Kata kakak petugas itu.


Citra mendumel dalam hati, 'titip titip, dikira saya barang apa dititip titip.'


Ia memejamkan mata menikmati waktu bolos nya yang sangat berharga ini. Jarang-jarang ia bisa bolos kelas. Harus kah ia berterima kasih pada Lord Arif?!


Tok tok tok.


"Permisi, Bu."


Citra dan kakak petugas menoleh bersamaan.


"Ada apa, Dek?" Tanya kakak petugas pada adik kelas Citra.


"Ini ada titipan dari Pak Arif, katanya disuruh bawa ke UKS buat siswa yang sakit."


Citra mengernyitkan kening melihat Kakak petugas itu menerima botol berisi air hangat yang dilapisi kain dan sebotol minuman pereda nyeri yang biasa disiapkan mamanya di lemari untuk dirinya setiap kali datang bulan.


"Itu saja, Bu."


"Iya, Terima kasih."


"Sama-sama, Bu. Permisi."


"Iya."


Kakak petugas itu menghampiri ranjang Citra yang masih menatap bingung botol-botol tersebut. "Untuk kamu kayaknya. Gurunya baik bangat ya Dek. Jangan lupa bilang makasih sama beliau."


Citra tersenyum dipaksakan, "Iya, Bu." Jawabnya laku meminum jamu berbal tersebut dibantu oleh kakak petugas.


"Ini di tekan di perutnya biar nyerinya berkurang."


Citra mengangguk. Ia menerima botol tersebut dan menekan-nekan di perutnya dengan isi kepala blank.


Ini Pak Arif kerasukan jin baik apa lupa minum obat? Kok serem ya.

__ADS_1


***


__ADS_2