My Favorite You

My Favorite You
Masih di rumah tetangga


__ADS_3

"Nggak usah di cuci, besok ada yang datang bersihkan."


Citra mengabaikan Pak Arif yang entah sedang mengacak-acak apa dalam kabinet yang pasti bunyinya bisa membangunkan satu kompleks.


"Istrahat."


Nggak denger. Nggak denger. Nggak denger.


"Tidak dingin cuci piring malam-malam?"


Nyenyenyenye...


"Ada yang bisa saya bantu?"


NGGAK!


"Mbak Jen cocok pake daster ibu--"


"APASIH BAPAAAAAK? Udah mau ngomong sama saya? Setelah sebulan kemana saja?" Citra menatap jengah bapak-bapak bersarung di depannya.


Krik krik.... Senyap.


Citra lantas berdehem melihat ekspresi terkejut Pak Arif yang tampak polos seperti anak kecil yang tertangkap basah sedang makan permen oleh ibunya, "Bapak mau dibuatkan kopi?" tanyanya pelan.


"Boleh." Ujar Pak Arif tak kalah pelan.


Citra mengangguk, "Sebentar, saya selesaikan ini dulu." katanya kikuk, lalu berbalik kembali menghadap sink.


Tak ada obrolan diantara keduanya. Citra sibuk dengan piring dan pikirannya sendiri sementara Pak Arif sibuk memikirkan apa yang sedang dipikirkan gadis di depannya ini.


"Bapak tunggu di depan saja." Kata Citra tak nyaman dengan keberadaan Pak Arif yang sedang memperhatikan nya.


"Gulanya jangan banyak. Saya kedepan."


Citra tak menjawab. Terdengar langkah kaki Pak Arif menjauh, tanpa sadar ia menghela nafas lega. Ternyata sejak tadi ia menahan nafas.


Selesai cuci piring Citra langsung membuat kopi sesuai permintaan Pak Arif. Rasa kantuk menghilang begitu saja sebab ia sempat tidur beberapa jam tadi.


Pak Arif duduk di atas sofa di depan TV sambil menatap layar yang masih menayangkan acara kartun yang entah apa judulnya.


"Bapak suka anime?" Tanya Citra basa basi setelah meletakkan kopi diatas meja kecil di samping sofa tempat Pak Arif duduk. Ia memilih duduk diatas karpet tebal di samping Alul sambil bersandar di sofa dekat kaki Pak Arif.


"Saya sukanya sama kamu."


Citra memutar bola mata malas. Yang katanya suka tapi tidak mengabari selama sebulan, apa-apaan itu? Mau marah tapi belum punya hak, mau diam aja malah bikin kesal.


"Kopinya pas." Ujar Pak Arif, meletakkan cangkir kopi itu kembali diatas meja setelah mencecapnya. "Mbak Jen cepat belajarnya."


"Bikin kopi aja mah Alul juga bisa, Pak. Nggak usah berlebihan deh." Ucap Citra dingin. Masih jelas tergambar kekesalannya pada Pak Arif yang seenaknya menghilang.


"Mbak Jen, marah?"


"Marah? Memangnya saya punya hak apa harus marah? Saya kan cuma siswi Pak Arif. Saya kan cuma anak tetangga depan rumah." Katanya Sinis.


Pak Arif menghela nafas pelan. Berat. Ternyata benar, kalau cewek marah, berasa main tebak-tebakkan. Resenya naik tingkat.

__ADS_1


"Mbak Jen lebih dari itu." Ujar Pak Arif menatap Citra yang memunggunginya.


"Masa sih?"


Pak Arif lagi-lagi menarik nafas. Harus memakai kesabaran super Extraordinary menghadapi anak remaja yang lagi ngambek. Pantesan banyak remaja galau, marahnya memang tidak kira-kira.


"Saya minta maaf. Tolong katakan apa yang bikin Mbak Jen marah biar saya perbaiki."


"Nggak perlu." Jawab Citra judes. Ia masih belum mau menoleh pada Pak Arif.


"Maaf karena saya menghindari Mbak Jen sebulan ini. Saya tidak bermaksud membuat Mbak Jen bingung, saya---"


"Tapi buktinya bapak kek gitu. Bapak tuh nyebelin. Bapak pikir enak dihindarin tanpa tau apa-apa? Selama sebulan ini saya mikir keras, apa salah saya sama bapak sampai bapak ngehindar? Bapak gak tau kan rasanya? Nggak enak, Pak." Citra berujar penuh emosi dengan suara tertahan berusaha tidak membangunkan Alul dan penghuni rumah yang lain. "Bapak habis ngajak nikah loh, trus tiba-tiba ngehindarin Jena. Bapak pikir mentang-mentang saya anak kecil bisa bapak mainin gitu aja?"


"Mbak Jen---" Panggilnya Pak Arif lembut. Ia turun dari sofa lalu duduk dengan posisi yang sama di samping Citra, "Maafkan saya. Saya salah karena tidak memikirkan perasaan Mbak Jen. Saya--"


"Memang salah bapak!" Potong Citra cepat.


Pak Arif mengangguk lalu menoleh sepenuh pada Citra dengan kaki bersila. "Saya izin bicara ya Mbak Jen, jangan di potong."


"Terserah!"


Pak Arif diam sejenak. Tak lama dia berdiri dari tempatnya duduk dan meninggalkan Citra menuju dapur.


Citra yang melihatnya sampai kehabisan kata-kata, "Really?" Ujarnya tak percaya ditinggalkan di tengah-tengah obrolan serius.


Namun tak lama Pak Arif kembali sambil membawa semangkuk es krim rasa taro di tangannya. "Sambil makan es krim ya biar hatinya adem dengerin omongan Masnya ini." ujarnya sambil duduk menyerahkan mangkok es krim pada Citra yang menatapnya sinis.


"Bapak bukan Mas saya." Kata Citra mengambil mangkok itu, "Sendoknya mana?" ia mengulurkan tangan kearah Pak Arif.


"Bodo amat!" Balasnya ketus sambil menyendok besar es krim dan memasukkannya kedalam mulut.


"Sambil dengerin penjelasan saya ya?" Ujarnya masih dengan kesabaran ekstra melihat gadis di depannya ini malah fokus pada mangkuk es krim nya. "Mbak Jen---? "


"Iya ih!" Jawab Citra ketus.


Sabar Arif, Sabaaaar...


"Jadi, waktu itu sepulang dari sekolah, waktu Mbak Jen nelfon itu, saya langsung ke rumah Mbak Jen nemuin Papi."


"Buat apaan?"


Pak Arif tak langsung menjawab. Suara TV ia kecilkan sampai kelelawar pun tak bisa dengar. Tak lupa ia meraih tissue dan diserahkan pada Citra.


"Untuk berbicara sama Papimu kalau saya ingin serius sama anaknya."


"Uhuk! khuk!"


"Pelan-pelan, Mbak." Pak Arif hampir mengulurkan tangan untuk menepuk punggung Citra tapi langsung teringat batasan-batasan yang ia toleransi antara perempuan dan laki-laki.


Citra menenangkan diri, lalu menoleh dengan mata membelalak, "Bapak ngomong sama Papi?" Mangkok es krim ia letakkan diatas karpet begitu saja. Fokusnya sekarang pada ucapan Pak Arif.


"Iya." Angguk Pak Arif.


Citra meluruh dengan punggung merosot hampir menyentuh lantai, "Bapaaaaaak." teriaknya kesal dengan suara tertahan.

__ADS_1


Pak Arif menatapnya bingung, "Kenapa? Bukannya memang seperti itu harusnya?"


Citra langsung bangun dan duduk menghadap Pak Arif dengan kaki bersila. Jadi keduanya posisinya sekarang hadap-hadapan, "Tapi saya masih sekolah, Pak."


"Saya tungguin sampai lulus!"


"Saya mau kuliah, Pak."


"Nikah sambil kuliah tidak dilarang."


"Saya nggak akan mampu ngurus rumah, ngurus anak, ngurus suami, Pak."


"Rumah di urus ART, Anak bisa di tunda, biar saya yang urus kamu."


"Paaaaaak" Citra merengek. Ia Kehabisan kata-kata melawan lelaki di depannya ini. "Tapi saya belum siap menikah, Pak?"


"Kamu bilang mau mempertimbangkan kalau Papi mengizinkan."


Citra membelalak, "Maksud bapak?"


"Papi kamu setuju. Tapi sebagai syarat, saya harus menjauh dari kamu selama masa persiapan ujian."


"Paaaaaaak." Citra menutup mulut tak percaya.


"Saya mau simpan ini sampai pengumuman kelulusan tapi baru juga sebulan kamu ngamuknya sudah seperti ini. Bagaimana sampai empat bulan nanti, bisa-bisa saya dijadikan makan siang ikan paus sama kamu."


"Saya nggak gitu!" Elak Citra tak Terima tuduhan yang memang ada dikepalanya itu.


"Oh ya? Terus kenapa kopi saya rasanya seperti air laut?" Tunjuk nya pada cangkir kopi yang ada diatas meja.


Citra menatap cangkir itu dengan wajah tak percaya, "Nggak ada. Saya nyimpen nya gula tadi."


"Mau cobain?" Tantang Pak Arif. Citra langsung menggeleng. Well, itu kan hanya kesalahan teknis.


"Oke, lupakan kopinya. Human error. Jadi gimana sekarang? Saya dimaafkan? Atau perlu saya telfon Papi dulu?"


Citra menggeleng, "Nggak usah, Pak. Saya percaya."


"Terima kasih. Soal menikah dengan saya, bagaimana?"


Citra menggigit bibir bawah berpikir keras, "Saya belum siap, Pak." cicitnya, tak berani menatap Pak Arif.


"Kalau saya melamar orang lain, kamu siap?"


Citra mengangkat kepala cepat, menatap laki-laki itu galak, "Jangan macam-macam ya, Pak!"


Pak Arif tersenyum licik, "Yasudah, setelah ujian, kita menikah." terpancar kemenangan dikedua matanya. Percuma saja gadis manis di depannys ini melawan, hatinya sudah ia dapatkan.


Citra mendelik. Berbalik kearah TV tak berani menatap Pak Arif, "Terserah."


"Good, Girl. Tenang saja, Mbak Jen tidak akan menyesal menikah dengan saya."


Nyenyenyenye....


***

__ADS_1


__ADS_2