
"Jam berapa berangkatnya, Mbak?"
Citra yang tengah menyiapkan segelas teh hangat dan roti bakar menoleh sejenak lalu lanjut kembali. "Jam sembilanan kayaknya, Mas." ujarnya sambil mengaduk teh. Kalau soal menyiapkan sarapan bukan lagi hal baru untuk Citra jadi bangun pagi bukanlah masalah untuknya terlebih Pak Arif rajin sekali mengingatkannya dengan keberkahan waktu subuh.
"Sebelum berangkat pastikan semua berkasnya sudah lengkap supaya tidak bolak balik." Ujar Pak Arif mengingatkan. Lelaki yang baru selesai mengepel itu mendekat untuk membantu Citra yang kesulitan mengambil piring kecil di kabinet atas.
"Makasih, Mas." Ucap Citra setelah ditolong. Saat ia berpikir Pak Arif akan melanjutkan kerjaan rumah yang lain, ternyata laki-laki itu setiap berdiri dibelakangnya menempel seperti baru pertama kali melihat orang yang bikin teh.
Citra mendongak, heran dengan kelakuan suaminya yang ternyata hobi nempel-nempel padahal di rumah mertuanya mana ada mau seperti ini, "Mas, Jena nggak bisa gerak bebas." ujarnya menjelaskan posisinya yang terjepit antara badan Pak Arif dan meja dapur.
"Masa sih?" Tanyanya sok polos. lengan kanannya ia lingkarkan di leher Citra sedangkan kirinya di perut gadis itu. Tak lupa dagu disandarkan di bahu Citra dengan jenggot-jenggot tipis menggelitik lehernya.
"Maaaasssss, ini Jena lagi pegang air panas loh."
"Ya nggak apa-apa. Mas mau peluk. Nggak boleh?"
Bukan tidak boleh bapaaaak tapi situ bisa terlambat kalau mau dempet-dempetan teruuuuus. Omel Citra dalam hati. Seharusnya tidak percaya omongan orang-orang tentang Pak Arif yang dewasa dan bijaksana karena nyatanya beberapa bulan menikah dengan lelaki ini yang kebanyakan ia lihat adalah mode bayi besarnya. Mana Pak Arif yang galak mode kulkas sebelas pintu ituuuuuuh????
Citra lantas melepas sendok ditangannya dan menangkup tangan Pak Arif yang bertengger di perutnya, " Bapak mau peluk sampai kapan? Jena balas peluk yuk biar cepat?!" bujuknya, kali aja pelukan tadi pagi belum memuaskan mantan guru kimianya ini.
Pak Arif terkekeh sembari mencium pipi Citra dalam, "Nggak usah. Mas aja yang peluk ntar keenakan malah terlambat. "
Nah, itu bapak tauuuuu. Citra sepertinya harus mulai menyetok sabar takutnya sikap Pak Arif seperti ini permanen bisa-bisa merangkap jadi bapak sitter.
"Nanti tehnya dingin, Pak. Nggak enak." Citra mengingatkan. Namun bukannya luluh Pak Arif malah makin mengeratkan dekapannya.
"Mbak Jen ikut ke sekolah lagi aja ya?"
Citra mengerutkan kening, "Maksudnya?"
Pak Arif mencium rambut belakang Citra berkali-kali dengan gemas, "Jadi muridnya Mas lagi. Kayaknya Mas bakalan kangen sama Mbak Jen."
"Kangen nge hukum?" Sindir Citra. Masih jelas di ingatannya lelaki yang tengah memeluknya ini sering sekali memberinya hukuman-hukuman untuk kesalahan receh yang ia lakukan. "Lagian mas kok dulu rajin bangat ngehukum Jena? Perasaan bandelan yang lain deh. " Tanyanya heran, sekaligus menyuarakan rasa penasarannya.
"Biar diingat terus sama Mbak Jen." Akunya sambil tertawa.
"Dih, jalan ninja macam apaan tuh? Kan bisa pake cara lain kalau mau Jena ingat." Kan menyebalkan sekali bapak-bapak ini, penderitannya hanya untuk membuatnya ingat terus.
"Sudah mas coba tapi Mbak Jen malah sukanya Pak Alfian." Rajuk Pak Arif terdengar dari suaranya. Gantian Citra yang tertawa, sulit percaya kalau Pak Arif caper padanya. Belum lagi caranya yang bikin hati kesal setiap saat.
"Pak Alfian baik gitu, lembut, per---hmmphh."
"Mas nggak suka Mbak Jen puji laki-laki lain." Kata Pak Arif setelah melepaskan bibir Citra yang dibungkamnya dengan bibirnya. Citra yang diserang tiba-tiba hanya bisa membulat kaget. Ciumannya memang tidak lama tapi engap juga di sedot sama vacum clenernya Pak Arif. "Cuma Mas laki-laki yang boleh ada di hati, yang boleh Mbak Jen tatap dan pikirkan." lanjutnya berbisik di telinga Citra. Lihatlah, lelaki ini begitu pencemburu.
***
Citra berjalan sembari membaca petunjuk yang tertempel di ruangan-ruangan yang dilewatinya. Hari ini ia mengenakan celana kulot hitam dan blous merah muda serta pashmina hitam menutup kepalanya sempurna. Lisna yang tadi bersamanya sudah pergi mencari ruangan sekret kimia untuk mengumpulkan berkasnya sehingga ia harus lanjut seorang diri. Banyak mahasiswa baru yang juga sepertinya yang sama bingungnya mencari ruangan, bedanya mereka tak sendiri.
Saat melihat keramaian di depan sebuah loket terbuka, ia menghampiri salah seorang perempuan yang mengantri, "Sorry, ini loket bahasa?"
"Iya."
Citra mengangguk, "Oh ok, thanks." ia berdiri dibelakang perempuan. "Saya Citra." ujar Citra mengulurkan tangan melewati badan perempuan tersebut. Sudah dia bilang kan, bahwa dirinya ini mudan berkomunikasi dengan orang baru.
"Oh ya, Lisa." Jawab perempuan bernama Lisa itu membalas senyum Citra.
"Gue Rama."
Citra menoleh kebelakang saat sebuah tangan terulur padanya. Lelaki bermata sipit itu tersenyum padanya.
"Citra." Balas Citra dengan senyum yang tak kalah ramahnya.
"Lo cantik."
"Dih!" Suara spontan Lisa mewakili Citra. Baru kenalan sudah se-buaya ini, apa nggak bahaya?!
Rama tertawa renyah, belum juga ia lepas tangan Citra yang segera disadari oleh gadis itu yang dengan segera melepaskan diri.
"Lo dari sekolah mana?" Tanya Rama lagi. Belum menyerah sepertinya bahkan ketika Citra sudah berbalik memunggunginya.
__ADS_1
"Sekolah Menengah Atas." Jawab Citra tak serius.
"Atas mana?"
Citra mendelik menoleh kebelakang, "Apaan sih?" Baru kali ini berkenalan dengan orang baru bikin sebal.
"Ya siapa tau kan kita satu buku tahunan." Ujar Rama dengan tampang tengilnya.
"Nggak ada modelan kamu di sekolahku." Citra kembali menoleh ke depan. Menyesal tadi kenapa harus ramah sekali sama orang yang satu ini.
"Masa sih, kalau nggak ada di buku tahunan, buku nikah aja gimana?"
Citra mendadak mual. Sumpah. Ini benar-benar bencana. Semoga saja dia tidak satu Fakultas dengan orang dibelakangnya ini, eh tapi kalau antri disini sudah barang tentu satu prodi dengannya. Ok oke, nggak apa-apa satu prodi yang penting tidak sekelas. Tak mau menanggapi, Citra memilih menulikan telinga.
Sepanjang antrian, cowok bernama Rama itu tak berhenti mengajak Citra bicara walaupun sama sekali tidak ditanggapi. Citra harus mengapresiasi muka tebal cowok ini karena menarik perhatian beberapa orang dengan kelakuannya yang bikin kesal.
"Sabtu depan semua ke prodi ya dek." Ujar staf yang menerima berkasnya.
"Kegiatan apa ya kak?" Tanya Citra. Ia butuh alasan untuk menjelaskan pada bodyguard barunya.
"Datang saja. Nanti akan disampaikan hari itu juga." Kata si Staf tanpa senyum.
Citra mengangguk, "Iya, Kak." tak menunggu lama ia segera meninggalkan loket. Sekian banyak orang di tempat itu tak ada satupun yang dikenalnya. Saat akan menanyakan keberadaan Lisna lewat chat, sebuah HP merk mahal keluaran terbaru di sodorkan padanya, "Saya boleh minta nomormu?"
Citra mendongak, "Boleh." tersenyum pada Lisna yang berdiri di depannya. Ia mengetik nomornya lalu menyerahkan kembali HP itu pada Lisa, "Chat ya." katanya.
Lisa mengangguk, "Udah."
Citra melihat pesan masuk dari nomor masuk.
"Itu nomorku." Ucap Lisa.
Citra mengangguk, "Oke."
"Sekalian."
"Nggak." Tolak Citra tanpa basa basi.
"Lis, bagi gue nomornya." Rama beralih pada Lisa.
"Dia bilang NGGAK!" Lisa menarik tangan Citra, "Yuk pergi!"
Citra melangkah mengikuti Lisa. Rama hendak mengejar mereka namun seseorang memanggil namanya.
"Kamu kenal?" Tanya Citra saat mereka sudah duduk di sebuah bangku panjang di ruang tunggu.
"Ketua OSIS di SMA gue dulu."
Citra mengangguk samar, "Emang gitu orangnya?"
Lisa mengangguk, "Playboy kelas kakap. Biasalah, sadar dirinya cakep."
Citra mengerti. Memang ada tipe orang-orang seperti itu termasuk di sekolahnya. Sayangnya seleranya yang bapak-bapak dengan masa depan jelas. Hehe.
"Lo kesini diantar?"
"Aku bareng temen. Tapi dia di prodi lain." Jawab Citra, mengambil tumbler dalam tasnya dan meminumnya. "Mau?" menawarkan air mineral mini yang ia bawa-bawa sebagai cadangan.
Lisa menggeleng, "Nggak, belum haus. Makasih."
Citra memasukan kembali mini botol dan juga tumblernya kedalam tas.
"Lo masih ada kegiatan habis ini?" Tanya Lisa. Tatapannya penuh pada Citra yang sibuk dengan barang bawaan nya.
"Nggak. Mungkin langsung balik." Kata Citra memakai kembali tas ranselnya.
"Ke Fakultas mau nggak? Sekalian kita liat-liat ruangan." Ajak Lisa.
"Boleh deh."
__ADS_1
Keduanya kemudian berjalan keluar gedung memotong jalur menuju Fakultas Keguruan yang ada di sebrang jalan.
"Sebenarnya gue nggak bakat jadi guru tapi mama pengen punya anak guru." Ujar Lisa saat keduanya sudah sampai di depan papan nama Fakultas.
"Oh ya? Biasanya orang tua pengen anaknya jadi dokter."
Lisa mengedikkan bahu, "Nggak tau. Mungkin karena mama dari keluarga guru makanya anaknya juga disuruh jadi guru."
Citra terkekeh, "Mungkin juga ya. Kalau aku emang pilihan sendiri walaupun cita-cita masa kecil pengennya jadi pramugari tapi lihat badan segini aja pertumbuhan nya jadi di kubur aja mimpi itu."
"Iya sih." Lisa menggumam setuju sembari menyorot Citra dan atas sampai bawah tanpa niat merendahkan.
"Guru juga asik kok. Kita bakalan betah disini." Ujar Citra teringat Pak Arif yang begitu menikmati profesinya sebagai seorang tenaga pendidik.
Lisa menarik nafas lalu menghembuskannya dengan sedikit suara, "Semoga ya." Keduanya kini sudah berada di lorong ruangan, membaca papan ruangan satu persatu seperti tujuan awal mereka untuk melakukan Fakultas tour.
Saat sedang asik bercanda dengan Lisa, sebuah telfon dari Pak Arif masuk. Citra tersenyum kecil.
"Bentar ya, mau angkat ini dulu."
Lisa mengangguk, membawa Citra duduk di sebuah bangku kosong. Suasana Prodi belum terlalu ramai jadi suara Pak Arif terdengar jelas.
"Assalamu'alaikum, Mas."
"Waalaikumsalam. Mbak Jen masih di kampus?" Suara Pak Arif disebrang sana menarik perhatian Lisa.
"Iya, Mas. Baru selesai ngumpul berkas."
"Sudah waktunya makan siang. Jangan terlambat makan ya? Atau Mas pesanin?"
Citra menggeleng, "Nggak usah, Mas. Nanti Jena beli sendiri. Mas udah makan?" Citra melirik jam di pergelangan nya. Harusnya jam segini Pak Arif sudah selesai solat dan lanjut istrahat makan siang.
"Pulangnya sama Lisna lagi?"
"Belum tau, Mas. Lisna belum sama-sama Jena."
"Loh, kalian pisah?" Pak Arif terdengar khawatir.
Citra mengulum senyum, suka aneh dengan perhatian Pak Arif yang lebih seperti menganggapnya anak PAUD. "Kan beda prodi Mas. Mas nggak usah khawatir, Jena bakal jaga diri kok. Bakal kabarin Mas terus."
"Baiklah. Kalau pulangnya naik angkutan umum jangan lupa foto sopir dan platnya ya trus kirimin Mas."
Meskipun terdengar sangat berlebihan tapi Citra menganggukinya agar Pak Gurunya itu tenang.
"Iya, Mas. Jena bakalan fotoin sekalian minta nomor sopirnya." Jawab Citra sabar bercanda.
"Nomor sopirnya nggak usah." Jawab Pak Arif. Sangat serius menanggapi candaan Citra.
"Iya, Mas. Iyaaaaaa... . "
"Uuum bagus. Jangan lupa sholat."
"Nggeh, Mas." Jawab Citra dengan tutur jawanya.
"Ya udah, Mas tutup. Assalamu'alaikum."
"Waalaikumsalam, Mas."
Citra menghembuskan nafas lelah setelah menutup telfonnya.
"Kakak lo ya? Beruntung banget." Lisa tampak cemburu mendengar obrolan Citra dan Pak Arif. Sebagai anak tunggal sangat merasakan sepinya tanpa saudara.
Citra meringis, "Maaf ya."
"Mau juga punya kakak." Ujar Lisa penuh harap.
"Masku." Gumam Citra. Ia tak mau terburu-buru menceritakan pribadinya pada orang baru di pertemuan pertama. Pada waktunya nanti ia akan mengenalkan Pak Arif pada orang-orang yang dikenalnya agar mereka lihat berapa beruntungnya seorang Citra mendapatkan bapak-bapak seperti Mas Arif. Udah kaya, cakep, soleh lagiiiii... Sangat beruntung Citraaaaa.
***
__ADS_1