
Citra menatap wajahnya di cermin. Yang semalam itu apa? Ia baru saja mengakui perasaanya pada gurunya sendiri? Oh Tidaaaaaak. Bagaimana ia harus menghadapi Pak Arif hari ini? Ya Tuhaaaaan. Citra menepuk-nepuk pipinya.
"It's okey, Citra. Tenang tenang tenang. Pak Arif tidak gigit kok. Pak Arif tidak ember kok. Pak Arif baik, Pak Arif anak soleh, Pak Arif---ARGHHHHH!!!" Citra menjatuhkan dirinya diatas ranjang. "Apa aku bolos aja ya hari ini? Tapi ulangan biologi gimana?" Sepanjang malam dan pagi ini memang Citra hanya bicara sendiri. Omongan Pak Arif semalam membawanya pada fase baru dalam kehidupannya.
Flashback On.
"Disukai sama saya tidak akan rugi, Mbak Jen." Ujar Pak Arif.
"Jangan bilang-bilang siapapun ya Pak." Pinta Citra.
Pak Arif mengangguk, "Iya. Tapi saya mau memperjelas satu hal lagi."
"Apalagi sih Pak? Kan udah tadi, bapak juga udah tau kalau saya juga suka sama bapak." Ujar Citra cepat. Bagaimana ya, membahas perasaan secara langsung itu bikin seluruh badannya menghangat apalagi mukanya. Duh.
"Karena kita sudah sepakat, saya mau mulai sekarang jangan berpikir saya bukan siapa-siapa kamu lagi."
Citra memincing, "Jadi intinya bapak sampai ngajak kesini mau bilang kalau bapak tersinggung sama omongan saya di telfon?" tebalnya.
"Itu kamu tau. Saya suka sama kamu, otomatis saya khawatir kalau sampai terjadi apa-apa sama kamu. Oleh karena itu saya mau Mbak Jen juga memahami ini. Mau saya tidak banyak, cukup kabari kalau mau ke suatu tempat, jawab chat atau telfon saya. Mengerti kan maksud saya, Mbak Jen?"
"Posesif."
"Wajar. Saya ingin memiliki Mbak Jen suatu saat nanti."
Citra tanpa sadar mundur ke belakang untung saja kursinya tertahan tembok, "Jangan terlalu terus terang begini dong Pak. Saya takut."
"Saya terus terang begini saja kamu susah paham, apalagi kalau saya pakai kode-kodean."
Citra manyun. Ya memang sih ta-tapi tapi kaaan---
"Saya hanya ingin memperjelas supaya Mbak Jen tidak bingung mengartikan sikap saya. Mbak Jen juga bisa belajar dengan tenang akhirnya, tidak marah-marah sendiri lagi, iya kan?"
Citra mengangguk. Memang tidak ada yang salah dari omongan Pak Arif. Setelah mengaku akhirnya ia bisa lebih plong sekarang.
"Mas, ini sudah boleh di lepas?" Alul yang sudah terantuk karena mengantuk menatap Pak Arif sayu. Saking lamanya obrolan orang dewasa, anak kecil jadi korban.
"Oh, iya. Terimakasih ya Lul."
"Sama-sama, Mas. Yaudah Mas, bayar. Alul ngantuk."
Pak Arif terkekeh, "Iya." Laki-laki itu beranjak dari kursi untuk pergi membayar pesanan mereka. Citra yang mengamati interaksi keduanya sampai tidak bisa berkata-kata. Perasaan nyaman itu sungguh sangat membahayakan, lihat saja adiknya ini, belum apa-apa sudah bersikap seolah-olah Pak Arif adalah Mas kandungnya. Hebat hebat hebat.
"Ayo, pulang." Pak Arif kembali setelah membayar.
"Alulnya tidur, Pak. Susah tuh dibangunin." Ujar Citra masih posisi nyaman di tempat duduknya.
__ADS_1
Pak Arif tak berpikir panjang langsung menggendong Alul di punggungnya, "Tolong pegangin HP saya."
"Pak, mendingan pikirin ulang deh perasaan Bapak." Ujar Citra mengambil HP tersebut. Mereka keluar dari warung sambil berbicara.
"Kenapa?"
"Kayaknya saya nggak sanggup rebutan Pak Arif sama Alul."
Pak Arif terkekeh, "Kenapa harus rebutan? Saya bisa sayang kalian berdua."
Citra menggeleng, "Nggak boleh sama, Pak. Bapak harus lebih lebih lebih banyak sayangnya sama saya."
Pak Arif menoleh pada Citra dengan senyum tertahan, "Begitu ya?"
"Iyalah."
Pak Arif mengangguk-angguk, "Baiklah."
Flashback Off.
Citra terhenyak. Jadi sekarang apa hubungan dirinya dengan Pak Arif? Pacaran? Atau apaaaa?
"Daripada mikirin ini dan ujung-ujungnya stres sendiri, lebih baik aku mandi." Katanya Pada diri sendiri. Ia bergegas ke kamar mandi, sebentar lagi sudah hampir jam sekolah, mungkin ia perlu menceritakan ini pada Agus si paling mengerti dunia suka-sukaan.
***
"Duduk dulu makanya."
Agus mendesah lelah, "Saya mau temani Lisna ke kantin. Ngomong cepat!"
"Ck. Lisna gampang, nggak bakal nyasar dia ke kantinnya."
"Takut ada yang godain." Ujar Agus cengengesan.
"Dih, si mentang baru jadian."
"Iya dong."
"Dosa tau, Gus. Mendekati zina kata Pak Arif."
"Oooh jadi itu alasan Pak Arif ngegantungin kamu kayak tali jemuran?"
Citra mengernyit, "Maksud kamu?"
Agus menggeleng tak percaya, "Saya kasian sama Pak Arif, suka sama bocah baru netas."
__ADS_1
"Kita seumuran ah! Jangan sok tua, dasar jompo."
Agus tertawa puas melihat wajah merajuk Citra.
"Yaudah, mau ngomong apa?" Tanyanya setelah puas tertawa.
"Tadi maksud kamu apa bilang Pak Arif ngegantungin tali jemuran?" Citra penasaran, dia nol besar nih yang beginian. Taunya cuma ngerusuhin Alul, main sama Abu dan Agus, Iri sama Sari dan Lisna, dan juga bucin sama Pak Alfian. Eh, ada lagi, memusuhi Pak Arif.
"Pak Arif tidak mau kasi status pacaran, takut mendekati zina. Gitu kan?" Agus melirik sahabatnya yang bengong lalu mengangguk-angguk menyetujui ucapannya.
"Trus ngapain bilang suka kalau tidak mau ngajak pacaran?" Citra belum paham nih konsep ini. Biasanya orang bilang suka kan dibarengi dengan ajakan pacaran. Seperti Si Agus bucin Lisna ini contohnya.
"Cieeeeee jadi beneran ya sama Pak Arif?" Goda Agus menoel-noel bahu Citra, "Cihuuuiiii akhirnya ya Pak Arif, emang jalur berantem-berantem itu paling efektif. Mantap lah!"
"Aguuuuuusss!!! Udah dooong, jangan digodain." Citra memukul-mukul bahu Agus. "Jawab aja yang tadi."
"Jawab yang mana sih? Duh, jangan pukul-pukul. Ntar dilihat Pak Arif di potong bahu saya."
Citra menghentikan aksinya., "Yang tadi."
"Yang tadi mana?"
"Itu loooh, kenapa Pak Arif nggak ngajak jadian." Ujar Citra malu-malu.
Agus terkekeh lalu berkata, "Mau langsung nikahin kalik."
"IIIH NGGAK MAU!" Teriak Citra spontan, "Saya masih mau sekolah."
"Ya gimana ya, Mbak. Mbak nya ini disukai sama laki-laki dewasa yang siap membuahi ya past---AWWWW!!! Kenapa kepala saya di tabok sih ah?!" Agus mengusap kepalanya yang kali ini bukan sepatu melainkan batu bata. Parah kan? Niatnya memang mau membunuh ni orang. Agus mendumel dalam kepala.
"Tolong ya tuh mulut di pasangin filter. Membuahi membuahi-- hih otak kamu Aguuuuus!!!" Citra berujar gemas.
"Memang iya kan?" Agus tak mau kalah.
"Tau ah. Salah kayaknya curhat sama kamu."
"Oooh lagi curhat ceritanya?"
Citra beranjak dari tempat duduknya, "Bodo ah. Agus jelek kayak monyet."
"Dih, Kamu yang bego mau temenan sama monyet. Udah bego, kecil, idup lagi, kasian Pak Arif mau meluk aja nggak dapet ya empuk-em--ARGGHHHHHH!!! RAMBUT SAYA CIIIIT!! LEPAS!!!"
"RASAIN!"
***
__ADS_1