My Favorite You

My Favorite You
Selera Pak Arif


__ADS_3

Hari ini Citra menjadi manusia paling gabut sejagad raya. Hari minggu yang biasanya menjadi hari favoritnya khusus untuk hari ini malah terasa menyebalkan. Apalagi kalau bukan karena tetangga depan yang sedang pergi mendaki bersama teman-temannya begitupun Abu yang juga ikut dalam rombongan. Alul yang biasanya menjadi korban kegabutan nya sedang pergi bersama Papi dan Mama ke rumah saudara. Dia yang menjadi penghuni satu-satu nya di tugaskan untuk menjaga rumah karena ada pelanggan yang mengambil pesanan hasil jahitan.


Citra menutup gerbang setelah pelanggan pergi. Baru akan kembali kedalam rumah, Ibu Pak Arif memanggilnya.


"Mbak Jen, sendirian?"


Citra mendekat ke arah pagar. Ibu Pak Arif sepertinya baru pulang dari pasar dengan beberapa plastik belanjaan di tangannya. Citra yang melihat itu buru-buru membuka pagar dan menghampirinya.


"Iya, Budhe. Mari, Jena Bantu." Citra mengangkat dua plastik sekaligus yang ternyata cukup berat.


"Terima kasih ya, Mbak Jen." Ujar Ibunya Pak Arif memimpin jalan masuk ke dalam rumah.


"Sama-sama, Budhe." Citra mengekor di belakang, ikut masuk hingga ke dapur.


"Tolong letakkan di meja aja, Mbak Jen."


Citra meletakkan belanjaan diatas meja sesuai perintah.


"Di cobain, Mbak Jen. Buatan Budhe semalam." Ibu muncul membawa brownis yang sudah di potong-potong dan tertata rapi diatas piring.


"Waaaah, makasih, Budhe. Padahal Jena bantunya ikhlas loh." Citra tersenyum lebar mengambil piring tersebut. Kebetulan sekali ia belum sarapan pagi ini.


"Semalam Budhe bikinin untuk bekal Mas Arif, tapi lupa dibawa." Ujar Budhe membuat Citra menghentikan keasikan nya menikmati brownis enak tersebut.


"Aduh, kalau gitu disimpan aja Budhe, nanti dicariin yang punya." Kata Citra mengembalikan satu potong brownis kedua yang belum sempat di gigitnya.


"Nggak apa-apa, Mbak Jen. Nanti dibikinin lagi. Gampang kok." Budhe mengusap puncak kepala Citra, "Atau mbak Jen mau belajar buat brownisnya? Kesukaan Mas Arif ini."


Citra meringis. Terus terang saja dia agak bingung dengan situasi ini karena kesukaan Pak Arif tentu saja tidak ada urusannya dengannya.


"Kebetulan Budhe beli bahan." Lanjut Budhe menunjuk bahan-bahan kue yang dikeluarkan dari kantong belanjaan.


Citra berdiri menghampiri Budhe. Tidak ada ruginya juga belajar, siapa tau bisa di coba di rumah, "Boleh, Budhe."


"Ya sudah, sekarang Mbak Jen bantu siap-siapin bahannya, Budhe ngawasin."


"Jena yang bikin, Budhe?" Tanya Citra tak yakin. Meskipun punya hobi memasak dan sering bantu mamanya di dapur tapi soal kue dirinya nol besar.


"Iya. Nanti Budhe bantuin." Ujar Ibu Pak Arif menepuk bahu Citra, "Pake dulu." ia menyerahkan apron pada Citra membantunya memakainya.

__ADS_1


"Sekarang bangat Budhe?" Citra meringis.


"Mbak Jen ada kesibukan ya?"


Citra menggeleng, "Nggak ada Budhe. Jena nganggur."


"Yaudah sekarang aja. Latihan jadi istri." Ibu Pak Arif mengencangkan ikatan apron di badan Citra, "Pasti makin disayang."


Disayang siapa?


Citra bengong. Otaknya yang baru bekerja dengan baik belasan tahun belum mampu mencerna kalimat-kalimat Ibunya Pak Arif. Citra memandang bahan-bahan kue di depannya. Kemudian menoleh pada Ibu Pak Arif dan menatap pantulan dirinya di badan kulkas. Aneh, situasinya terlihat seperti gambaran anak mantu yang sedang membantu mertua di dapur. APA AKU SUDAH GILAAAA?


***


Citra bisa bangga pada dirinya sekali lagi untuk hal baru yang dipelajarinya. Setelah dua kali percobaan akhirnya brownis nya bisa matang tanpa gosong.


"Enak, Mbak Jen." Ibu Pak Arif mencomot sepotong, mengacungkan jempol pada Citra.


Citra tersenyum malu-malu, "Karena Budhe sabar bangat ngajarinnya. Makasih ya Budhe."


"Sama-sama, Sayang." Budhe mengusap punggung Citra lembut. Diperlakukan selembut itu Citra makin terhanyut, makin lupa diri, lupa kalau sekarang yang bersamanya ini adalah Ibunya Pak Arif, lelaki yang selama ini dikerjainya habis-habisan. "Sekarang Mbak Jen bersih-bersih dulu. Banyak tepungnya." ujar Budhe mencolek pipi Citra yang meninggalkan tepung disana.


"Nggak usah. Bersih-bersih nya disini saja trus kita makan siang bareng. Temanin Budhe." Ibu Pak Arif mendorong Citra menuju salah satu kamar, "Tuh, di kamar Mas Arif ada kamar mandi."


Citra menahan langkahnya di depan pintu kamar, "Nggak ada kamar mandi lain, Budhe?" tanya Citra ragu untuk masuk. Bukan kali pertama sih tapi sekarang rasanya beda setelah tahu bahwa pemilik kamar ini menyukainya.


"Kamar mandi luar masih di renov, airnya macet. Atau mau kamar mandi di kamar Budhe saja?"


"Eh, nggak usah, Budhe. Jena pake kamar mandi ini saja." Tolak Citra cepat. Tentu saja lebih sungkan lagi kalau masuk di kamar orangtua Pak Arif.


"Ya sudah, masuk sana. Budhe tinggal ke dapur."


Citra mengangguk walaupun agak berat, "Makasih, Budhe."


"Iya. Jangan lama-lama ya, nggak enak kalau makanannya dingin."


"Baik, Budhe." Citra lantas masuk ke dalam kamar itu dan seperti sebelumnya wangi khas Pak Arif langsung tercium indra nya. "Ya ampun, saya deg deg an. Ini normal kan ya?!" ia bermonolog seorang diri. Tak seperti sebelumnya, kali ini ia langsung meluncur ke kamar mandi, tak mau membuat Budhe menunggu apalagi memberi kesan bahwa dia betah berlama-lama di kamar gurunya itu.


"Bersih bangat. Cocok jadi kang wc." Citra memeriksa setiap sudut kamar mandi siapa tau saja menemukan jebakan batman disana yang bisa dipakai untuk menjuliti Pak Arif. Sayangnya Citra tak menemukan apapun selain kesimpulan bahwa guru kimianya itu tipe rajin bersih-bersih, sangat cocok dengannya yang malasnya ampun-ampunan.

__ADS_1


Setelah selesai membersihkan diri, Citra keluar kamar namun belum sampai dapur ia sudah mendengar suara lain yang tak asing di dapur.


"Tumben kuenya gagal, Bu?!"


Itu suara Pak Arif. Kok cepat pulang? Citra melirik jam dinding di ruang tengah, baru tengah hari jadi kenapa orang ini sudah kembali?!


"Ya ngapain bagian gosong nya di makan mas? Cobain yang ini."


Citra masih menyembunyikan diri dibalik dinding.


"Terlalu manis. Bukan selera saya. Pasti bukan ibu yang bikin? Ada ART baru?"


Citra manyun. Terlalu manis apaa, situnya saja yang sudah uzur makanya menolak makanan manis.


"Hush, jangan kenceng-kenceng. Nanti kedengaran yang bikin. Lagian udah pas ini masnya." Ujar Budhe menegur anak lelakinya.


"Ya memang nggak seenak bi--"


"Yaudah, nggak usah dimakan!"


Pak Arif terkejut saat tiba-tiba piring kue di depannya direbut belum lagi pelakunya adalah tetangga merangkap kesukaannya.


"Loh, Mbak Jen?"


"Iya, saya." Jawab Citra jutek. Ia menyembunyikan kue tersebut dibelakang punggungnya.


Pak Arif menoleh pada sang ibu meminta penjelasan namun Ibunya malah sok sibuk mengatur meja.


"Kalau nggak suka jangan nyinyir dong, Pak. Jatuhin mental orang aja." Omel Citra mengambil tempat duduk di samping Budhe. "Iya kan, Budhe?"


"Betul sekali." Jawab Ibu Pak Arif menggoda putranya dengan memihak pada Citra.


Pak Arif menggaruk pelipisnya sambil tersenyum kecut. Mau bagaimana lagi kalau para wanita sudah bersekutu. Tentu saja ia kalah jumlah.


"Maksud saya, kan yang bikin sudah manis, kuenya nggak usah manis-manis." elaknya sambil ikut duduk disamping Citra.


"Ngeles aja bapak ini kayak bajaj." Citra menjauhkan piring kue dari jangkauan Pak Arif, "Nggak usah. Bapak nggak boleh makan kue bikinan saya. Kan bukan selera bapak." katanya saat Pak Arif hendak mencomot brownis yang ditolaknya tadi.


Pak Arif terkekeh, "Selera saya kok, Mbak Jen. Sama kayak yang buat. Iya kan, Bu?"

__ADS_1


***


__ADS_2