My Favorite You

My Favorite You
Hotel


__ADS_3

Citra menatap kamar hotel yang berada di lantai sepuluh itu dengan takjub. Pemandangan kota terlihat dari atas begitu cantik seperti lautan bintang yang berkelap kelip. Di bagian balkon ada meja yang di penuhi makanan dengan lilin-lilin yang menjadi penerangnya.


"Mas yang ngide untuk semua ini?" Tanya Citra, mulutnya belum mengatup karena takjub nya ia. Tadinya yang begitu panik mendengar kata hotel disebut, sekarang ia tidak menyesal sama sekali berada di tempat itu meskipun sempat kicep juga melihat ranjang king size dengan bunga-bunga dibentuk hati diatasnya. Bagaimanapun urusan malam pertama masih menjadi momok menakutkan baginya.


"Iya. Suka? " Pak Arif menarik kursi mempersilahkan Citra duduk.


Citra manggut-manggut. "Suka bangat. Jena foto dulu ya Mas. Mau pamer sama anak-anak." katanya mengeluarkan HP dari tas nya. Foto ini akan ia kirim di grup agar terjadi gonjang ganjing disana.


Pak Arif mempersilahkan. Ia membiarkan Citra mengambil foto sepuasnya. Sangat senang melihat istrinya itu tersenyum bahagia.


"Sudah?" Tanyanya saat Citra memasukan kembali hpnya dalam tas.


"Udah." Angguk Citra ceria.


"Doa dulu."


Citra melepas sendoknya diatas piring saat Pak Arif menegurnya yang hendak memasukan makanan dalam mulut. Ia mengangkat tangan mengikuti suaminya membaca doa.


"Selamat makan." Ucapnya setelah mengamini doa baik itu.


Keduanya larut dalam kegiatan makan. Pak Arif sudah mengingatkan sebelumnya agar Citra tidak mengobrol saat makan. Lelaki itu memang pelan-pelan menyisipkan kebiasan-kebiasaan baru dalam keseharian Citra seperti misalnya selalu mengucap bismillah saat melakukan sesuatu dan juga aturan untuk tidak berbicara yang tidak penting saat makan.


"Alhamdulilah." Citra menyandarkan punggungnya kekenyangan. "Makanannya enak. Coba Jena bisa masak kayak gini."


"Kan bisa belajar." Ucap Pak Arif, ikut melakukan hal yang sama, bersandar di kursi.


"Iya sih. Mas Arif kok bisa nemu tempat ini? Keren bangat. Sayang aja mendung jadi bintangnya nggak kelihatan. " Ujar Citra melihat kearah langit.


"Nanti Mas ajak lihat bintang yang lebih jelas dan banyak."


"Mau mauuuu." Citra meluruskan badannya antusias. "Kapan?" tanyanya tak sabar.


Pak Arif terkekeh, mengusap kening Citra "Insya Allah kalau urusan sekolahmu sudah beres semua."


"Bener ya? Jen tagih nih janjinya."


Pak Arif mengangguk, "Iya, Mbak Jen."


"Yeeeee." Citra bersorak senang tak sabar lagi menunggu saat itu tiba.


"Sekarang bilang sama Mas, kemarin itu Jena mau ngomong apa?" Tagih Pak Arif. Belum sempat Citra mengungkapkan keinginannya malah ketiduran. Akhirnya Pak Arif lah yang membawanya ke kamar.


"Oh itu---" Wajah Citra berubah tidak enak. Pak Arif menyadarinya tapi kali ini ia membiarkan Citra memberanikan diri berbicara.


"Ini tuh soal---enggg." Citra mendongak, menatap Pak Arif ragu-ragu. Laki-laki itu menunggunya dengan sabar. "Soal Mas sama Jena."


"Apa itu?"

__ADS_1


Citra membasahi bibirnya sebelum kembali berkata, "Emmmm, soal malam pertama."


Deg.


Pak Arif menegak. Tidak kepikiran Citra akan membahasnya. Meskipun terdengar agak canggung tapi memang hal ini harus dibicarakan.


"Ada apa dengan malam pertama?"


Citra menunduk, Tiba-tiba tak berani untuk mengungkapkan isi kepalanya apalagi melihat wajah serius Pak Arif. Berasa sedang di tatap saat di kelas ketika ia membuat kesalahan. "Ngg-Nggak jadi deh." Putusnya akhirnya.


Pak Arif menghela nafas pendek, "Mbak Jen belum siap?" Tebak Pak Arif. Tidak ada yang ia pikirkan selain kearah sana. Melihat gelagat Citra yang masih kaku padanya jelas saja anak itu memikirkan persoalan ini.


Citra menunduk semakin dalam, "Maafin Jena, Mas. Jena takut. Kata orang-orang gituan sakit."


Heh?


Pak Arif sampai melongok. Seterus terang itu Citra mengatakannya. Ia berdehem, membebaskan tenggorokannya yang tiba-tiba kering. Bukan hanya Citra, dirinya juga khawatir tapi tidak sampai membuatnya takut.


"Dengar dari siapa kalau sakit?" Pak Arif ingin tahu dari mana sugesti negatif itu di peroleh oleh Citra.


"Artikel, trus dari teman-teman juga."


"Teman-teman yang mana? Memangnya mereka pernah melakukannya?" Mode guru BK nya mulai muncul. Kalau teman-teman kan otomatis siswa siswi nya di sekolah.


Citra langsung gelagapan. Walaupun banyak temannya yang mengaku sudah melakukannya bukan berarti ia akan menceritakannya pada Pak Arif kan? "Dari internet juga kalik." Jawabnya Asal. Mampus aja kalau Pak Arif merongrong nya dengan pembahasan yang ini. "Mas, ngantuk." ujarnya mengalihkan topik pembicaraan. Topik ini terlalu tepi jurang untuk dibicarakan. Salah sedikit langsung jatuh dan berakhir di meja pengadilan sekolah.


"Ini bunganya ngapain model love sih pak? Jajaran genjang kan bisa." Citra menunjuk tak senang model bunga itu. Bikin nethink saja.


"Mas."koreksi Pak Arif, "Mungkin petugasnya taunya cuma bikin model ini." Ujarnya sama polosnya dengan sang istri.


"Lampunya juga remang-remang. Kenapa sih? Listriknya nggak mampu bayar apa gimana?" Lagi, Citra mengomentari sesuatu yang Pak Arif tidak tahu harus menjelaskan bagaimana kalau dirinya bukan lah pengelola hotel ini sehingga bisa mengatur semuanya. Lagipula lampunya masih terang, entah bagian mana yang remang-remang.


"Selimutnya juga kenapa cuma satu. Wangi bangat lagi."


"Jangan takut. Saya laki-laki yang memegang janji." Kata Pak Arif mulai memahami apa yang dipikirkan oleh anak gadis Papi ini. Sudah pasti ini tentang suasana malam pengantin yang sudah membayang dikepalanya.


Citra tak lagi berkomentar. Ia meletakkan tasnya diatas nakas lalu duduk di ujung ranjang, memperhatikan ruangan itu dengan seksama. Memang dirancang untuk pengantin baru seperti mereka.


"Mas mau ngapain?" Tanya Citra panik saat melihat Pak Arif melepas kancing teratas kemeja kotak-kotaknya.


Kening Pak Arif mengernyit, "Lepas baju. Kenapa?"


"Kenapa dilepas? Pake aja. Nggak dingin apa." Citra mengalihkan perhatian nya ketempat lain saat Pak Arif malah melepas kancingnya yang kedua dan ketiga. Mohon maaf saja, batas aurat lelaki memang dari pusat sampai lutut tapi tahukah para lelaki bahwa dada bidang juga tuh bikin bergetar apalagi bagi remaja polos yang otaknya tidak jauh-jauh dari kotak enam, kotak delapan. Roti sobek juga kalah pamor kalau dibandingin.


"Mau mandi, Mbak Jen." Ujar Pak Arif sabar. Kalau bukan dirinya yang harus sabar, mungkin rumah tangganya ini hanya akan seumur kupu-kupu. Mengharapkan Citra lebih sabar sama saja mengharapkan hujan dolar.


"Yaudah mandi. Nggak usah juga bajunya di lepasin disini. Ada anak dibawah umur disini."

__ADS_1


Pak Arif yang hendak melepas bajunya terhenti. Ia memincing menatap Citra yang pura-pura sibuk menghitung kelopak bunga di dekatnya. Mungkin ia bisa bermain-main sebentar dengan siswi bandelnya ini.


Citra menggeser badannya naik ke tengah saat Pak Arif duduk disamping nya. "Mas mau ngapain?" cicitnya waspada.


"Duduknya dekat Mas coba." Pak Arif menarik kaki Citra yang langsung membuat istrinya itu waspada.


"Mas udah janji ya." Dengan panik Citra berusaha menarik kakinya yang juga ditarik Pak Arif.


"Iya. Sini, Mas cuma mau ngomong."


"Kalau mau ngomong ya Mas ngomong aja nggak usah mepet-mepet. Jena takut. Mas mirip om om mesum di tv."


Sontak Pak Arif tertawa, "Ya Allah, Mbak Jenaaa. Sini sini... " ia menepuk-nepuk kasur disamping nya.


"Nggak mau." Citra menggeleng kuat.


Pak Arif menghentikan tawanya, ia melepas tangan nya dari kaki Citra lalu naik keatas ranjang duduk bersila di hadapan Citra.


"Sini Mas peluk biar takutnya hilang." Ia menarik hati-hati tangan Citra sambil mengukur sampai mana istrinya ini memberi dia batas.


Citra patuh. Ia mendekat, lalu jatuh dalam dekapan Pak Arif.


"Mbak Jen dengar detak jantung Mas? Cepat." Ujarnya mengusap-usap punggung Citra yang diam dalam pelukannya. "Mas juga baru pertama kalinya bersama perempuan. Takut, ada. Bingung juga. Sama seperti Mbak Jen."


"Tapi Mas Arif mukanya tenang aja Jena liatin."


"Saya laki-laki. Kalau kita sama-sama menunjukkannya lalu siapa nanti yang akan memimpin?! Percaya sama Mas Arif. Mbak Jen akan aman. Sampai kemudian nanti Mbak Jen yakin, kita akan membicarkannya lagi."


"Mas Arif mau nungguin?"


Pak Arif mengangguk, "Insya Allah. Pernikahan itu bukan hanya hubungan badan, Mbak Jen, walaupun memang disanalah jalan yang Allah halalkan bagi hambanya untuk menyalurkan kebutuhan."


Citra mengangguk, katakan ia nakal tapi dada Pak Arif ternyata kokoh, enak untuk bersandar, kulitnya lembut, wanginya bikin nagih, ini kalau khilaf apa bisa diampuni?


"Tapi mohon kerjasamanya ya Mbak Jen. Kalau seperti ini Mas takut nya khilaf." Pak Arif mengurai pelukan mereka saat merasakan bibir lembut Citra menyentuh kulit nya. Meskipun tidak disengaja, tetap saja berbahaya.


Citra menutup wajahnya malu, "Maaf, sengaja. Abisnya wangi sih."


"ASTAGHFIRULLAH" Pak Arif berjengit hampir jatuh mendengar nya.


Ini nih susahnya berjuang sendiri. Sabar Mas Ariiif. Sabaaaaar.


***


Berat ya Mas.


__ADS_1


__ADS_2