My Favorite You

My Favorite You
Liburan


__ADS_3

Inilah liburan yang diinginkan Citra, membangun tenda di dekat sungai tanpa ada siapapun hanya ada mereka berdua dan suara alam.


"Bagus kan Mas?" Citra menatap puas aliran sungai di depannya.


"Tau darimana tempat ini?" Pak Arif menurunkan tas ransel di bahu Citra.


"Nggak sengaja nemu di instagram."


"Iya, bagus." Angguk Pak Arif sembari mengeluarkan peralatan untuk membangun tenda. Keadaan sudah mulai gelap padahal masih pukul empat sore. Rimbunnya pohon membuat suasana menjadi lebih cepat gelap. Mungkin inilah satu-satunya hutan di kota ini yang masih menawarkan suasana alam yang masih terjaga. Bahkan air sungainya sangat jernih berbeda dengan sungai-sungai besar yang melintas di tengah kota.


Sementara Pak Arif membangun tenda, Citra dengan segala alat mancing sederhana yang dibuatnya duduk diatas baru dan menjatuhkan kailnya di dalam air.


"Jangan jauh mainnya Mbak Jen." Teriak Pak Arif mengingatkan saat Citra berdiri dan menyusuri anak sungai menjauh dari tempat mereka membangun tenda.


"Iya. Mas masih keliatan kok." Jawab Citra dari kejauhan.


Pak Arif tak lagi memperhatikannya. Lelaki itu sibuk mengatur barang-barang, menyiapkan peralatan untuk masak makan malam. Percuma mengharapkan sang istri di situasi seperti ini bisa-bisa mereka puasa malam ini.


Pak Arif sedang mengambil air di sebuah ceruk kecil saat mendengar suara pekikan Citra diiringi suara benda tercebur dalam air.


"JENA!" Panik, Pak Arif bergegas menuju tempat dimana Citra berada dan tak jauh dari sana ia melihat istrinya sedang berusaha bangkit dari dalam air dalam keadaan basah kuyup.


"Mas Ariiiiiiiif." Rengek Citra mengulurkan tangan pada sang suami yang sekilas terbit senyum di ujung bibirnya.


Pak Arif mendekat, masuk ke dalam air yang hanya setinggi betis orang dewasa itu. "Ngapain toh Mbak Jen? Mandi?" ia menggapai tangan Citra membantunya berdiri.


"Kepleset, sakiiiit." Adunya memegangi pergelangan kakinya.


Pak Arif menggelengkan kepala tak habis pikir, "Hati-hati." Perlahan ia memapah Citra membawanya kembali ke tenda.


"Sakiiiit." Citra mengaduh sebab kakinya nyut-nyut.


Pak Arif mengusap kepalanya, "Lain kali hati-hati." katanya sambil masuk ke dalam tenda mengambil sarung solat yang ia siapkan sendiri dan minyak kayu putih.

__ADS_1


"Lepas dulu jaketnya." Pak Arif melepas jaket yang dikenakan Citra dan menggantungnya di sebuah ranting kayu dekat tenda. Setelah menyelimuti Citra dengan sarung, Pak Arif lantas melepas sepatu dan menggulung celana istrinya itu untuk memeriksa bagian yang sakit.


"Aduh! Jangan ditekan mas." Citra berusaha menjauhkan kakinya namun ditahan Pak Arif.


"Tahan ya." Ujar Pak Arif melihat pergelangan kaki sang istri yang membiru. Iya mengoleskan minyak kayu putih meskipun sama sekali bukan obatnya namun setidaknya bisa meringankan dengan diurut-urut. "Kenapa bisa jatuh?" tanyanya sembari menurunkan kembali gulungan celana kargo yang dipakai Citra.


"Tadinya mau ngambil mata kail yang tersangkut di batu tapi malah kecebur." Jelas Citra merapatkan sarung di badannya.


"Kasian istri Mas. Trus berhasil dapat ikannya?" Senyuman geli terukir di wajahnya. Kasian tapi lucu melihat tingkah istrinya. Lagian mancing ikan tanpa umpan ya mana bisa.


Citra menggeleng lesuh.


Pak Arif menepuk bahunya lembut, "Tidak apa-apa nanti kita beli di pasar ikan. Mbak Jen masuk tenda, ganti pakaian nanti masuk angin."


Citra mengangguk, ia masuk dalam tenda, menggulung sedikit lantai tenda supaya tidak basah sambil meraih ranselnya. Saat ia membuka ransel, barulah dia sadar tidak membawa pakaian ganti selain yang dibadan dan alat solat. Citra mengigit bibir bingung.


"Bodoh bangat sih, kok bisa nggak bawa baju ganti?" monolognya. Di pandangi nya badannya yang basah kuyup, udara semakin dingin dan dia mulai menggigil kedinginan. Sarung solat Pak Arif teronggok di lantai tenda. Akhirnya setelah berpikir cukup lama ia memutuskan melepas semua pakaiannya tanpa kecuali.


"Mas, Jena nggak bawa pakaian ganti." Keluh Citra tanpa menyadari tatapan suaminya yang langsung mengerjap karena didasarkan oleh suaranya.


"O-oh."


Citra mendongak, bibirnya cembetut, "Nggak bisa iket? Masa pegang gini terus?" ia menunjukkan ujung kain yang ia pegang erat di dadanya. Bahunya yang bersih terekspos dijatuhi anak rambut yang membuat tampak menggoda.


Pak Arif yang berusaha menjaga kewarasan langsung mendekat, "Lepas!" ujarnya pelan menggantikan tangan itu memegang ujung sarung. Citra melepaskan tangannya dan membiarkan Pak Arif yang memang terbiasa memakai sarung untuk membantunya. "Angkat tangan." Citra menurut lagi. Mengikuti instruksi sang ahli. Di pihak lain Pak Arif setengah mati menahan diri untuk tidak menenggelamkan bibirnya di ceruk leher sang istri, menghirup aroma segar yang dikuatkan nya. Terlebih bayangan dibalik sarung itu sungguh sebuah ujian yang sangat besar. Haruskah ia menyentuh istrinya sekarang? Tapi--- Pak Arif menggelengkan kepala, sangat tidak pantas rasanya menyentuh istrinya di tempat seperti ini. Citra patut mendapatkan segala kenyamanan yang ada.


"Sudah. Sekarang masuk tenda di luar banyak nyamuk. Nanti Mas yang siapkan makan malam." Ujarnya sembari melepas jaketnya dan memakaikannya pada Citra.


"Makasih, Mas." Citra tersenyum tulus dibalas anggukan oleh sang suami. Ia masuk dalam tenda setelah mengeluarkan pakaiannya yang basah dan bantu di jemur oleh Pak Arif. Citra bahkan tidak kepikiran ********** juga ada disana sebab ia sudah bergelung nyaman dalam tenda sembari memeluk dirinya yang terasa hangat berkat jaket suaminya.


Selama Citra dalam tenda, Pak Arif menyiapkan makan malam sembari menjernihkan isi kepalanya. Inilah salah satu alasan ia segera menghalalkan Citra sebab mantan siswinya itu adalah salah satu ujian terberat untuknya sebagai laki-laki dewasa. Sangat tidak pantas rasanya membayangkan Citra dalam hal-hal yang tidak senonoh sedangkan tidak ada hubungan halal diantara mereka. Bahkan sekarang saja ia masih merasa bersalah karena berpikir untuk memiliki gadis itu seutuhnya. Hubungan mereka masih begitu rentan terlebih Citra yang masih sangat muda butuh menyesuaikan dengan dirinya. Ia butuh persetujuan istrinya jika ingin menyentuhnya dan tentu saja bukan dalam paksaan atau intimidasi apalagi memperdaya nya.


***

__ADS_1


"Mas Arif?" Citra terbangun di keheningan malam. Di sampingnya tidak ada Pak Arif yang tadi sehabis solat dan makan langsung bergabung bersamanya. Rencana barbeque nya gagal total sebab ia tidak di bolehkan keluar tenda tanpa pakaian yang lengkap apalagi cuaca rintik-rintik.


Citra meraih HP dan melihat jam yang sudah menunjukkan pukul sembilan malam. Di luar tenda tampak ada api yang menyala juga siluet Pak Arif yang tengah duduk-duduk. Citra merapatkan jaket di badannya lalu menarik resleting tenda.


Dari luar Pak Arif langsung menoleh mendengar resleting tenda di buka dan memunculkan sang istri yang kesulitan karena sarung yang membungkus badannya.


"Hati-hati!" Pak Arif langsung menangkap Citra yang hampir tersungkur karena menginjak ujung sarung.


"Hehe" Citra menyengir melihat wajah masam Pak Arif, "Makasih, Mas." ucapnya berusaha berdiri.


"Duduk." Pak Arif menarik potongan batang kayu di dekatnya menyuruh Citra duduk.


"Makasih, Mas." Citra merapatkan jaketnya lalu mendekatkan kedua tangannya di dekat api mencari kehangatan. Di depan suaminya ada gelas kopi yang isinya sisa setengah. Melihat suaminya yang kembali duduk dengan tenang tanpa mengatakan apapun, Citra langsung menyenggol lengannya dengan badannya.


"Kenapa?" Tanya Pak Arif menatap Citra dalam remang.


"Dingin." Kata Citra menyengir lebar.


"Kalau dingin jangan di luar." Ujar Pak Arif kontras dengan perbuatan yang kini membawa Citra dalam pelukannya membuat Citra tersenyum makin lebar.


"Nggak ada yang peluk di dalam." ucapnya menyandarkan kepala di dada Pak Arif. Nyaman dan aman, itulah yang dirasakan oleh Citra. Tak ada sahutan dari Pak Arif namun rengkuhannya mangerat. Citra merasakan ciuman ringan di rambutnya.


"Mbak Jen?" Setelah keheningan beberapa saat, Pak Arif membuka suara.


"Ya?" Citra mendongak.


Pak Arif menunduk hingga mata keduanya bertemu, "Di masa depan, apapun yang terjadi, tolong jangan tinggalkan Mas."


Citra terdiam sebentar lalu kemudian mengangguk. Ia tersenyum kecil setelah mendaratkan kecupan ringan di rahang Pak Arif, "Jangan bikin Jena berpikir untuk pergi kalau gitu."


Pak Arif tak berkata apa-apa lagi, hanya kembali menyarangkan ciuman berkali-kali di rambut istrinya. Keduanya tenggelam dalam keheningan, hanya suara malam dan aliran sungai mengalir yang menemani keduanya.


***

__ADS_1


__ADS_2