My Husband My Enemy

My Husband My Enemy
Pesta pernikahan


__ADS_3

"Letakkan bunga ini di sebelah sana, disini kurang cocok," perintah Liliana kepada penata dekorasi. 


"Bisa tambahkan beberapa makanan disini, ini terlalu sedikit," ucapnya lagi pada seorang petugas catering. 


Liliana tampak sibuk mengurus pernikahan Alano dan Freya, padahal disana sudah ada WO yang tentu lebih berpengalaman darinya. Tapi bagi Liliana belum puas rasanya jika dia tidak mengontrolnya sendiri. Apalagi ini adalah pernikahan putra tunggalnya, tak ayal jika Liliana menginginkan yang terbaik untuk momen yang paling istimewa ini. 


Selesai berkeliling di ballroom, Liliana menghampiri Freya yang sedang dirias di salah satu ruangan. Ia ingin memastikan jika penata rias itu benar-benar merubah menantunya menjadi seorang putri. 


Dan benar saja, ketika Liliana baru saja berdiri di depan pintu, ia langsung dibuat takjub dengan pantulan diri Freya yang terlihat dari cermin.


"Ini memang menantuku yang sudah cantik atau kalian yang hebat?" tanyanya sambil berjalan menghampiri Freya. 


"Astaga, kamu benar-benar terlihat seperti titisan dewi. Alano pasti langsung terpana ketika melihat kamu nanti," lanjutnya. 


"Tante bisa aja," jawab Freya malu-malu. 


"Jangan panggil tante dong, panggil mama ya. Akhirnya mama punya anak perempuan juga, jadi sekarang mama nggak kesepian lagi deh." 


Freya hanya tersenyum. Jujur Freya senang karena kehadirannya disambut baik oleh keluarga Alano, apalagi Mama Liliana. Senyum wanita itu selalu mengingatkan Freya pada almarhum mamanya. Liliana juga begitu baik dan ramah, Freya tidak pernah membayangkan jika ia akan mendapatkan sosok pengganti mamanya yang sudah lama ia rindukan. 


Dari kejauhan Alano tampak mengamati Freya yang sedang berjalan dengan didampingi mamanya. 


Gadis itu nampak anggun dengan kebaya putih dengan ekor yang menjuntai panjang serta riasan make-up yang benar-benar merubah wajah Freya. Dalam sekejap Alano terpana dengan kecantikan Freya, namun ia cepat-cepat menyadarkan dirinya jika tidak seharusnya ia mengagumi Freya karena tujuan pernikahan ini bukan untuk membina rumah tangga seperti yang orang lain pikirkan. 


"Bisa kita mulai sekarang?" tanya pak penghulu pada Alano dan juga Hartono selaku wali nikah Freya. 


"Bi-sa pak," jawab Alano gugup. 


Hartono menggenggam tangan Alano dengan erat dan sorot matanya mengisyaratkan sebuah ketegasan. Sementara Alano yang sudah keluar keringat dingin hanya bisa berdoa agar pernikahan ini bisa berjalan dengan lancar meski tindakan yang ia pilih sudah sangat menyalahi hukum dan agama. 


"Saya nikahkan engkau saudara Shaquil Alano Wijaya binti Reno Tanuwijaya dengan putri saya yang bernama Freya Jovanka dengan mas kawin berupa seperangkat alat sholat dan emas 50 gram beserta uang tunai sebesar 500 juta dibayar tunai," ucap Hartono dengan lantang dan tegas. 


Alano sempat menarik napas dalam-dalam sebelum akhirnya ia menghembuskannya dengan pelan. 


"Saya terima nikahnya Freya binti Hartono Sanjaya dengan mas kawin tersebut dibayar tunai."

__ADS_1


"Bagaimana saksi, sah?" tanya penghulu usai Alano menyelesaikan ijabnya dengan sekali tarikan napas. 


Beberapa orang yang menyaksikan ijab kabul itu mulai menganggukan kepala diikuti dengan kata 'sah'


"Alhamdulillah." 


Semua mengucap syukur atas kelancaran ijab kabul itu. Jika biasanya usai ijab kabul pengantin wanita akan mengecup tangan suaminya dan sebaliknya, suaminya akan mengecup kening istrinya. Maka berbeda dengan pasangan pengantin baru ini, mereka justru tersenyum sambil melempar tatapan sengit. 


"Frey ayo, kamu kecup tangan suami kamu," seru papanya. 


"Tapi pa?" 


"Al, kamu juga harus kecup kening istri kamu. Yang romantis gitu loh," kata Liliana.


Freya memutar tubuhnya untuk menghadap Alano, begitu juga dengan Alano. Mereka sudah saling berhadapan dengan ekspresi penuh paksaan. 


Perlahan Alano mengulurkan tangannya dan Freya menerimanya lalu mengecupnya. Sekarang giliran Alano yang mendekatkan wajahnya untuk mengecup kening Freya. 


Freya sudah memejamkan matanya dengan sangat erat. Jujur, jika ia disuruh memilih dicium kucing atau Alano maka Freya akan lebih memilih dicium kucing. Ini akan menjadi kecupan pertama untuk Freya, maka tak heran jika Freya sampai setakut dan setegang itu untuk menerima kecupan dari Alano.


Jantung Freya seakan berhenti berdetak usai bibir Alano mendarat di keningnya. Matanya pun seketika langsung melotot dengan tubuh kaku. 


"Bersiaplah untuk menderita," bisik Alano setelahnya. 


Freya terkesiap ketika mendengar ucapan Alano. Lamunannya langsung buyar, dan spontan Freya langsung menyentuh keningnya. 


Semuanya terjadi begitu cepat, namun sentuhan lembut bibir Alano masih bisa Freya rasakan. Ada sensasi lain yang tak bisa Freya jabarkan, namun sensasi itu berhasil membuat jantungnya berdebar dengan sangat kencang. 


Ijab sudah selesai dilakukan dan sekarang mereka berdua sedang duduk di pelaminan untuk menyalami para tamu undangan. 


Beberapa kali Freya nampak berdecak kesal karena ia sudah lelah dengan sandiwaranya, ditambah dengan beratnya siger yang terpasang di kepalanya membuat Freya terus mengeluh pegal. 


"Kapan sih selesainya, udh pegel ni kepala gue," keluh Freya pada Alano yang berdiri di sebelahnya. 


"Paling jam 9 juga udah kelar?" 

__ADS_1


"Apa lo bilang, 9? Mau bikin gue pingsan disini. Gila, yang bener aja." 


"Pegel apa pegel," ledek Alano seakan meragukan alasan Freya. 


"Apa? Mau gue tonjok?" Freya sudah melotot tajam, memberi ancaman pada Alano agar dia takut dan tidak lagi menggodanya dengan kata-kata yang menjengkelkan itu. 


Alano terkekeh melihat reaksi Freya, godaannya ternyata sukses membuat Freya naik pitam. 


Saat mereka asik mengobrol sendiri, tiba-tiba Citra naik ke atas pelaminan dengan di dampingi seorang gadis. 


Citra dengan percaya diri sudah mengulurkan kedua tangannya untuk memeluk Freya, namun Freya justru menghindar sambil mengangkat kedua tangannya. 


"Kamu sangat cantik, tante bahkan sampai nggak ngenalin kamu," ucap Citra. Karena tidak ada respon dari Freya, Citra beralih menatap Alano. "Alano, tante nitip Freya ya, jaga dia baik-baik dan kamu harus janji sama tante kalau kamu akan selalu bahagiain dia." 


"Pasti tante," jawab Alano. 


"Oh iya, kenalin ini anak tante namanya Prisa." 


"Prisa ayo beri ucapan selamat sama Kak Freya dan Alano." 


Freya dan Prisa sama-sama kaget saat Citra menyebutkan nama mereka. Mereka berharap jika ini hanyalah sebuah kebetulan semata. Namun saat mereka saling memandang, mereka sadar jika yang Citra bicarakan memang orang yang sama bukan sekedar nama yang sama. 


"Elo, ngapain ada disini?" tanya Freya dengan nada judes. 


"Ishhh, kalau gue tau ini pernikahan lo, gue juga ogah dateng kesini," ketus Prisa dengan lirikan sengit. 


"Sekarang udah tau kan, jadi lo bisa pergi sekarang." 


"Oke, nggak perlu lo usir gue juga bakal pergi."


Citra nampak bingung dengan perdebatan Freya dan Prisa. Ia pikir ini adalah pertemuan pertama mereka, tapi nyatanya mereka justru sudah saling mengenal. 


"Tunggu-tunggu, jadi kalian udah saling kenal?" tanya Citra dengan ekor mata terus berlarian kearah Prisa maupun Freya. 


"Nggak!" jawab mereka kompak.

__ADS_1


BERSAMBUNG...


__ADS_2