
Jasmine keluar sambil menyunggingkan senyumnya. Ia masih tidak percaya jika orang yang baru saja ia lihat adalah Alano.
Baru saja mereka kembali dari makan siang, tapi lihatlah Alano sekarang. Dia bahkan tidak mau menunggu setidaknya sampai makanannya yang tadi dicerna.
"Apa selezat itu masakannya Freya. Aku hampir tidak percaya jika Alano bisa melakukan itu."
***
Sepulangnya dari kantor, Alano langsung berjalan menuju ke kamar Freya. Bukan tanpa alasan ia melakukan itu, entah kenapa Alano ingin segera menjelaskan kejadian tadi siang.
Tok.. Tok.. Tok..
Freya melangkah dengan malas.
Ceklek,
"Wo…" Freya terkejut begitu melihat wajah Alano hingga ia harus menutup pintunya kembali demi menetralkan irama jantungnya yang hampir meledak.
"Dia mau ngapain dateng kesini," bisik Freya pelan.
Perlahan Alano kembali mengangkat tangannya untuk mengetuk pintu kamar Freya, namun tiba-tiba ia mengurungkannya.
Alano tak tahu harus memulai kalimatnya darimana. Tiba-tiba saja ia diserang rasa gugup, padahal sudah sejak tadi Alano berniat untuk segera menemui Freya.
Mereka terdiam beberapa saat karena diterpa rasa gugup. Namun masing-masing dari mereka belum ada yang meninggalkan pintu, seolah berharap ada yang mau membuka suara terlebih dahulu.
"Ehemm… Frey, bisa kita bicara sebentar?" tanya Alano setelah menghela napas panjang.
Pelan namun pasti, pintu di kamar Freya mulai terbuka hingga akhirnya menampakkan wajah gadis itu.
"Jasmine tadi mampir ke kantor karena kebetulan dia lewat, dan kita juga cuma keluar makan siang." Alano berusaha menjelaskan meski sebenarnya Freya juga tidak menanyakan hal itu. Alano pikir Freya akan salah paham jika ia tidak menjelaskan. Namun sejujurnya itu tidak perlu karena dalam surat perjanjian, Freya tidak diperbolehkan mencampuri urusan pribadinya.
"Aku juga udah tau. Tapi bukankah itu privasimu?"
"Maksud kamu?" tanya Alano.
"Ingat perjanjian kita kan? Kamu mau pergi kemanapun dan dengan siapapun, itu bukan urusanku jadi kenapa harus repot-repot menjelaskan?"
"Emm.. Itu.. Aku cuma mau ngasih tau. Emang salah?" Alano berpura-pura membentak Freya untuk menutupi rasa malunya.
Freya hanya menggeleng lalu kembali menutup pintu kamarnya. Wajah datarnya seketika berubah ceria. Ia bersorak gembira dengan pipi yang sudah berubah merona. Sebisa mungkin Freya menahan suaranya agar Alano tidak bisa mendengar jika sejujurnya ia amat sangat senang atas penjelasan yang baru saja Alano sampaikan.
__ADS_1
"Yes, firasat gue ternyata salah. Alano dan Jasmine nggak mungkin mengkhianati gue," gumam Freya.
Sementara di luar Alano sedang menggaruk-garuk kepalanya. Alano tidak tahu atas alasan apa ia menjelaskan semua itu pada Freya. Jelas-jelas itu urusan pribadinya, ia berhak untuk diam.
"Ashh!! Bikin malu aja lo Al."
Karena kejadian itu, Alano dan Freya mulai menjalani hari-harinya seperti sebelumnya. Mereka memberi jarak, hingga tak jarang ketika mereka hendak berpapasan, salah satu dari mereka memilih untuk memutar arah atau bersembunyi dimanapun.
Keadaan itu benar-benar membuat keduanya tidak nyaman. Namun harus bagaimana lagi, perjanjian tetaplah perjanjian dan tidak ada satu pun dari mereka yang mau menurunkan egonya.
Seperti pagi ini, karena kebetulan ini hari minggu maka waktunya Alano untuk bermalas-malasan. Pria itu masih menggulung tubuhnya dengan selimut disaat orang lain mulai beraktivitas.
Freya contohnya, gadis itu sedang melakukan pemanasan sebelum memulai joging. Dengan baju training dan rambut yang diikat sembarangan membuat dirinya terlihat seperti Freya yang dulu.
"Minum dulu Non," ucap Bi Irma yang baru saja datang sambil membawa segelas jus jeruk.
"Makasih Bi."
"Emm.. Non Freya sama Tuan lagi marahan ya, kok bibi liat kalian nggak pernah ngobrol. Makan pun sekarang sendiri-sendiri, bibi jadi sedih liatnya Non," ucap Bi Irma tiba-tiba.
Freya langsung menghentikan aktivitasnya. Sambil menyeka keringatnya ia menghampiri Bi Irma.
"Memang seharusnya begitu kan?" jawab Freya sambil menegak jus jeruknya.
"Dengerin baik-baik ya bi, aku dan Alano itu cuma nikah kontrak. Kita-"
"Apa, nikah kontrak?"
Suara melengking itu muncul tiba-tiba dan membuat suasana menjadi tegang.
Freya dan Bibi pun tak kalah syok. Mereka sama-sama menoleh ke belakang dengan perlahan untuk mengetahui siapa orang yang sudah mendengar pembicaraan mereka.
Deg!
Sosok Jasmine sedang berdiri tegap di belakang Freya dengan raut wajah serius.
Hampir saja Freya mati lemas di tempat itu, namun beruntung ada bibi dan siap untuk menopang tubuh Freya saat ia hampir kehilangan keseimbangan.
"Maksudnya apa Freya? Siapa yang nikah kontrak?!"
Freya mencoba memutar otaknya untuk mencari alasan, namun rasa gugup yang berlebihan membuatnya tidak bisa konsentrasi.
__ADS_1
"Emm.. Itu.. Sebenarnya…"
Freya menoleh kearah Bi Irma, namun Bi Irma memberinya kode dengan menggelengkan kepala seolah meminta Freya untuk jangan membocorkan rahasia itu pada Jasmine.
"Begini Mbak Jasmine, Bibi itu semalem liat sinetron kan dan ternyata Si Dewa sama Amelia itu cuma nikah kontrak. Tapi Bibi nggak ngerti nikah kontrak itu apa, makanya bibi tanya sama Non Freya. Jadi gitu Mbak."
Freya memelototi Bi Irma untuk mencoba mencari kebenaran atas ucapan asistennya itu. Tapi Bi Irma justru mengedipkan matanya, seolah menyuruh Freya agar tetap diam.
'Dewa, Amelia, siapa mereka? Si bibi ada-ada aja,' batin Freya.
"Syukurlah, aku pikir kamu sama Alano yang nikah kontrak," jawab Jasmine dengan santainya.
"Hah!!!" seru Freya dan Bi Irma secara bersamaan.
"Nggak mungkin lah Jas, aku sama Alano kan nikah secara resmi. Ya meskipun kita dijodohkan tapi aku yakin kalau memang Alano jodohku."
"Ehem.. Ehem.."
Mendengar jawaban seperti itu membuat Bi Irma tak sabar untuk meresponnya sehingga ia dengan sengaja berdehem di depan Freya agar gadis itu segera menyadari ucapannya.
"Oh iya kamu ada perlu apa ya, kok tumben pagi-pagi banget udah kesini?" tanya Freya dengan sungkan.
"Aku ada urusan penting sama Al, dia ada di rumah kan?"
"Al? Iya iya, dia ada di rumah."
"Kalau gitu boleh panggilin dia nggak?"
"Aku, manggil dia?" Freya menunjuk dirinya sendiri seolah tidak yakin akan pertanyaan yang Jasmine ajukan.
"Iya, nggak papa kan?"
Freya tersenyum lebar sambil menganggukkan kepala, namun begitu ia membalikkan badan wajahnya berubah pucat sambil terus menggerutu.
"Kenapa harus sekarang sih, gue kan males ketemu Alano, ntar dia kegeeran lagi."
'Harusnya aku tadi jujur aja, dengan begitu aku nggak perlu tersiksa seperti ini. Hufttt menyebalkan!' batin Freya.
Freya menghentikan langkahnya ketika ia sudah berdiri di depan kamar Alano. Namun untuk beberapa detik ia hanya bisa memandangi pintu itu tanpa berani mengetuknya.
"Ahh sial, kenapa jadi begini sih," gerutunya lagi.
__ADS_1
...BERSAMBUNG......
Terus dukung author ya😍😍