
Seolah tidak sadar dengan apa yang baru saja ia lakukan, Citra terbelalak dan langsung menyentuh pipi Prisa, namun Prisa segera menjauh.
"Ini bukti kalau mama emang udah nggak sayang lagi sama Prisa!" seru Prisa dengan suara lantang hingga bibirnya nyaris bergetar.
"Tidak! Bukan seperti itu sayang. Mama cuma nggak suka sama apa yang kamu katakan. Semua itu nggak bener sayang. Mama melakukan semua ini demi kamu. Tunggu sebentar lagi, kamu pasti bisa mendapatkan apapun yang kamu. Mama janji sayang."
Citra terus berusaha untuk mendekat dan menyentuh Prisa, namun Prisa semakin tegas menolak.
"Mama udah bukan lagi mama Prisa yang dulu. Ini bukan mama. Keluar dari kamar Prisa sekarang ma. Keluar!!!" bentak Prisa.
Prisa melantangkan suaranya ketika ia mengulang kata 'keluar' dan itu benar-benar membuat Citra tak mampu lagi untuk berkata-kata.
Citra membalikkan badannya sambil menyeka air matanya. Tangannya mulai mengepal kuat dengan tatapan nyalang seakan ia siap untuk mengantarkan seseorang pada ajalnya. Tatapan membunuh itu penuh dengan dendam. Entah sampai kapan Citra bisa menahan semuanya. Rencananya bahkan baru saja ia mulai.
Saat Citra hendak berjalan memasuki kamarnya, Hartono menyusulnya dari belakang.
"Gimana Prisa ma, apa dia marah sama papa?"
Citra terdiam, bukan ia tidak mau menjawab namun pikirannya sebenarnya sedang tidak berada disini.
"Ma, kenapa mama diem aja?" tanya Hartono lagi.
"Ha?" ujar Citra terkejut. "Emmm.. Citra nggak kenapa-napa pak, dia cuma kecapekan dan pengen cepet istirahat," kelak Citra.
"Syukurlah. Oh iya ma papa rencananya mau kasih kejutan buat Freya sepulangnya dari honeymoon, menurut mama gimana?"
'Freya lagi Freya lagi. Aku muak mendengar nama itu. Selama masih ada Freya maka Prisa tidak akan hidup bahagia.'
"Ma.. Kamu lagi mikirin apa sih?" Hartono mulai menyadari jika istrinya sedang tidak memperhatikannya, raut wajahnya sangat jelas menunjukkan kegelisahan. Namun ia sendiri tidak tahu apa yang mengusik pikiran istrinya.
"Maaf pa, mama sepertinya kecapekan. Mama mau istirahat dulu ya?"
__ADS_1
Tanpa menunggu jawaban dari suaminya, Citra langsung membuka pintu kamarnya dan meninggalkan Hartono begitu saja.
"Tapi ma…"
****
Al benar-benar sedang marah, ia pikir pekerjaannya akan berjalan dengan lancar namun siapa yang tau jika di tengah jalan akan muncul masalah seperti ini.
Jika sudah begini, maka satu-satunya pelarian Al hanya tertuju pada bir dan juga wine. Ia tidak akan kembali ke rumah sebelum ia benar-benar kesulitan untuk berdiri. Beruntung ia memiliki Justin yang mau tidak mau harus meluangkan waktu untuk menemani Al.
"Gue hampir aja bikin bokap gue percaya sama gue. Tapi lo liat sekarang, gue tiba-tiba kehilangan uang triliunan dalam waktu semalam. Bayangin gimana marahnya bokap kalau sampai dia tau masalah ini," ujar Al usai dirinya sudah mabuk.
"Yang namanya bisnis pasti ada untung ruginya. Bisa aja sekarang lo emang lagi kesulitan tapi lo sendiri juga tau kan kalau perusahaan lo masih tetep jadi nomor satu. Gue rasa secepetnya uang itu bakal balik lagi. Percaya sama gue?"
Al menarik botol minuman yang ada di depannya. Tapi siapa sangka ternyata botol itu sudah kosong. Tanpa disadari di atas meja sudah berjejer botol-botol bir yang semuanya sudah diminum habis oleh Al.
Karena merasa masih kurang, Al mengangkat tangannya untuk memanggil bartender. Tak lama bartender itu datang sambil membawa satu botol bir.
Namun tiba-tiba muncul seorang wanita yang berdiri di belakang Al. Tentu Justin dapat melihatnya dengan jelas, tapi ia tidak berani untuk mengatakannya pada Al karena tatapan wanita itu seolah mengancam Justin agar tidak memberitahukan kedatangannya pada Al.
"Ash ****! Lo ngapain nginjak-nginjak kaki gue, sakit bodo!!" maki Al. "Oh lo mau ini?" Al mengangkat botol birnya.
Namun saat Al hampir meneguk botol itu, wanita yang tadi berada di belakangnya kini sudah bergeser di sampingnya dan langsung merebut botol bir yang ada di genggaman Al.
Al menoleh, lalu ia tiba-tiba tersenyum tanpa alasan yang jelas.
"Pelayan ini kenapa wajahnya mirip sama istri gue. Hehehe…"
"Bener. Sekarang gue emang nggak bisa jauh dari Freya," celetus Al sambil terus senyum-senyum sendiri.
"Dia emang istri lo Al," bisik Justin dengan raut wajah ketakutan.
__ADS_1
"Lo ngaco, mana mungkin Freya ada disini. Dia pasti udah tidur nyenyak, lo belum tau kan kalau Freya udah tidur, ada gempa pun dia nggak bakal bangun. Kebo banget dia. Tapi gue tetep suka, hehehe.."
Jika sudah begini maka jalan terbaik untuk Justin adalah segera meninggalkan mereka berdua. Ia tidak ingin terlibat dalam masalah rumah tangga mereka. Apalagi melihat wajah garangnya Freya, seolah-olah Freya akan menelannya hidup-hidup.
"Gue permisi dulu ya Frey. Lo yang sabar ngadepin Al," ujar Justin dewasa, namun begitu membalikkan badan ia segera menghela napas panjang sambil berjalan cepat.
Freya masih membisu, ia menunggu Al sadar sambil mendengar semua celotehnya mengenai dirinya.
"Lo bukan Freya kan? Mana kembaliin botol gue, jangan lo pikir gue nggak mampu bayar. Bahkan jika seluruh minuman yang ada di cafe in lo suruh gue bayar, maka gue bayar sekarang."
"Udah selesai ngomongnya?" tanya Freya santai.
"Suara kamu juga mirip banget sama dia. Hahh, gue pasti udah tergila-gila sama dia sampai gue selalu kepikiran dia."
Freya masih sabar untuk menunggu Al, sampai-sampai Al juga mulai bingung dengan sikapnya.
Al baru tersadar setelah beberapa detik terdiam. Awalnya ia terus mengawasi Freya karena Freya masih saja membisu dan sama sekali tidak bergeser dari tempatnya berdiri.
Al mencoba bangkit agar ia bisa menyentuh pipi Freya, namun sebelum bisa berdiri tegak ia sudah lebih dulu jatuh.
"Freya.. Ini beneran kamu. Kamu pasti udah kangen banget sampai nyariin aku kesini."
Tiba-tiba saja Al memeluk pinggang Freya dengan posisi duduk karena ia sudah tidak mampu lagi untuk berdiri.
Freya berusaha untuk melepaskan tangan Al karena jujur ia mulai merasa malu saat ditatap beberapa orang yang ada di sekelilingnya.
"Lepasin, jangan bikin gue malu Al."
"Kenapa, kamu kan istri aku. Kenapa aku nggak boleh meluk istri aku sendiri?" ujar Al dengan suara manja.
"Bangun, ayo kita pulang." Freya berusaha untuk menarik tangan Al agar mau berdiri namun pria itu justru semakin mengeratkan pelukannya.
__ADS_1
"Nggak mau," rengek Al layaknya bocah TK, dan itu membuat Freya tidak berani untuk menoleh ke sekelilingnya bahkan untuk mengangkat wajahnya ia tidak sanggup.
BERSAMBUNG...