
Hartono sudah menenteng tasnya dan siap untuk berangkat ke kantor. Tak lupa sebelum pergi, ia memberi kecupan singkat di dahi Citra yang sudah berdiri di ambang pintu.
"Berangkat dulu ya sayang," ucap Hartono mesra layaknya seperti pasangan pengantin baru pada umumnya.
"Oh iya, jika kamu ada waktu datanglah ke rumah Freya dan bawakan makanan kesukaannya. Percayalah, dia akan segera menyukaimu," kata Hartono.
"Baiklah, nanti aku kesana. Aku memang harus berjuang untuk merebut hatinya bukan?"
Hartono tersenyum, lalu ia celingukan karena tiba-tiba ia tersadar akan sesuatu. "Ngomong-ngomong dimana Prisa, apa dia sudah pergi."
"Prisa ada syuting pagi makanya dia berangkat lebih dulu," jawab Hartono.
Hartono sudah melangkah menuju mobilnya, namun Citra tiba-tiba memanggilnya kembali.
"Mas, bagaimana kalau nanti aku bawakan makan siang?"
"Boleh, sudah lama aku tidak makan masakan rumah. Aku tunggu di kantor ya."
Citra tersenyum lega karena Hartono selalu menghargai perhatian kecil yang ia berikan. Setelah Hartono masuk ke dalam mobil, Citra melambaikan tangan kearahnya hingga mobil itu menghilang dari pandangannya.
***
Freya sudah berdiri tepat di depan rumah papanya. Sambil menghela napas, Freya memandangi bangunan rumahnya yang sudah tiga bulan ia tinggalkan.
"Astaga, ini benar-benar pilihan yang tidak masuk akal. Jika bukan karena terpaksa aku tidak akan mau melangkahkan kakimu kesini," gerutu Freya.
Freya menekan bel rumahnya dan tak lama, Pak Karto pun keluar dari pos satpam.
"Cari si- Non Freya, Ini beneran Non Freya kan."
Tentu Pak Karto terkejut dengan kedatangan Freya, karena ia paham betul seperti apa hubungan antara Freya dan Ibu tirinya.
"Tuan nggak ada di rumah Non, yang di rumah cuma.. Nyonya Citra," kata Pak Karto, ia ingin memberitahu Freya lebih dulu sebelum nantinya terjadi sesuatu.
"Iya saya ngerti, saya juga nggak nyariin papa kok. Ini kan juga masih rumah saya. Terus ngapain Pak Karto masih berdiri disitu, nggak mau bukain pintu buat saya?"
Dengan sigap Pak Karto langsung membuka pintu gerbangnya dan mempersilahkan Freya untuk masuk.
"Maaf Non, mari silahkan masuk," ucap Pak Karto gugup. Dalam hati Pak Karto berdoa agar tidak terjadi perang antara Freya dan Citra. Karena jika sampai itu terjadi, Freya adalah orang pertama yang akan disalahkan oleh papanya.
Freya berjalan memasuki rumah itu. Begitu membuka pintu, pemandangan rumah itu sudah berbeda. Jika dulu di dinding ruang tamu terpajang foto keluarga antara ia, papanya dan juga almarhum mamanya. Sekarang sudah berganti menjadi foto pengantin antara papanya dan juga Citra-mama tirinya.
__ADS_1
Dilihat dari fotonya mereka tampak bahagia. Freya yang awalnya cukup terganggu dengan foto itu, kini berusaha menahan diri untuk tidak membuat keributan.
Ternyata sudah banyak yang berubah.
Freya melangkah ke lantai atas usai meletakkan tasnya di ruang tamu. Ia ingin melihat kamarnya, apakah kamarnya masih seperti dulu atau sudah berganti menjadi kamar orang lain.
Ceklek,
Kamar itu masih terlihat seperti dulu, bahkan tidak ada yang bergeser sedikit pun. Kemudian Freya melangkah ke dalam dan ia merebahkan tubuhnya di ranjang.
Sambil memejamkan mata, Freya berkata, "Bahkan aromanya masih sama. Aku benar-benar merindukan tempat ini."
"Mama memang sengaja membiarkan kamarmu tetap seperti ini karena mama tahu kalau kamu pasti akan merindukan kamar ini."
Seketika Freya langsung membuka matanya lebar-lebar. Ia tahu persis suara siapa itu, sehingga ia memilih untuk diam.
"Kebetulan mama masak makanan kesukaan kamu, tadinya mama mau antar ke rumah kamu. Tapi karena kamu ada disini gimana kalau kita sarapan bareng?" ujar Citra yang masih berdiri di ambang pintu.
"Aku udah makan," jawab Freya dingin.
"Ya udah, mama mau kembali ke dapur. Kalau kamu butuh apa-apa kamu bisa bilang ke mama."
Citra sudah membalikkan badannya dan siap untuk pergi, tapi karena ia mendengar seringai Freya, Citra menoleh ke belakang.
"Apa kamu lupa ini rumah siapa?"
Citra tersenyum. "Mama paham dan mama minta maaf jika kamu tersinggung dengan kata-kata mama. Tapi mama tidak bermaksud seperti itu, mama hanya-"
"Jangan pernah sebut dirimu mama di hadapanku karena aku hanya punya satu mama dan sampai kapanpun kamu tidak akan pernah bisa menggantikan posisinya."
Citra melenggang pergi karena ia tidak ingin memulai perdebatan dengan Freya.
"Satu hal lagi. Kamu berhak melakukan apapun di rumah ini. Anggap saja ini rumahmu, tapi kamu juga jangan lupa jika rumah ini atas namaku. Jadi, tolong rawat baik-baik rumah ini."
Citra menghentikan langkahnya tanpa mau menoleh ke belakang. Mendengar ucapan Freya, tangan Citra sudah mengepal erat-erat dan bahkan ia juga memejamkan matanya sesaat untuk meredam amarahnya. Citra tidak punya pilihan lain selain mengalah, karena bagaimana pun ia tetaplah ibu tiri yang akan selalu dipandang buruk oleh anak dari suaminya.
Citra kembali berjalan tanpa mengatakan apa-apa dan itu membuat Freya meradang. Sebenarnya Freya juga punya tujuan lain saat mengatakan semua itu. Ia ingin menguji kesabaran Citra dan ingin memastikan jika Citra adalah orang yang selama ini mengincarnya. Namun melihat sikap diam Citra, Freya harus kembali menahan dirinya.
Freya cukup berani untuk mengatakan semua itu. Semakin ia menunjukkan kebenciannya pada Citra, maka semakin murka juga wanita itu kepadanya. Dengan begini Freya akan segera mengetahui siapa Citra sesungguhnya.
Bosan hanya berdiam diri di kamar, Freya memutuskan untuk keluar. Ia berjalan menuju meja makan, disana sudah tersaji beberapa hidangan yang tampak lezat.
__ADS_1
Sebenarnya Freya lapar, namun ia tidak bisa menurunkan gengsinya. Ia kembali berjalan ke arah dapur untuk mencari keberadaan Citra. Namun rupanya Citra tidak berada disana.
"Kok sepi, kemana dia?" gumam Freya.
Freya melanjutkan langkahnya. Kali ini ia berjalan ke arah kamar papanya. Sambil mengawasi keadaan di sekitar, Freya memberanikan diri untuk membuka pintu.
Ceklek,
Kamar papanya juga kosong.
"Non cari siapa?"
Freya berjingkat kaget ketika mendengar suara itu. Ia tidak menyangka akan ada seseorang yang memergokinya. Namun saat tahu jika orang itu bukan Citra, Freya langsung menghela napas.
"Bibi ngagetin aja," ucap Freya.
"Maaf Non, tapi Non ngapain disini?"
"Aku cu-ma.. Cuma mau…"
"Non nyari Nyonya ya, Nyonya baru aja pergi Non. Katanya mau ke kantornya Tuan."
"Dia mau ke kantornya papa, ngapain?"
"Bawain makan siang Non. Oh iya Non Freya kapan datang, bibi sampai nggak tau."
"Udah dari tadi," jawab Freya sambil berjalan meninggalkan kamar papanya.
"Non Freya gimana kabarnya, udah makan belum, mau bibi buatin sesuatu?" tanya Bi Mirna dengan penuh semangat.
"Bik.. Tante Citra kalau di rumah gimana, apa dia jahat sama Bibi atau dia pernah minta bibi buat lakuin sesuatu?"
Bi Mirna menyerngitkan dahinya. "Nggak pernah Non, Nyonya nggak pernah marah-marah sama Bibi."
"Bibi yakin?"
"Yakin Non, emang kenapa Non?"
"Nggak papa."
"Tapi Bibi agak nggak suka sama Non Prisa. Dia itu anaknya manja, apa-apa nyuruh bibi. Tapi Non janji ya jangan kasih tau siapa-siapa, nanti bibi bisa kena marah Non Prisa."
__ADS_1
"Emang dasar tu anak, dia perlu di kasih pelajaran."
...BERSAMBUNG......