
Citra yang sedang jogging di depan rumah tiba-tiba dikejutkan dengan kedatangan Al dan juga Freya. Tidak hanya mereka berdua, di belakangnya ternyata ada segerombolan polisi yang diduga kuat ada kaitannya dengan penangkapan Tisya.
Wajah Citra langsung berubah tegang. Tentu saja ia mencemaskan keselamatan dirinya karena ia sendiri tidak menampik bahwa selama ini ia sudah berusaha untuk mencelakai Freya.
Freya dan Al sudah berdiri tepat di hadapan Citra, tatapan mereka sudah beradu dan terlihat bahwa kali ini sudah tidak ada lagi kata maaf.
"Kalian ngapain kesini pakai bawa-bawa polisi?" tanya Citra yang seketika membuat wajahnya berubah panik.
"Kenapa, apa anda takut?" tanya Freya balik sambil mengangkat dagunya.
"Awalnya aku sempat meragukan kecurigaan Freya, tapi itu dulu sebelum aku tahu betapa piciknya pikiran anda," sungut Al yang kemudian maju beberapa langkah hingga membuat mata Citra berlarian kesana kemari.
Al menoleh ke belakang, memberi isyarat pada polisi untuk segera meringkus Citra.
Citra sudah tidak bisa melarikan diri, kedua tangannya sudah digenggam erat oleh dua anggota polisi. Meski ia melawan tapi polisi tetap membawanya.
"Ini apa-apaan! lepasin tangan saya, saya tidak bersalah!" teriak Citra berusaha untuk membela diri, namun polisi sama sekali tidak memperdulikan ucapannya.
Tak lama kemudian mereka tiba di kantor polisi dan Citra langsung dihadapkan dengan sederet pertanyaan yang siap untuk menyudutkannya. Namun, Citra tetaplah seorang wanita yang tidak mudah untuk dilawan. Meski semua bukti sudah mengarah padanya namun dengan berbagai alibi Citra terus mengelak dan terus mengatakan jika ini hanyalah kesalahpahaman.
****
Di rumah Hartono
Prisa menangis tersedu-sedu di dalam kamarnya, rupanya gadis itu melihat dengan mata kepalanya sendiri jika mamanya di gelandang ke kantor polisi.
Prisa sama sekali tidak tahu harus melakukan apa, di tambah lagi asisten rumah tangganya juga ikut panik sehingga membuat Prisa semakin diliputi perasaan takut.
"Non, gimana ini. Gimana kalau nama bibi ikut-ikutan keseret, bibi kan cuma nuruti perintah Nyonya. Mana bibi juga baru kerja disini, gimana nanti nasib bibi Non," rengek asisten itu sambil berjalan mondar-mandir di depan Prisa.
__ADS_1
Prisa tidak menggubris, ia hanya fokus dengan ingusnya yang terus keluar tiada henti. Sekotak tisu di hadapannya pun nyaris ludes, bahkan bekas tisu itu berserakan di lantai kamarnya.
Bibi pun nyaris terkena lemparan tisu itu, namun ia hanya bisa diam memendam rasa kesalnya.
"Hu hu hu... Mama... Kenapa mama lakuin hal bodoh kaya gini. Gimana dengan karier Prisa, gimana kalau sampai mama bener-bener di penjara. Karier Prisa bisa bener-bener hancur Ma," teriak Prisa disela-sela tangisnya.
"Non Prisa coba ngapain gitu, bantuin Nyonya biar Nyonya bisa segera bebas," ucap Bibi dengan ekspresi kesal.
"Daripada nangis-nangis gini, emang bisa gitu ngerubah keadaan,"' gerutu bibi yang langsung mendapat lemparan tisu dari Prisa.
Dengan mata melotot Prisa seolah siap untuk menerkam bibi. Prisa kemudian bangkit dari ranjangnya dan berjalan menghampiri bibi yang seketika beringsut untuk menjauh.
"Pasti bibi kan yang udah ngehasut mama, Prisa tau gimana embernya mulut bibi dan kalau mama bener-bener di penjara maka Prisa juga akan seret bibi kesana!" bentak Prisa.
"Nggak Non, bibi nggak tau apa-apa, bibi cuma menjalankan perintah dari Nyonya, sumpah Non. Tolong jangan bawa bibi ke kantor polisi Non. Bibi minta maaf Non." Dengan beruraian air mata Bibi sudah bersimpuh di kaki Prisa.
Meski Prisa tahu gimana watak asisten rumah tangganya itu, namun hatinya juga akan tersentuh jika ada seorang wanita yang memohon belas kasihan kepada.
'Tenangkan pikiran kamu Prisa.'
****
Ada perasaan iba di hati Al ketika melihat Freya tertidur di bahunya. Sudah hampir 2 jam mereka berada di kantor polisi hanya untuk memastikan jika Citra benar-benar akan mendekam di jeruji besi.
Perlahan Al membenarkan posisi kepala Freya lalu menyelimuti tubuhnya dengan jaket yang sengaja ia lepaskan.
Padahal Al sudah berulang kali menyuruh Freya untuk pulang, dan sebagai gantinya Al akan tetap berada di sini agar Freya juga bisa memantau proses hukumnya, namun Freya menolak dengan tegas. Dari sini Al bisa melihat gimana gigihnya Freya dalam menegakkan keadilan sekaligus untuk mematahkan semua tuduhan papanya selama ini.
Tanpa disadari Al ikut tertidur dengan posisi kepala Freya yang masih bertumpu di bahunya. Bisa bayangkan gimana pegalnya bahu Al ketika bangun?
__ADS_1
Namun rupanya bukan itu masalah yang menanti mereka.
"Ehem."
"Ehemm!" (sedikit menaikkan volumenya)
Suara deheman itu sukses membangunkan Al, dan hal pertama yang Al lakukan adalah mengucek matanya lalu melirik jam yang melingkar di pergelangan tangannya.
Al sempat tertegun sejenak begitu melihat jam, rupanya sudah hampir 3 jam mereka menunggu. Begitu Al mengangkat kepalanya, ia sama sekali tidak bisa menyembunyikan rasa terkejutnya.
Seringaian licik itu langsung menyambut tatapan Al. Seolah ingin menunjukkan jika ia sudah menang telak atas permainan ini.
"Kenapa kamu ngeliatin mama begitu," lirihnya sambil tertawa kecil. "Oh iya sebaiknya kamu juga segera pulang, kasian nanti Freya masuk angin," sindir Citra sambil melenggang pergi dengan tawa sinis yang masih terus menghiasi wajahnya.
Al merasa tidak terima dengan ejekan itu, ia ingin sekali mengejar Citra tapi ia teringat dengan Freya. Ia tidak ingin mengganggu tidurnya apalagi kalau sampai Freya melihat jika Citra dibebaskan begitu saja, Freya pasti syok.
Al hanya bisa mengumpat dengan suara pelan. Tangannya pun ikut mengepal kuat, ia bertekat jika pembalasannya akan jauh lebih kejam daripada sekedar mendekam di penjara jika Citra masih berani mengusik Freya.
Tak lama setelah Citra pergi, Freya terbangun dari tidurnya. Dan hal pertama yang ia tanyakan adalah Citra.
"Gimana, masih lama ya prosesnya?" tanya Freya dengan wajah bantalnya.
"Kita pulang dulu ya, nanti biar pengacara aja yang urus. Lagian ini udah malem banget, kamu pasti capek," ucap Al sambil menggenggam jemari Freya, tak lupa ia menyelipkan senyum tipisnya untuk menutupi kebohongannya.
Freya menggerakkan kepalanya dan bunyi 'klek-klek' pun semakin menegaskan ucapan Al.
"Ya udah kita pulang dulu." Freya tidak bisa membantah lagi jika dirinya memang sudah sangat lelah.
Di perjalanan Al lebih banyak diam, padahal Freya masih terjaga dan berkali-kali menanyakan tentang kasus itu. Tapi Al hanya menjawabnya dengan singkat, bahkan terkesan ingin mengalihkan pembicaraan.
__ADS_1
BERSAMBUNG...