
"Nggak mungkin, bibi pasti bohong kan!" seru Freya saking syoknya ketika mendengar pengakuan Bi Irma. "Apa yang sebenarnya terjadi Bi Irma," lanjut Freya sambil mengguncang kedua bahu Bi Irma.
"Oh Tuhan.. Apa yang udah gue lakuin. Kenapa lo harus minum di rumah Freya. Kacau.. Hidup gue bener-bener kacau." Freya sudah merengek sambil berjongkok di bawah kursi, tak lupa ia juga sudah memukuli kepalanya karena kesal pada dirinya sendiri.
"Itu nggak bener kan Bi."
Dengan wajah takut Bi Irma mulai menceritakan semuanya tanpa ada yang terlewatkan, kecuali ketika Freya sudah masuk ke dalam kamar. Setelah itu Bi Irma tidak tau apa-apa selain mengetahui fakta jika tadi pagi Alano keluar dari kamar Freya.
"Semalem Bibi nemuin Non Freya mabuk di dapur. Waktu bibi mau bantu Non masuk ke kamar, Non Freya malah ngiranya kalau Bibi ini Tuan. Non Freya juga bilang kalau Non suka sama Tuan."
"Waaa.. Sekarang aku harus gimana Bi." Freya tertunduk lemas meratapi nasibnya sekarang. "Terus apalagi, kenapa Alano bisa ada di kamarku."
"Terus… Tuan dateng dan dia bawa Non ke kamar."
"Kenapa bukan bibi, dan kenapa harus Alano bi?" ucap Freya geram sambil terus mengusap kepalanya karena mendadak ia diserang rasa panik dan malu.
"Karena bibi nggak kuat, apalagi harus naik tangga, nanti kalau Non Freya jatuh bibi juga kan yang kena," jawab Bi Irma dengan ekspresi lesu, ia sudah pasrah jika Freya akan memarahinya.
"Terus apalagi, apalagi yang bibi ketahui. Katakan semuanya Bi, jangan sampai ada sesuatu yang bibi sembunyiin dari aku," tegas Freya.
Bi Irma menggeleng. Ia memiliki alibi kenapa ia tidak mau ikut campur setelah Freya masuk ke dalam kamar.
"Jadi Bibi biarin aku dibawa Al dan Bibi juga nggak ngusir Alano dari kamar gue. Astaga! Bibi pasti sengaja kan?"
"Nggak Non, sumpah. Bibi mana berani ngusir Non, kan Tuan juga suami Non."
"Tapi bibi tau kan aku dan Al gimana. Itu seharusnya nggak terjadi."
"Maafin Bibi Non. Tapi Non… Non serius nggak ingat sesuatu."
Diam-diam Bi Irma juga penasaran akan sesuatu yang terjadi di dalam kamar. 'Meski sudah terjadi sesuatu dan bisa di bilang kalau itu kecelakaan tapi jika akhirnya bisa menyatukan keduanya, itu bukan lagi masalah,' batin Bi Irma
"Bibi!!!!"
Bi Irma langsung berlari untuk menghindari amukan Freya. Yang benar saja, disaat genting seperti ini, ia bahkan masih bisa menggoda Freya.
"Apa aku masih punya muka untuk bertemu dengan Alano. Aishh, ini sungguh memalukan."
***
__ADS_1
Di kantor Alano bahkan tidak bisa fokus dengan pekerjaannya. Saat rapat dengan para kepala divisi Alano bahkan hanya sibuk melamun tanpa tahu apa yang sedang mereka bahas.
"Bagaimana Pak Al, apa anda setuju dengan perekrutan penulis baru?" tanya Pak Wira dari kepala departemen Editorial.
"Ehem.. Pak Al?" tanya seseorang yang berada di sampingnya.
"Kita nggak ngapa-ngapain," seru Alano cepat sehingga membuat semua orang langsung menoleh ke arahnya.
Begitu melihat tatapan semua orang, Alano langsung tersadar jika sekarang ia sedang berada di ruang meeting bukan di hadapan Freya seperti yang ia bayangkan.
"Emmm.. Maaf maksud saya itu masukan yang cukup bagus, kita bisa mulai untuk menyeleksinya," ralat Alano cepat.
Untung saja seseorang yang berada di samping Alano langsung membisikkan pertanyaan yang diajukan padanya. Jika tidak mungkin ia sudah ditertawakan oleh bawahannya.
"Baik, saya rasa kita sudah mendapatkan jawabannya, jadi rapat hari ini kita akhiri sampai disini." Pak Wira sudah menutup presentasinya lalu menghampiri Alano sambil menyunggingkan senyumnya.
"Sepertinya Pak Al sedang mengalami masa sulit," ucap Pak Wira yang terdengar seperti sebuah ejekan. Pria itu hanya menepuk bahu Alano sambil mengambil buku catatan yang ia tinggal di mejanya, setelah itu ia berlalu begitu saja.
"Masa sulit, maksud anda?" tanya Alano penasaran karena ia memang tidak memahami ucapan Pak Wira.
Beberapa orang mulai meninggalkan ruang rapat sambil berbisik satu sama lain. Rupanya ucapan Alano cukup menarik perhatian mereka.
"Siapa wanita yang beruntung itu, aku tebak dia pasti lebih cantik dari istrinya."
"Hustt.. Jangan ngomong sembarangan, mungkin maksud Pak Al bukan gitu."
"Bukan gitu gimana, udah jelas dia ngomong 'Kita nggak ngapa-ngapain' itu terdengar seperti ucapan seseorang yang udah tertangkap basah."
"Bener gue setuju. Gue jadi penasaran padahal Pak Al baru aja nikah, kok bisa ya?"
Dan masih banyak lagi gosip-gosip yang mereka ciptakan.
Alano sudah mengepalkan tangannya, sekarang hanya tinggal ia dan Toni yang ada di ruang meeting sehingga Alano berani untuk mengeluarkan kekesalannya.
"Sial, kenapa gue terus mikirin Freya," gumamnya pelan.
"Apa, Tuan memikirkan Non Freya? Kenapa Tuan, apa terjadi sesuatu?" tanya Toni cemas tanpa tahu apa yang sedang ada di pikiran Alano.
Toni memang baru memasuki ruang meeting ketika rapat telah usai, sehingga ia tidak tahu apa yang sudah terjadi pada Alano.
__ADS_1
"Kenapa, apa kamu juga akan mengatakan hal yang sama seperti mereka. Beraninya mereka membicarakan atasannya, mereka mikir mereka siapa," bentak Alano yang seolah-olah melampiaskan amarahnya pada Toni.
"Tidak Tuan," jawab Toni yang langsung menundukkan kepalanya.
"Semua gara-gara Freya!"
***
7 jam yang lalu,
"Kamu mau kemana Al, kamu nggak boleh pergi. Kamu harus temenin aku disini," rancau Freya sambil menarik-narik tangan Alano.
"Lepasin tangan gue, lo kenapa sih. Ini namanya melanggar perjanjian."
"Masa bodoh dengan perjanjian. Apa salahnya tidur dengan suami sendiri, hemm?" kata Freya sambil mendekatkan wajahnya pada wajah Alano.
Freya menarik tangan Alano dengan kuat, sehingga membuat tubuh Alano kehilangan keseimbangan hingga akhirnya terjatuh diatas tubuhnya.
Freya yang sudah tidak sadar lagi tanpa diduga langsung menyambar bibir Alano. Freya benar-benar melakukannya. Meski itu yang pertama kalinya untuk Freya, namun Freya melakukannya dengan sangat baik.
Entah kenapa Alano tidak bisa menahan hasratnya. Ia mengikuti apa yang sudah Freya mulai. Ia seakan menutup mata jika sebenarnya apa yang dilakukannya ini adalah kesalahan.
Setelah mereka sama-sama kesulitan bernapas, mereka saling melepaskan.
Freya tampak terkekeh pelan. "Hei, kamu juga menikmatinya. Apa itu artinya kamu juga menyukaiku. Ck yang benar saja, seorang-"
Belum juga ucapannya selesai, Alano tiba-tiba menyambar bibir ranum Freya. Kali ini Alano yang mengambil kendali. Ia benar-benar melahap habis seakan-akan bibir ranum Freya adalah santapan lezat.
Gigitan kecil itu beberapa kali membuat Freya meringis, namun mereka sama-sama menikmatinya seperti sepasang kekasih yang sedang di mabuk cinta.
...BERSAMBUNG......
Nungguin ya😋
Yang baca bab ini, aku doain malemnya bisa tidur nyenyak + mimpi indah😊
Maaf kemarin belum bisa up karena bab ini nyangkut di review..
Mohon bersabar ya
__ADS_1