
Saat Al dan Freya tidak ada di rumah, Prisa benar-benar bertingkah seperti layaknya sang pemilik rumah. Ia melakukan apa saja yang membuat dirinya senang termasuk memakai ruangan gym milik Freya.
Berbagai alat fitnes sudah tersedia disana dari treadmill, sepeda statis, hingga alat-alat beban. Ada pula tempat untuk yoga dan ruang pilates. Prisa benar-benar kagum pada rumah yang sekarang menjadi milik Freya.
Tak hanya ruang olahraga indoor, di luar pun ada tempat golf yang cukup luas dengan pemandangan yang asri dengan adanya pepohonan rindang dan beberapa tanaman lain.
"Wahh.. Seorang Alano memang tidak bisa diragukan lagi. Dan dia terlalu sempurna untuk seorang Freya," gumam Prisa dengan nada ketus ketika teringat pada kakak tirinya.
"Liat tuh Artis kacangan, bisa-bisanya keluar masuk ke semua ruangan tanpa ijin, mana pakai bajunya Non Freya lagi. Kalau Non Freya tau, bisa habis dia. Apa aku kasih tau Non Freya aja kali ya?" ucap Bi Irma pada Pak Karto, mereka diam-diam mengawasi Prisa.
Sementara Pak Karto yang diajak bicara justru senyum-senyum sendiri sambil terus memandang ke arah Prisa.
"Heh, kamu ngapain senyum-senyum sendiri. Jangan-jangan kamu juga nggak denger aku tadi ngomong apa?"
"Apa sih kamu, nggak liat apa kalau aku lagi-"
"Lagi apa?" Bi Irma langsung memotong ucapan Pak Karto sambil melotot tajam.
"Lagi ngawasi itu Non Prisa. Udah deh kamu itu diem aja mending kamu ke dapur, kamu belum masak buat makan malem kan?" usir Pak Karto.
"Ini masih jam 3, makan malem masih lama. Kamu sendiri ngapain disini, jelas-jelas aku yang disuruh Non Freya buat ngawasin dia. Kamu pasti nyari kesempatan kan buat deketin itu artis kacangan, ngaku kamu."
Bi Irma kemudian terkekeh. "Heh, sadar kamu. Mau dunia jungkir balik, dia nggak bakal mau sama kamu. Ngimpi kok ketinggian, nanti kalau jatuh sakit," sungut Bi Irma sambil berjalan pergi tanpa bisa menghentikan tawanya.
"Sirik aja. Apa salahnya berkhayal," gumam Pak Karto sambil melirik Bi Irma dengan tatapan sengit.
***
__ADS_1
"Prisa ini sebenarnya kemana sih, udah 3 hari nggak pulang. Di rumah Lisa nggak ada, di rumah Maudy juga nggak ada, padahal kalau kabur dia selalu pergi ke rumah mereka. Apa kali ini dia benar-benar marah dan nggak mau balik lagi ke rumah ini."
Citra tidak bisa berhenti memikirkan putrinya. Ia sudah menghubungi semua teman dan kenalannya Prisa, namun tidak ada satu pun dari mereka yang mengetahui keberadaan Prisa. Bahkan gadis itu juga tidak datang ke lokasi syuting.
Sebenarnya ada apa dengan anak itu?
Hartono yang baru saja pulang dari kantor terkejut ketika melihat istrinya melamun. Padahal ia sudah memanggilnya beberapa kali namun sepertinya Citra sedang asik dengan lamunannya hingga tidak mendengar suara Hartono.
Hartono kemudian mendekati Citra dan duduk di sampingnya.
"Kamu lagi mikirin apa, aku panggil berkali-kali kok nggak di jawab?" tanya Hartono sambil menelisik wajah istrinya.
"Mas, kamu udah pulang?" Citra justru bertanya balik.
"Apa sih yang mengganggu pikiran kamu?" tanya Hartono lagi.
"Bukan apa-apa mas."
Citra mengiyakan ucapan suaminya.
Setelah Hartono pergi, Citra meraih ponselnya untuk melihat apakah Prisa sudah membalas pesannya, namun ternyata Prisa sama sekali tidak merespon pesannya. Tanpa centang dua abu masih belum berubah menjadi biru. Kali ini Prisa benar-benar mengabaikannya.
"Sayang.. sebenarnya apa sih yang kamu mau, katakan sama mama. Jika kamu terus seperti ini gimana mama bisa ngerti. Selama ini mama cuma punya kamu, dan sampai kapanpun sayang mama ke kamu nggak akan pernah berubah. Please.. kamu pulang ya."
Citra kembali mengirim pesan pada Prisa berharap jika kali ini putrinya mau membaca dan membalasnya.
Tanpa Citra ketahui, sebenarnya Hartono sudah mencurigainya namun pria itu berpura-pura tidak tahu apa-apa. Sekarang Hartono masih berdiri di balik tembok untuk melihat apa yang dilakukan Citra selama ia tidak ada. Dan benar, Citra bersikap aneh ketika ia sudah pergi dari harapan istrinya itu.
__ADS_1
"Siapa yang Citra hubungi, kenapa ia terlihat panik?" gumam Hartono pelan. "Aku harus mencari tahu," lanjutnya.
Hartono berjalan menuju ke kamar, sesampainya di sana ia langsung menghubungi seseorang yang tidak lain adalah asisten-nya.
"Ndre, mulai besuk kamu tolong selidiki istri saya. Kamu ikutin kemana pun dia pergi dan selalu update laporan ke saya," perintah Hartono.
Setelah menyampaikan tujuannya, Hartono langsung mengakhiri teleponnya. Ia memang mencintai Citra, bahkan rasa cintanya lebih dari yang ia berikan untuk mamanya Freya. Namun ia bukan tipe orang yang mudah percaya, apalagi kehidupannya yang bergelimang harta memungkinkan bagi siapa saja untuk mengambil keuntungan darinya atau dalam kata lainnya menusuknya dari belakang.
Tangan Hartono terulur untuk meraih sebuah foto yang ada di atas meja. "Jika kamu memang melakukan sesuatu di belakang saya, maka kamu harus terima resikonya," gumamnya sambil menutup foto itu, menandakan jika ia siap untuk mengubur perasaannya pada Citra jika memang wanita itu terbukti mengkhianatinya.
Usai menutup foto itu, Hartono berjalan ke arah kamar mandi. Ia ingin segera menyiram tubuhnya dengan air agar sesuatu yang memenuhi ruang pikirannya bisa ikut hilang bersamaan dengan noda keringat yang tersapu oleh air.
Butuh waktu kurang lebih 15 menit bagi Hartono untuk menyelesaikan ritual mandinya. Saat keluar, Hartono langsung tercengang ketika melihat Citra sudah berdiri di depan meja sambil memegang foto mereka yang sudah ditutup olehnya.
"Kamu lagi ngapain?" tanya Hartono pura-pura tidak tahu.
"Ini mas, foto ini kok bisa nutup sendiri ya padahal waktu aku keluar foto ini masih terpajang rapi. Aneh banget," gerutu Citra.
"Mungkin tadi kesenggol bibi waktu bersih-bersih terus dia lupa masang lagi," jawab Hartono sekenanya.
"Bibi kan nggak pernah masuk sini, kamu lupa ya kalau aku sendiri yang membereskan kamar kita."
"Ah iya, belakangan ini aku sering lupa, faktor umur kali ya." Hartono mencoba mengalihkan pembicaraan. "Nggak usah dipikirin, itu bukan masalah serius. Ngomong-ngomong aku kok nggak pernah liat Prisa ya."
"Prisa.. dia ada syuting di Bali jadi untuk sementara waktu dia akan tinggal disana. Nggak lama kok mas paling satu minggu," bohong Citra.
"Kamu jangan lupa untuk ngingetin dia soal makan dan istirahat. Kerja boleh tapi juga harus inget kondisi tubuh. Dan kalau dia butuh apa-apa jangan sungkan buat ngomong sama aku, oke?"
__ADS_1
"Iya mas, dan terimakasih untuk perhatian kamu. Prisa pasti seneng punya ayah seperti kamu," puji Citra sambil memeluk tubuh Hartono yang masih bertelanjang dada.
BERSAMBUNG...