
Tiba-tiba media di hebohkan dengan kabar jika novel yang ditulis langsung oleh Freya adalah novel jiplakan, salinan dari novel itu bahkan sudah tersebar luas dan membuat publik gempar.
Beberapa ada yang percaya jika novel milik Freya-lah yang asli, namun tak sedikit juga yang mulai meragukan kebenaran itu. Ada beberapa alasan yang membuat publik ragu, salah satunya karena Freya tiba-tiba masuk ke dalam perusahaan Al dan meluncurkan sebuah novel padahal Freya bukanlah seorang penulis novel.
Al segera memanggil Toni usai mendengar kabar itu.
"Ton aku punya tugas buat kamu, selidiki orang yang udah nyebarin salinan novel istriku. Cari sampai ke akar-akarnya," tegas Al.
"Siap bos, saya akan secepatnya mengurus masalah ini."
Al mengangguk lalu menggerakkan tangannya sebagai isyarat untuk menyuruh Toni keluar dari ruangannya.
Setelah mengutus Toni, Al menghampiri ruangan Freya. Kabar itu tentu mengejutkan istrinya dan setelah berita itu tersebar di media, Freya sama sekali belum keluar dari ruangannya. Beberapa kali Al sudah mencoba untuk menghubunginya namun Freya tidak mau menjawabnya.
Sesampainya di depan ruangan Freya, Al langsung memutar handel pintu namun pintunya tidak bisa dibuka. Itu menandakan jika pintunya terkunci dan hanya Freya yang bisa membukanya.
Tok.. tok.. tok..
"Frey, ini aku.. Tolong buka pintunya." Suara vokal Al bersahutan dengan suara ketukan di pintu.
Freya tidak menjawab.
"Aku tau kamu pasti syok, tapi kita perlu bicara, ada sesuatu yang ingin aku sampaikan ke kamu," ujar Al, masih terus berusaha membujuk Freya.
Dengan langkah lunglai Freya berjalan ke arah pintu, dan tak lama pintu itu terbuka menampakkan wajah lesu Freya.
"Sayang, kamu kenapa, kamu sakit?" tanya Al panik sambil menyentuh dahi dan juga pipi istrinya.
"Aku nggak papa," jawab Freya datar.
"Aku percaya sama kamu dan aku janji.. aku akan cari orang yang udah nyuri karya kamu. Sampai ke ujung dunia pun aku pasti bisa menemukannya," ujar Al sambil merangkul tubuh Freya.
"Gimana dengan masyarakat, gimana dengan investor kamu, gimana dengan perusahaan kamu. Maafin aku Al karena aku udah mengacaukan segalanya."
__ADS_1
"Heii, ini semua bukan salah kamu. Harusnya kamu itu mencemaskan diri kamu sendiri bukan justru mikirin perusahaan. Semua akan baik-baik saja, kamu nggak perlu cemas."
"Andai waktu itu aku nggak membuat janji ke papa mungkin semua nggak akan jadi kaya gini. Ini semua karena aku nggak bisa mengendalikan diri, aku memang ceroboh Al."
"Sayang, dengerin aku.. jika nggak ada kamu, aku nggak mungkin punya keberanian untuk melangkah lebih jauh, aku mungkin sudah menyerah. Tapi berkat kamu, aku jadi paham apa artinya tekad yang kuat dan kerja keras. Sekarang kita harus tetap fokus pada tujuan awal, jangan sampai masalah ini mengacaukan rencana kita. Kamu mengerti kan maksud aku?"
"Tapi..."
"Sttt..." Al menempelkan jari telunjuknya di bibir Freya. "Jangan bilang nggak bisa sebelum kita mencobanya."
Tak lama setelah Al berusaha untuk menenangkan Freya, ponsel Freya yang tergeletak di atas meja tiba-tiba bergetar.
Freya meliriknya lalu mengambil ponsel itu.
"Iya halo Fal, ada apa?" jawab Freya usai mengangkat telepon itu.
"Frey apa hari ini kamu ada waktu. Ini masalah penting, aku harap kamu bisa meluangkan waktu sebentar."
"Tentang pengalihan aset kekayaan Pak Hartono."
"Pengalihan, maksudnya gimana?"
"Nanti aku kasih tau secara langsung, untuk itu kita harus segera bertemu. Kalau bisa jangan libatin Al dulu karena ini masalah internal keluarga Hartono."
"Oke, nanti aku kabari lagi."
****
Tiga jam yang lalu,
Hati Citra sedang berbunga-bunga karena rencananya berjalan sesuai dengan apa yang ia harapkan. Kali ini Citra akan lebih berhati-hati agar tidak ada lagi kegagalan. Ia sudah muak menunggu, sesegera mungkin ia ingin mengambil alih atas semua aset yang Freya miliki dan tak ingin menyisakan satu sen pun untuk anak tirinya itu.
Di sebuah restoran di hotel bintang lima, Citra sedang menunggu seseorang. Di dampingi dengan seorang pengacara, Citra tampak sudah tidak sabar untuk bertemu dengan orang itu.
__ADS_1
Setelah menunggu selama kurang lebih sepuluh menit, akhirnya seorang pria dengan sepatu pantofel dan setelan jas berwarna hitam datang menghampiri Citra.
"Apa kabar Ibu Citra?" sapa pria itu sambil mengulurkan tangannya.
"Baik, bagaimana dengan anda Pak Naufal." Citra menjabat tangan pria bernama Naufal itu dengan senyum manisnya. "Perkenalkan ini pengacara saya, Pak Haris," lanjut Citra memperkenalkan pengacaranya pada Naufal.
Rupanya Citra diam-diam menemui pengacara kantor suaminya, atau tidak lain adalah pengacara keluarga Hartono. Tentu ada maksud tersembunyi dibalik pertemuan itu dan ini semua sudah diatur oleh Citra.
Berhasil atau tidaknya kesepakatan mereka, itu semua bergantung pada Naufal.
"Ngomong-ngomong kenapa Ibu Citra mengajak saya untuk bertemu disini?" tanya Naufal tanpa basa-basi.
"Tidak usah buru-buru begitu, anda ini kan pengacara baru di kantor suami saya, dan bagaimana pun nantinya kita akan lebih sering bertemu, jadi nggak salah kan kalau saya ingin mengenal lebih jauh mengenai diri anda. Dengar-dengar anda sudah menjadi seorang pengacara sejak usia 23 tahun, apa itu benar?"
Naufal mengangguk diiringi senyum canggungnya. "Itu semua berkat doa dan kerja keras."
"Saya sangat mengagumi anda, diusia segini anda sudah menjadi pengacara hebat. Ngomong-ngomong apa sudah ada calonnya, nggak mungkin dong orang sekeren dan sepintar anda masih melajang?"
Citra masih terus berusaha untuk merayu Naufal. Bukan apa-apa, ia ingin menarik hati pria itu terlebih dahulu sebelum ia mengutarakan maksud dan tujuannya.
"Kebetulan memang masih mencari yang cocok," jawab Naufal santai.
"Punya masa depan bagus, tampan. Coba kalau anda tertarik dengan salah satu anak saya pasti saya akan dengan senang hati memperkenalkan anda. Siapa tau kan cocok."
"Ibu bisa saja."
"Loh bener ini, saya serius. Kamu kenal anak saya kan, namanya Prisa, dia seorang artis dan juga model. Dia sangat menyukai dunia entertainment sejak masih kecil dan berkat usaha kerasnya kini cita-citanya sudah bisa ia raih. Kalau kamu mau, kapan-kapan saya bisa ngajak anak saya makan siang bareng. Itu pun kalau kamu nggak keberatan."
"Maaf Bu sebelumnya, ini sebentar lagi saya mau ada meeting di kantor jadi mohon maaf sekali saya nggak bisa lama-lama."
Itu hanyalah alasan Naufal saja agar bisa secepatnya pergi dari tempat itu. Jujur saja Naufal sama sekali tidak tertarik dengan obrolan mereka, apalagi saat mendengar bahwa Citra berniat untuk menjodohkannya dengan Prisa. Sedikitpun tidak pernah ada di pikiran Naufal untuk mengenal gadis itu. Secantik apapun wanita yang akan ditawarkan Citra, itu sama sekali tidak akan bisa menyuapnya.
BERSAMBUNG...
__ADS_1