My Husband My Enemy

My Husband My Enemy
Gagal total


__ADS_3

Saat asik makan tiba-tiba ponsel Alano berdering. Itu adalah panggilan dari Toni, namun Alano hanya meliriknya tanpa berniat untuk mengangkatnya. 


"Kok nggak dijawab?" tanya Freya sambil mengerutkan dahi. 


"Nggak penting juga, kita kan lagi honeymoon jadi kita harus fokus pada rencana kita, oke?" 


"Fokus, rencana, maksudnya?" Freya mulai bertanya-tanya karena ia sama sekali tidak memahami semua perkataan Alano. 


"Freya.. Kamu tau nggak sih apa bedanya liburan sama honeymoon?" tanya Alano setelah meletakkan garpu dan sendoknya, tiba-tiba saja pertanyaan Freya mengusik selera makannya. 


"Bukannya sama ya?" celetuk Freya. 


"Beda Freya," ucap Alano sedikit kesal. "Honeymoon itu lebih mengarah ke sesuatu yang lebih intim, lebih romantis, pokoknya honeymoon adalah sesuatu yang membuat pasangan semakin lengket. Jadi selama kita honeymoon, aku ataupun kamu dilarang untuk menerima telepon ataupun membalas chat dari siapapun, oke?" 


"Kok gitu, terus kalau papa aku yang telepon gimana, kalau ada sesuatu yang penting gimana?" 


"Aku udah ngasih tau papa jadi nggak mungkin kalau papa sampai ganggu kita."


"Kamu egois Al, masa papaku kamu anggap sebagai pengganggu." 


"Bukan gitu Freya, papa kamu pasti paham sama maksud aku."


Freya memberengut, ia benar-benar polos hingga membuat Alano kesulitan untuk memberinya penjelasan.


Saat mereka saling diam, fokus Freya kembali pecah karena ponsel Al lagi-lagi berbunyi. 


"Angkat dulu Al, berisik tau," seru Freya sambil memberengutkan wajahnya. 


"Ini anak ngapain sih, berani banget telfon gue," gerutu Al sambil bangkit dari kursinya setelah mengambil ponselnya. 


"Kenapa?!" jawab Al dengan nada ketus hingga membuat Freya melirik sengit. 


"...."


"Apa!! Kamu serius? Apa yang udah kamu lakuin selama aku pergi bisa-bisanya hal kaya gini sampai harus aku sendiri yang turun tangan. Nggak becus!" 


Al terlihat sangat kesal, bahkan ia sampai memutuskan telponnya secara sepihak. 


"Kenapa, ada masalah apa?" tanya Freya yang sudah berdiri gusar di samping Alano. 

__ADS_1


"Salah satu investor tiba-tiba narik sahamnya dari perusahaan. Toni bilang mereka sama sekali belum memberikan penjelasan apapun terkait masalah ini jadi perlu ada rapat internal dengan para pemegang saham." 


"Benarkah, kok tiba-tiba begini."


"Aku juga nggak tau kenapa sampai ada masalah kaya gini."


"Ya udah, kita harus kembali sekarang."


"Tapi kita…" 


"Masih mau egois, ini masalah penting loh?" seru Freya yang langsung membuat nyali Alano menciut. 


"Belum ada sehari kita disini, udah mau balik lagi," gerutu Al. "Ya udah kita pulang sekarang," ketusnya kemudian seakan ia belum rela untuk melepas masa-masa indah mereka. 


Mereka sudah berkemas dan siap untuk meninggalkan Pantai Ora. Dalam hati Alano benar-benar mengutuk kejadian hari ini, terlebih ketika ia teringat dengan Toni. Rasanya Alano ingin mencabik-cabik pria itu karena sudah membuat kesalahan besar di hari bahagianya. 


Dalam perjalanan kembali ke Jakarta, wajah Alano nampak murung. Ia sangat merasa bersalah pada Freya. Bukan hanya membohonginya tentang honeymoon ke Maldives tapi ia juga menggagalkan honeymoon mereka ke Maluku. 


"Frey, maaf ya.. Karena aku rencana kita jadi gagal total," ucap Alano pelan. 


"Apa sih kamu dari tadi minta maaf terus, bosen aku dengernya." 


"Aku bukan marah karena kita harus pulang, tapi aku kesel denger kamu minta maaf lagi, lagi dan lagi. Aku udah bilang nggakpapa kan." 


"Terus aku harus gimana?" 


"Ya udah diem aja, fokus sama masalah di kantor bukannya malah mikirin aku."


Dari yang semula dingin kini berubah menjadi pria yang penuh perhatian membuat Freya merasa tidak nyaman. Ia sudah terbiasa dengan segala kecuekan Al namun sekarang justru Al yang terus berusaha untuk mendekatinya. 


***


Di lain tempat, Hartono sedang makan siang dengan Citra dan juga Prisa di kediamannya. Jarang momen seperti ini terjadi karena Prisa yang selalu sibuk dengan pekerjaan, tentu hal ini membuat Hartono senang. 


"Sa gimana kerjaan kamu, tumben kamu bisa ikut makan siang, sering-sering kaya gini ya biar papa juga bisa ngobrol sama kamu," ucap Hartono.


"Kebetulan jadwal Prisa lagi kosong Pa," jawab Prisa. 


"Papa kamu bener Sa, kamu harus sering luangin waktu buat mama dan juga papa. Jangan terlalu sibuk, inget kesehatan itu juga penting," tambah Citra.

__ADS_1


"Iya ma." 


"Andai Freya juga disini pasti akan jauh lebih ramai. Oh iya ngomong-ngomong Freya sekarang lagi apa ya, papa berharap setelah mereka pulang dari Maluku kita bisa segera menimang cucu."  


"Apa, Maluku?" Prisa jelas terkejut karena ia belum mengetahui hal ini. 


"Sayang, kakak kamu itu sekarang lagi bulan madu. Mama tu seneng banget liat mereka makin lengket. Semoga saja ya pa doa kita dikabulkan." Mama Citra menambahi ucapan suaminya yang semakin membuat telinga Prisa memanas. 


Prisa menggeleng sambil menunjukkan wajah geramnya di hadapan sang mama. Jika saja tidak ada Hartono, mungkin ia akan langsung membentak sang mama untuk segera meralat ucapannya. 


Sementara itu Citra hanya bisa memasang senyum palsu pada Prisa. Hal itu tentu membuat kemarahan Prisa semakin memuncak. Tanpa berkata apa-apa ia membanting sendok dan garpunya dan segera meninggalkan meja makan. 


"Prisa kenapa ma?" tanya Hartono pada sang istri.


"Akhir-akhit ini mood-nya memang sedikit kacau pa, biarin aja nanti juga baik lagi," kelak Citra untuk menutupi kekesalan putrinya.


"Bener nggak papa atau biar papa susul, takutnya ada kata-kata papa yang membuat Prisa tersinggung." 


"Nggak perlu pa, papa lanjut makan aja biar mama yang samperin Prisa."


Citra bergegas mengejar Prisa. Begitu membalikkan badannya ia langsung menghela napas sambil memasang wajah panik. Tentu saja senyum manis yang ia tunjukkan pada Hartono semata-mata hanya untuk menenangkan pria itu. 


Sesampainya di kamar Prisa, Citra langsung menutup pintunya dengan rapat. Ia tidak akan membiarkan siapapun mendengar obrolan mereka. 


"Prisa.. kamu kenapa sih pergi gitu aja. Setidaknya kamu harus bisa menahan amarah kamu, kalau nanti papa curiga gimana?" 


"Kenapa mama ngebiarin Al pergi sama Freya, mama kan tau kalau aku suka sama Al. Malah tadi mama juga ikut-ikutan ngebela Freya, apa sih hebatnya dia sampai dia bisa mendapatkan apapun yang dia mau. Kenapa harus Freya ma?" teriak Prisa seakan-akan ia sudah tidak bisa lagi memendam kekesalannya pada Freya. "Sedangkan aku.. Dari kecil aku udah nggak punya papa, aku berusaha keras untuk meniti karier dengan usahaku sendiri, dan disini pun aku juga cuma anak tiri, tentu papa lebih menyayangi Freya daripada aku. Kenapa ma.. Kenapa harus Freya, dan bukan aku?" 


Ucapan Prisa sungguh menyayat hati Citra. Seumur-umur Prisa tidak pernah menyinggung tentang papanya, tapi hari ini dengan diiringi isak tangisnya, ia meluapkan segala perasaan yang selama ini terendap di dalam hatinya. Sebagai seorang ibu, Citra tentu merasa bersalah atas nasib yang menimpa putrinya, andai ia bisa jujur mengatakan siapa ayah dari anaknya tentu semuanya tidak akan seperti ini. Tapi Citra belum bisa mengatakannya sekarang. 


"Prisa.. Maafin mama sayang." Citra memeluk Prisa tapi segera ditepis oleh gadis itu. 


"Prisa cuma punya mama, tapi liat sekarang.. Setelah mama nikah sama Om Hartono, mama bahkan lebih sayang sama dia daripada Prisa. Mama seolah-olah udah lupa sama Prisa. Apa mama tau gimana perasaan Prisa. Prisa hancur ma. Dan asal mama tau, Prisa nggak betah di rumah ini, itu alasan kenapa Prisa nggak pernah ada di rumah." 


Plak!!!


Satu tamparan keras mendarat di pipi Prisa. 


BERSAMBUNG...

__ADS_1


__ADS_2