
Sebuah mobil Mitsubishi keluaran terbaru sudah terparkir tepat di depan rumah Freya. Seperti yang pernah dikatakan lewat pesan, rupanya Stev benar-benar menepati janjinya.
Dengan penuh semangat Prisa segera keluar karena kali ini ia tidak mengijinkan Stev untuk memasuki rumah Freya.
Bersamaan dengan turunnya Prisa dari lantai dua, kebetulan Freya juga baru ingin naik sehingga secara tidak sengaja mereka hampir bertabrakan. Beruntung mereka hanya bersenggolan, meskipun sakit namun itu tidak seberapa.
"Kalau jalan pakai mata bisa nggak sih?" rutuk Freya begitu melihat siapa pelakunya.
"Emang bisa jalan pakai mata, terus gunanya kaki buat apa, melototin gue gitu?!" jawab Prisa tak mau kalah. "Kali ini gue lagi males berdebat, jadi simpan tenaga lo, oke."
"Hei, mau kemana lo," seru Freya begitu Prisa sudah melewatinya. Lalu Freya melirik keluar gerbang dan ternyata ada sebuah mobil hitam terparkir disana. "Tumben ada yang mau jemput lo?"
"Kenapa, lo iri?"
"Gue, iri?" Freya tertawa seolah kata-kata itu menggelitikinya. "Buat apa?"
"Ah iya gue lupa, suami lo kan udah sempurna. Suami khayalan maksudnya, hahaha..."
Prisa melenggang pergi setelah menertawakan Freya. Ia juga melambaikan tangannya sambil memberikan kecupan jauh. Ledekan itu tentu membuat Freya semakin meradang, ia sudah melepaskan sepatunya dan hampir melemparkannya ke arah Prisa, namun niat itu diurungkan karena tiba-tiba ponselnya berbunyi.
"Siapa sih, ganggu aja!" gerutunya kesal sambil merogoh ponselnya yang tersimpan di tas kecilnya.
📞 "Frey, lo harus cepet kesini. Ini penting!" ucap Mesha terburu-buru.
📞 "Penting apanya, terus lo nyuruh gue kemana, kalau ngomong yang jelas bisa kan?"
📞 "Gue ada di Restoran Xx, cepet ya, gue tunggu."
📞 "Sepenting apa sih, gue baru aja sampai rumah, jangan ngerjain gue deh. Atau lo lagi dikejar-kejar debt collector, iya?"
Freya akhirnya mengurungkan niatnya untuk naik ke lantai dua. Ia lebih memilih untuk beristirahat sejenak di sofa yang tak jauh dari tangga.
Disela-sela percakapannya, Freya bisa melihat seseorang dari luar gerbang tampak sedang membukakan pintu untuk Prisa. Freya menyipitkan matanya karena dari kejauhan ia seperti mengenali sosok pria itu.
"Stev," gumam Freya pelan.
📞 "Frey, lo lagi ngomong sama siapa sih. Lo tadi sebut nama siapa?" tanya Mesha yang ternyata masih bisa mendengar suara pelan nya.
__ADS_1
📞 "Bukan apa-apa, gimana tadi ada masalah apa kali ini sampai harus bawa-bawa gue?"
📞 "Soal nyokap lo."
Mendengar kata itu, Freya langsung bangkit berdiri.
📞 "Gue sampai 10 menit lagi."
Freya langsung menyambar kunci mobilnya dan bergegas keluar.
Freya bahkan bermanuver dengan sangat cepat ketika memutar mobilnya. Setelah beberapa menit berlalu pun, Freya bisa menyalip mobil Stev yang ternyata belum berjalan terlalu jauh.
Stev terpaksa membanting stir nya ke kiri karena mobil Freya nyaris saja menyenggol mobilnya.
"Gila, siapa sih itu naik mobil ugal-ugalan. Udah berasa kaya yang punya jalanan aja."
'Itu kan mobilnya Freya, mau kemana dia. Kenapa dia buru-buru begitu, seperti ada sesuatu yang sedang terjadi,' batin Prisa penasaran.
"Stev, bisa ikuti mobil itu?" pinta Prisa pada Stev. Ia sungguh penasaran dengan masalah Freya sampai-sampai ia melupakan tujuan awalnya.
"Bukan itu."
"Terus kenapa?"
Prisa tak bisa mengalihkan fokusnya pada mobil Freya. Bahkan ia bingung harus bagaimana menjawab pertanyaan Stev itu.
"Pokoknya ikutin aja mobil itu, jangan sampai kehilangan. Nanti aku jelasin kalau udah turun."
Stev tidak bisa menolak permintaan Prisa, meski dalam hati sebenarnya ia keberatan. Tapi mau bagaimana lagi, ia tidak ingin memberikan kesan buruk di hari pertemuan mereka.
Stev bisa mengejar mobil Freya hingga tiba di tempat tujuan. Jika tadi ia hanya bertanya tentang siapa orang yang tengah ia kejar, tapi sekarang begitu melihat Freya yang turun dari mobil itu, semakin ada banyak pertanyaan yang tersimpan dibenaknya. Kenapa dan bagaimana, pikirannya dipenuhi dengan kata-kata itu, yang tentu membutuhkan jawaban yang detail.
"Itu Freya kan-"
Baru saja menoleh ke arah Prisa dan bahkan kalimatnya pun belum selesai ia ucapkan, namun ternyata Prisa sudah lebih dulu keluar. Dan sekarang gadis itu sudah muncul di depan mobil Stev sambil berlari mengejar Freya.
Melihat fakta jika ternyata ia diabaikan, Stev hanya tersenyum getir. Namun ia juga masih penasaran dengan perlu untuk mendapatkan jawabannya. Akhirnya dengan berat hati Stev ikut menyusul Prisa.
__ADS_1
Sesampainya di dalam restoran, Mesha yang melihat kedatangan Freya langsung melambaikan tangannya. Beruntung sebelum Mesha menoleh, Prisa sempat bersembunyi sehingga Mesha belum sempat melihatnya.
Prisa maju beberapa langkah setelah Freya menghampiri Mesha.
Memilih tempat duduk yang tidak terlalu jauh dari Freya adalah alternatif terbaik untuk mengetahui segalanya.
Prisa bisa melihat secara jelas jika Freya tengah mengamati seseorang. Dan itu Prisa seperti tidak asing dengan wajahnya.
"Aku seperti pernah melihat dia, tapi dimana?" gumam Prisa. "Tapi siapa wanita di depannya, aku tidak bisa melihatnya secara jelas?"
Posisi Citra tidak terlihat oleh Prisa karena terhalang oleh pengunjung lain. Tapi ada satu hal yang kemudian membuat Prisa bertanya-tanya.
"Tas itu.. itu seperti punya mama tapi mana mungkin mama ketemu sama wanita itu. Tapi tunggu, bisa jadi kan jika Freya diam-diam lagi nyelidikin mama."
Prisa bisa begitu yakin jika tas itu milik mamanya karena gantungan kuncinya. Gantungan kunci berbentuk sepatu dengan warna merah itu adalah pemberiannya. Dan gantungan itu tidak pernah lepas dari tas favorit mamanya itu.
Di sisi lain, Freya langsung syok begitu melihat siapa orang yang ingin Mesha tunjukkan padanya.
"Jasmine sama nyokap tiri gue.. mereka ngapain disini dan kenapa mereka terlibat cukup akrab?"
"Itu yang pengen gue tanyain sama lo, mereka ada hubungan apa. Soalnya gue perhatiin dari tadi, gerak-gerik mereka itu mencurigakan."
"Mencurigakan gimana?"
"Lo bisa liat sendiri, mereka ngomongnya bisik-bisik gitu mana kaya lagi happy. Apa kita samperin aja mereka?"
"Nggak perlu." Freya menahan tangan Mesha yang seketika itu juga ingin bangkit dari kursinya. "Kita liat dulu sejauh apa hubungan mereka, lagipula kita sekarang belum punya bukti. Jika kita kesana sekarang, itu akan menyia-nyiakan usaha kita."
Ucapan Freya memang ada benarnya, jika ingin menjatuhkan Citra harus ada bukti kongkrit.
"Ngapain kita dateng ke restoran ini?" tanya Stev yang kini sudah duduk si depan Freya.
Prisa tidak menoleh, dan ia tampak fokus menatap ke depan untuk mencaritahu siapa pemilik gantungan kunci berbentuk sepatu itu.
'Apa itu benar-benar Mama?'
BERSAMBUNG...
__ADS_1