
Prisa keluar dari persembunyiannya sambil menunjukkan senyum smirk-nya.
"Oh.. jadi ini semua cuma permainan, kenapa dia begitu sombong seolah-olah Al memang miliknya. Masih untung Al mau mewujudkan hayalan, yah meskipun ujungnya bikin malu. Hihihi..."
Hampir saja Prisa kelepasan ingin terasa lebar, namun ia segera membungkam mulutnya agar tidak ada orang yang mendengar, bisa-bisa ia akan langsung di seret keluar dari rumah itu.
Situasi sekarang justru berbanding terbalik menyerangnya. Freya sama sekali tak punya firasat jika rahasia itu akan terdengar sampai ke telinga papanya. Freya tak bisa tinggal diam, ia memutuskan untuk mengejar papanya.
Begitu mobil milik Hartono masuk ke pekarangan rumah, pria itu langsung mengatakan sesuatu ke satpamnya. Entah apa yang dia katakan, namun sepertinya itu sebuah perintah agar Freya tidak diperbolehkan masuk.
Freya turun dari mobilnya dan langsung menggedor-gedor gerbang rumah papanya.
"Pak, tolong buka pintunya.. saya perlu bicara sama papa."
Satpam di rumah itu hanya gelisah.
"Pak tolong pak.. ini penting," mohon Freya sekali lagi.
"Maaf Non, tapi ini perintah dari Tuan, Bapak nggak bisa berbuat apa-apa." Satpam itu berada di antara pilihan yang sulit.
"Tapi pak..." Freya menggedor dengan putus asa sambil berlinangan air mata.
"Maafkan saya Non, tapi sebaiknya Non Freya pulang dulu. Nanti jika sudah tenang, Non bisa kesini lagi," saran satpam itu.
Tak lama Citra muncul dari dalam rumah dengan ekspresi bingung. Ia mendekat ke Freya sambil bertanya, "ini ada apa Freya, kenapa papa terlihat sangat marah."
Freya hanya melirik sekilas lalu membalikkan badannya sambil berjalan lunglai.
"Freya kamu nggak mau cerita sama mama, mungkin mama bisa membantu."
Freya menoleh, "kamu tanya aja sama papa, dan terimakasih atas tawaran kamu tapi ini nggak ada hubungannya sama kamu jadi kamu nggak usah sok perduli sama aku."
"Freya... aku ini juga mama kamu, meskipun kamu menolak kehadiran saya setidaknya sekali saja panggil saya mama."
Freya tersenyum getir. "Mama? mamaku udah meninggal setengah tahun lalu. Apa kamu nggak tau, atau... papa menyembunyikan kondisi mama saat dia mencoba mendekatimu?"
__ADS_1
"Freya!!!" bentak Citra yang amarahnya mulai tersulut dengan kata-kata Freya. "Selama ini saya udah sabar ngadepin kamu, tapi semakin saya mengalah kamu justru semakin keras. Oke kalau ini mau kamu, saya pun juga nggak mau terus-terusan maksa kamu."
"Bagus lah kalau kamu sadar," ucap Freya sebelum berlalu meninggalkan tempat tinggalnya dulu, rumah yang penuh dengan kenangan indahnya bersama almarhum mamanya.
Di sepanjang jalan Freya terus menelpon Al, namun suaminya begitu sulit untuk dihubungi. Freya hampir tak tau harus kemana, hingga akhirnya terbersit di pikirannya untuk menemui Mesha.
Sesampainya disana Freya langsung membunyikan bel dengan tidak sabaran, membuat sang pemilik rumah mengumpat sejadi-jadinya.
"Shitt!! Kenapa gangguan selalu datang ketika gue lagi makan," gerutu Mesha sambil menaruh sendoknya sebelum ia sempat mencicipi makanannya. "Ni orang mau cari gara-gara sama gue, nggak sabaran banget sih. Iya sebentar.." teriaknya kemudian.
"Lo punya mas-alah.. Ya ampun Freya, lo kenapa berantakan gini. Siapa yang udah bikin lo nangis." Mesha tercengang begitu melihat wajah Freya.
Sementara Freya langsung menjatuhkan kepalanya di bahu Mesha. Ini kali pertama Mesha melihat Freya benar-benar terpuruk setelah kematian mamanya.
"Kita masuk dulu yuk," ucap Mesha sambil menepuk punggung Freya.
"Gue ambilin minum dulu ya?" kata Mesha usai membantunya duduk di sofa.
Freya hanya mengangguk lemas tanpa mengeluarkan kata-kata.
Tak lupa Freya mengusap area sekitar bibirnya karena minuman itu belepotan usai dirinya meminumnya layaknya seorang kuli.
"Lo tenangin diri lo dulu. Gue nggak mau maksa lo buat ngomong," ucap Mesha sambil bangkit untuk membawa gelasnya ke dapur, namun belum sempat berjalan Freya tiba-tiba menahan tangannya.
"Selain lo, apa ada orang yang tau tentang pernikahan kontrak gue?"
"Apa?" pekik Mesha. "Maksud lo apa? Tunggu.. tunggu.." Freya kembali duduk di samping Freya dengan wajah penasaran. "Jangan-jangan ini ada hubungannya sama surat perjanjian yang kalian buat itu?"
"Papa tau soal itu," jawab Freya lemah.
"Kok bisa, dia tau dari siapa. Sumpah Frey, gue nggak pernah bilang ke siapa pun soal itu."
"Gue percaya sama lo, cuma darimana bokap gue bisa tau. Gue udah coba jelasin ke papa tapi papa nggak mau dengerin penjelasan gue. Gue harus gimana Sha?"
Bahu Mesha terasa nyaman saat Freya bisa berbagi beban pada sahabatnya itu. Tak ada pengecualian bagi Freya ataupun Mesha untuk mengatakan apapun. Mereka saling memahami, mereka saling mengasihi hingga jauh dari kata kesalahpahaman.
__ADS_1
"Mungkin bokap lo masih syok, tunggu sampai dia tenang. Semua butuh waktu kan Frey, lagipula kalian juga sudah bersama, buktikan itu ke papa kamu."
"Tapi gue udah ngecewain papa."
"Siapapun pernah melakukan kesalahan Frey, yang penting gimana ending-nya. Apa kita bisa menyelesaikan masalah itu atau justru terus lari tanpa ada ujung yang jelas. Semua tindakan yang kita ambil selalu ada resikonya, makanya kenapa kita bener-bener harus berpikir jeli sebelum bertindak."
"Kenapa waktu itu gue punya pikiran kaya gitu. Gue bener-bener bodoh."
"Udah deh mending nggak usah bahas itu terus. Astaga! ramen gue."
Mesha langsung berlari saat tiba-tiba teringat dengan makanannya.
"Yah, udah dingin," sesalnya saat menatap makanan itu.
"Nggak usah kaya orang susah, bikin baru napa," gumam Freya saat ia menghampiri Mesha.
"Lo nyindir ya, mentang-mentang sekarang jadi Nyonya Al."
Freya mengeluarkan dua lembar uang berwarna merah lalu menyerahkannya ke Mesha. "Nih, sekalian beliin gue rujak yang super pedes."
"Nah, gini baru bener," ucap Mesha ketika uang itu sudah berpindah ke tangannya. "Lo ngidam ya?" tanyanya kemudian.
"Emang cuma orang hamil doang yang boleh makan rujak."
"Ya nggak gitu sih, cuma kan rujak identik sama orang hamil. Lagipula lo kan masih anget-anget nya," kata Mesha sambil cengar-cengir.
"Lo pikir gue gorengan, udah sana pergi."
"Iya iya, bawel!!!"
"Asal ada uang, mau makan nasi kebuli pun gue turuti," gumam Mesha kemudian sambil berjalan meninggalkan rumah.
Freya masih duduk di meja makan sambil menopang dagu. Pikirannya kembali menerawang pada kejadian tadi. Jujur ia sangat penasaran tentang siapa orang yang sudah memberitahukan hal itu ke papanya. Bahkan selama ini Freya sudah melupakan perjanjian itu. Ia sudah mengubur dalam-dalam dan seakan tidak ingin menggalinya lagi. Namun tiba-tiba itu menjadi bom waktu yang membuat Freya harus kehilangan kepercayaan papanya.
"Apa ini ulah Tante Citra atau... Prisa?" Freya terbelalak saat menyebut nama Prisa. Ia menjadi semakin curiga lantaran adik tirinya itu sudah menginap di rumahnya berhari-hari.
__ADS_1
BERSAMBUNG...