
"Jadi lo mau pulang kemana?" tanya Stev untuk kesekian kalinya.
Mereka sudah berputar-putar mengelilingi Kota, namun Prisa masih saja belum mau berbicara kemana tujuannya sekarang.
"Oke, kalau lo nggak mau ngomong kita ke rumah gue sekarang."
"Nggak!" bantah Prisa cepat.
"Ya udah sekarang ngomong, kemana gue harus nganterin lo."
"Lurus aja, nanti di depan ada pertigaan belok kiri," jawab Prisa sambil menatap keluar jendela.
"Ini lo serius kan, nggak lagi ngerjain gue."
"Iya."
Mobil yang dikendarai Stev sudah memasuki area perumahan elit.
"Jadi lo tinggal disini?"
"Nggak."
"Terus ini sebenarnya kita mau kemana."
"Rumah kakak gue."
"Jadi lo punya kakak."
"Hmmmm," jawab Prisa dengan malas. "Tepatnya kakak tiri gue."
Stev membulatkan mulutnya dan kembali fokus pada jalanan di depannya.
"Stop, berhenti disini aja."
"Rumahnya yang mana?" tanya Stev sambil mengamati rumah-rumah yang ada di sekelilingnya.
"Nggak usah banyak nanya. Satu lagi, lo nggak boleh ngikutin gue. Ngerti?"
Stev mengangguk tak yakin.
"Awas kalau lo sampai ngikutin gue," kecam Prisa sebelum ia membuka pintu mobil.
Prisa sudah keluar dari mobil Stev, dan baru saja ia melangkahkan kakinya tiba-tiba Prisa hampir kehilangan keseimbangan. Ia akan terjatuh jika saja tidak segera berpegangan pada sebuah tiang yang ada di dekatnya.
"Itu anak susah banget sih dibilangin, udah teler tapi masih aja sok kuat di depan gue." gumam Stev lalu membuka pintu mobilnya dan berjalan menghampiri Prisa.
"Kalau lo nggak bisa jalan sendiri itu ngomong. Lo mau pingsan di jalan?" sindir Stev sambil menarik tangan Prisa secara paksa.
Mau tidak mau Prisa terpaksa menerima bantuan Stev. Mereka akhirnya tiba di depan rumah Freya.
__ADS_1
Cukup lama mereka menunggu pintu gerbangnya terbuka hingga kemudian satpam rumah itu keluar bersama dengan Al.
"Hai Al?"
Masih sempat-sempatnya Prisa melambai kearah Al meski keadaannya sudah cukup memprihatinkan.
"Prisa?" pekik Al. "Kamu siapa, ngapain datang kesini sama Prisa, mana mabok lagi," tanya Al pada Stev.
"Maaf, tadi aku nggak sengaja ketemu Prisa di bar. Dia hampir aja diganggu sama cowok disana, makanya aku anterin dia pulang. Kamu tenang aja, aku nggak ngapain-ngapain dia kok," ujar Stev.
"Pak cepet anter Prisa ke dalam," kata Al pada satpamnya-Pak Karto.
Stev menyerahkan Prisa pada Pak Karto lalu pergi karena Al langsung menutup pintu gerbangnya tanpa berbasa-basi untuk sekedar mengucapkan terimakasih.
"Kakak sama adek ternyata sama aja, sama-sama cuek dan angkuh. Tapi itu cukup menarik. Setidaknya gue tau dia tinggal dimana," gumam Stev sambil berjalan ke arah mobilnya.
Sebelum Stev benar-benar pergi, ia menyempatkan waktu untuk menoleh kebelakang menatap bangunan megah tempat Prisa tinggal sambil menyunggingkan senyumnya. "Prisa.. ada sesuatu di diri lo yang bikin gue tertarik sama lo. Gue menantikan pertemuan kita selanjutnya."
***
"Lo itu kenapa sih, selalu nyusahin orang kalau lagi mabok. Kali ini apalagi?" tanya Al usai Pak Karto membaringkan Prisa di ranjang.
Prisa tidak menjawab, sepertinya ia benar-benar sudah kehilangan kesadarannya.
Karena tidak ada respon, Al dan juga Pak Karto segera meninggalkan kamar tamu.
Saat Pak Karto ingin keluar dari rumah itu tiba-tiba Bi Irma memanggilnya.
"Itu, adiknya Non Freya," bisik Pak Karto pelan karena ia tidak ingin suaranya membangunkan penghuni rumah itu.
"Siapa? Si artis kacangan itu?" tebak Bi Irma.
"Jangan suka ngomong gitu, kamu pasti iri kan karena dia jauh lebih cantik dari kamu dan juga dia seorang artis terkenal."
"Hihhh.. ngomong apa sih kamu. Cantik kan juga Non Freya daripada dia," sungut Bi Irma tak terima dengan ucapan Pak Karto.
"Sudah sudah, kamu balik tidur sana. Jangan sampai suara cempreng kamu membangunkan Tuan dan Non Freya. Kamu mau kena marah lagi."
Bi Irma memutar bola matanya dengan jengah lalu meninggalkan Pak Karto begitu saja.
Mereka memang jarang terlihat akur, hanya momen-momen tertentu yang membuat mereka terlihat akrab. Salah satunya ketika Freya dan Al akhirnya saling jatuh cinta, selain itu mereka bagaikan anjing dan kucing.
***
Sinar matahari nampak malu-malu menunjukkan dirinya. Ketika itu Al sedang menggeliatkan tubuhnya, tiba-tiba Al baru menyadari jika Freya sudah tidak ada di tempat tidur.
Al turun dari ranjang lalu mencari keberadaan Freya. Lalu Al mencium bau masakan ketika ia sampai di lantai bawah. Cepat-cepat Al menuju ke arah dapur.
Rupanya Freya sedang berada di sana, lengkap dengan celemek yang menutup sebagian bajunya.
__ADS_1
"Freya, kamu bangun jam berapa?" tanya Al heran karena ia jarang melihat Freya bangun pagi apalagi sampai berada di dapur seperti ini, ini bukan Freya yang Al kenal.
"Lumayan pagi. Ayo sarapan aku udah bikin telur dadar spesial."
Bagi Freya yang sama sekali tidak bisa memasak, bisa membuat telur dadar sudah seperti keajaiban. Maka dari itu, ia tampak begitu bahagia saat bisa menyajikan masakannya untuk suami tercinta.
"Telur dadar, emang kamu bisa?"
"Aku udah belajar dari Bi Irma, kamu coba aja," jawab Freya sambil menata makanan di atas meja.
Al menghampiri Freya dan betapa terkejutnya dia saat melihat ada beberapa wajan dengan telur gosong di dalamnya.
"Berapa telur yang kamu habiskan untuk membuat telur dadar?"
Freya tersenyum. "Semua telur yang ada di kulkas udah habis," jawab Freya ragu-ragu.
"Apa?" pekik Al. Lalu Al menatap ke arah meja makan dan mendapati ada dua telur dadar yang tersaji disana. "Jadi, dari 20 biji cuma ada 2 telur yang berhasil kamu masak.. Dan lainnya hangus seperti ini?" ucap Al setengah tidak percaya.
Freya mengangguk pelan. Sebenarnya Freya malu untuk mengakuinya. Tapi bagaimana lagi, Al sudah terlanjur melihat.
Bukankah seharusnya Al memberinya apresiasi, setidaknya sedikit pujian karena akhirnya ia bisa membuat sarapan untuk suaminya?
"Kalau gini caranya, mending nggak usah masak," gumam Al pelan saat memalingkan wajahnya ke belakang.
"Kamu ngomong apa Al?" tanya Freya.
"Nggak, bukan apa-apa," kelak Al.
"Kalau gitu ayo kita makan." Freya menarik lengan Al untuk duduk di salah satu kursi.
Setelah mereka duduk, Freya mulai melayani Al dengan mengambilkan nasi goreng buatan Bi Irma lalu meletakkan telur dadar buatannya di atas nasi goreng itu.
"Ayo dimakan," pinta Freya dengan penuh semangat.
Al mulai menyendok makanannya, sejujurnya ia ragu untuk memasukkan sendok itu ke mulutnya karena ia takut jika nanti ia akan mengecewakan Freya dengan rasa masakan itu. Tapi ia harus mencobanya, setidaknya berbohong sedikit tidak apa-apa jika itu bisa membahagiakan Freya.
Al mengunyahnya secara perlahan. Dan...
"Gimana?" tanya Freya dengan tidak sabaran.
Al belum menjawab tapi dari matanya yang mulai menyipit dan mulut yang sengaja ia tutupi, itu menandakan jika ada sesuatu yang tidak beres dengan rasanya.
"Kenapa, nggak enak ya?" tanya Freya lagi.
Al mencoba untuk tersenyum dan terus melanjutkan makannya.
"Enak kok, ini enak.. Aku malah mau nambah lagi."
"Beneran enak?" tanya Freya ragu.
__ADS_1
BERSAMBUNG...