My Husband My Enemy

My Husband My Enemy
Sahabat?


__ADS_3

Alano dan Freya sama-sama sedang menikmati sarapan mereka dengan suasana canggung setelah kejadian semalam. Sesekali Alano juga mengangkat wajahnya untuk menatap wajah Freya. Namun begitu Freya meliriknya, Alano berpura-pura menatap ke arah lain.


"Nanti kalau ada orang asing kesini jangan kamu kasih masuk kecuali kamu kenal orangnya, karena aku yakin orang itu pasti sedang mengintai kamu dan juga rumah ini," ucap Alano tiba-tiba untuk memecah keheningan mereka. 


Freya mengangguk pelan, dalam hati ia juga berpikir kenapa bahasa Alano terdengar formal, tidak seperti biasanya yang selalu menggunakan bahasa santai seperti 'lo-gue'


Merasa sudah menyelesaikan sarapannya, Alano bergegas mengambil tas yang ia taruh di kursi sampingnya lalu bangkit dari tempat duduknya dengan terburu-buru. 


"Al?" panggil Freya ketika Alano baru saja membalikkan tubuhnya. 


Alano menoleh, "iya, ada apa?" 


Freya menunjuk dasi Alano yang sedikit berantakan, mungkin karena terburu-buru sehingga pria itu mengabaikannya begitu saja. 


Namun kode itu rupanya tidak diketahui oleh Alano, berkali-kali Alano menatap pakaiannya namun ia tidak mengerti dengan kode yang dimaksud Freya. 


Freya sedikit menyunggingkan senyumnya saat menoleh untuk menghampiri Alano. Saat ini mereka sudah berdiri berhadapan dengan jarak yang cukup dekat. Alano sudah mematung, tanpa bisa mengatakan apa-apa. Mungkin otaknya sedang traveling kemana-mana, namun sesungguhnya Freya hanya berniat untuk membenarkan dasinya tanpa ada maksud lain.


"Biar gue betulin dasi lo," ucap Freya sambil mengangkat tangannya. 


"Ha?" Alano terkejut, seolah-olah bukan itu yang ia harapkan. 


"Kenapa?" tanya Freya sambil menghentikan gerakkan tangannya. 


Sadar jika ucapannya sudah mengejutkan Freya, Alano bergegas untuk meralatnya. "Bukan apa-apa, aku tadi buru-buru makanya nggak tau kalau ternyata dasinya belum rapi.


Entah kenapa, Alano merasa gugup saat Freya berdiri di hadapannya dengan jarak sedekat itu. Apalagi wangi parfum yang Freya pakai sukses menarik perhatian Alano. Tanpa diduga, Alano perlahan mendekatkan wajahnya seakan-akan ingin mencium Freya. Matanya pun sudah terpejam seolah parfum itu menyihir dirinya untuk melakukan hal itu.


"Udah selesai," kata Freya. 


Freya terkesiap saat melihat Alano memejamkan matanya. Begitu juga dengan Alano, kata-kata Freya sukses mengejutkannya. 


Karena malu, Alano langsung membalikkan badannya dan berjalan meninggalkan Freya tanpa sepatah kata pun. Namun ketika ia baru berjalan beberapa langkah, Alano teringat jika ia belum mengucapkan kata terimakasih pada Freya. 


Setelah mengumpulkan keberaniannya, Alano memutar kepalanya dan berkata, "makasih untuk dasinya." 


Freya mengangguk, namun begitu Alano kembali melanjutkan langkahnya Freya langsung mengerutkan dahinya. Ia masih berpikir kenapa Alano tadi memejamkan matanya. Padahal membenarkan dasinya tidak ada hubungannya dengan memejamkan mata. 

__ADS_1


"Aneh, dia bener-bener aneh," gumam Freya. 


Sepanjang perjalanan menuju ke kantor, Alano tidak bisa berhenti memikirkan kebodohannya. Bagaimana ia bisa seceroboh itu dan kenapa ia sampai harus melakukan hal itu serta masih banyak pertanyaan lain yang memenuhi pikirannya. 


"Apa yang lo lakuin Al?" rutuk Alano pelan, seakan-akan hanya dirinya yang bisa mendengarnya. Namun sesungguhnya Toni yang sedang mengemudikan mobilnya sejak tadi sudah mengamati Alano. Sikap Alano yang tidak seperti biasanya ternyata sudah mengundang perhatian Toni. 


"Ada terjadi sesuatu yang buruk bos?" tanya Toni tiba-tiba. 


Mendengar pertanyaan itu membuat Alano semakin kesal. Ia berpikir jika Toni mengetahui isi pikirannya, padahal Toni sama sekali tidak mengetahui apa yang baru saja terjadi antara Alano dan Freya. 


Mendapat reaksi buruk, Toni segera meminta maaf karena sudah lancang bertanya seperti itu. Padahal kenyataannya Toni bermaksud baik ingin membantu Alano. 


Sesampainya di kantor, sekretaris Alano yang bernama Leona langsung menghampirinya. 


"Permisi pak, di luar ada tamu yang sudah menunggu anda sejak tadi," ucap Leona. 


Alano yang sedang senyum-senyum sendiri sambil memperhatikan dasinya segera mendongak untuk menatap wajah Leona. 


"Tamu, sepagi ini?" tanya Alano kaget. "Tapi saya tidak ada janji dengan siapapun?" lanjutnya. 


Seorang wanita tiba-tiba masuk ke ruangan Alano dengan senyum khasnya. 


Wanita yang tak lain adalah Jasmine itu sedang berjalan menghampiri Alano dengan langkah anggun. 


"Jasmine?" seru Alano. "Aku pikir ada klien yang mendadak ingin bertemu denganku. Mari masuk." 


"Leona tolong kamu suruh OB untuk mengantarkan minuman di ruangan saya," kata Alano pada Leona. 


Setelah Leona keluar, Jasmine mendaratkan bokongnya di sofa empuk yang ada di ruangan Alano. Sebelum berkata apa-apa Jasmine sempat mengamati ruangan Alano sambil menyunggingkan senyumnya. 


"Oh iya aku mau minta maaf karena kemarin aku pulang buru-buru jadi nggak sempet bilang ke kamu," ucap Alano. 


"Nggak papa, lagipula aku juga udah denger kejadian yang menimpa istri kamu. Aku turut prihatin Al, terus gimana keadaan dia sekarang?" 


Mendengar Jasmine menyebut kata 'istri kamu' seakan-akan hati Alano keberatan. Jika waktu bisa diputar kembali, seharusnya gelar istri itu akan diberikan pada Jasmine. Tapi takdir ternyata tidak sepihak dengan keinginannya. Dan sekarang justru Freya, orang yang sama sekali tidak ia kenal yang malah mendapatkan gelar sebagai istri Shaquil Alano. 


"Al, kamu ngakpapa kan?" seru Jasmine. 

__ADS_1


Lamunan Alano segera buyar ketika Jasmine memanggilnya. 


"Aku nggakpapa. Freya udah baik-baik aja kok, dia sempet syok tapi sekarang udah.. Udah nggak papa," jawab Alano sedikit terbata.


"Kamu yakin? Maksudku gini lo Al, wanita sama laki-laki itu punya tingkat ketakutan yang berbeda. Sebagai sesama wanita aku bisa merasakan apa yang Freya alami dan menurutku nggak mudah buat lupain kejadian itu begitu aja. Jujur aku khawatir sama dia."


"Kamu khawatir sama istri aku?" tanya Alano seakan meragukan ucapan Jasmine.


"Al kamu kan sahabat aku, tentu aku khawatir sama sesuatu yang menimpa kamu termasuk istri kamu. Ngomong-ngomong kamu nggak mau kenali aku sama istri kamu, siapa tahu aku juga bisa sahabatan sama dia. Jujur aku disini nggak punya temen Al, sepuluh tahun di Jerman bikin aku kehilangan kontak semua temen-temen aku dulu. Cuma kamu satu-satunya orang yang nggak lupa sama aku, jadi boleh ya aku jadi temen istri kamu?" 


"Al, kok bengong lagi sih," lanjut Jasmine karena lagi-lagi Alano mengabaikan ucapannya. 


"Hah..?" 


"Tu kan kamu nggak nyimak." 


"Aku denger kok, soal itu.. boleh-boleh aja selama Freya juga nggak keberatan dan sepertinya dia type orang yang terbuka." 


"Yes, gimana kalau aku ajak dia jalan-jalan, dia pasti butuh sesuatu untuk menghibur suasana hatinya. Boleh ya?" 


"Untuk itu.. Sepertinya jangan dulu. Aku sengaja nglarang Freya buat keluar untuk mengantisipasi hal seperti itu nggak terulang lagi."


"Bener juga sih, tapi pasti dia bosen di rumah, apalagi suaminya juga malah lebih milih pekerjaan daripada nemenin istrinya di rumah. Kamu suami yang kejam Al," sindir Jasmine secara terang-terangan. 


"Kalau gitu biar aku aja yang ke rumah kamu buat nemenin dia. Kamu kirim alamatnya ya, sekarang!" tegas Jasmine sambil menekan kata 'sekarang'


Jasmine sudah melangkah keluar dengan terburu-buru, seakan-akan dia sudah tidak sabar ingin bertemu dengan Freya. 


"Tapi…"


"Sekarang Alano," tegas Jasmine dengan tatapan memaksa.  


...BERSAMBUNG......


Gimana reaksi keduanya saat mereka bertemu nanti, penasaran nggak?


Ikuti terus cerita ini dan jangan lupa untuk kasih like, komen dan masukkan ke daftar novel favorit kalian, oke?

__ADS_1


Salam manis dari Haraa Boo😍😘


__ADS_2