My Husband My Enemy

My Husband My Enemy
Di antara dua pria


__ADS_3

Sebuah ballroom di salah satu hotel sudah disulap bak istana dengan dekorasi yang didominasi warna putih. Bunga-bunga cantik nan elegan hampir memenuhi dinding ruangan itu. Semuanya tampak sempurna, namun ada hati yang sebenarnya terluka dengan pemandangan itu. 


Ya, dia adalah Freya. Tepat di hari ini pesta pernikahan papanya akan digelar. Seluruh persiapan sudah selesai digarap hanya tinggal menunggu tamu undangan untuk hadir. 


Disaat yang lain sibuk mempersiapkan diri, Freya justru melamun sambil memandangi pelaminan. Ia tidak bisa membayangkan jika papanya akan berdiri disana dengan wanita lain.


Namun keputusan sudah Freya ambil, ia tidak mungkin bisa menarik kembali kata-katanya. 


Saat Freya hendak pergi dari tempat itu, di belakangnya justru muncul Alano. Pria itu sudah menggenggam tangan Freya seolah tahu jika Freya akan pergi. 


"Sebentar lagi acara akan dimulai, kamu nggak boleh pergi kemana-mana," ucap Alano. 


"Nggak Al, aku nggak bisa diam disini." 


"Terus kamu mau kemana, kabur?" 


"Ada aku atau pun nggak, itu sama aja. Setidaknya gue masih ada di pihak mama."


Freya mengibaskan tangan Alano sehingga tangannya kini bebas dan ia siap melangkah kemanapun kakinya akan membawanya. 


Perdebatan singkat itu ternyata dilihat oleh Naufal. Ia baru saja tiba dan hendak masuk, namun tanpa sengaja sorot matanya menangkap sosok Freya yang sedang bersitegang dengan Alano. 


Semua orang tentu memahami posisi Freya, begitu juga dengan Naufal. Pria itu memutuskan untuk mengejar Freya. 


Freya berhenti di balkon tak jauh dari ruangan tempat pernikahan akan digelar. Gadis itu menatap lurus ke depan dengan tatapan kosong, bahkan Freya sampai tidak menyadari kehadiran Naufal. 


"Ehem.. Kenapa kamu malah disini, bukannya sebentar lagi akan dimulai?" tanya Naufal yang langsung membuyarkan lamunan Freya. 


"Aku hanya ingin menghirup udara segar, kamu sendiri ngapain disini, bukannya ruangannya ada di sebelah sana." 


"Sebelum masuk aku melihat seorang wanita cantik berjalan ke arah sini, aku pikir ada pengantin wanita yang mencoba untuk kabur," ucapnya dengan kekehan kecil bermaksud untuk menggoda Freya. 


"Lalu kenapa kamu mengikutinya, apa kamu ingin membawanya kembali." 


"Tentu saja tidak, aku justru akan membawanya lari bersamaku. Bagaimana, apa kamu mau lari bersamaku?" 


Freya fokus menatap manik hitam Naufal, namun tak lama ia terkekeh lalu diikuti oleh Naufal. 

__ADS_1


"Begitu lebih cantik." 


Maksud kata-kata Naufal adalah ketika Freya tersenyum, maka dia terlihat semakin cantik. 


Mendapat pujian dari Naufal, Freya mulai salah tingkah. Sudut bibirnya sudah melengkung naik dengan sedikit rona merah di pipinya. 


"Sejak usia 17 tahun, aku sudah mulai hidup sendiri. Aku tinggal di sebuah kos yang sempit, aku membiayai sekolahku sendiri hingga sekarang jadi seperti ini. Hidup itu tidak ada yang mudah Freya, siapapun pernah melalui masa sulit. Tidak punya orang tua bukan berarti kita menjadi lemah, hidupmu itu milikmu. Selagi kamu punya kedua kaki untuk berjalan buktikan jika kamu mampu meraih apapun meski tidak ada orang yang mendukungmu. Semua harus kita mulai dari diri kita sendiri Freya."


Hati Freya mulai tersentuh dengan kata-kata Naufal. Ia mulai penasaran tentang siapa sosok Naufal. Dia terlihat jauh lebih dewasa dari penampilan luarnya. 


"Jadi kalau kamu ada di posisi aku, apa yang akan kamu lakukan?" tanya Freya to the point. 


"Terima saja. Dengan kamu membiarkan orang lain bahagia maka kamu juga akan bahagia. Sesederhana itu Freya," jawab Naufal sebelum berlalu meninggalkan Freya. 


Baru saja membalikkan badannya. Naufal menoleh ke belakang, ia tersenyum memandang Freya yang sedang termenung memikirkan kata-katanya. 


"Setidaknya kamu masih punya seorang ayah yang menyayangimu," ucapnya untuk terakhir kali sebelum benar-benar pergi. 


"Tunggu! Naufal..Naufal.." Freya celingukan mencari keberadaan Naufal, baru saja ditinggal menunduh sebentar, pria itu sudah menghilang dari pandangannya. Padahal masih ada sesuatu yang ingin Freya tanyakan, karena Freya yakin jika Naufal punya jawabannya. 


Freya menyusul Naufal ke ballroom, namun ia tidak bisa menemukan keberadaan pria itu karena ruangan itu sudah dipenuhi oleh tamu undangan. 


"Dari mana aja lo, dicariin nyokap." 


Freya tidak menjawab, ia langsung mengikuti kemana Prisa pergi. 


Sesampainya di hadapan sang papa, Freya tak kuasa menahan tangisnya. Ia langsung merangkul papanya dan menumpahkan air matanya di bahu sang papa. 


"Terimakasih sayang sudah mengijinkan papa untuk kembali membina rumah tangga. Papa janji, papa akan selalu menyayangi kamu. Dan asal kamu tahu sampai kapan pun, almarhum mama akan selalu ada di hati papa. Kalian berdua adalah permata hati papa," ucap Hartono dengan suara lirih. 


Freya tidak mengatakan apa-apa. Seperti yang Naufal bilang, ia akan belajar menerima apapun keputusan sang papa. 


Acara berlangsung dengan lancar. Ijab qobul itu sudah dilakukan dengan hikmat dan penuh haru. Melihat wajah papanya berseri, Freya ikut tersenyum meski hatinya belum sepenuhnya ridho. Tapi setidaknya ia menunjukkan jika ia ikut senang atas kebahagiaan papanya. 


Sambil membawa dua gelas minuman, Alano menghampiri Freya yang sedang melamun memandang papanya. 


"Kamu habis darimana sih, kok dateng-dateng jadi berubah. Ini kaya bukan Freya yang aku kenal," ucap Alano sambil menyodorkan minumannya. 

__ADS_1


Freya mengambil minuman dari tangan Alano sambil meliriknya. "Emang seberapa jauh kamu mengenal aku?" 


"Lumayan, setidaknya kamu pernah nangis disini karena keputusan papa." Alano menunjuk bahunya untuk mengingatkan Freya akan kejadian beberapa hari lalu. 


"Sial," umpat Freya sambil mendorong minumannya di dada Alano hingga nyaris membasahi baju suaminya. 


Alano menyunggingkan senyumnya sambil memanggil Freya yang sudah berlalu meninggalkannya. 


Tak perduli dengan apa yang sudah membuat Freya berubah, menurut Alano Freya sudah mengambil keputusan yang tepat. 


"Dia itu kenapa sih, hobinya ngeledekin mulu, nggak tau apa kalau istrinya lagi bete gini," gerutu Freya sambil berjalan entah kemana. Ia hanya ingin menghindar dari Alano. 


"Freya?" 


Suara itu…


Freya menoleh karena ia merasa mengenali suara itu. 


'Naufal? Itu orang kenapa sih selalu tiba-tiba aja muncul.' 


Naufal menghampiri Freya yang masih diam di tempat tanpa tahu harus berbuat apa. 


"Aku tau kalau kamu bisa. Oh iya ngomong-ngomong suami kamu dimana?" 


"Suami, Alano maksud kamu?" seru Freya keceplosan. 


"Iya, emang siapa lagi," kata Naufal sambil tersenyum bingung karena kata-kata Freya terdengar aneh. 


"Dia lagi nemui temennya." 


"Katanya kalian baru aja menikah ya, selamat." Naufal tiba-tiba saja mengulurkan tangannya membuat Freya kebingungan. 


"Memang udah terlambat untuk memberi ucapan selamat, tapi setidaknya aku turut berbahagia untuk kalian," lanjut Naufal sambil melirik tangannya agar Freya mau menerima ucapannya dengan menjabat tangannya. 


...BERSAMBUNG......


Author butuh semangat dari kalian nih, mana ya suaranya😋😍 ditunggu like dan komen kalian ya...

__ADS_1


Buat yang udah dukung aku sampai sejauh ini, makasih banyak, aku harap kalian nggak bakal bosen dan tetep setia sama cerita ini😚🤗


Salam rindu dari Haraa Boo😘😘


__ADS_2