My Husband My Enemy

My Husband My Enemy
Pria asing


__ADS_3

Al tiba di rumah dengan wajah masam. Bagaimana tidak, rasa lelahnya kini bertambah dua kali lipat setelah dirinya dipusingkan dengan keberadaan Freya.


"Bibi.. bibi," teriak Al memanggil Bi Irma.


Bi Irma berlari menghampiri Al. Jika Al sudah berteriak seperti itu, itu artinya Al benar-benar sedang marah dan Bi Irma tidak boleh membuat kesalahan atau ia akan menerima omelan dari majikannya itu.


"Iya Tuan," jawab Bi Irma usai dirinya tiba di hadapan Al.


"Freya mana, apa dia udah pulang?" tanya Al sambil menggulung lengan bajunya.


"Emmm... Non Freya sudah tidur Tuan."


"Tidur?" Jawaban Bi Irma tentu saja mengejutkan Al. "Dia pulang jam berapa, sama siapa?" cerca Al.


"Maaf Tuan, bibi juga tidak melihat Non Freya pulang. Tiba-tiba saja pas bibi lewat kamar Tuan dan Non Freya, Bibi udah liat Non Freya tidur di kamar."


"Kok bisa Bibi nggak liat," sindir Al sambil berlalu menuju lantai dua rumahnya.


Al terpaku ketika ia berdiri di ambang pintu kamarnya. Kini ia melihat sendiri jika Freya sudah tertidur dengan selimut tebal yang membungkus tubuhnya.


"Freya.. Sayang, kamu udah tidur?" Al mendekat ke arah Freya, ia duduk di tepi ranjang lalu menyelipkan beberapa anak rambut yang menutupi wajah istrinya.


Freya tidak menjawab, bahkan ia tidak membuka matanya sedikitpun.


Jika sudah begini, maka Al tidak punya pilihan selain membiarkan Freya tertidur lelap. Mengenai pertanyaan yang masih memenuhi isi kepalanya, Al akan menundanya sampai besuk pagi, meskipun sejujurnya ia sangat penasaran.


***


Dentuman musik disk jockey menyambut kedatangan Prisa saat tiba di MC bar. Udara pengap yang bercampur dengan asap rokok dan suara beberapa orang yang saling bersahutan di lantai dansa terdengar memekakkan telinga.


Prisa berjalan mendekati bar lalu menarik salah satu bar stool yang ada di hadapannya. Suasana hatinya yang sedang kacau membuat Prisa datang ke tempat ini sebagai pelarian sambil ditemani sebotol whiskey.


"Hai ladies, boleh gue duduk disini?" sapa seorang pria bertubuh tambun yang tiba-tiba duduk di samping di Prisa sebelum gadis itu memberi jawaban.


Prisa hanya menoleh sekilas lalu kembali menghadap ke depan. Ia mengacuhkan pria itu.


"Mau gue temenin?" tanya pria itu.

__ADS_1


"No, thanks," jawab Prisa ketus.


Merasa diabaikan oleh Prisa, pria itu lantas pergi meninggalkan Prisa. Sementara Prisa hanya tersenyum sinis saat melihat kursi di sampingnya sudah kosong.


Setelah meneguk minumannya Prisa memutar kursinya untuk menghadap ke lantai dansa, ia berusaha menikmati alunan musik yang dimainkan oleh disk jockey untuk menghibur suasana hatinya.


Setelah perdebatan itu, Prisa belum memutuskan untuk kembali ke rumah. Ia juga mengabaikan telepon mamanya meski sudah tidak terhitung berapa banyak panggilan dan juga chat yang sudah Prisa acuhkan.


Bagaimana bisa seorang ibu berpikir jika uang bisa membeli kebahagiaan putrinya. Yang Prisa butuhkan sekarang adalah kasih sayang. Kasih sayang tulus dari seorang ayah yang sudah ia nantikan selama 22 tahun ini. Tapi jawaban Citra-mamanya sama sekali tidak memuaskan Prisa, bahkan bisa dibilang jika Citra tidak bisa memahami apa yang ia inginkan. Wanita itu seakan hanya terobsesi oleh harta hingga mengabaikan perasaan putrinya.


Sungguh miris, betapa bahagianya Prisa jika ia juga memiliki seorang ayah yang mencintainya. Sama seperti Hartono menyayangi Freya. Sesungguhnya Prisa hanya iri pada kasih sayang berlimpah yang Freya terima. Bahkan mamanya sendiri berpura-pura menyayangi Freya di depan matanya.


Entah sudah berapa gelas whiskey yang Prisa habiskan. Dengan langkah sempoyongan Prisa berusaha untuk turun ke lantai dansa. Sesampainya disana ia menggerakkan tubuhnya bersama dengan orang yang tidak ia kenal.


Tidak perduli dengan kesadarannya yang sebentar lagi akan menghilang, Prisa hanya ingin menari sepuasnya hingga ia benar-benar lelah.


Saat Prisa tenggelam dalam lantunan musik disk jockey, tiba-tiba ada sebuah tangan yang melingkar di pinggangnya.


Prisa sempat terkesiap, ia kemudian membalikan badan dan melihat pria asing tengah tersenyum kepadanya.


"Tadinya, sekarang udah ada kamu," jawab Prisa seakan membuka peluang pada pria itu untuk mendekatinya.


"Gue nanya serius, jadi lo nggak keberatan kan kalau gue nemenin lo?" tanya pria itu lagi sambil mendekatkan wajahnya pada Prisa.


"Serius, gue sendiri."


"Emang nggak ada yang marah kalau cewek secantik kamu ke bar sendirian. Kalau aku jadi cowok kamu, aku nggak bakal ngebiarin kamu pergi ke tempat seperti ini."


"Kamu sendiri ngapain kesini sendiri. Lagi nyari mangsa?" tanya Prisa sambil tertawa lebar.


"Bisa aja, gue tadinya nganterin temen dan waktu gue mau pergi gue nggak sengaja liat lo. Nggak tau kenapa tiba-tiba gue samperin lo dan nekad ngajakin ngobrol."


"Basi," jawab Prisa dengan entengnya.


"Basi gimana, gue nggak bohong." Pria itu menatap Prisa lekad-lekad. "Ngomong-ngomong lo kok kaya nggak asing ya."


"Itu berarti muka gue pasaran," celetuk Prisa sambil terus menggerakkan tubuhnya.

__ADS_1


"Tapi beneran deh, muka lo kaya nggak asing. Pernah liat tapi dimana lupa." Tiba-tiba saja pria itu mengulurkan tangannya pada Prisa. "Gue Stev, lo siapa?"


"Prisa."


"Lengkapnya?" tanya pria itu seakan ia mulai teringat akan sosok Prisa dan ingin memastikan jika ingatannya memang tidak salah.


"Prisa Maharani."


"Tepat. Lo artis kan. Gue sering liat wajah lo muncul di iklan. Beruntung banget gue bisa liat lo secara langsung."


Prisa hanya terkekeh sambil memalingkan wajahnya. Prisa sudah sering menjumpai pria seperti Stev yang awalnya mengaku tidak kenal lalu tiba-tiba teringat akan siapa dirinya. Modus seperti itu bukan hal baru lagi bagi seorang Pria Maharani.


Prisa tiba-tiba meninggalkan lantai dansa tanpa berkata apa-apa pada Stev. Dan itu membuat Stev semakin tertarik pada Prisa.


Melihat Prisa berjalan sempoyongan membuat Stev tidak tega untuk membiarkannya pergi. Apalagi Prisa datang seorang diri, akan berbahaya jika nanti Prisa bertemu dengan pria hidung belang.


Stev membuntuti Prisa, ia hanya ingin memastikan Prisa masuk ke mobilnya dengan selamat. Jika diijinkan ia akan dengan senang hati mengantarkan Prisa pulang.


Belum juga keluar dari tempat itu, tiba-tiba ada seorang pria yang memiliki gelagat mencurigakan. Pria itu terus mendekati Prisa dan mencoba untuk merayunya, namun karena Prisa menolak pria itu mulai bertindak kasar dengan menarik tangan Prisa dengan paksa.


Melihat kejadian itu membuat Stev bergegas untuk menghampiri Prisa. Stev langsung melayangkan satu kakinya di perut pria itu.


"Kurang ajar. Siapa lo, berani-beraninya cari gara-gara sama gue," maki pria itu yang sudah tersungkur di lantai sambil memegangi perutnya.


"Kenapa, lo duluan yang cari gara-gara. Beraninya lo gangguin cewek gue. Lo mau cari mati."


"Jadi dia cewek lo?" pria itu terkejut mendengar pengakuan Stev.


"Pergi sebelum gue patahin semua tulang-tulang lo," teriak Stev dengan tatapan melotot.


Pria itu segera bangkit dan berlari meninggalkan mereka. Ancaman Stev cukup ampuh untuk menakuti pria itu meski sejujurnya semua yang ia katakan hanyalah kebohongan semata.


"Hei, lo nggak papa kan?" tanya Stev pada Prisa.


BERSAMBUNG...


Selama membaca dan semoga terhibur dengan tulisan receh ini☺

__ADS_1


__ADS_2