
Freya hanya bisa berdiam diri di kamar sambil berjalan mondar-mandir. Beberapa baju sudah ia keluarkan dari almari, namun belum ada satu pun yang ia masukkan ke dalam koper. Setiap kali Freya menatap koper yang ia letakkan di atas ranjang, ia hanya bisa menghela napas tanpa tau harus berbuat apa.
Ia takut jika ini hanyalah keisengan Alano, namun mengingat kejadian kemarin dan juga ketulusan Alano saat membuatkannya sarapan, Freya kembali bimbang.
"Kamu lagi apa Frey, bukannya aku nyuruh kamu buat siap-siap?" ucap Alano yang tiba-tiba sudah berdiri di pintu kamarnya.
Tentu saja Freya terkejut dengan kedatangan Al, apalagi pria itu sampai berani melangkah masuk ke kamarnya.
"Ja-di kita beneran mau pergi, ke Maldives?" tanya Freya yang masih ragu meski Alano sudah mengatakannya beberapa kali.
"Kamu cukup bawa barang seperlunya, sisanya kita bisa beli disana dan sepertinya kita juga nggak butuh koper," ucap Al sambil melirik beberapa baju Freya yang sudah berserakan di ranjang.
"Kenapa, lalu gimana dengan baju ganti kita?"
Alano mendekat lalu menundukkan wajahnya agar ia bisa menatap Freya secara intens. "Freya, baju disana banyak, kita nggak perlu pusing soal baju. Apalagi yang kamu butuhkan, make-up, aksesoris, sepatu, disana semua tersedia. Kamu bisa beli apapun yang kamu mau."
"Terus kapan kita berangkat?" tanya Freya tanpa berani mengedipkan matanya saat wajahnya dan wajah Al hanya berjarak sekitar satu jengkal tangan.
Alano tersenyum manis hingga membuat jantung Freya berdetak lebih kencang. Bahkan gadis itu sampai harus menelan salivanya dengan susah payah karena tak tahan melihat senyuman Alano.
"Sekarang," ucap Alano pelan dan tiba-tiba ia sudah menarik tangan Freya.
"Aku belum ganti baju Al."
Freya masih mengenakan kaos oblong dengan celana hotpant, ia sama sekali belum mempersiapkan apapun. Tapi Alano sepertinya tidak perduli dengan hal itu.
Setibanya di halaman depan, Al langsung membukakan pintu untuk Freya sambil masih menggenggam tangan gadis itu. Setelah Freya masuk, kini giliran Al yang masuk ke kursi kemudi.
"Al, tapi…" protes Freya, namun ucapannya segera terhenti karena Al sudah meliriknya melalui kaca yang terpasang di atasnya sambil mengedipkan satu matanya.
Sepanjang perjalanan Freya hanya terdiam, ia tidak tahu apa yang direncanakan Al tapi sungguh, perasaannya semakin gelisah.
Al tiba-tiba menghentikan mobilnya di sebuah butik di tepi jalan. Lalu ia membawa Freya untuk masuk ke butik itu.
Kali ini Freya tidak ingin memprotes, ia diam saja meskipun hatinya sudah bertanya-tanya.
"Bisa carikan baju yang cocok untuk istri saya. Sekalian beri sedikit riasan agar penampilannya semakin fresh," ucap Al saat kedatangannya disambut hangat oleh dua orang pelayan butik.
"Baik pak, kami tidak akan mengecewakan bapak," ucap salah satu pelayan.
Freya menatap Al dengan linglung. Sebelum ia sempat berbicara, pelayan itu sudah lebih dulu membawanya masuk.
__ADS_1
Semakin masuk ke dalam, Freya dibuat terpukau dengan beberapa gaun yang terpajang di patung dan juga yang tergantung di etalase. Semuanya terlihat mewah, Freya sampai tidak bisa memilih karena semuanya bagus.
Freya mendekat ke salah satu gaun yang bisa ia jangkau. Tetapi saat Freya melihat label harga yang tertera di baju itu, ia langsung syok.
"Apa ini nggak salah, satu gaun harganya 23 juta," gumam Freya pelan.
"Boleh saya bantu untuk memilih?" ucap pelayan butik itu seakan sadar dengan raut bingung Freya.
"Tunggu sebentar ya mbak."
Freya berlari keluar, ia tidak bisa membeli baju yang harganya hampir setara dengan harga satu buah motor.
"Gila, yang bener aja, masa satu baju harganya segitu, itu sih bisa buat beli baju satu toko," gerutunya sambil berjalan cepat untuk menghampiri Alano.
Freya sudah berdiri di depan Alano yang sedang asik membaca koran. Awalnya pria itu hanya melihat sandal yang dikenakan Freya sambil mengerutkan dahi. Ketika Alano menutup korannya, pria itu langsung menghela napas karena penampilan Freya belum berubah.
"Ayo, kita cari baju di toko lain," ujar Freya sambil menarik tangan Al, namun Al tidak ingin beranjak dari tempatnya.
"Kenapa, bukannya baju disini bagus-bagus?" tanya Al bingung.
Freya melirik ke sekelilingnya untuk memastikan tidak ada orang yang akan mendengar pembicaraannya. "Baju disini mahal-mahal, masa satu baju harganya 25 juta. Itu namanya buang-buang uang," bisiknya.
Freya langsung memukul lengan Al dengan keras. "Siapa yang ngajarin kamu kaya gitu. Daripada kamu gunain uang buat hal yang nggak penting lebih baik-"
Al tiba-tiba bangkit dan menyeret Freya untuk kembali ke dalam. Sambil berjalan, Al membisikkan sesuatu ke telinga Freya. "Nggak penting gimana, itu kan untuk istri aku sendiri."
Setelah memaksa Freya dan hampir menunggu kurang lebih satu jam, akhirnya penantian Al terbayar. Al mendengar suara hentakan sepatu dari arah dalam yang kemudian berhenti tepat di depannya.
Freya sendiri nampak bingung saat memindai penampilannya. Ia mengenakan kaos berwarna putih yang dibalut dengan outer berbahan rajut dengan warna ungu dan dipadu padankan dengan celana jeans panjang.
Ini bukan style yang Alano suka, lagipula di Maldives sedang memasuki musim panas, rasanya sangat aneh jika mengenakan pakaian tertutup seperti ini.
"Sempurna," komentar Al saat memandang Freya.
"Apa aku nggak salah costum?" balas Freya.
"Aku rasa pakaian seperti ini yang cocok untuk kamu. Tertutup jadi nggak bakal ada orang yang lirik-lirik kamu termasuk pria pengacara itu," ketus Al.
Freya mencebikkan bibirnya sambil tersenyum malu. Ia sekarang tahu kenapa Al memintanya untuk berpakaian seperti ini. Rupanya pria itu masih belum bisa melupakan Naufal.
Usai merubah penampilan Freya, Al kembali menggandeng tangan istrinya itu untuk melanjutkan perjalanan mereka.
__ADS_1
Mereka akhirnya tiba di bandara. Freya terlihat sangat bahagia, bahkan mereka terus bergandengan tangan hingga memasuki pesawat.
"Kalau kita udah sampai sana, apa yang mau kamu lakuin?" tanya Al ketika mereka sudah berada di dalam pesawat.
"Tentu saja berswafoto. Ini pertama kalinya aku ke Maldives, surganya bagi pasangan pengantin baru. Benarkan?" ucap Freya malu sambil menyandarkan kepalanya di bahu Al.
Al mengangguk setuju. "Iya, apa kamu suka?"
"Tentu. Siapa yang tidak menyukai tempat se-romantis itu."
Tidak ada lagi kepura-puraan atau ego untuk saling menjauhkan diri. Kini mereka sudah mulai saling terbuka satu sama lain. Bahkan mereka tak malu untuk menunjukkan keromantisannya di depan umum.
"Al.. Apa aku boleh menanyakan sesuatu?"
"Tentu, katakan saja apa yang mau kamu tanyakan?"
"Sejak kapan kamu mulai menyukaiku?"
"Sejak kamu menangis di pelukanku saat ada seseorang yang menerormu di toilet hotel. Apa kamu mengingatnya."
Diingatkan tentang kejadian itu, Freya memberengutkan wajahnya. Benar, itu adalah kejadian yang tidak akan pernah ia lupakan.
"Tentu, aku benar-benar ketakutan pada saat itu, dan beruntung kamu segera menemukan ku. Tunggu.. Apa ini yang dinamakan takdir, apa kamu percaya takdir?"
"Takdir.." Al nampak sedang berpikir. "Aku hanya percaya dengan yang namanya kerja keras dan usaha. Bagiku takdir dan keberuntungan tidak ada bedanya," lanjutnya.
"Jadi kamu nggak percaya, kalau begitu aku akan membuat kamu percaya."
"Caranya?"
"Liat saja nanti."
...BERSAMBUNG......
Hai author kembali😍😍
Maaf ya kalau author nggak up selama dua hari.
Ayo tetep dukung author dengan cara like, komen dan vote..
Author butuh banget dukungan dari kalian biar makin semangat, oke😘😘
__ADS_1