
"Pak saya ingin memberitahu jika sebenarnya Nyonya Citra sedang mencari keberadaan Non Prisa. Beberapa hari lalu Non Prisa meninggalkan rumah dan tidak bisa di hubungi sampai sekarang."
"Apa, Prisa nggak pulang ke rumah?" Hartono yang mendengar kabar itu dari Andre-asistennya tampak terkejut. "Kenapa Citra nggak ngomong sama aku dan malah menyembunyikannya?" gumamnya kemudian.
Selama ini Hartono memang jarang melihat Prisa ada di rumah. Tapi ia selalu memaklumi jika pekerjaan Prisa sebagai artis dan model memang menuntut lebih banyak waktu. Sebenarnya sudah sejak awal Hartono merasa ada yang berbeda dari Prisa, namun Citra selalu menutupinya setiap kali ia menanyakan tentang Prisa.
"Kalau gitu, kamu juga harus mencari Prisa. Aku rasa mereka sepertinya menyembunyikan sesuatu dariku. Lagipula ini aneh, Prisa tidak mungkin pergi tanpa alasan yang jelas."
"Baik pak."
Hartono yang kebetulan sedang berjalan di area parkir sebuah restoran usai menemui klien-nya tiba-tiba menabrak seorang wanita saat dirinya sedang fokus menatap layar ponselnya.
Benturan itu membuat ponsel yang ada di genggaman Hartono terlepas dan melayang ke udara.
"Aduh-aduh.. maaf pak saya nggak sengaja," ujar seorang wanita yang langsung panik dan segera mengambil ponsel Hartono yang jatuh.
Beruntung ponsel itu tidak lecet sedikit pun, namun wanita itu seketika tercengang saat tak sengaja melihat wallpaper layar di ponsel Hartono.
"Bukankah ini Freya," gumam wanita itu pelan. 'Apa pria ini ayahnya Freya,' batin wanita itu.
"Ini pak ponselnya," ujar wanita itu sambil menyerahkan ponsel Hartono. "Maaf saya tadi buru-buru jadi saya nggak terlalu memperhatikan jalan. Sekali lagi saya minta maaf pak."
"It's oke, lagipula handphone saya juga nggak kenapa-napa," jawab Hartono santai. "Kalau gitu saya permisi dulu." Hartono bergegas meninggalkan wanita itu, tapi tak lama kemudian wanita itu memanggil Hartono. "Tunggu," teriaknya.
Hartono menoleh, "Kamu bicara sama saya?" ujar Hartono bingung.
"Iya Pak, maaf karena saya lancang memanggil anda tapi apa bapak ini papanya Freya?" tanya wanita itu untuk mengubur rasa penasarannya.
Hartono berbalik sepenuhnya. "Kamu kenal putri saya?"
"Kebetulan saya ini sahabatnya Al dan saya juga cukup dekat dengan Freya. Apa bapak ada waktu, kebetulan saya ingin menanyakan sesuatu ke bapak mengenai Freya."
"Mengenai Freya?" Hartono nampak bimbang dengan ajakan wanita itu, namun setelah menimbang-bimbang akhirnya ia mengiyakan ajakannya.
"Mari pak, kita duduk di sebelah sana," ajak wanita itu.
__ADS_1
****
"Bik mana jus yang aku minta, kenapa lama banget sih buatnya," ketus Prisa sambil berjalan menghampiri Bi Irma yang berada di dapur.
"Loh ngapain bibi bikin teh, aku mintanya kan jus. Bibi ini gimana sih, niat kerja nggak?!"
Bi Irma hanya melirik sinis lalu mengangkat cangkirnya dan pergi begitu saja. Bahkan ia dengan sengaja mendorong bahu kiri Prisa saat melewatinya.
"Beraninya merintah saya seenaknya, memang situ yang gaji saya," gerutu Bi Irma.
Mendengar gerutu-an Bi Irma, Prisa segera menghampirinya. Sambil melipat kedua tangannya di dada, Prisa langsung menghadang langkah Bi Irma dengan tatapan sinis.
"Oh jadi mentang-mentang saya ini tamu disini dan bukan majikannya bibi, bibi nggak mau nglayani saya. Bibi emang nggak pernah denger ya kalau seorang tamu harus dilayani dengan baik, tamu itu raja."
"Kok saya baru tau ya kalau Non Prisa ini tamu disini. Setau saya Non itu cuma numpang," sungut Bi Irma tanpa rasa takut sedikit pun.
Kata-kata Bi Irma seketika menyulut api amarah seorang Prisa. Prisa sudah melotot tajam sambil menggertakan giginya.
Namun Bi Irma sepertinya tidak memiliki rasa takut sama sekali. Saat Bi Irma kembali berjalan, Prisa dengan sengaja memasang kakinya untuk menjegal langkah Bi Irma.
Pyar...
"Aduh.. panas!"
Prisa tersenyum bangga. "Kenapa Bik, panas ya?" ledek Prisa sambil berlalu meninggalkan Bi Irma.
"Dasar Iblis! Beraninya kamu ngerjain orang tua," teriak Bi Irma sambil meringis kesakitan.
Suara pecahan cangkir itu rupanya di dengar oleh Pak Karto. Pak Karto segera bergegas untuk melihatnya. Dan sesampainya di dapur, ia melihat pecahan cangkir itu masih berserakan dan Bi Irma sedang sibuk mengobati tangannya.
"Ini ada apa to, kenapa cangkirnya bisa pecah?" tanya Pak Karto.
"Tanya Iblis sialann itu!" ketus Bi Irma yang masih kesal.
"Siapa Iblis? Kamu itu kebiasaan manggil orang suka nggak bener."
__ADS_1
"Nggak usah ceramahin aku, mending kamu keberesin itu pecahan cangkirnya!" Perintah Bi Irm dengan wajah masam dan nada ketus, lalu dengan percaya dirinya Bi Irma langsung pergi meninggalkan Pak Karto.
"Ealah, rugi aku dateng kesini. Udah diomeli nggak jelas, sekarang malah nyuruh aku bersihin beling. Irma Irma.. Pantesan kamu nggak laku-laku, orang galaknya setengah mati."
"Barusan kamu ngomong apa, kamu pikir aku nggak denger!" sungut Bi Irma yang tiba-tiba muncul di hadapan Pak Karto.
"Irma..," Pak Karto cengingisan. "Alah kamu paling denger."
"Salah denger gimana, jelas-jelas tadi kamu ngomong kalau aku ini nggak laku-laku. Heh Karto, kamu dengerin saya baik-baik, saya itu bukannya nggak laku, tapi saya tipe orang yang pemilih. Sorry sorry aja, orang kaya kamu sama sekali nggak ada di daftar saya."
Pak Karto hanya diam, tapi begitu Bi Irma menghilang dari pandangannya, ia langsung tertawa. Dengan lancarnya Karto menirukan ucapan Bi Irma dengan suara yang sengaja dibuat mirip. Kemudian ia terkekeh karena tidak tahan dengan ucapan itu.
"Tipe pemilih, hahaha... Pretttt! Saya aja juga ogah jadi suami kamu," tegasnya sambil geleng-geleng kepala.
Prisa masuk ke dalam kamarnya. Jujur ia mulai bosan berada di rumah itu, namun ia juga berat untuk meninggalkannya.
"Nggak asing banget tinggal di rumah. Aku pikir rumah ini bakal ramai setelah aku dateng, tapi nyatanya nggak," keluh Prisa sambil menjatuhkan tubuhnya di ranjang.
Iseng, Prisa membuka ponselnya. Lagi-lagi notifikasinya di penuhi oleh pesan dari mamanya.
Prisa mulai berpikir, apa ia terlalu kejam pada mamanya, terlebih selama ini mereka hanya memiliki satu sama lain. Namun Prisa juga ingin mamanya mendengar permintaannya. Ia berpikir jika ia sudah dewasa dan ia berhak tahu siapa ayahnya. Seperti yang mamanya pernah bilang dulu.
****
Flashback 15 tahun yang lalu.
"Ma, kata mama.. papa itu kerja jauh. Tapi sampai sekarang kok nggak pulang-pulang. Prisa mau seperti temen-temen ma, Prisa mau dianter sekolah sama papa, Prisa mau jalan-jalan ke kebun binatang sama papa. Prisa juga mau dibelain sama papa kalau ada temen Prisa yang jahatin Prisa. Kapan papa pulang ma," rengek bocah kecil berusia 8 tahun itu sambil menarik ujung kaos mamanya.
Citra berjongkok lalu mengusap lembut pipi gadis mungilnya. "Prisa, papamu belum bisa pulang sekarang. Nanti kalau Prisa udah besar Prisa pasti ketemu sama papa."
"Kalau gitu Prisa mau cepet besar biar bisa ketemu papa."
Citra memeluk Prisa sambil mengusap rambutnya. "Makanya Prisa makan yang banyak ya biar bisa cepet besar. Oh iya, gimana kalau jalan-jalan ke kebun binatangnya sama mama dulu. Prisa mau kan?"
"Mau ma," jawab bocah kecil itu dengan penuh semangat.
__ADS_1
BERSAMBUNG...
Hayoo, ada yang bisa nebak nggak Prisa itu anaknya siapa???