My Husband My Enemy

My Husband My Enemy
Kecerdasan Freya


__ADS_3

Freya diam-diam mengikuti Alano. Hati istri mana yang akan tenang saat suaminya tiba-tiba tertimpa masalah. Dan Freya bukan tipe orang yang akan diam saja. 


Sesampainya di kantor Alano langsung memasuki ruangan papanya. Karena sebagian ruangan itu dipenuhi dengan kaca, maka Freya bisa melihat mereka dengan jelas. 


Begitu Alano melangkahkan kaki menghadap Reno-papanya, Sang papa langsung melemparkan beberapa lembar dokumen ke muka Alano. 


"Apa-apaan ini, kamu ingin menghancurkan perusahaan papa, hah!" tuduh Reno dengan segenap kemarahannya. "Gimana ceritanya kita bisa kehilangan investor terbesar kita, ini bukan uang yang sedikit. Papa nggak mau tau kamu harus segera urus masalah ini, apapun yang terjadi kamu harus bisa mendapatkan uang itu kembali."


"Tapi pa.. Mereka sudah menanamkan sahamnya di perusahaan lain." 


"Lalu apa yang kamu lakukan selama ini sampai Pak Broto-investor yang sudah berpuluh-puluh tahun memberikan kepercayaannya kepada kita tiba-tiba berpaling begitu saja. Pasti kamu sudah membuat kesalahan besar." 


Toni yang berdiri beberapa langkah di belakang Alano tidak bisa lagi menahan diri untuk membela Alano. Ia sudah mengumpulkan informasi terkait masalah ini. Dan ia mengambil keputusan untuk menyela ucapan Reno di tengah-tengah perdebatan mereka. 


"Pak dari beberapa informasi yang saya kumpulkan, ternyata ada perusahaan pesaing yang berasal dari luar negeri. Mereka gencar menyiapkan strategi dan meluncurkan terobosan baru. Saya rasa-" 


"Siapa yang menyuruh kamu untuk berbicara," potong Reno yang membuat Toni segera menutup rapat mulutnya. 


"Jika kamu tidak bisa mengembalikan Pak Broto ke perusahaan kita maka kamu harus mengganti semua kerugian kita. Terserah kamu, kamu mau pinjam uang kek, mau jual rumah, jual mobil, yang papa mau dana itu segera kembali." 


"Jadi papa sepenuhnya mau menyalahkan Al atas masalah ini padahal jelas-jelas ada perusahaan lain yang mencuri investor kita. Ini nggak adil pa?" 


Brakkk!!!!


Reno menggebrak mejanya dan membuat semua orang yang ada di ruangannya berjingkat kaget. 


"Masa bodo dengan siapa yang salah, ini taruhannya masa depan perusahaan kita. Kamu mau perusahaan ini bangkrut hanya karena sikap sombongmu. Jika kamu memang tidak mau menjalankan bisnis ini maka segera tinggalkan kantor." 


"Sejak awal papa emang nggak berniat untuk menyerahkan perusahaan ini ke Al, iya kan?" 


"Tutup mulut kamu Al!" ujar Reno sambil menggertakan gigi-giginya, tangannya sudah mengepal erat dan bergetar seakan-akan ia berusaha keras untuk menahan amarahnya. 


Tiba-tiba saja Freya menerobos masuk di tengah-tengah ketegangan itu. Jika situasi itu terus dibiarkan maka kesalahpahaman antara Al dan Reno akan semakin berdampak buruk, apalagi keduanya sama-sama kolot. 


Semua orang tampak terkejut dengan kemunculan Freya. Tatapan mereka menghunus tajam pada Freya terutama Papa Reno, namun sebelum ayah mertuanya itu berbicara, Freya lebih dulu mengutarakan tujuannya.

__ADS_1


"Maaf Pa Freya nggak sengaja denger pembicaraan kalian," ujar Freya terbata. "Freya kesini karena Freya ingin menyampaikan pendapat Freya. Jika papa memberi Freya kesempatan untuk membantu, ijinkan Freya untuk mengatasi masalah ini. Freya akan berusaha untuk mengembalikan investor itu. Tolong papa kasih waktu Freya, satu minggu," dengan lantang nya Freya mengucapkan kata 'satu minggu'


Tentu mereka semua terbelalak gak percaya.


"Satu minggu?" gumam mereka. 


"Iyah, satu minggu. Jika dalam waktu satu minggu Freya tidak bisa mengembalikan investor itu maka Freya sendiri yang akan mengganti kerugian perusahaan ini." 


Al segera menarik tangan Freya. "Apa yang kamu lakukan Freya, cepet ralat ucapan kamu. Ini bukan masalah sepele, kamu tidak mungkin bisa mengatasinya." 


"Nggak Al, aku udah memikirkannya dengan matang." 


"Oke, papa akan kasih kamu kesempatan untuk mencoba," tukar Reno yang mulai bisa meredam amarahnya. 


"Kamu liat istri kamu Al. Beginilah jiwa seorang pemimpin, tegas dan cekatan dalam mengambil keputusan," lanjut Reno sebelum berjalan meninggalkan ruangannya. 


Freya segera menghela napas panjang usai Reno dan asisten pribadinya meninggalkan ruangan. 


Namun kelegaan Freya justru berbanding terbalik dengan Al, pria itu masih saja terpaku menatap Freya dengan tatapan penuh tanya. 


"Apa wajahku berkata begitu. Bagaimana mungkin aku meredam amarah papamu dengan bualan."


"Kamu nggak perlu libatin diri kamu dalam masalah perusahaan. Apalagi kamu nggak tau apa-apa tentang dunia bisnis. Freya sebaiknya kamu segera temui papa dan kamu bisa kalau-"


Freya membungkam mulut Alano dengan jari telunjuknya. "Al, aku ini istri kamu. Apa kamu pikir aku ini nggak bisa berbuat apa-apa. Gimana pun keadaannya suami istri itu harus bisa saling membantu. Istri macam apa yang akan diam saja saat suaminya sedang dalam kesulitan. Seenggaknya biarin aku terus berada di sampingmu, agar aku tau saat dimana kamu butuh tanganku untuk kamu genggam." 


Al menarik Freya kedalam pelukannya. Sedikit banyak beban di pundaknya sudah berkurang, ia jauh lebih tenang dari sebelumnya. Dan itu berkat dorongan dan motivasi dari Freya. 


Toni berdehem saat menyaksikan kedua bosnya berpelukan di hadapannya. "Kalau gitu saya keluar dulu ya bos." 


Al menoleh sekilas. "Kenapa harus ngomong, bilang aja kalau kamu iri karena nggak ada orang yang bisa kamu peluk," sindir Al. 


Toni hanya tersenyum menanggapi gurauan Al. 


"Al, nggak boleh gitu ah. Harusnya memang seperti itu, kamu aja yang asal meluk nggak liat tempat." Freya memalingkan wajahnya kesamping untuk menyembunyikan rona merah di pipinya. 

__ADS_1


***


Al dan Freya sedang dalam perjalanan menuju ke kantor Pak Broto, namun sesampainya disana sekretaris Pak Broto mengatakan jika Pak Broto sedang tidak berada di kantor. 


Freya mencoba menanyakan tentang keberadaan Pak Broto, tapi sekretaris itu terlihat bingung ketika ingin menjawab dan itu menimbulkan kecurigaan di benak Al dan juga Freya. 


"Emmm, untuk itu saya kurang tau." 


"Bagaimana mungkin sekretarisnya tidak mengetahui kemana perginya atasannya."


"Ah iya saya baru ingat jika minggu ini Pak Broto ada kunjungan kerja di Bali, setelah dari Bali beliau akan terbang ke Spanyol untuk menghadiri acara pernikahan keponakannya. Dan setelah itu… Beliau akan ke Harvard untuk mengunjungi putrinya yang kuliah di sana."


"Terus kapan beliau akan di Jakarta?" tanya Freya.


"Mungkin bisa lama, sekitar dua minggu atau mungkin lebih." 


"Jadi begitu, ngomong-ngomong siapa nama keponakan Pak Broto. Kamu tau kan saya ini putrinya Pak Hartono, papa saya kebetulan minggu ini juga akan ke Spanyol untuk menghadiri pernikahan anak dari sahabatnya. Bisa jadikan kalau keponakan Pak Broto itu anak dari sahabat papa saya?" 


Sebenarnya Freya hanya iseng menanyakan hal tidak penting seperti itu karena sejak awal ia tahu jika sekretaris itu sedang berbohong padanya. 


Benar saja, sekretaris itu langsung gelagapan. Dan Freya nampak menikmati wajah panik dibalik senyum palsu yang ditunjukkan sekretaris itu. 


'Kamu pikir aku bisa kamu bodohi,' batin Freya sambil menyunggingkan senyum smirk-nya.


BERSAMBUNG...


Haii.. haii..


Nungguin ya😋😊


Author mohon dukungan dari kalian ya.


Tinggalkan juga jejak kalian di kolom komentar sebanyak-banyaknya,


Boleh sharing atau tanya apapun, tentunya seputar Freya dan Alano ya😍😍

__ADS_1


Sayang banyak-banyak buat kalian yang masih stay disini😘😘❤


__ADS_2