
Karena sudah terpojok, Pak Broto yang kebetulan sedang bersembunyi di ruangannya mencoba untuk kabur. Namun karena tidak berhati-hati ia menabrak sebuah vas hingga akhirnya terjatuh dan menimbulkan suara yang cukup nyaring.
Freya dan Alano segera berjalan menuju ruangan Pak Broto. Dan benar saja, ketika pintu dibuka Pak Broto sudah gelagapan dan mematung kaku di tempatnya berdiri.
"Bukankah bapak seharusnya ada di Bali?" tanya Freya.
"Emmm.. dibatalkan. Saya baru saja mau pergi tapi tiba-tiba dibatalkan begitu saja," kilah Pak Broto.
Freya mengangguk. "Oh kalau begitu boleh kami duduk?"
"Silahkan silahkan," jawab Pak Broto gugup.
"Langsung saja, bapak pasti tau tujuan kami kesini untuk apa? Bukankah seharusnya bapak membicarakan dulu kepada Pak Al selaku direktur, lagipula tidak ada motif yang jelas tentang alasan bapak melakukan ini," tanya Freya setelah mereka sudah terduduk di sofa.
"Sebenarnya tidak ada masalah serius, kalian paham kan jika usia saya sudah semakin tua. Saya rencananya memang ingin menarik semua saham saya di perusahaan manapun dan menyerahkan semua warisan kepada putra saya," kelak Pak Broto dengan senyum palsunya.
"Lalu bisakah bapak menjelaskan tentang ini?" Freya menyodorkan selembar kertas pada Pak Broto yang isinya menyatakan tentang kontrak kerjasama baru antara Perusahaan Pak Broto dengan perusahaan pesaing lain.
Jelas Pak Broto terkejut melihatnya. Ia tidak menyangka jika Perusahaan Al akan bertindak secepat ini.
"Ini... ini.. ada kesalahpahaman."
Freya tersenyum licik.
"Jadi kalian kesini ingin mengancam saya dengan informasi ini." Pak Broto tersenyum mengejek. "Kalian pikir kalian siapa. Seno... cepat panggil satpam kemari!" teriak Pak Broto memanggil ajudannya.
Freya bangkit berdiri dengan tatapan penuh amarah. "Bapak harus jelasin masalah ini dulu."
"Semua sudah jelas, saya sudah tidak tertarik dengan perusahaan kamu. Jika ada perusahaan lain yang lebih menguntungkan kenapa saya harus bertahan," ucap Pak Broto santai.
Freya sudah mengepalkan tangannya dan hampir menyerang Pak Broto, namun Al dengan sigap menahan tubuh Freya.
"Freya, sudah cukup!" Alano mengecam keras sikap Freya.
"Jangan sampai anda menyesali keputusan yang sudah anda ambil," ucap Al sebelum meninggalkan ruangan Broto.
Satpam sudah berdatangan, namun begitu melihat Freya dan Alano sudah bergerak keluar, Broto memberi isyarat pada satpamnya untuk membiarkan mereka keluar dengan sendirinya.
__ADS_1
"Hampir saja aku dibodohi mereka," gumam Broto usai Freya dan Al meninggalkan ruangannya.
****
"Kenapa kamu menahanku, seharusnya aku memberi perhitungan pada pria tua itu," ketus Freya usai mereka sudah memasuki mobil.
"Kenapa kamu harus menghabiskan tenaga untuk orang seperti Pak Broto. Orang seperti dia memang tidak pantas bekerja dengan perusahaan kita," jawab Al.
"Terus kita harus gimana?"
"Jangan khawatir, perusahaanku masih menjadi yang terbaik. Mencari investor baru bukan hal sulit, ini biar menjadi tugasku."
"Apa aku minta bantuan papa aja," usul Freya.
"Jadi kamu nggak percaya sama aku?"
"Bukan begitu Al, aku hanya ingin membantu kamu."
"Kurang dari seminggu aku pasti bisa menemukan investor baru, kamu harus percaya sama aku."
Freya menganggukkan kepala sebagai tanda setuju. Melihat wajah serius Al membuat Freya tidak punya pilihan selain mematuhi ucapannya.
"Cepat katakan," tukas Al.
"Begini bos, bukankah Nona Freya sebelumnya adalah seorang penulis. Bagaimana jika Nona Freya bergabung dengan perusahaan kita. Ini tentu akan menjadi terobosan baru dan seperti yang kita tahu, Nona Freya adalah orang yang cukup populer di kalangan media."
"Tapi aku ini penulis berita," usul Freya.
"Tidak ada yang salah dengan penulis berita, yang penting Nona sudah menguasai dunia kepenulisan. Apa anda tidak ingin mengembangkan keahlian yang sudah anda miliki, misalnya menulis tentang hasil penelitian yang berkaitan dengan pekerjaan anda atau membuat sebuah buku fiksi. Anda perlu untuk mencobanya Nona."
"Sebuah kolaborasi yang cukup bagus," komentar Freya singkat.
"Ide kamu cukup masuk akal, tapi merekrut penulis baru tidak akan mudah Ton. Apalagi kita belum tau sejauh apa keahliannya, apakah bukunya akan sukses di pasaran atau sebaliknya."
"Sebenarnya selama aku di rumah, aku mencoba menulis sebuah novel dan hampir selesai. Tapi entah novel ini bagus atau tidak aku sendiri tidak bisa menilai," ujar Freya.
"Benarkah, kenapa kamu tidak pernah bilang sama aku."
__ADS_1
"Aku ngerasa belum siap aja, lagipula aku bukan seorang penulis novel."
"Boleh aku baca?" tanya Al.
Freya sempat ragu untuk menyetujuinya namun melihat kesungguhan Al dalam meminta, Freya tidak bisa menolaknya.
Freya sudah menyerahkan file-nya pada Alano. Layak atau tidaknya novel itu semua bergantung pada penilaian editor.
Sebenarnya Freya sendiri tidak cukup percaya diri untuk menunjukkan hasil karyanya pada seorang editor karena ia tidak memiliki keahlian khusus dalam bidang itu. Tapi semua kembali pada penilaian editor.
Freya menunggu dengan cemas karena pada hari itu juga Alano menyerahkan file itu pada editor untuk segera diperiksa.
Beberapa editor terpaksa lembur hingga malam karena perintah Alano. Begitu juga dengan Freya dan Al, mereka memutuskan untuk menunggu hasilnya di kantor. Sampai-sampai karena kelelahan Freya tertidur di sofa yang berada di ruangan Alano.
Alano yang baru menyadari jika istrinya tertidur segera melepas jas yang ia kenakan untuk menyelimuti tubuh Freya.
Perlahan Alano mengusap kepala Freya. Ada sedikit penyesalan di benak Al karena sudah membuat Freya ikut terlibat dalam masalahnya, tapi di sisi lain ia juga merasa bersyukur karena Freya bisa memahami kondisinya bahkan memberikan sebuah dukungan yang luar biasa.
"Maafin aku, aku udah bikin kamu susah," ujar Al pelan.
"Pak, hasilnya sudah keluar." Seseorang tiba-tiba masuk ke ruangan Al dan melihat keromantisan yang seharusnya tidak ia lihat. "Maaf Pak Al, saya buru-buru. Saya bener-bener minta maaf," sesal orang itu tanpa berani mengangkat kepalanya.
Tanpa berkata apa-apa, Al bergegas keluar menuju ke ruangan editor.
"Bagaimana hasilnya?" tanya Al dengan tidak sabar.
Sarah-kepala editor menunjukkan senyum manisnya kepada Alano.
"Saya sama sekali tidak menyangka jika istri bapak sehebat ini. Dia bisa membuat semua tokoh benar-benar hidup, pemilihan genre hingga hal kecil seperti latar tempat benar-benar sesuai. Novel ini seperti sudah dipersiapkan secara terperinci, dan saya cukup yakin jika novel ini bisa bersaing di pasaran dan bahkan tidak menutup kemungkinan untuk menjadi salah satu novel best seller."
"Kamu yakin. Kamu tidak sedang mempermainkan saya kan? Jangan karena ini tulisan istri saya jadi kamu menilainya setinggi ini."
"Saya sungguh-sungguh pak. Saya sendiri mengagumi karya istri bapak."
Alano tersenyum bahagia. Ia langsung berlari ke ruangannya untuk menyampaikan kabar bahagia ini kepada Freya.
Usai membuka pintu Al langsung memeluk Freya yang masih tertidur pulas. Ia juga menghadiahi beberapa kecupan di pipi dan juga dahi Freya.
__ADS_1
"Terimakasih sayang. Terimakasih untuk semuanya."
BERSAMBUNG...