
Tanpa sepengetahuan Alano, Freya diam-diam menemui Naufal. Mereka bertemu di sebuah cafe yang tak jauh dari kantor Alano.
Disana Naufal menceritakan semua niat buruk Citra. Freya tidak nampak terkejut karena sudah sejak lama feelingnya selalu mengatakan jika Citra memang tidak tulus menikahi papanya. Dan sekarang semua itu terbukti, tinggal bagaimana Freya akan mengambil sikap. Cepat ataupun lambat papanya harus segera tahu sebelum Citra semakin bertindak terlalu jauh.
"Terus rencana kamu sekarang apa?" tanya Freya ada Naufal.
"Aku nunggu keputusan dari kamu, sebenarnya aku bisa aja bawa masalah ini langsung ke Pak Hartono, tapi aku takut kalau beliau akan syok lalu jatuh sakit."
"Kamu bener, kesehatan papa lebih penting, apalagi dia punya riwayat jantung. Aku harus lebih berhati-hati dalam bertindak, jangan sampai karena kecerobohanku berdampak buruk untuk kesehatan papa."
"Itu kamu paham."
🌲🌲🌲
Sementara itu di kantor, Al masih sibuk dengan pekerjaannya. Banyaknya dokumen yang harus dia urus, belum lagi ia harus menyelesaikan masalah yang menimpa perusahaannya, semua itu benar-benar menguras tenaga dan juga pikirannya.
Al terpaksa lembur setiap hari, tak jarang ia sampai lupa makam karena saking sibuknya.
Saat Al selesai memeriksa beberapa dokumen, tanpa sengaja ia melirik foto pernikahannya yang terletak di atas meja kerjanya.
Perasaan Al seketika menghangat saat melihat foto itu. Apalagi jika ia membayangkan bagaimana saat-saat pengambilan gambar itu, Al pasti langsung terkekeh.
Dulu, Al tidak pernah mau sedikit pun menatap Freya. Bahkan ia harus dipaksa untuk melakukan itu hanya untuk mendapat pose yang bagus untuk foto pernikahan mereka. Namun sekarang, ia bahkan tidak bisa sedikitpun melepaskan pandangannya dari wajah cantik dan manisnya Freya.
Dunia memang ajaib, menyatukan dua makhluk yang awalnya saling benci menjadi cinta sudah seperti hal yang wajar. Namun bagi orang yang merasakannya, itu terasa sangat lucu.
"Oh iya Freya kok tumben nggak ngingetin aku buat makan malam, ini udah lewat jam 9 loh, apa dia udah tidur. Coba aku telfon deh," gumam Al sambil meraih ponselnya yang tergeletak di meja samping tumpukan dokumen.
Setelah menunggu cukup lama, telepon itu terputus dengan sendirinya karena Freya tidak menjawabnya.
"Mungkin dia udah tidur," gerutu Al, berpikir jika Freya sudah terlelap. Padahal istrinya masih berada di cafe bersama Naufal.
Alano segera memanggil sekretarisnya melalui sambungan telepon untuk menyuruhnya memesankan makanan, karena kebetulan cacing-cacing diperutnya juga sudah kelaparan.
"Ra, tolong belikan saya nasi goreng seafood dan americano di cafe sebelah. Jangan lama-lama ya, aku tunggu di ruangan saya," perintah Alano pada sekretarisnya.
__ADS_1
"Baik pak."
Sekretaris itu segera pergi keluar, karena jika Alano sudah mengatakan jangan lama-lama itu artinya ia harus kembali dalam waktu kurang dari 15 menit. Dan segala macam pekerjaan yang sedang ia lakukan harus dihentikan saat itu juga. Hal itu bukan hanya berlaku untuk sekretarisnya, namun untuk semua karyawan.
Sekretaris yang bernama Dilla itu sudah sampai di cafe dekat dengan kantornya dan ia segera menyampaikan pesanan Al.
"Mbak, biasa ya, nasi goreng seafood sama americano satu," ujar Dilla pada salah satu pelayan disana. Saking seringnya Al membeli makanan di cafe itu, dan juga karena menunya yang tidak pernah ganti, maka semua pelayan dan koki disana sudah sangat hafal dengan pesanan Al.
Dilla duduk di salah satu kursi sambil menunggu pesanannya jadi, dan tanpa sengaja ia melihat Freya sedang berada disana dengan seorang pria.
Dilla menyipitkan matanya agar bisa mengamatinya dengan seksama.
"Itu beneran Mbak Freya kan, istrinya Pak Al. Tapi sama siapa dia, perasaan itu cowok kaya seumuran sama Pak Al, apa dia..." Dilla tiba-tiba memelototkan matanya saat pikiran negatif hinggap di kepalanya. Namun begitu sadar, ia segera menggelengkan kepala. "Nggak-nggak, bisa aja kan kalau itu saudaranya atau temennya. Jangan mikir yang macem-macem Dil dan jangan sampai kamu keceplosan di depan Pak Al. Oke, lo harus tutup mulut lo rapat-rapat," gerutu Dilla berusaha untuk menyingkirkan pikiran buruknya.
"Mbak, ini pesanannya." Salah satu pelayan menghampiri Dilla dan memberikan masakan yang tadi ia pesan.
"I-iya mbak, makasih." Dilla masih belum bisa melepaskan pandangannya dari Freya. Rasa penasaran itu benar-benar membuatnya enggak untuk beranjak dari cafe.
Sebelum Dilla sempat berdiri dari kursinya, tiba-tiba ponselnya sudah berdering. Rupanya Al sudah menghubungi.
Dilla secepat kilat bangkit dari kursi. Setelah memberikan selembar uang, ia segera berlari tanpa memperdulikan uang kembaliannya.
Akhirnya Dilla sampai di depan ruangan Al dengan napas terengah-engah. Sebelum masuk, ia menarik napas terlebih dahulu untuk menenangkan perasaannya yang gugup. Bagaimana pun ia harus siap saat Al memarahinya karena telat membawakan makanannya.
Tok.. tok.. tok
"Permisi Pak, saya mau anter makanan bapak."
"Masuk."
Setelah mendapat persetujuan, Dilla melangkah masuk dengan perasaan cemas.
"Kamu telat 5 menit Dilla, kamu sadar kan?" sindir Al dengan raut wajah datar.
Dilla hanya bisa menunduk. "Maaf pak, tadi-"
__ADS_1
"Mau pakai alasan apa, semua karyawan disana sudah tau kalau pesananku selalu diutamakan, jadi nggak ada alasan buat telat," potong Al sambil membuka makanannya.
"Maaf pak, tapi tadi saya nggak sengaja liat Mbak Freya sama..." Dilla segera membungkam mulutnya dengan mata melotot. Hampir saja ia mengatakan jika Freya berada di cafe dengan seorang pria.
"Sama siapa?" tanya Al tanpa menaruh rasa curiga sedikitpun.
"Bukan pak, maksud saya.. saya tadi salah liat," jawab Dilla gugup.
"Ya udah kamu bisa pergi sekarang," usir Al secara terang-terangan.
Sedikitpun Al tidak memasukan kata-kata Dilla ke hatinya, ia hanya menganggap itu sebagai angin lalu. Karena untuk sekarang, Al lebih tertarik pada makanan yang ada di hadapannya yang benar-benar menggugah seleranya, sampai-sampai Al tidak sadar jika ia bisa menghabiskan makanannya dalam waktu singkat.
Setelah menyeka keringat di pelipisnya, Al segera meneguk minumannya.
"Akhirnya kenyang juga," gerutu Al sambil menepuk-nepuk perutnya.
Usai menghabiskan makanannya, Al melirik jam yang melingkar di tangannya.
"Udah jam 10, lanjut besuk aja lah."
Al segera membereskan mejanya lalu menata beberapa lembar dokumen yang akan ia masukkan ke dalam tas kerjanya.
Butuh waktu sekitar 25 menit bagi Al untuk tiba di rumahnya. Begitu memarkirkan mobilnya di halaman, Al segera berlari masuk ke dalam rumah. Ia sudah tidak sabar untuk bertemu dengan istrinya.
Namun senyum lebar Al tiba-tiba pudar saat ia mendapati kamarnya kosong.
"Freya.. sayang kamu dimana?"
Al membuka pintu kamar mandi, karena ia pikir mungkin Freya sedang berada disana. Tapi ruangan itu juga kosong. Al kembali mencari di seluruh ruangan namun ia tidak berhasil menemukan keberadaan Freya.
Akhirnya Al bertanya pada Bi Irma dan asisten rumah tangganya itu mengatakan jika Freya memang belum pulang.
"Kamu kemana Freya,"
BERSAMBUNG...
__ADS_1
Dag dig dug, jangan sampai ya Al tahu kalau Freya pergi sama Naufal ya.
Bisa gelap mata dia kan 😀