My Husband My Enemy

My Husband My Enemy
Kenyataan yang harus dihadapi


__ADS_3

Alano terus menatap Freya seolah menunggu penjelasan dari gadis itu. 


"Itu.. Emmm.. Aku cuma mau ngasih tau kalau besuk papa nyuruh kita buat dateng ke rumah."


"Aku udah tau," jawab Alano datar.


"Ha.. Kok bisa, padahal aku baru ngomong."


"Tadi papa udah telpon aku. Udah nggak ada yang mau dibicarain lagi kan, kalau gitu kamu bisa pergi sekarang." 


'Apa?! Dia ngusir gue. Kurang ajar, lagian siapa juga yang mau berlama-lama disini. Dasar es batu!" 


Alano sudah memutar tubuhnya lalu berjalan masuk ke dalam kamar, tapi baru setengah jalan ia tiba-tiba kembali berjalan ke arah pintu seolah-olah akan menghampiri Freya.


Hal itu sontak menimbulkan kesalahpahaman untuk Freya. Freya mengira jika Alano kembali karena pria itu merasa bersalah karena sudah mengusirnya dan berniat untuk meminta maaf, tapi ternyata tujuan sebenarnya bukan itu…


Ceklek, 


Alano menutup pintu kamarnya tanpa berkata sepatah katapun pada Freya yang masih mematung di depan kamarnya. 


"Whatt!" 


Tentu tindakan Alano membuat kemarahan Freya semakin meledak. Alano seakan-akan sudah menginjak-injak harga diri Freya dan Freya sama sekali tidak berniat untuk memaafkan Alano. 


"Sampai kiamat pun gue nggak akan pernah lupa dengan kejadian hari ini. Tunggu Al, gue akan bales perbuatan lo!" 


Freya kembali ke kamarnya dengan wajah cemberut dan masih dengan tangan mengepal. 


***


Sebuah mobil Lamborghini keluaran terbaru sudah terparkir di depan rumah Hartono. Tak lama seorang pria dengan sepatu kulit berwarna hitam mengkilap sudah mulai menuruni mobilnya, dia adalah Shaquil Alano. 

__ADS_1


Tak jauh dari Alano, terlihat Hartono sudah menunggu kehadirannya di depan pintu utama dengan senyum ramahnya. 


"Menantunya sudah tiba? Kenapa kamu datang sendiri, Freya dimana?" tanya Papa Hartono setelah memberikan pelukan sambutan pada Alano. 


"Freya? Bukankah dia sudah tiba? Tadi dia bilang ingin bawa mobil sendiri soalnya Alano juga dari kantor," balas Alano. 


"Begitu rupanya, ya sudah kita tunggu saja mungkin dia terjebak macet." ucap Hartono sambil merangkul Alano lalu mereka berjalan masuk ke dalam rumah.


Sesampainya di ruang tamu, Alano dibuat terkejut karena melihat sosok Citra dan juga Prisa. Mereka berdua tampak sedang asik berbincang sebelum melihat kemunculan Alano dan suasana seketika berubah canggung. 


Tak lupa Alano menyapa mereka dengan ramah karena ia tidak ingin rasa penasarannya mempengaruhi suasana. 


"Seperti yang kamu lihat Al, perbincangan kali ini benar-benar sangat serius dan papa mau minta tolong sama kamu.. Tolong tenangkan Freya berilah dia pengertian jika nanti keputusan papa membuatnya kecewa."


Sesuai dugaan Alano, perbincangan kali ini pasti mengenai hubungan Papa Hartono dan juga Tante Citra. Alano hanya bisa menganggukkan kepala. Tapi sejujurnya Alano tidak yakin jika ia bisa melakukan apa yang diperintahkan papa mertuanya karena ia tahu pasti jika Freya akan menolak dengan tegas keputusan papanya. 


Hal ini tentu akan sangat melukai hati Freya, dan satu-satunya harapan Alano saat ini adalah 'semoga Freya tidak hadir dalam pertemuan ini' 


Freya pasti akan syok, dan itu bisa membuat hubungan antara Papa Hartono dan Freya kembali memanas.


Jika saja Alano bisa membawa Freya pergi dari tempat itu, mungkin Alano akan melakukannya. Tapi ini tidak bisa dihindari, cepat atau lambat hal ini pasti akan terjadi. Dan yang Alano bisa lakukan hanyalah menguatkan Freya. 


Alano menghentikan langkahnya begitu ia melihat Freya turun dari mobilnya. Sambil menghela napas ia menghampiri istrinya lalu menghadang langkahnya. 


"Frey, ada yang perlu aku bicarain sama kamu," ucap Alano. 


Freya melirik Alano dengan sinis, "ni orang kenapa sih, kemarin aja ngusir-ngusir gue, tapi sekarang malah ngajakin gue ngomong." 


Freya mencoba menggeser tubuhnya ke kiri dan Alano melakukan hal yang sama. Saat Freya menggeser tubuhnya ke kanan, maka Alano pun mengikutinya. Begitu seterusnya hingga akhirnya Freya berdecak kesal. 


"Minggir Al, gue mau masuk." 

__ADS_1


Freya berhasil melewati tubuh Alano namun tangan Alano berhasil menahan tangannya.


"Al lepasin," ucap Freya begitu menoleh ke belakang. 


"Freya, lo harus inget satu hal.. apapun yang terjadi nanti, itu sudah kehendak Tuhan, kita sebagai manusia tidak bisa menentang perintah-Nya atau menolaknya. Apapun yang terjadi lo masih punya gue, gu-e.. akan selalu ada di sisi lo," ucap Alano setengah gugup sehingga suaranya terbata-bata. 


Freya justru tersenyum mengejek. "Lo ngomong apa sih, lo lagi ngafalin dialog?" 


Freya berusaha menyembunyikan kekehannya dengan menutup mulutnya. Jujur kata-kata Alano seperti sebuah lelucon sehingga membuatnya tidak tahan untuk menertawakannya.  


"Frey? Panggil Alano sekali saat Freya berhasil melepaskan tangannya dan sudah berjalan masuk. 


Freya tak henti-hentinya menutupi tawanya sambil menggelengkan kepala. Namun senyum itu segera sirna saat tiba-tiba netranya menangkap sebuah pemandangan yang sangat tidak ingin ia lihat. 


Matanya menatap fokus pada dua orang yang duduk di samping papanya. Freya sangat berharap jika ini hanyalah mimpi, namun saat ia mencoba ingin membangunkan dirinya, Freya tidak bisa. Freya tidak bisa mengembalikan mimpi buruknya. Freya meneteskan air matanya bersamaan dengan dadanya yang terasa sesak. Perlahan satu kakinya sudah melangkah ke belakang, ia sedang mempersiapkan diri untuk berlari sejauh mungkin. Tapi saat Freya sudah membalikkan tubuhnya, ia justru menubruk Alano hingga akhirnya tangisnya tumpah di dada suaminya. 


Freya menangis di pelukan Alano. 


"Kamu udah nggak bisa lari Frey, apapun yang terjadi kamu harus menghadapi ini karena sejauh apapun kamu lari, papamu pun tidak akan menyerah sampai disini. Dia akan terus berusaha untuk membuat kamu luluh." Alano mencoba menenangkan Freya sambil menepuk-nepuk punggungnya. 


"Aku juga nggak akan menyerah semudah itu, sampai kapan pun keputusanku tidak akan berubah. Aku akan tetap melarang papa untuk menikah lagi, titik," tegas Freya.


"Papa kamu juga berhak bahagia. Dia juga ingin ada seseorang yang selalu ada di sampingnya, yang bisa menemaninya untuk menghabiskan masa tuanya. Frey, mama kamu udah tenang disana. Dia pasti juga ingin melihat anak dan suaminya bahagia." 


"Kamu tau dari mana," teriak Freya dengan lantang hingga membuat Papanya, Tante Citra dan Prisa langsung menoleh kearahnya.


Tatapan mereka akhirnya bertemu, tatapan kemarahan dan kekecewaan yang Freya tujukan pada Papanya, Tante Citra dan juga Freya. Tak ada yang bisa Freya ucapkan selain memberi mereka sebuah senyuman, senyuman yang seolah mengatakan 'selamat untuk luka yang sudah kalian torehkan'


...BERSAMBUNG......


😥😥😥 Part ini bikin mewek ya, kalian setuju nggak?

__ADS_1


Yang setuju jangan lupa kasih vote dan komennya ya😚


Salam rindu dari Haraa Boo😍


__ADS_2