
Keberadaan Mesha rupanya tidak bisa merubah mood Freya. Wajah gadis itu masih tampak murung, bahkan ia terlihat ogah-ogahan saat mengunyah makanan.
Hal itu tentu tak luput dari pengamatan Mesha yang duduk di hadapannya. Berada di tempat seramai ini ternyata tidak bisa membantu mengalihkan pikiran Freya.
Mesha kemudian memandang ke sekeliling, cafe itu tampak rame. Semua orang terlihat asik berbincang dan juga menikmati makanannya, tapi tidak dengan Freya.
"Frey, lo ngunyah apa sih.. Batubata?" tanya Mesha kesal karena sejak tadi Freya terus mengunyah makanannya, padahal itu adalah kunyahan pertama Freya sedangkan ia sendiri sudah hampir menghabiskan makanannya.
Freya sama sekali tidak mau menanggapi ucapan Mesha, bahkan matanya masih tetap fokus pada suatu obyek namun terlihat jelas jika tatapannya itu kosong.
"Lo udah coba bicara sama Al? Ini masalah serius Frey, kalau dia nggak cinta sama lo nggak mungkin dia lakuin itu. Kecuali dia laki-laki br*ngsek yang cuma mau manfaatin kondisi lo."
"Dia bilang nggak usah dipermasalahin, ini bukan sesuatu yang serius. Ini murni kesalahan dia dan dia juga udah minta maaf. Dia minta aku buat bersikap seperti biasa," ucap Freya dengan malas disertai mimik wajah sendu.
"Gila kali ya dia, dia pikir lo cewek apaan bisa-bisanya bilang kaya gitu. Ini udah nggak bener Frey. Lo harus bisa lupain dia, harus pokoknya. Gue nggak terima kalau perasaan sahabat gue dimainin kaya gini."
Freya kembali bengong, ia terlihat seperti orang yang hampir putus asa.
***
Beberapa jam yang lalu saat Freya sedang bersiap untuk menghadiri undangan makan malam papanya tiba-tiba Al menghampirinya. Al hanya berdiri di pintu karena kebetulan pintu kamar Freya tidak terkunci.
"Kamu udah selesai belum?" tanya Al.
Freya sedang berdiri didepan cermin untuk memastikan jika penampilan sudah oke, setelah itu ia menganggukkan kepalanya ke arah Alano.
Alano pun segera turun ke bawah tanpa mau menunggu Freya. Padahal Freya sudah mengatakan jika ia sudah selesai, seharusnya mereka bisa turun ke bawah sama-sama. Namun ternyata Alano lebih memilih untuk menunggu Freya di mobil.
Mereka saling membisu selama perjalanan ke restoran. Alano fokus mengemudi dan sama sekali tidak terlihat gugup. Berbeda dengan Freya yang sudah gelisah sebab ia sedang menunggu kejelasan dari Alano tentang kejadian malam itu dan juga alasan Alano tidak pulang.
Sesekali Freya melirik Al, ia sedang menyiapkan mentalnya untuk menanyakan hal itu pada Al. Namun keberaniannya belum cukup untuk meruntuhkan kegugupannya.
"Apa ada sesuatu yang mengganggu pikiran kamu?" tanya Al tiba-tiba.
__ADS_1
"Ha.. Ng-gak, nggak ada," jawab Freya dengan sedikit terbata.
"Pasti lo udah inget kejadian malam itu?" tanya Al santai, seolah pertanyaan yang ia ajukan bukanlah sesuatu yang harus ditanggapi dengan serius.
"Gue minta maaf kalau itu mengganggu pikiran lo. Tapi anggep aja itu nggak pernah terjadi. Kita berada di posisi yang tidak seharusnya dan aku rasa itu memang kesalahan," lanjut Alano.
Freya langsung memutar otaknya. Ia berusaha mengingat kejadian itu karena jujur, ucapan Al seolah menunjukkan jika malam itu memang terjadi sesuatu.
Hingga akhirnya Freya syok dan langsung membungkam mulutnya saat ingatan yang sempat hilang kini sudah kembali.
Freya melongo, namun yang lebih mengejutkannya adalah tanggapan Al atas apa yang sudah terjadi. Ia tidak menyangka jika ia akan mendapat jawaban seperti itu dari Alano. Freya langsung mengalihkan pandangannya ke jendela sambil menggigit jarinya untuk menahan air matanya yang sudah menggenang di pelupuk matanya.
Sikap Al sungguh mengecewakan Freya, padahal Freya sudah sedikit berharap pada Al karena itu adalah ci*uman pertamanya. Namun Al justru mematahkan harapannya dan membuat Freya semakin tampak menyedihkan.
Tak terasa mobil mereka sudah tiba di tempat tujuan. Al masih bisa bersandiwara di depan mertuanya dengan membukakan pintu untuk Freya.
Meski ini sesuatu yang berat untuk dilalui, tapi Freya berusaha untuk tegar. Ia tersenyum memandang Al ketika turun dari mobil. Lalu mereka berjalan dengan bergandengan tangan seolah-olah tidak pernah terjadi sesuatu.
Hartono dan Citra menyambut kedatangan Al dan Freya dengan ramah. Mereka memberi pelukan hangat untuk mempererat hubungan keluarga antara mereka.
"Jangan bikin malu Prisa, dia suami kakak kamu," bisik Citra dengan nada kesal.
"Kakak.. ishhh! Ogah banget punya kakak kaya dia." Prisa menyunggingkan bibirnya ke atas sambil memutar bola matanya. "Kak Al makin ganteng aja," lanjut Prisa tampak memperdulikan ucapan mamanya.
Mama Citra langsung melirik Prisa dengan tajam, namun Prisa justru memalingkan wajahnya sambil tersenyum pada Al.
"Pilihan Al emang nggak pernah salah. Restoran ini sangat nyaman, apalagi saat kita memandang keluar. Kita langsung disambut dengan cahaya yang menyinari seluruh kota seolah-olah kita sedang berada di atas awan, setuju nggak Frey?"
"Ha.. Iya pa. Al memang mempunyai selera yang sangat bagus." Freya sempat terbata karena pikirannya masih dipenuhi dengan masalah tadi, tapi beruntung ia masih bisa mendengar dengan baik meski sesungguhnya ia sangat ingin menghilang dari tempat itu.
"Freya tolong kamu bantu mama buat cari calon menantu untuk Prisa. Bagaimana pun mama perlu belajar banyak dari kamu," ucap Mama Citra sambil terkekeh pelan, ia hanya bermaksud untuk menggoda Freya. Dan semua orang ikut terkekeh seolah itu adalah sesuatu yang patut untuk ditertawakan.
Freya langsung menarik tangannya saat Citra menggenggamnya. Freya sudah terlalu muak dengan semua sandiwara ini. Lalu tiba-tiba ia berdiri dari kursinya dan membuat semua orang langsung memandang kearahnya.
__ADS_1
"Aku mau pulang duluan pa, tiba-tiba aku ngrasa pusing," ucap Freya sebelum semua orang mencurigainya.
"Tapi tadi kamu baik-baik aja," tanya Al seolah tak percaya dengan alasan Freya. "Apa mau aku antar ke dokter sekarang?" lanjutnya sambil memegang lengan Freya.
Freya langsung menyingkirkan tangan Alano.
"Nggak usah, aku cuma mau istirahat. Maaf ya pa kalau Freya udah mengacaukan acara ini, tapi-"
"Udah sayang nggak papa yang paling penting kesehatan kamu," jawab Papa Hartono.
"Maaf ya Pa, Ma.. Kita terpaksa harus pulang," ucap Al.
"Kita nggak papa Al. Kamu yakin nggak mau ke dokter sayang?" tanya Citra sambil memandang khawatir ke arah Freya.
Freya menggeleng dan langsung memutar badannya untuk berjalan keluar.
Tak kalah khawatirnya, Alano juga terus memandang wajah Freya. Ia takut jika memang ada masalah serius dengan kesehatan Freya.
"Kamu beneran nggak papa Frey. Mumpung kita di jalan, apa nggak sebaiknya kita mampir di-"
"Aku udah bilang nggak papa dan itu berarti aku emang nggak butuh dokter. Kenapa sih kalian nggak ada yang bisa ngertiin aku," bentak Freya.
Alano bungkam, ia berpikir jika kemarahan Freya disebabkan oleh rasa pusingnya. Tapi padahal Freya mengatakan itu untuk maksud lain. Untuk mengatakan pada Alano jika Freya benar-benar lelah dengan semua ini.
...BERSAMBUNG......
Lelah,
Authornya juga ikut lelah sama keadaan😌
Next episode bakal ada kejutan, penasaran?
Tetep stay disini ya dan author akan nggak pernah bosen buat ingetin kalian untuk selalu like, komen, dan vote..
__ADS_1
See you😍😘😘