My Husband My Enemy

My Husband My Enemy
Serangan jantung


__ADS_3

Setelah keduanya mulai terbuka akan perasaan masing-masing, Al mulai memperlakukan Freya layaknya seorang pasangan. Ah tidak, mereka hanya jauh lebih akrab dari sebelumnya. 


Meskipun Al belum mengatakan secara resmi jika ia menyukai Freya, namun bagi Freya pengakuan Al kemarin sudah cukup untuk membuktikan bahwa Al juga memiliki perasaan yang sama. 


Freya juga tidak ingin terburu-buru, anggap saja mereka sedang dalam masa pendekatan. 


***


Samar-samar suara ketukan dari luar kamar terdengar. Freya menggeliat di atas ranjang tidurnya sambil mengerjap. Matanya melirik jam weker yang berada di atas nakasnya. Pukul 07.25 WIB. 


Siapa orang yang sudah mengganggu waktu tidurnya?


Dengan langkah gontai dan wajah setengah mengantuk, Freya membuka pintu kamarnya. 


Dan…


Freya tercengang, kedua matanya langsung membulat sempurna saat melihat sosok yang kini sedang berdiri di hadapannya. 


"Jam segini masih tidur, ayo keluar sekarang." Al sudah menarik tangan Freya membuat gadis itu hanya bisa melongo akan tingkah aneh suaminya. 


"Lepasin, lo mau ngajak gue kemana. Gue baru bangun." 


Freya bahkan baru saja membuka matanya, penampilannya masih berantakan, belum lagi wajahnya masih bau bantal, tidak mungkin jika ia keluar begitu saja. Apalagi bersama Al, pria yang ia sukai. 


"Gue udah buatin sarapan," jawab Al dengan santai.


Ingin rasanya Freya mengumpat atas penampilannya. Ia sungguh tidak nyaman dengan keberadaan Al sekarang. Belum lagi perubahan sikap Al yang begitu drastis membuat Freya ingin menampar pipinya untuk meyakinkan dirinya jika ini bukan mimpi. 


Baru saja Freya ingin melontarkan penolakannya, perkataan Al sudah lebih dulu menghentikannya. "Kamu pasti kaget kenapa aku tiba-tiba ngajakin kamu sarapan. Tapi kamu harus ikut dulu, kamu boleh protes setelah kita sarapan bareng."


Freya tak berkutik, ia hanya mengikuti kemana langkah Al membawanya. Apalagi saat melihat Al menggandeng tangannya, Freya seakan-akan sudah lupa akan penolakannya. 


Mereka akhirnya berhenti di dapur. Dan seperti yang Al katakan, pria itu benar-benar membuat sarapan. Hal itu terbukti saat Freya melihat dapurnya yang sudah berantakan. 


"Jadi kamu itu bener-bener nggak bisa masak?" tanya Al sambil menyiapkan masakannya yang masih berada di atas kompor untuk di bawa ke meja makan.


"Kamu ngapain masih berdiri di situ?" tanya Al kemudian.


"Kamu itu abis masak atau ngancurin dapur," gumam Freya pelan.


"Cobain dulu masakan aku, baru kamu boleh komen," ucap Al setelah meletakkan satu mangkok bubur d atas meja makan.


Di depannya sudah ada bubur ayam, lengkap dengan topingnya. Di sampingnya lagi ada segelas susu putih yang masih panas, hal itu terlihat dari asap yang masih mengepul di atasnya. 


"Gimana kondisi kamu sekarang, udah sembuh belum. Aku sengaja bikin bubur biar kamu bisa mudah mencernanya." 


Freya tidak menyahut. Ia masih bingung, sejak kapan Al bisa bersikap manis padanya? 

__ADS_1


Freya menarik kursi di depannya, begitu juga dengan Al. Lalu gadis itu mulai menyendok buburnya perlahan dan memasukkannya ke dalam mulut.


Alano nampak fokus mengamati pergerakan Freya. Ia seakan sudah tidak sabar untuk menanti jawaban dari gadis itu. 


"Gimana, enak nggak?" tanya Al.


Awalnya Freya meragukan masakan Al karena ia berpikir jika Al hanya iseng padanya. Tapi saat Freya mulai merasakan bubur itu, matanya mulai terbuka lebar sambil menganggukkan kepala.


"Lumayan, sejak kapan kamu belajar masak. Aku pikir orang kaya kamu taunya cuma kerja." 


Al tersenyum. "Buktinya aku bisa kan buatin kamu sarapan?" 


Uhuk.. Uhukk..


Tentu saja ucapan Al membuat Freya gugup dan langsung tersedak, karena biasanya mereka hanya sekedar sarapan bersama tanpa ada perbincangan apapun. Tapi kali ini, Al bahkan sengaja membangunkannya hanya untuk mengajaknya sarapan. Ditambah lagi itu dibuat sendiri oleh tangannya. Siapapun pasti juga akan merasa gugup. 


"Pelan-pelan Frey. Nih minum dulu." Al menyodorkan segelas susu ke Freya. 


Freya menerimanya dan meminum susu itu. 


"Oh iya kamu kok masih pakai baju santai, emang nggak ke kantor?" tanya Freya untuk mengalihkan topik obrolan mereka.


"Aku ijin nggak masuk hari ini." 


"Kenapa, kamu sakit?" 


"Terus?"


"Pengen aja, lagian kamu juga lagi nggak enak badan kan. Siapa tau kalau aku yang ngurus, kamu bisa cepet sembuh." 


Freya tersipu malu. "Kamu apaan sih Al." 


"Buburnya di makan lagi, nanti keburu dingin jadi nggak enak."


Wajar rasanya jika Freya merasa canggung atas sikap Alano. Apalagi Alano terus memperhatikan Freya makan, sehingga membuat gadis itu hampir tak sanggup untuk mengunyah makanannya karena saking gugupnya. 


"Al, udah dong. Kamu jangan liatin aku terus," ucap Freya. 


Al hanya tersenyum sambil terus memperhatikan Freya. 


Tiba-tiba saja ponsel Freya yang tergeletak di atas meja berbunyi. Freya segera meraihnya untuk melihat siapa yang menghubunginya. 


Rupanya itu telpon dari Naufal. 


"Halo?" 


"Frey, maaf ya kalau aku ganggu waktu kamu. Aku cuma mau tanya apa siang ini kamu ada waktu?" 

__ADS_1


Freya menatap Al sebelum menjawab pertanyaan Naufal. Jujur saja Freya merasa tidak enak untuk mengiyakan pertanyaan Naufal, karena jika Al tahu tentu akan membuat pria itu marah.


"Apa harus siang ini?" jawab Freya kemudian.


"Kenapa, apa kamu nggak bisa?" 


"Siapa?" tanya Al karena pria itu mulai curiga dengan gelagat Freya. 


"Naufal," jawab Freya pelan setelah menurunkan ponselnya agar Naufal tidak mendengarnya.


Al langsung meminta pada Freya untuk memberikan ponselnya. Dan Freya tidak bisa menolaknya karena saat Al cemburu seperti ini, wajahnya benar-benar menyeramkan. 


"Siang ini saya dan Freya akan berangkat ke Maldives untuk honeymoon. Jadi bisakah kamu untuk tidak menghubungi istri saya?" kata Al dengan senyum sombongnya. 


Freya melongo. Ini antara percaya atau tidak, semua kata-kata Alano terdengar tak masuk akal di telinga Freya. 


Setelah mengatakan itu, Al langsung mematikan sambungan telponnya.


"Apa yang barusan kamu bilang Al?" tanya Freya ling lung. Sungguh, ia terlihat seperti orang yang baru bangun dari koma. Otaknya benar-benar blank. 


"Kenapa? Oh itu… Aku berencana untuk memberimu kejutan, tapi rupanya dia lebih menginginkannya," jawab Al dengan santainya. "Apa kamu nggak mau?" 


"A-ku.." 


"Aku anggap jawaban kamu sebagai persetujuan. Baiklah, segera habiskan sarapanmu, aku harus mengurus tiket untuk keberangkatan kita." Al sudah bangkit tanpa menunggu pendapat dari Freya. 


Dan Freya bahkan tidak bisa berbicara, mulutnya sudah terbuka tapi suaranya seperti tercekat di tenggorokan. 


"Ta-tapi…" Freya benar-benar kesulitan untuk sekedar mengucapkan satu kata. 


Setelah kepergian Alano, Freya baru bisa menghela napas panjang. 


"Apa aku harus mempercayai ini? Oh tidak.. Aku bisa gila jika Al terus bersikap seperti ini." 


Freya mengambil air minumnya dan menghabiskannya nyaris tanpa sisa. Menghadapi Alano membuat Freya seperti merasakan serangan jantung. 


Jika jantungnya saja sulit untuk menerima ini, apalagi dengan otak Freya yang terus mengatakan jika ini mimpi. 


Freya memang menginginkan ini, tapi jika semuanya terjadi secara tiba-tiba, ini cukup sulit untuk dipercaya. 


Freya hanya bisa menundukkan kepalanya di meja. Ia benar-benar syok dan ini diluar dugaannya.


"Apa dia sungguh Alano yang aku kenal. Bahkan dia sama sekali tidak mirip dengannya. Apa ini yang dinamakan kepribadian ganda. Oh Tuhan, aku harus apa?" 


...BERSAMBUNG.....


😂🤣🤣 Ngakak nggak sih kalau bayangin adegan Freya yang syok sama kelakuan Al.

__ADS_1


Ditunggu like, komen dan vote-nya. Kali-kali ada yang mau ngasih hadiah gitu😄😊 Ngarep banget dah authornya😍😍


__ADS_2