My Husband My Enemy

My Husband My Enemy
Cemburu, benarkah?


__ADS_3

Usai meletakkan minuman untuk Jasmine dan Alano, Bi Irma menghampiri Freya yang sedang duduk melamun.


"Non Freya kok disini sih, nggak penasaran mereka ngomongin apa?" ucap Bi Irma, terdengar seperti sedang menghasut Freya. 


Freya yang sedang menopang dagu menengok ke arah Jasmine dan Alano sekilas sambil menggeleng. Kebetulan sebagian besar rumahnya berdinding kaca sehingga Freya bisa melihat ruangan manapun termasuk ruang tengah yang terhubung langsung dengan tempat yang ia duduki sekarang.


"Bibi kasih tau ya Non, nggak ada yang namanya persahabatan antara laki-laki sama perempuan. Salah satunya pasti memendam rasa, contohnya udah banyak Non mau bibi sebutin satu per satu?" 


"Bibi udah, aku males bahas Al. Lagian kalau Al suka sama Jasmine itu hak dia." 


Tanpa sadar Freya mengucapkan kata itu dengan wajah memberengut sehingga membuat Bi Irma semakin gencar untuk memanas-manasinya. 


"Beneran, nggak nyesel kalau Tuan diambil Mbak Jasmine. Tapi kalau dipikir-pikir mereka juga cocok, Mbak Jasmine-nya juga super cantik, sexy lagi. Apalagi wajah bule-nya itu hmmmmb..." 


"Bibi!!!!!" Tanpa sengaja Freya berteriak sehingga menimbulkan kegaduhan. Alano dan Jasmine yang mendengar itu segera berlari untuk menghampiri Freya. Apalagi Alano, ia begitu parno jika menyangkut tentang Freya. 


"Ada apa, apa ada orang yang ingin mencelakai kamu, siapa, dimana orangnya?" tanya Alano panik. 


"Tau ah!" 


Tak ingin ambil pusing, Freya memilih untuk pergi tanpa menjelaskan apa-apa. Biarlah Alano marah, Freya akan jauh lebih marah jika mendengar pembicaraan bibi tadi. 


Luarnya sih oke, tapi hatinya siapa yang tau. Freya berpura-pura acuh hanya untuk menyangkal perasaannya sendiri, tapi apa itu berhasil. Sejujurnya sejak tadi Freya terus mengamati Alano dan Jasmine. Melihat mereka tertawa dan bercanda membuat hati Freya meradang. 


Sikap Alano selalu berbanding terbalik saat memperlakukan dia dan juga Jasmine. Seolah istrinya adalah Jasmine, sedangkan ia… 


Ahh entahlah, Freya sendiri tidak tahu apa posisinya sekarang. 


'Apa aku cemburu. Hah, yang bener aja. Itu sama sekali nggak masuk akal,' batinnya memberontak.


Tak ingin terus larut dalam bayang-bayang Alano, Freya memutuskan untuk keluar sejenak. Ia rindu udara segar di sekitar taman rumahnya. Dan kebetulan matahari juga belum terik sehingga ia bisa berjalan santai tanpa terganggu dengan sengatan matahari. 


Freya melihat ada sebuah bangku yang kosong di bawah pohon rindang, sepertinya itu tempat yang cocok untuk bersantai. Segera saja Freya menuju ke bangku itu, namun disaat yang bersamaan seorang pria muncul di depan Freya dan mereka sama-sama ingin duduk di tempat itu. Nyaris saja mereka bertabrakan tapi beruntung pria itu segera menyadari kemunculan Freya. 


"Mau duduk disini?" tanya pria itu. 


"Iya, tapi kalau kamu mau duduk silahkan. Aku bisa cari tempat lain." 


Freya sudah ingin melangkah pergi, tapi tiba-tiba pria itu mencegahnya. "Tunggu." 


"Ya, ada apa ya?" 

__ADS_1


"Kamu putrinya Pak Hartono kan, kita sempet ketemu di kantor papa kamu. Apa kamu ingat?" 


Freya menelisik wajah pria itu. Benar, wajahnya memang tidak asing. Tapi Freya benar-benar lupa siapa pria itu. 


Tiba-tiba pria itu mengulurkan tangannya di depan Freya. 


"Kalau gitu kita kenalan aja, aku Naufal-" 


"Ahh iya aku inget sekarang," potong Freya cepat. Ia akhirnya teringat siapa pria yang ada dihadapannya. "Kamu kalau nggak salah pengacara baru di kantornya papa ya," tebak Freya. 


"Betul sekali. Kamu Freya kan?" 


"Iya." Freya hanya mengangguk sambil tersenyum kecil. 


"Kamu sendirian?" tanya Naufal setelah mengamati keadaan di sekeliling Freya. 


Freya mengangguk, namun tak berselang lama Alano tiba-tiba muncul dan langsung menarik tangan Freya. 


"Kamu kalau mau keluar bilang napa sih, jangan bikin orang panik," omel Alano. 


Wajah Freya langsung berubah bingung. Ia tidak tahu Alano muncul dari mana dan tiba-tiba saja pria itu langsung menggenggam tangannya di depan Naufal. 


"Kamu siapa?" tanya Alano dengan tatapan memicing karena ia memang tidak mengenal siapa Naufal. 


"Saya Naufal, pengacara di kantor Pak Hartono." 


"Saya Alano suaminya Freya," jawab Alano mantap sambil menjabat tangan Naufal. 


"Kita pulang sekarang," ucap Alano sambil menarik tangan Freya. 


Freya yang menolak untuk pulang sudah berusaha untuk melepaskan tangannya, namun sepertinya Alano tidak akan melepaskannya sebelum mereka sampai di rumah. 


Naufal pun hanya bisa menatap kepergian mereka. Ia cukup terkejut dengan ucapan Alano karena ia pikir Freya adalah gadis yang masih single, tapi ternyata dugaannya salah. 


"Lepasin Al, gue bisa jalan sendiri," sungut Freya dengan raut wajah kesal. 


"Nggak, gue nggak bakal lepasin sebelum kita sampai di rumah." 


"Gue bukan anak kecil, malu dilihatin orang." 


"Bodo, emang gue perduli." 

__ADS_1


"Al?" 


"Apa sih?" Alano terpaksa menoleh ke belakang karena tiba-tiba saja Freya menghentikan langkahnya. 


"Capek. Lo pikir jalan ditarik-tarik gitu nggak capek. Gue mau-" 


Alano mendekat dan langsung menggendong Freya tanpa berkata apa-apa. 


Wajah cemberut Freya langsung berubah 180 derajat ketika tubuhnya sudah berada dalam gendongan Alano. Ia bengong sekaligus terkejut atas tindakan spontan yang Alano lakukan. 


"Apa ini, apa yang lo lakuin. Turuni gue nggak?!" ancam Freya karena sejujurnya perasaannya mendadak tak karuan. 


Alano tampak acuh dengan ucapan Freya, bahkan ia hanya fokus menatap ke depan. 


"Gue bilang turunin gue!" bentak Freya sambil memukul-mukul punggung Alano, tapi apa itu berhasil mengusik Alano. Tidak sama sekali, Alano tak terpengaruh meski suara Freya sangat mengusiknya. 


Freya tersenyum sengit, ia benar-benar tidak bisa menebak apa yang ada di pikiran Alano. Pria dingin itu selalu punya cara tersendiri untuk membuatnya bingung dan juga kesal.


Tepat sesuai ucapannya, Alano menurunkan Freya di depan pintu utama rumah mereka. 


Lagi-lagi Alano hanya menghela napas usai menurunkan Freya. Selebihnya ia hanya meregangkan otot-otot tubuhnya lalu melenggang pergi tanpa penjelasan apa-apa.


Freya menggeleng tidak mengerti. Sementara Bi Irma yang menghampirinya mulai panik. Ia berpikir Alano menggendong Freya karena gadis itu terluka, tapi setelah Bi Irma menanyakan sendiri pada Freya, jawabannya membuatnya ikut tercengang. 


"Non Freya habis jatuh ya, jatuh dimana Non.. Mana yang luka biar bibi obati." 


Freya menggeleng dengan ekspresi bodoh. 


"Maksudnya Non Freya nggak jatuh. Terus tadi…" 


Freya sudah berjalan meninggalkan Bi Irma sebelum asistennya itu selesai berbicara. 


Sementara Bi Irma masih menunjuk-nunjuk tempat dimana Freya diturunkan sampai mengamati kepergian Freya sekarang, tapi ia benar-benar tidak menemukan jawaban atas apa yang baru saja terjadi.


"Ada apa ini, apa aku salah liat." Bi Irma mengucek matanya untuk mengetes jika penglihatannya memang masih berfungsi. 


Hingga akhirnya Bi Irma menyunggingkan senyumnya sambil menjentikkan jari. Ia seolah sudah menemukan jawabannya.


"Uhhh romantisnya. Semoga seterusnya seperti ini, jangan lagi ada berantem-beranteman. Bibi kan juga pengen liat Tuan Alano junior," ucapnya sambil terkekeh saat membayangkan sebuah bayi mungil hadir di rumah ini.


BERSAMBUNG...

__ADS_1


__ADS_2