
Saat Alano sedang dalam perjalanan pulang ke rumah, tanpa sengaja ia melihat mobil Jasmine terparkir di pinggir jalan.
Alano melirik sekilas untuk memastikan apakah benar mobil berwarna merah itu adalah milik Jasmine. Dan begitu Alano melihat Jasmine tengah berdiri di depan mobil dengan raut wajah gelisah, Alano segera menepikan mobilnya.
"Mobilnya kenapa Jas?" tanya Alano saat menghampiri Jasmine.
"Nggak tau Al tiba-tiba mogok."
"Udah panggil orang bengkel belum?"
"Udah, mereka bilang lagi otw. Kamu ini mau pulang?" tanya Jasmine.
"Iya." Alano menatap ke langit, awan sudah mulai gelap pertanda jika sebentar lagi akan turun hujan. Ia tidak mungkin tega untuk meninggalkan seorang gadis menunggu sendirian. "Aku anter pulang ya, kayanya sebentar lagi bakalan hujan?" lanjut Alano.
"Nggak usah Al, kasihan Freya udah nungguin kamu di rumah. Aku bisa naik taksi kok."
Seperti sebuah doa, tak lama setelah itu tiba-tiba rintik-rintik hujan mulai membasahi bumi.
"Tu kan, ayo. Meskipun kamu nolak aku tetep akan seret kamu buat masuk ke mobilku."
Jasmine berdecak pelan sambil tersenyum. Ia tidak punya pilihan lain selain mengikuti ajakan dari Alano.
"Kamu berencana buat stay disini atau cuma sementara Jas?" tanya Alano untuk memecah kesunyian.
"Belum tau, tapi kalau dipikir-pikir aku sudah terlanjur nyaman di Jerman. Tapi ya nggak tau kedepannya gimana. Untuk saat ini aku hanya ingin menikmati masa liburanku di Indonesia."
"Apa kamu pernah memiliki kekasih disana. Bukan maksud aku buat ikut campur soal urusan pribadi kamu, tapi kalau boleh jujur aku sendiri belum bisa lupain kamu."
"Al, jangan becanda deh."
"Kamu masih inget Justin nggak? Tanya aja sama dia apa aku pernah mengencani seorang wanita. Anehnya aku sama sekali tidak tertarik dengan wanita manapun."
"Bagaimana dengan Freya. Apa yang membuat kamu akhirnya jatuh cinta sama Freya?"
"Freya…" Alano menyunggingkan senyumnya. "Dia gadis yang unik, keras kepala sama sepertiku." lanjut Alano asal.
"Oh.. Jadi kamu lebih suka cewek yang keras kepala?" goda Jasmine.
__ADS_1
"Maksudku bukan itu..." jawab Alano malu-malu karena ia sudah keceplosan.
'Ahh, kenapa gue ngomong kaya gitu. Jelas-jelas gue sukanya sama lo yang penyabar dan perhatian,' batin Alano kesal.
Saking asiknya mereka mengobrol, tak terasa mobil Alano sudah mendarat di depan rumah Jasmine.
"Masuk dulu yuk Al?"
Suatu keberuntungan bagi Alano karena dipersilahkan untuk masuk. Sebenarnya ia memang masih ingin berlama-lama dengan Jasmine, tapi jika Jasmine tidak mengajak tentu Alano tidak mungkin berani untuk mengatakannya.
Alano mengangguk dan mulai mengikuti langkah Jasmine.
***
Di rumah, Freya sibuk berjalan kesana-kemari sambil terus melirik ke arah jendela. Ia gelisah menunggu Alano yang sampai sekarang belum terlihat batang hidungnya. Padahal pria itu selalu pulang tepat waktu.
"Lo kemana sih Al, jangan bilang kalau lo marah sama gue terus lo nggak mau pulang," gerutunya. "Tapi nggak bisa gitu, gimanapun lo tetep harus pulang."
"Non Freya kenapa sih, bibi liatin dari tadi mondar-mandir kaya setrikaan. Lagi nunggu Tuan ya Non?" tanya Bi Irma yang selalu tiba-tiba muncul dan merecokinya.
"Siapa bilang, aku itu lagi nyari jepit rambut. Kayanya tadi jatuh disekitar sini deh," kelak Freya sambil berpura-pura mencari sesuatu di lantai.
Sebenarnya Bi Irma bertanya seperti itu hanya ingin mengetes Freya apakah gadis itu sungguh kehilangan jepit rambutnya atau ia hanya mencari alasan karena malu untuk mengakuinya.
"Nggak usah. Udah ah pergi aja, jepit rambutku juga masih masih banyak." Freya sudah mengerucutkan bibirnya lalu menaiki tangga dengan tergesa-gesa.
Sementara Bi Irma masih menertawakan Freya sambil memandangnya pergi. Tingkah Freya memang mudah ditebak, maka tak heran jika Bi Irma sangat suka menggodanya.
"Bibi itu lama-lama nyebelin ya. Kenapa dia selalu godain gue, mana ucapannya selalu bener lagi. Kalau gini terus kan gue bisa ketauan."
Freya menutup pintu kamarnya lalu tak lupa menguncinya agar Bi Irma tidak bisa lagi mengganggunya.
Freya berjalan ke arah jendela lalu membuka tirainya. Tetap saja Freya tidak bisa berhenti memikirkan Alano, ia mungkin tidak akan bisa tidur sebelum melihat Alano.
"Lo itu kalau mau pulang telat harusnya kabarin gue. Apa susahnya sih cuma ngomong." Freya terus menggerutu menyalahkan Alano atas kecemasannya. Namun tetap saja, hanya menunggu tanpa kepastian membuat Freya semakin bertanya-tanya.
Saat Freya sibuk mengomel sendiri tiba-tiba ponselnya berdering. Freya meliriknya dengan penuh semangat dan secepat mungkin meraihnya. Ia berharap jika Alano akan memberinya kabar. Namun ternyata yang menelponnya bukanlah Alano melainkan Mesha.
__ADS_1
Freya mengangkatnya dengan malas. "Ada apa Sha."
"Napa suara lo gitu, nggak suka gue telfon?"
"Bukan nggak suka cuma waktunya nggak tepat."
Mesha menghela napas panjang karena jawaban Freya ikut membuat moodnya berantakan.
"Lo sadar nggak Frey kalau hidup lo itu justru makin kacau setelah nikah. Udah deh gue tutup aja telfonnya. Bye!"
"Eh main matiin aja. Emang hidup gue doang yang kacau, hidup lo juga, hidup Alano, hidup semua orang," Freya memaki ponselnya seolah menganggap benda itu adalah Mesha. "Ashh bodo!" umpatnya kemudian sambil mengacak-acak rambutnya.
Freya menjatuhkan bokongnya di kasur usai melempar ponselnya.
"Ini semua gara-gara Alano. Ahhh," keluh Freya dengan suara lemah sambil membaringkan tubuhnya.
Saat Freya hampir putus asa karena berdebat dengan dirinya sendiri, tiba-tiba telinganya mendengar sesuatu yang sejak tadi sudah ia nantikan. Yakin jika kali ini feeling nya tidak akan salah, Freya segera bangkit dan berlari menuju jendela.
Senyum Freya mulai mengembang saat sorot matanya menatap sesuatu yang ada di bawah. Kecemasannya pun ikut sirna, namun hal itu tidak bisa meredam pikiran buruk yang terlanjur sudah berkembang di otak Freya.
Senyumnya kini hilang berganti dengan wajah masam yang siap ia tunjukkan pada Alano.
Freya bergegas keluar, lalu ketika ia sedang menuruni tangga, Alano tiba-tiba muncul di balik pintu utama.
Mereka saling menatap untuk sesaat, namun Alano segera mengalihkan pandangannya dan melanjutkan langkahnya seolah tidak terjadi apa-apa. Padahal jelas, Freya turun karena ia ingin tahu apa yang menyebabkan Alano pulang terlambat.
"Apa? Dia pergi gitu aja tanpa jelasin apa-apa sama gue." Freya tersenyum sinis. "Bener-bener nggak ada gunanya gue ada disini."
Dengan perasaan kecewa Freya membalikkan badannya untuk kembali ke dalam kamar. Ia berjalan pelan seperti seseorang yang kehilangan tenaganya. Kali ini ia benar-benar tersinggung dengan sikap Alano sebab sedikitpun Alano tidak menganggapnya ada di hidupnya.
...BERSAMBUNG...
Hai haloo😊
Gimana kabar kalian semua..
Kasih semangat yuk, author butuh dukungan dari kalian..
__ADS_1
Oh iya author mau ngingetin lagi nih untuk terus like, komen dan masukkan novel ini ke daftar favorit kalian.
Miss You😍😍