My Husband My Enemy

My Husband My Enemy
Sedikit kebohongan


__ADS_3

Sekelebat ingatan Al tentang ucapan Dilla tiba-tiba terngiang di pikirannya. Al baru menyadari jika ucapan Dilla mungkin ada benarnya. Sesegera mungkin Al bergegas untuk pergi ke cafe itu. Ia perlu tahu Freya pergi dengan siapa sampai-sampai istrinya itu tidak mengangkat teleponnya.


Ketika Al sudah berlalu cukup jauh, Bi Irma baru menyadari jika ponsel Al masih tergeletak di atas sofa. Lalu Bi Irma berlari mengejar Al untuk menyerahkan ponsel itu, namun sayangnya mobil Al sudah meninggalkan halaman rumah.


"Tuan.. Tuann mau kemana," teriak Bi Irma memanggil Al. "Baru juga masuk udah main pergi lagi. Mana hp-nya ketinggalan," gerutu Bi Irma sambil kembali membawa masuk ponsel milik Alano.


Dalam perjalanan ke cafe, Al mulai menebak-nebak mengenai keberadaan Freya di cafe itu. Dan saat pikirannya menjadi kacau, Al mencoba menenangkan dirinya dengan meneguk air mineral yang ada di mobilnya.


"Daripada gue mikir macem-macem lebih baik gue telfon Freya, mungkin kali ini akan dia angkat."


Al meraba-raba saku celana, namun ia tidak menemukan ponselnya. Sekali lagi ia berusaha mencari di atas dashboard mobilnya hingga di bawah kakinya, namun ponsel itu juga tidak berada disana.


"Siall, kenapa nggak ada. Apa mungkin ketinggalan di rumah."


Satu-satunya alat komunikasi yang bisa ia gunakan kini tidak ada, jadi tidak ada pilihan lain bagi Al selain menambah kecepatan mobilnya agar ia bisa segera sampai.


***


Masih di tempat yang sama, Freya dan Naufal sedang berbincang serius. Mereka terlihat belum ingin mengakhiri obrolan, meski waktu semakin larut.


"Freya, kamu nggak perlu khawatir, aku tetep ada di pihak kamu dan juga Pak Hartono. Jadi kamu nggak perlu sungkan untuk bilang ke aku kalau misal kamu ada masalah, aku siap membantu kamu kapanpun kamu butuh."


"Makasih ya Fal, pilihan papa memang selalu tepat. Kalau misal pengacara papa nggak sejujur kamu, mungkin sekarang hidup aku dan papa sudah terancam dengan keberadaan Tante Citra."


"Ya udah, kita bahas masalah ini nanti lagi. Sekarang kamu makan dulu, keburu dingin lo makanannya."


Freya mengangguk, "oh iya, sampai lupa. Selamat makan," ucap Freya sambil menyendok makanannya.


Al akhirnya tiba di cafe itu. Dengan tidak sabaran Al segera melangkah masuk. Di dalam Al celingukan mencoba mencari keberadaan Freya karena ia sendiri tidak tahu apakah Freya benar ada disini atau tidak.


Saat Al masih berdiri sambil mencari keberadaan Freya, tanpa sengaja Naufal melihat Al.


Naufal yang tidak ingin ada salah paham diantara dirinya dan juga Al, ia segera memberitahu Freya.


"Frey, Al ada disini. Aku rasa dia lagi nyariin kamu," bisik Naufal pelan.

__ADS_1


"Masa, dimana?" jawab Freya sambil menolehkan kepalanya ke belakang, namun sebelum Freya belum sempat melihat Al, Naufal lebih dulu menahan kepala Freya sehingga dari jauh terlihat seperti sedang memegang pipi Freya.


"Jangan noleh ke belakang nanti Al bisa tau."


"Terus aku harus gimana sekarang." Freya sudah panik, ia tidak menyangka jika dirinya akan terjebak dalam situasi seperti ini.


"Lebih baik sekarang kamu pergi dari sini sebelum dia liat kamu. Kamu bisa lewat pintu samping. Kamu jalan yang tenang dan jangan panik, oke?"


Freya segera mengambil tasnya dan mengikuti instruksi dari Naufal.


Sebelum Freya berdiri, rupanya Al sudah melihat keberadaan Naufal. Awalnya Al tidak begitu memperhatikan Naufal, tapi karena wanita yang ada di hadapan Naufal cukup mirip dengan Freya, Al akhirnya berniat untuk menghampiri Naufal. Ditambah lagi adegan yang baru saja di perlihatkan oleh Naufal bersama wanita itu sedikit mengusik hatinya.


Belum sempat Al melangkah, Freya sudah lebih dulu berdiri dan segera menghilang dari cafe itu.


"Loh, kok cewek itu pergi. Aku harus kejar dia," gumam Al.


Naufal segera memanggil Al ketika Al ingin melangkah menyusul Freya. "Hai, kamu lagi nyari siapa disini?"


"Apa urusannya sama lo?" ketus Al.


"Cewek tadi siapa, sekilas mirip Freya. Lo nggak lagi jalan sama istri orang kan?"


Naufal tertawa mendengarnya. "Istri kamu, yang bener aja. Lagian meskipun aku mau sama Freya belum tentu dia juga mau sama aku, iya kan?"


"Kurang ajar!" Al langsung menarik kerah baju Naufal dan hampir saja ia akan melayangkan satu pukulan ke pipi Naufal, tapi segera ditahan oleh salah satu pengunjung yang ada disana.


"Jadi maksud lo, lo suka istri gue, gitu?!" bentak Al dengan kemarahan yang sudah meluap-luap.


Seorang pelayan segera menghampiri Naufal dan juga Al.


"Mas ini ada apa ya kalau berantem jangan disini, ganggu pengunjung yang lagi makan, tegur pelayan itu.


Merasa jika dirinya sudah menarik perhatian orang banyak, Al segera melepaskan tangannya dari baju Naufal. Tanpa berkata apa-apa Al segera meninggalkan cafe itu.


"Mas nggak papa kan?" tanya pelayan cafe tadi pada Naufal.

__ADS_1


"Nggak papa mas, maaf kalau saya sudah membuat keributan disini."


"Kalau gitu saya permisi dulu mas."


"Oke silahkan."


Usai merapikan kemejanya, Naufal langsung menghela napas panjang. Bagi Naufal, ia lebih baik di pukul oleh Al daripada harus membuat rumah tangga mereka dalam masalah. Apalagi hal itu akan menyakiti Freya, Naufal sama sekali tidak ingin membuat Freya menderita. Seujung kuku pun Naufal tidak akan pernah membiarkan hal itu terjadi.


***


Disisi lain Freya sudah sampai di rumah setelah menaiki ojek online. Untungnya ia punya inisiatif untuk naik ojek, jika tidak mungkin ia akan terlambat sampai di rumah dan membuat Al semakin mencurigainya.


"Loh loh loh.. Non Freya darimana, kok tumben baru pulang," tanya Bi Irma usai membukakan pintu untuk Freya.


"Bibi bisa bantuin saya kan. Please bi, ini tentang hidup dan mati saya."


"Non Freya ini kenapa sih, pulang-pulang kok ngomongin hidup dan mati. Duduk dulu Non, tenangin diri dulu baru bicara pelan-pelan." Bi Irma menuntun Freya untuk duduk di sofa.


Freya menceritakan semuanya pada Bi Irma tanpa ada yang ia tutup-tutupi. Ia sudah sangat mempercayai Bi Irma, jadi menurutnya tidak salah jika ia berbagi rahasia pada asisten rumah tangganya itu.


"Non Freya tenang aja, bibi pasti bantuin Non Freya. Bibi juga nggak bakal rela kalau nenek lampir itu berani macem-macem sama Non Freya."


Nenek lampir yang disebut Bi Irma adalah Citra.


Freya segera mengganti pakaiannya dan langsung berbaring di tempat tidur. Dengan begitu Al akan mengira jika dirinya sudah tidur dan tidak akan bertanya yang macam-macam.


'Maafin aku Al karena aku harus berbohong sama kamu. Tapi kamu nggak usah khawatir, suatu saat aku akan cerita semuanya ke kamu setelah aku berhasil mengungkap semua kejahatan Tante Citra,' batin Freya sebelum ia memejamkan matanya.


BERSAMBUNG...


Makasih ya karena kalian tetap stay disini.


Jangan lupa untuk terus dukung aku dengan cara kasih like, komen, dan vote sebanyak-banyaknya.


Hadiahnya juga ditunggu ya (terlalu berharap😁)

__ADS_1


__ADS_2