My Husband My Enemy

My Husband My Enemy
Pesona seorang Stev


__ADS_3

"Kita harus bicara Al, ini penting."


Semua nampak terkejut, Al pun hanya bisa bengong di hadapan semua bawahannya. Hingga kemudian Freya menarik tangan Al dan membawanya keluar.


Toni segera mengambil alih tempat Al, ia sudah berdiri di depan untuk menggantikan posisi Al.


"Mohon maaf untuk sementara rapat akan ditunda hingga ada pemberitahuan lebih lanjut dari Pak Al. Sekali lagi saya mohon maaf atas ketidaknyamanan kalian."


Toni bergegas menyusul Al usai menyampaikan hal itu. Semua orang yang ada di ruang meeting pun ikut keluar dengan ekspresi kesal. Mereka tidak menyangka jika agenda penting itu harus tertunda karena masalah pribadi.


"Kenapa Bu Freya bisa bersikap seenaknya begitu, bagaimana jika Pak Reno tau, dia pasti marah besar dan lagi lagi Pak Al yang kena marah."


"Betul kamu, Bu Freya memang kekanak-kanakan."


"Kira-kira Bu Freya marah kenapa ya, apa jangan-jangan..."


"Hustt!! Jangan-jangan apa, ndak usah ngawur kamu. Nanti kalau Pak Al atau Bu Freya denger, bisa dipecat kamu."


Beberapa orang nampak sibuk menggosipkan Al dan juga. Beberapa dari mereka cenderung tidak menyukai Freya dikarenakan pernikahan mereka yang begitu mendadak, dan juga selama ini mereka belum terlalu mengenal seperti apa sosok istri atasan mereka.


Freya baru melepaskan tangan suaminya usai mereka sampai di ruangan Al.


"Frey, kamu nggak bisa dong main tarik gitu aja, aku lagi ada meeting loh." Al nampak kesal namun ia tetap menjelaskan dengan kata-kata lembut.


"Lebih penting mana pernikahan kita sama meeting kamu?!" sergah Freya seolah menantang.


"Maksudnya apa, kenapa kamu menghubungkan masalah pekerjaan dengan pernikahan kita?"


"Al.. papa udah tau soal pernikahan kontrak kita dan sekarang papa lagi marah besar. Aku udah coba buat jelasin ke papa, tapi dia tetep nggak mau denger. Sekarang kita harus gimana Al, gimana kalau papa nyuruh kita buat pisah?"


Bagai tersambar petir di siang bolong, Al langsung membelalakkan matanya. Ia syok mendengar ucapan Freya apalagi mereka sendiri bahkan sudah melupakan tentang pernikahan kontrak itu.


"Kok bisa, papa tau dari mana?" tanya Al.

__ADS_1


"Aku nggak tau, tiba-tiba aja papa dateng ke rumah dan langsung ngomong kaya gitu. Papa juga nggak mau bilang dia tau dari siapa."


"Nggak ada orang lain yang tau selain kita kan?" tanya Al berusaha untuk menggali ingatan Freya.


"Ya cuma Bi Irma sama Mesha doang. Aku mana berani ngasih tau ke yang lain."


Al menyipitkan matanya saat memandang Freya, ia seperti mencurigai salah satu nama yang disebut oleh Freya.


"Kamu jangan nuduh Mesha ya, dia nggak mungkin bocorin itu ke papa. Aku tau banget siapa Mesha," ucap Freya cepat.


"Terus siapa?"


"Sekarang masalahnya bukan sama orang itu tapi gimana caranya jelasin ke papa. Aku mau kita ke rumah papa sekarang," tegas Freya.


"Sayang kerjaan ku masih banyak, belum lagi aku harus ngelanjutin meeting yang tadi ke pending."


"Jadi gitu. Kamu nggak perduli kalau semisal papa nyuruh kita buat pisah?" tuduh Freya sambil melipat kedua tangannya di dada. Matanya pun sudah melotot mengisyaratkan jika ia benar-benar tidak terima dengan jawaban Al.


"Kelamaan!!" pekik Freya.


"Atau gimana kalau aku telpon papa sekarang, aku jelasin ke-"


"Ya udah lah, urusin aja kerjaan kamu, nggak usah lagi perduliin aku!" sungut Freya dengan lirikan tajam.


Freya sudah hampir melangkahkan kakinya keluar, lalu tiba-tiba Al menarik tangannya.


"Oke, kita ke rumah papa sekarang. Kamu puas?" tukas Al sambil menyunggingkan senyumnya di depan wajah Freya.


"Bodo!!" jawab Freya sambil berjalan cepat. Wajahnya sengaja ia buat cemberut, namun sejujurnya ia sedikit tersenyum begitu Al sudah tertinggal di belakangnya.


"Ngambek." Al berusaha untuk mengejar Freya.


****

__ADS_1


Prisa dan Stev sama-sama terdiam sambil sesekali mencuri pandang satu sama lain. Mereka nampak canggung duduk berhadapan di ruang tamu, apalagi kesan pertama di pertemuan mereka sama sekali tidak mengenakan untuk Prisa.


"Ngomong-ngomong kamu udah lama di dunia entertaint?" tanya Stev untuk memecah kesunyian.


"Lumayan. Tapi sebenarnya dari kecil aku udah sering ikut casting cuma belum beruntung, tapi akhirnya usahaku nggak sia-sia. Bisa dibilang kalau tahun ini adalah tahun kebangkitan gue."


"Gue salut sama orang yang gigih kaya lo. Mereka punya demage-nya sendiri yang bikin sebagian orang kagum dan pengen kenal lebih jauh."


"So..."


Prisa sepertinya memahami maksud ucapan Stev namun ia mencoba membuat Stev untuk menjelaskan secara lebih jelas.


"So, gue tertarik sama lo."


Prisa seperti tak percaya dengan apa yang baru saja ia dengar. Apalagi dengan gaya to the point yang ditunjukkan oleh Stev membuat Prisa bertanya-tanya. 'Gila ya ni cowok, beraninya dia ngomong gitu di depan gue. Dia pikir dia cowok paling oke kali ya?'


"Prisa... haloo?" Stev melambaikan tangannya di depan wajah Prisa karena gadis itu terlihat sedang melamun.


"Hah?" celetuk Prisa saat lamunannya buyar.


Stev malah tersenyum, lalu ia berusaha untuk mencairkan suasana dengan berkata, "Nggak usah terlalu dipikirin, lagian pasti banyak lah orang yang tertarik sama kamu. Seorang artis, model, dan bintang iklan, nggak perlu ada yang diraguin lagi."


Prisa memang sudah terlalu sering mendengar pujian dari para fans-nya, namun dari cara Stev berbicara entah kenapa Prisa merasakan ada sesuatu yang lain, yang membuat dirinya merasa bangga atas apa yang sudah ia gapai. Itu seperti pujian yang berhasil membuat hati Prisa berbunga-bunga, karena selama ini orang-orang terdekat Prisa jarang mengakui kelebihannya seperti yang Stev ucapkan.


Prisa tidak bisa menyembunyikan rona merah di pipinya. Secara tidak langsung ia sudah memberikan sinyal hijau pada Stev untuk mendekatinya.


Pesona Stev memang tidak bisa lagi dibantah. Sejak jaman SMK, Stev memang terkenal pandai untuk menaklukkan hati wanita. Parasnya yang tampan, dan juga status sosial yang tinggi membuat para wanita bertekuk lutut setiap kali Stev mendekati mereka. Namun hanya ada beberapa wanita yang beruntung yang berhasil dimiliki oleh Stev.


Itulah alasan kenapa dulu Freya hanya berani untuk memendam perasaannya karena ia menyadari jika dirinya tidak sepadan jika disandingkan dengan Stev. Kepopuleran Stev di sekolah membuat Freya berkecil hati, apalagi dulu ia hanyalah seorang gadis sederhana yang hobinya belajar dan membaca buku.


Namun kini, Freya sudah tumbuh menjadi gadis yang cantik dan elegan. Usai menjadi istri seorang Shaquel Alano, perlahan Freya mulai merubah penampilannya. Bukan karena paksaan namun Freya sendiri bisa menilai bagaimana anggun dan elegannya dia saat bisa bersanding dengan Al dengan pakaian yang sesuai.


BERSAMBUNG...

__ADS_1


__ADS_2