My Husband My Enemy

My Husband My Enemy
Bocor


__ADS_3

Masalah yang menimpa Freya secara tidak langsung justru semakin memuluskan rencana Citra. Jika hubungan antara anak dan ayah itu semakin renggang maka jalan Citra untuk mendapatkan harta Hartono akan semakin mudah.


Citra nampaknya sedang bahagia. Sambil memegang segelas minuman di tangannya, Citra melamun ke arah jendela dengan senyum lebarnya.


Tak lama kemudian terdengar dering telepon yang membuat Citra langsung mengalihkan pandangannya. Di layar itu tertera nama dengan inisial AJ.


"Lakukan sekarang," perintah Citra pada orang tersebut.


Tak butuh kalimat banyak, setelah menyebutkan dua kata itu Citra langsung mematikan sambungan teleponnya.


Sepertinya Citra memang sudah merencanakan sesuatu dengan orang berinisial AJ itu, dan saat ini adalah waktu yang tepat bagi orang itu untuk menjalankan perintahnya.


Entah apa yang akan Citra lakukan, tapi semua ini pasti ada hubungannya dengan Freya.


***


Al dan Freya sedang berjalan keluar kantor. Freya berjalan sedikit lebih cepat di banding Al sementara suaminya itu harus tertinggal beberapa langkah di belakangnya.


Al sudah memperingatkan Freya untuk berjalan santai, namun Freya sama sekali tidak menggubris ucapannya.


Karena kecerobohan dan ketidaksabaran Freya, tiba-tiba heels sepatunya lepas dan Freya hampir saja terjatuh. Tapi beruntung sebelum Freya terjatuh, ada Jasmine yang dengan sigap memegangi tangan Freya.


"Freya kamu kalau jalan hati-hati dong," ucap Jasmine spontan.


"Jasmine.. Untung ada kamu," jawab Freya sambil menghela napas panjang. "Makasih ya udah nolongin aku," lanjutnya.


"Nggak perlu bilang makasih. Ini kamu mau kemana kok kayaknya buru-buru banget."


Al berlari dari belakang dan langsung merangkul pundak istrinya. "Kamu nggak papa kan?"


Freya mengangkat pundaknya seolah tidak suka jika Al menyentuhnya. "Telat," jawabnya dengan ketus.


"Jas kita duluan ya." Al segera menarik tangan Freya tanpa memberikan penjelasan apa-apa pada Jasmine.


"Tap-i..." Jasmine yang awalnya ingin berbicara terpaksa harus mengurungkan niatnya, ia hanya bisa menatap kepergian mereka.


Kesal dengan sikap Al yang asal narik tangannya, Freya segera menepiskan tangan Al begitu mereka tiba di depan lift.


"Kamu napa sih main tarik gitu aja," ketus Freya.


"Tadi kamu bilang harus cepet?"

__ADS_1


"Ya tapi barusan ada Jasmine loh, dia yang udah nolongin aku, nggak sopan banget ditinggal pergi gitu aja."


"Nanti biar aku yang ngomong ke Jasmine."


"Tetep aja aku ngerasa nggak enak. Terus ini gimana sepatu aku?"


Karena terlalu terburu-buru membuat Al lupa jika Freya kehilangan salah satu heelsnya. Bahkan dengan percaya dirinya, ia menarik Freya yang berjalan kesulitan karena tinggi sepatunya yang tidak seimbang.


"Astaga, kenapa aku bisa lupa?"


"Makanya kalau aku ngomong itu di dengerin, jangan asal narik."


"Iya, aku minta maaf sayang. Mau aku beliin sepatu baru atau mau pakai sandal aku yang ada di atas?"


"Sendal kamu, kebesaran dong?"


"Terus mau gimana? Oh iya, deket kantor kan ada mall, kita beli aja daripada harus pulang, nanti kita harus putar balik."


"Serah kamu lah,"


Akhirnya mereka tiba di sebuah pusat perbelanjaan. Freya terpaksa menunggu Al di mobil sementara suaminya masuk seorang diri.


Freya sudah mewanti-wanti pada suaminya untuk segera kembali karena Freya tidak suka menunggu terlalu lama.


Al hanya menoleh sambil mengedipkan satu matanya, dan itu memaksa Freya harus tersenyum sinis. Tingkah konyol Al memang seringkali membuat Freya tersenyum sendiri, jadi itu alasan kenapa Freya tidak bisa marah terlalu lama pada suaminya. Setiap kali Freya mulai mengoceh, maka Al harus bersiap untuk mengeluarkan jurus andalan.


Setelah Al menghilang dari pandangannya, Freya mulai memasang headset sambil membenarkan posisi duduknya. Sepertinya ia sedang bersiap untuk berlabuh ke alam mimpi.


"Harusnya kalau nyuruh aku buat nunggu, dia harus sediain minimal french fries atau es americano," gerutu Freya sambil memejamkan matanya.


Sesampainya di sebuah toko sepatu dengan brand ternama, fokus Al langsung tertuju pada sebuah heels yang terpajang di depan etalase. Tanpa Al sadari, ia sudah menatap lama sebuah sepatu dengan style bagian depan terbuka dan bagian belakang tertutup dengan ankle strap berwarna pink.


Setiap kali melihat warna pink, Al langsung teringat pada Freya karena istrinya itu sangat menyukai warna pink.


"Pilihan anda tepat sekali, ini adalah heels keluaran terbaru dan di Indonesia sendiri hanya tersedia 5 pasang. Apa anda ingin membelikan ini untuk kekasih anda?" tanya salah seorang pelayan di toko itu.


"Bukan, ini untuk istri saya."


"Oh maaf. Sepatu ini pasti sangat cocok di kaki istri anda."


Tanpa melihat harganya, Al langsung memberikan kartu kreditnya pada pelayan itu. Setelah mendapatkan sepatu itu, Al bergegas untuk menemui Freya. Ia sudah tidak sabar untuk memberikan sepatu itu. Namun saat Al tengah berjalan, ia merasa jika ada seseorang yang mengawasinya. Tak hanya itu, beberapa orang juga mulai menatapnya seolah-olah ada sesuatu yang menarik dengan dirinya.

__ADS_1


Al mencoba untuk tidak memperdulikan mereka, ia semakin mempercepat langkahnya. Namun siapa sangka, saat ia ingin menghindar dari tatapan aneh orang-orang di sekitarnya. Tiba-tiba di depan ada segerombolan wartawan yang langsung menghampirinya.


Awalnya Al tidak mengira jika wartawan itu akan berlari kearahnya sehingga ia tidak berniat untuk kabur. Namun begitu tahu, sudah terlambat untuk melarikan diri karena mereka sudah mengelilinginya dari berbagai arah.


"Pak Al bagaimana tanggapan anda mengenai isu pernikahan kontrak antara anda dan istri anda?"


"Pak Al kenapa anda pergi ke toko sepatu seorang diri, untuk siapa sepatu itu?"


"Pak tolong klarifikasi mengenai berita yang tengah beredar?"


"Apa sejak awal anda terpaksa menikah dengan Freya?"


"Apa anda mencintai wanita lain?"


Masih banyak lagi pertanyaan yang digelontorkan ke Al. Bahkan karena saking banyaknya, Al sampai tidak begitu jelas mendengarnya. Al hanya tahu jika masalah pribadinya sudah menyebar luas hingga ke media. Itu artinya memang ada orang dibalik semua ini.


"Sial," gumam Al sambil menerobos barisan awak media.


Dibantu beberapa satpam, Al akhirnya berhasil keluar dari lingkaran wartawan. Namun mereka masih tetap mengejarnya hingga sampai ke parkiran.


Sesampainya di mobil, Al langsung menancapkan gas nya. Freya yang sebelumnya tengah tertidur pun harus dikejutkan dengan kedatangan Al.


"Ashh, kamu kalau mau masuk bilang dulu."


Al tidak menggubris, ia hanya fokus dengan jalanan di depannya.


"Kamu kenapa sih serius gitu, kaya abis dikejar hantu."


"Ini lebih dari hantu."


"Hah, kamu serius lagi dikejar-kejar orang?"


"Gila! mereka sampai buntutin gue."


"Kamu ngomongin siapa sih Al?"


"Itu..."


Freya yang semula menatap Al, tiba-tiba dibuat penasaran dengan lirikan mata Al yang mengarah ke depan, dan sepertinya itu mengarah pada sesuatu yang dia maksud.


Begitu Freya menoleh, ia tidak bisa mengedipkan matanya.

__ADS_1


"Sumpah demi apa!" celetuk Freya saat matanya terbelalak begitu melihat beberapa wartawan mencoba menghadang mobilnya.


BERSAMBUNG...


__ADS_2