My Husband My Enemy

My Husband My Enemy
Kasmaran


__ADS_3

Sambil membawa rantang susun, Freya sudah memasuki lift menuju ke ruangan papa. Ia sangat berharap jika papanya bisa menyukai makanan yang ia bawa. Jujur, seumur-umur baru kali Freya mengantarkan makanan untuk sang papa, maka tak heran jika Freya sangat bersemangat. 


Lift mulai bergerak naik ketika pintu sudah tertutup. Angka demi angka mulai terlewati hingga akhirnya sampailah Freya di lantai 7. 


Jujur ini menjadi kunjungan yang ketiga kalinya bagi Freya setelah ia memutuskan untuk bekerja di sebuah stasiun TV. Alasannya karena Freya tidak ingin nama besar papanya mencampuri karier yang sedang ia bangun dari nol sehingga Freya tidak pernah menunjukkan identitas aslinya papa siapapun. 


Tapi lihat lah sekarang, nama Freya justru terkenal bukan hanya sebagai putri tunggal Hartono Sanjaya, tapi juga sebagai istri Shaquil Alano yang notabene-nya adalah seorang CEO muda yang tampan dan berkharisma. 


Entah ini suatu keberuntungan atau kemalangan untuk seorang Freya. Karena kenyataannya sekarang Freya harus menguburnya mimpinya berkat ketenarannya. 


Meski dulu tak banyak orang yang mengenal siapa Freya, tapi sekretaris pribadi papanya sudah sangat mengenalnya sehingga begitu tahu Freya akan datang, sekretarisnya akan langsung mempersilahkan Freya untuk masuk ke ruangan papanya. 


"Papa dimana?" tanya Freya kepada wanita berusia 30-an bernama Risma, sekretaris papanya yang sudah mengantarkannya masuk ke ruangan papanya. 


"Pak Hartono sedang ada meeting tapi mungkin sebentar lagi akan selesai." 


"Ya sudah kamu boleh pergi sekarang." 


"Baik, kalau begitu saya permisi dulu," ucap Risma sambil berlalu. 


Freya sedang melihat-lihat ruangan itu. Tidak ada yang berubah, ruangan itu masih seperti dulu, bahkan tidak ada yang bergeser sedikitpun. 


Freya berjalan menghampiri meja kerja papanya lalu mengambil sebuah foto yang terpajang di atas meja. Itu adalah fotonya yang diambil ketika ia baru menginjak usia 10 tahun. Freya tampak manis duduk dipangkuan sang mama lalu di belakangnya ada papanya yang sedang merangkul mamanya. 


Freya seakan larut dalam kenangan di foto itu. Ia seakan-akan sedang tertawa riang bersama sama mama sebelum foto itu diambil. 


Itu adalah kenangan yang sangat membekas di hati Freya sehingga ia tidak akan pernah melupakannya meski sudah termakan waktu dan usia. 


 


Saat Freya sedang fokus menatap foto itu, tiba-tiba pintu ruangannya terbuka. Freya pikir itu adalah papanya, tapi ternyata yang muncul justru seorang pria dengan setelan kemeja rapi. 


Mereka tampak sedang saling menatap dengan wajah bingung. Hingga kemudian Freya bertanya lebih dulu. 

__ADS_1


"Anda siapa?" tanya Freya. 


Pria itu tampak mengamati Freya dengan seksama. Entah ia sedang menilai penampilan Freya atau ada sesuatu yang lain, itu hanya Naufal sendiri yang tahu jawabannya. Namun Freya merasa kurang nyaman dengan tatapan itu. 


Sebelum pria itu sempat menjawab, pintu di belakang pria itu tiba-tiba terbuka dan menampakkan wajah Risma, sekretaris Hartono. 


"Maaf Mbak Freya, ini adalah Pak Naufal pengacara yang ditunjuk Pak Hartono untuk menggantikan Pak Wiryanto yang sudah habis masa kerjanya," jelas Risma. 


"Oh begitu, ya sudah aku akan keluar sebentar, kamu bisa tunggu Pak Hartono disini" jawab Freya dengan senyum palsu yang ia tunjukkan pada Naufal. 


Saat Freya hampir sampai di pintu, ternyata papanya sudah masuk lebih dulu. Freya sempat terkejut namun ia kemudian tersenyum hangat sambil memeluk papanya. 


"Kamu udah lama nungguin papa?" tanya Papa Hartono. 


"Belum lama kok. Papa lepasin, malu diliatin orang," bisik Freya pelan. 


Papa Hartono langsung mengarahkan tatapannya pada Naufal yang sedang berdiri tak jauh darinya. Ia kemudian memberinya senyuman sambil melepaskan tubuh Freya dalam dekapannya. 


"Maaf Pak Naufal sudah membuat anda menunggu. Mari silahkan dulu." 


"Saya juga baru sampai Pak," jawab Naufal dengan ramah. 


"Ini adalah putri tunggal saya, namanya Freya. Dia sedikit arogan dan kurang sopan tapi sebenarnya dia gadis yang baik," ucap Papa Hartono dengan kekehan kecil. 


Freya berdecak kesal pada papanya karena selalu saja memperkenalkan dirinya pada semua orang, terlebih sampai harus menjabarkan seperti apa wataknya. Jelas itu menunjukkan jika papanya sedang mencoba untuk mendemokan dirinya. 


"Ck, Pa.. nggak usah berlebihan," rengeknya pada sang papa. 


Freya memilih untuk keluar, percuma saja ia ada di dalam karena Freya juga sama sekali tidak memahami soal bisnis. 


Freya berjalan keluar dari gedung berlantai 10 itu. Ia menghirup udara sambil menikmati angin yang bersemilir menerpa wajahnya seolah-olah ini adalah hari kebebasannya. 


"Akhirnya gue bisa melangkah sampai kesini, sampai lupa rasanya nongkrong di cafe," gumamnya kemudian sambil melangkah menuju mobilnya. 

__ADS_1


Di dalam mobil Freya masih menyimpan satu rantang susun yang rencananya akan ia berikan pada Alano. Dan entah kenapa perasaan Freya berbunga-bunga saat melirik rantang itu. Meski bukan istri sungguhan, setidaknya Freya ingin belajar menjadi istri yang baik. Bukankah itu wajar? 


Freya mengemudi dengan kecepatan sedang sambil menikmati alunan musik yang membuatnya ikut bersenandung. Bahkan kepalanya ikut mengangguk mengikuti irama musik. Sungguh sikap Freya sangat jelas menunjukkan jika ia sedang kasmaran. 


"You got me stuck in your love…"


"I don't wanna go on…"


"Baby i'm so in love with you.."


"In love with you…" 


Andai Freya tidak pergi seorang diri, pasti seseorang yang bersamanya akan menganggapnya gila. Dan Freya sendiri juga mengakui hal itu, ia sampai mengarahkan kaca mobilnya agar ia bisa bercermin dan bertanya pada dirinya sendiri. 


"Apa gue segila ini, apa ini yang dinamakan jatuh cinta. Jika bukan tolong siapapun tampar pipi gue agar gue bisa segera sadar," ocehnya sendiri sambil menatap pantulan wajahnya di spion atas. 


"Ahh, masa bodo dengan cinta. Toh ujungnya pernikahan ini juga bakal berakhir juga. Alano nggak mungkin suka sama lo. Lo itu siapa Freya? Sejauh ini emang pernah ada yang naksir sama lo. Mimpi banget kalau lo mengharapkan cinta dari Alano."


Freya menepuk-nepuk pipinya seolah-olah sedang membangunkan dirinya dalam alam bawah sadar. 


"Lo mabuk ya Frey? Sadar.. Ini masih siang, nggak usah banyak ngayal." 


Freya benar-benar perang batin dengan dirinya sendiri. Disisinya seolah-olah ada sosok malaikat dan iblis yang terus mencoba mempengaruhinya. 


"Kamu udah bener Frey. Cinta bisa datang pada siapa saja termasuk sama Alano, suami kamu sendiri. Sekarang yang harus kamu lakukan adalah mengejar Alano. Tunjukkan sama dia jika kamu layak menjadi istrinya," ucap sosok malaikat yang menyerupai dirinya. 


"Nggak usah berharap terlalu jauh. Udah deh Frey terima aja kenyataan kalau Alano nggak suka sama kamu. Lupain dia dan cari cowok baru yang lebih dari dia," ketus sosok lain yang terlihat seperti iblis. 


"Udah cukup!" teriak Freya karena kesal dengan ucapan-ucapan itu. 


...BERSAMBUNG.....


Penasaran lagu apa yang Freya nyanyikan, nih author kasih judulnya biar kalian bisa ikut ngerasain ada di posisi Freya☺

__ADS_1


Marion Jola-So In Love


Ada yang mau visual Freya? komen dibawah ya😍😍


__ADS_2