
Begitu memasuki rumahnya, Freya langsung menghampiri Prisa dengan wajah penuh amarah.
Ketika Freya sampai di kamar Prisa, gadis itu sedang mengeringkan rambutnya usai mandi. Tanpa berkata apa-apa Freya langsung menyeret tangan Prisa dengan kasar.
"Lo apa-apaan sih, lepasin tangan gue!" Prisa meronta tanpa henti, namun Freya tidak akan mengendorkan tangannya justru ia semakin mengeratkan genggamannya. Tarik menarik pun tak bisa di hindari. Bi Irma yang sebenarnya mengetahui kejadian itu tidak bisa berbuat apa-apa.
"Lepasin nggak, atau gue bakal laporin lo ke papa!" ancam Prisa kemudian.
Freya tak gentar sedikitpun, ia terus melangkah tanpa menoleh ke belakang.
"Freya, lo dengerin gue nggak sih?"
Awalnya Prisa tidak tahu Freya akan membawanya kemana, tapi begitu mereka keluar dari pintu utama Prisa menyadari jika tujuan Freya adalah mengeluarkannya dari rumah ini.
"Lo mau bawa gue kemana Frey, gue bilang lepasin tangan gue!" kecam Prisa penuh tekanan.
Freya baru melepaskan genggamannya usai membuka pintu gerbang. Lalu ia berdiri di pintu masuk sambil berkacak pinggang.
"Kesabaran gue udah abis, lo mau pulang ke rumah, mau tidur di jalan terserah lo. Rumah gue bukan tempat buat pengkhianat kaya lo."
"Pengkhianat? Maksud lo apa?"
"Lo kan yang bilang ke papa?"
"Bilang apa... Oh gue tau, jadi lo berpikir gue yang udah ngasih tau papa tentang nikah pura-pura lo. Entah itu berita dateng darimana yang pasti gue ikut seneng dengernya," ujar Prisa dengan senyum smirk-nya.
"Nikah pura-pura, siapa yang nikah pura-pura?"
Suara itu berasal dari seseorang yang berdiri tak jauh di belakang Freya. Sekilas suara itu nampak tak asing bagi Freya jadi ia bergegas untuk menoleh ke belakang.
"Lo siapa?" tanya Prisa.
Pria itu awalnya tersenyum pada Prisa, namun begitu Freya menoleh kearahnya, senyum itu pudar berganti dengan ekspresi terkejut sekaligus tegang.
"Stev?" ujar Freya.
"Freya?"
"Lo ngapain disini?" tanya Freya yang tak kalah terkejut.
"Gue mau nyamperin Prisa, kebetulan gue yang lusa nganterin dia pulang. Ngomong-ngomong kalian ngapain ribut-ribut disini?" tanya Stev.
Prisa tercengang, ia sama sekali tidak paham dengan apa yang sedang terjadi. Tiba-tiba saja muncul pria yang mengaku sebagai pahlawannya di tambah dia mengenal Freya. Ini bahkan lebih rumit dari dugaannya.
"Tunggu, lo kenal sama Freya?" tukas Prisa.
__ADS_1
"Iya, kita dulu temen SMK," jawab Stev.
"Sempit banget dunia ini," gerutu Prisa.
"Jadi kalian ini..." Stev menggantung ucapannya tepat sebelum Prisa memotongnya.
"Dia kakak aku." Prisa sudah menggandeng tangan Freya meski wanita itu terus menolaknya.
"Apaan sih ini, lepasin tangan gue!"
"Aktinglah sebentar, lo nggak mau kan kalau sampai gue bocorin rahasia lo di depan temen lama lo," bisik Prisa.
"Benarkah, nggak nyangka kalau kita bakal ketemu disini," ujar Stev.
Freya hanya bisa tersenyum dihadapan Stev. Sementara Prisa terus menggandeng tangannya tanpa berniat untuk melepaskannya.
"Kalau gitu ayo masuk, sepertinya banyak yang harus kita bicarakan."
Tanpa persetujuan Freya, Prisa mempersilahkan Stev untuk masuk. Freya sendiri tidak bisa menolaknya karena seperti yang Prisa bilang, gadis itu memegang rahasianya.
Lagi-lagi Prisa diselamatkan oleh Stev, berkat Stev ia tidak jadi diusir dari rumah Freya. Mungkin ini suatu keberuntungan, tapi apapun itu Prisa akan bersikap baik pada Stev.
"Duduk dulu, kamu mau minum apa?"
"Terserah kamu aja," jawab Stev.
Freya yang tak tahan berniat untuk kembali ke kamarnya. Namun saat melewati Stev, pria itu justru memanggilnya.
"Frey kamu mau kemana, nggak mau duduk dulu?"
"Aku mau ke atas sebentar," kelak Freya dan ia bergegas untuk naik ke lantai dua.
Ketika Prisa keluar sambil membawakan minuman untuk Stev, ia melihat Stev tengah mengamati sebuah foto pernikahan yang terpajang di ruang tamu dengan bingkai besar.
"Itu Kak Freya, cantik kan?" ujar Prisa sambil meletakkan minumannya di atas meja.
"Gue baru tau kalau Freya udah nikah."
Prisa menghampiri Stev lalu berdiri di sampingnya. "Jadi kamu nggak diundang?"
"Gue sama Freya emang udah lama nggak ketemu dan kita juga udah lost kontak. Terakhir ketemu waktu gue pamitan mau ke Solo, ke rumah nenek gue."
"Jadi kalian lumayan deket dong."
"Bisa di bilang begitu."
__ADS_1
"Ini diminum dulu." Prisa mempersilahkan Stev untuk meminum minuman yang ia bawa.
Freya turun tak lama setelah Stev mengangkat minumannya. Sambil menenteng tas bermerek mahal, Freya berpamitan pada Stev.
"Aku tinggal dulu ya, ada hal yang harus aku urus," ujar Freya.
"Tapi..."
Freya langsung melenggang pergi seolah ia sengaja menghindar dari Stev.
"Aku mau ngucapin terimakasih karena kemarin kamu udah nolongin aku dan bahkan nganter aku pulang. Aku nggak tau gimana kalau nggak ada kamu." Prisa dengan canggung mengucapkan kalimat itu.
"Lain kali kalau mau ketempat seperti itu ngajak temen, jangan sendirian bahaya."
****
Di sepanjang perjalanan, Freya nampak gelisah. Kemunculan Stev membuat ingatan masa lalunya kembali mencuat. Seperti yang pernah ia katakan pada Jasmine, ia pernah menyukai seseorang namun hanya sebatas memendam perasaan itu sendiri. Dan orang itu adalah Stev.
Empat tahun sudah berlalu, Freya bahkan hampir melupakannya. Namun secara tidak sengaja pria itu muncul dan justru mencari Prisa-adik tirinya.
Untuk sesaat kenyataan ini menyakiti hatinya, namun jika mengingat kembali bagaimana hidupnya sekarang, Freya tidak menyesalinya. Ia sudah memiliki Al, dan masa lalu hanyalah sebatas kenangan.
Freya melajukan mobilnya ke arah kantor Al, dan sesampainya disana Freya langsung mencari keberadaan Al. Setelah sekretaris Al mengatakan jika suaminya tengah meeting, Freya langsung mendatangi ruang meeting.
Sudah berkali-kali Dila-sekretaris Al melarang Freya untuk menemui bosnya sekarang, namun Freya tidak memperdulikannya. Ia tetap melangkah maju.
"Meeting nya akan selesai setengah jam lagi, jadi mohon untuk bersabar Bu." Dila mati-matian untuk menahan Freya, namun Freya tak bergeming sedikitpun.
"Kalau gitu biar saya telepon Pak Al sekarang dan meminta beliau untuk keluar."
Setelah Dila mengucapkan kata-kata itu, barulah Freya menghentikan langkahnya.
"Suruh Al keluar sekarang, ini penting," tukas Freya.
"Baik Bu."
Dengan tangan gemetar Dila berusaha untuk menghubungi Alano, namun ponsel Al tidak bisa dihubungi.
Tanpa menunggu pemberitahuan dari Dila, Freya kembali melangkah maju dan akhirnya berhasil membuka pintu ruang meeting.
Kedatangan Freya tentu mengalihkan beberapa pasang mata yang berada disana. Semua perhatian terpusat pada Freya. Tak satu pun dari mereka yang berani membuka suara usai kemunculan Freya.
"Sayang, kamu ngapain disini?"
BERSAMBUNG....
__ADS_1