My Husband My Enemy

My Husband My Enemy
Ada syaratnya


__ADS_3

Adu mulut pun tak bisa dihindari, sepanjang perjalanan Prisa terus mendesak mamanya untuk berbicara. Namun Citra belum mau membeberkan semuanya pada putrinya.


"Ma, aku tau mama menikahi Om Hartono hanya untuk mengincar hartanya. Tapi jika mama juga menghancurkan hidup mereka, mama terlalu jahat."


"Kamu itu nggak tau apa-apa Prisa, jadi sebaiknya kamu diam dan jangan ikut campur."


"Selama ini aku memang tidak menyukai Freya, tapi bukan berarti aku tidak peduli padanya. A-ku.. aku cuma nggak mau bersikap baik didepannya," ucap Prisa sambil terbata, wajahnya pun mendadak gugup seakan ia kesulitan saat mengucapkan kata-kata itu.


Yah, Prisa terlalu gengsi untuk mengakuinya.


"Bukankah ini yang kamu mau, kamu ingin memiliki Al kan?"


"Aku memang menginginkan Al, aku juga udah berusaha untuk mengejarnya. Namun aku sadar jika sekuat apapun aku mencoba, perasaan seseorang tetep nggak bisa dipaksakan." Prisa lalu menatap mamanya sambil menggenggam lengannya dengan ekspresi memohon. "Ma, jangan hancurin kebahagiaan seseorang demi ambisi mama."


Citra melirik sinis putrinya. "Apa yang gadis itu lakukan sampai bisa merubah pola pikirmu. Apa kamu lupa jika aku ini mamamu. Kamu seharusnya mendengarkan mama bukan dia!"


"Jika mama terus seperti ini, jangan salahin Prisa kalau Prisa nggak ada di pihak mama." Prisa menatap mamanya dengan wajah tegas. Ia ingin menunjukkan keseriusan ucapannya.


"Prisa!" bentak Citra.


****


Setelah menerima telepon dari Toni, Al bergegas untuk ke kantor. Padahal ia baru saja ingin menyantap sarapan yang sudah disiapkan oleh Freya.


"Ada apa Al?" tanya Freya begitu melihat suaminya sudah bangkit dari kursi dengan terburu-buru padahal ia baru mendudukinya.


"Aku harus ke kantor, Toni bilang sudah ada perkembangan mengenai orang yang melaporkan kamu tentang plagiarisme."


"Benarkah, kalau gitu aku harus ikut." Freya pun tak bisa tinggal diam. Kasus ini menyangkut dirinya dan juga karyanya maka Freya harus tahu segalanya.

__ADS_1


"Aku tunggu di mobil, nggak usah lama-lama."


Freya menganggukkan kepalanya, setelah itu ia berlari ke kamar untuk mengambil tasnya.


Sesampainya di kantor, Al langsung mengumpulkan beberapa staff-nya untuk melakukan meeting dadakan. Ia ingin segera mengurus masalah ini agar bisa memulihkan nama baik Freya.


Semua orang sudah berkumpul di ruang meeting. Kali ini Toni, orang yang melakukan penyelidikan atas kasus ini sudah berdiri di depan untuk mempresentasikan temuannya.


"Oke langsung saja ke intinya, saya sudah menyelidiki tentang kasus plagiarisme novel baru kita. Kasus ini bermula dari pengakuan L yang mengatakan jika novel karya Freya Jovanka yang rilis 12 Oktober lalu merupakan novel plagiarisme, hal itu ia katakan karena ia mengunggah novel yang sama satu hari sebelumnya. Namun itu semua tidak seperti yang beredar di media. Karena ini kasus yang sangat sensitif maka saya menyelidiki melalui beberapa jalur dan salah satu saya memeriksa orang-orang internal di kantor ini. Dan wow... saya menemukan hal tak terduga," jelas Toni sambil tersenyum sinis seolah tak percaya dengan hasil temuannya.


Selanjutnya, Toni menayangkan sebuah rekaman CCTV, dan disana terlihat seorang wanita tengah berkutat di layar monitornya pada pukul 10 malam. Hal itu jelas mencurigakan, karena selama ini kantor tidak pernah mempekerjakan karyawannya sampai selarut itu.


"Salah satu tim editor kita terlihat masih bekerja meski saat itu sudah larut malam dan terlihat semua ruangan tampak gelap tanpa ada cahaya sedikitpun kecuali meja dia. Kira-kira apa dia kerjakan?"


"Lalu saya mencoba mencari bukti dan ternyata kecurigaan saya tidak meleset, dia diam-diam mengirimkan file-nya pada malam sebelum novel kita di rilis pada seseorang berinisial L."


"Apa?"


Begitu meeting usai, Toni langsung membawa Al dan Freya untuk menemui editor itu karena sejak tertangkap basah editor itu sudah tidak lagi datang ke kantor.


Mereka bertiga mendatangi rumah Tisya-editor itu. Toni sudah mengetuk pintu beberapa kali, namun tidak ada pergerakan dari dalam, bahkan keadaan di sekeliling rumah itu juga sepi.


"Sepertinya dia sudah pergi," ucap Toni.


"Pasti ada dalang di balik semua ini," gumam Al.


Saat Freya menoleh ke belakang, sekelebat ia melihat Tisya. Gadis itu memakai hoodie biru sambil sesekali menoleh ke belakang, dan begitu tahu jika Freya menatapnya, Tisya segera berlari kencang.


Freya tentu menyadari jika itu memang Tisya dan ia langsung berterteriak memanggilnya. "Tisya!! Al itu Tisya," ucapnya untuk memberitahu Al.

__ADS_1


Mereka berlari mengejar Tisya. Karena jalanan yang cukup ramai, mereka sempat kehilangan jejaknya begitu melewati pertigaan, namun Al berhasil menemukannya karena ia mengejarnya melalui jalan lain. Alhasil, Tisya sekarang sudah tidak bisa kabur lagi. Al sudah menghadangnya di depan sementara Freya dan Toni ada di belakangnya.


"Tisya menyerah lah, sudah tidak ada jalan lagi. Lebih baik kamu katakan siapa yang menyuruh kamu daripada aku harus menyeret kamu ke kantor polisi," ucap Al sambil berjalan menghampiri Tisya.


Tisya berubah pucat, ia sudah dikepung dan kesulitan untuk menentukan pilihannya. Keduanya sama-sama akan menghancurkannya, namun semua akan berakhir begitu Al tahu siapa orang yang sudah memberinya perintah.


"Nggak, aku nggak mau di penjara. Aku cuma.. aku cuma menuruti perintah," ucap Tisya terbata dengan keringat dingin yang sudah bercucuran.


"Katakan siapa yang menyuruhmu, maka dengan begitu aku akan melepaskan mu."


"Jangan! Aku takut.. Dia tidak akan tinggal diam."


"Lalu apa yang kamu mau, keluar kota, atau keluar negeri sekalipun, aku tidak masalah asal kamu mau mengatakan semuanya."


Tisya mulai bimbang, ia tidak bisa melewatkan tawaran Al begitu saja. Apalagi selama ini ia juga sudah cukup lama bekerja untuk Al, rasa bersalah itu tentu akan terus menghantuinya jika sampai kali ini ia memilih untuk mengkhianatinya lagi.


"Apa kamu yakin akan melepaskan penjahat sepertiku begitu saja?" tanya Tisya.


"Tisya, kita sungguh-sungguh ingin menolongmu karena kamu juga diperalat, aku yakin jika sebenarnya kamu juga tidak ingin melakukan ini. Aku mohon bantulah kami," timbal Freya.


Tisya sadar betul akan kesalahannya dan itu sebabnya ia hanya bisa menundukkan kepala dengan mata berkaca-kaca.


"Waktumu tidak banyak, terima tawaranku atau di penjara, semua tergantung dengan jawabanmu," tegas Al.


Al sudah berdiri di dekat Tisya namun wanita itu sama sekali tidak menjauhinya. Ketakutannya perlahan mulai sirna begitu ia mulai mempercayai ucapan Al.


"Aku akan mengatakan semuanya, tapi..."


"Tapi apa?" jawab Al dengan mengerutkan dahi. Ia rasa tawaran yang ia ajukan sudah sangat membantu Tisya, namun rupanya Tisya cukup serakah untuk mengambil keuntungannya sendiri.

__ADS_1


BERSAMBUNG...


__ADS_2