
Setelah berhasil lolos dari kejaran wartawan akhirnya Freya dan Al tiba di rumah Hartono. Mereka sempat tertegun sejenak sebelum memutuskan untuk turun. Tentu saja kejadian tadi membuat mereka syok. Belum kelar masalah satu, sudah datang masalah lain.
"Kenapa malah jadi kaya gini," gumam Freya yang masih tak percaya.
Al menyentuh punggung tangan Freya membuat gadis itu menoleh menatap suaminya.
"Apapun yang dikatakan papa cukup kita dengarkan saja, jangan membuat keributan lain karena ini juga salah kita," ujar Al dewasa.
"Tapi bagaimana kalau-"
"Biar aku yang bicara sama papa, semua akan baik-baik saja." Al berusaha menenangkan Freya dengan mengusap puncak kepalanya.
Usai mendapat anggukan kepala dari Freya, mereka bersama-sama turun dari mobil. Mereka berjalan sambil bergandengan tangan seolah ingin menunjukkan jika mereka tidak bisa dipisahkan.
Orang yang pertama menyambut kedatangan mereka adalah Citra, karena wanita itu memang sudah melihat mereka sejak mobil Al mendarat di depan rumahnya.
"Freya, Al, ayo masuk," ucapnya ramahnya.
"Iya ma," jawab Al, sementara Freya langsung melenggang masuk seolah tidak menganggap kehadiran Citra.
"Mau ketemu sama papa kan, sebentar ya mama panggilin dulu."
"Iya ma," jawab Al lagi disertai anggukan dan senyum tipis.
Tak lama setelah Citra masuk, ada seorang wanita berkisaran umur 30-an keluar sambil membawa minuman.
"Silahkan minumannya Non, Tuan," ucap wanita itu usai meletakkan gelasnya di hadapan Freya dan Al.
Freya memicing menatap wanita itu. "Kamu siapa, Bi Inahnya mana?"
"Saya pembantu baru Non, pembantu yang lama sudah keluar tiga hari yang lalu."
"Keluar kamu bilang?" pekik Freya.
"Freya, kenapa sih?" Al menggenggam tangan Freya untuk menenangkannya lalu ia menyuruh pembantu baru itu untuk kembali ke dalam.
"Al, Bi Inah itu udah kerja lama. Mulai dari aku masih kecil sampai sekarang, nggak mungkin dia tiba-tiba keluar tanpa ngomong sama aku, pasti ada sesuatu yang aku nggak tau," protes Freya.
"Sesuatu apa, apa yang kamu pikirkan."
Itu adalah suara vokal papanya. Pria itu tiba-tiba menyahut ucapan Freya sehingga membuat Freya menoleh segera.
"Papa udah pecat Bi Inah?" tanya Freya sambil berdiri.
"Kenapa kamu begitu peduli sama Bi Inah, sementara papa kamu anggap apa?"
__ADS_1
"Pa..?"
Saat Freya mulai meninggikan suaranya, Al segera menarik tangannya.
"Biar aku yang bicara sama papa," ucap Al.
Terpaksa Freya duduk kembali sambil memalingkan wajahnya.
"Kalian masih berani berpura-pura di depan papa?" ucap Hartono saat menyaksikan Al menyentuh tangan Freya.
"Pa, mungkin dulu Al dan Freya tidak mengira jika kita akhirnya akan seperti sekarang. Kita memang bersalah karena sudah membohongi papa dan seluruh keluarga tapi semua sudah berubah. Aku dan Freya-"
"Sesuatu yang diawali dengan niat berbohong tidak akan berujung baik, kalian tahu itu kan. Dan papa bener-bener kecewa sama kamu Al, bisa-bisanya kamu menikahi anak papa jika kamu tidak mau bertanggung jawab atas apa yang sudah kamu lakukan di masa lalu."
"Dari dulu sampai sekarang papa emang nggak pernah percaya sama omongan Freya, papa lebih percaya pada omongan orang lain. Udah lah Al, percuma ngomong sama papa." Freya sudah menarik tangan Al bermaksud untuk mengajaknya keluar, namun Al menahannya.
"Segera akhiri pernikahan kalian jika kamu masih mau papa anggap sebagai anak," tegas Hartono sambil berjalan meninggalkan mereka.
"Itu tidak akan pernah terjadi," balas Freya sambil menyeret Al keluar.
"Frey jangan memperburuk keadaan, kita bisa ngomong baik-baik sama papa," kata Al.
"Kamu nggak denger papa tadi ngomong apa, dia mau kita pisah Al," sungut Freya sambil terus menarik tangan Al.
"Itu cuma emosi sesaat, sama seperti kamu," bantah Al lagi.
"Al, aku udah bukan anak papa dan yang aku punya sekarang cuma kamu. Tolong jangan pernah berubah, jangan tinggalin aku, jangan ada pikiran untuk berpaling dariku. Aku mohon."
Freya yang awalnya terlihat tangguh pada akhirnya tidak dapat lagi menyembunyikan kerapuhannya saat di depan Al.
Al memeluk istrinya. Ucapan Freya membuatnya tidak bisa lagi berkata-kata. Al bisa memahami bagaimana hancurnya Freya sekarang. Dan ia akan merasa bersalah jika terus menyalahkan Freya atas sikapnya.
"Kamu percaya kan sama aku. Kita bisa jalani ini sama-sama. Sampai kapanpun aku nggak akan lepasin kamu."
***
Prisa sedang berjalan mondar-mandir sambil memegang ponselnya.
Sejak tadi ponselnya terus berbunyi, banyak pesan masuk dari Stev namun ia masih bimbang untuk membalasnya.
Dan yang paling membuat Prisa bingung adalah saat Stev mengirimkan pesan ini, 'Besuk kamu ada acara, mau hangout bareng?'
"Ni orang percaya diri banget sih, tapi ngomong-ngomong dia cakep juga," gumam Prisa saat ia mencoba memperbesar foto Stev.
Tiba-tiba saja ponselnya kembali bergetar saat Prisa tengah menatap fokus foto Stev. Hampir saja ponselnya terjatuh karena Prisa terkejut saat melihat nama yang muncul di notif-nya.
__ADS_1
"Gila, baru juga diliatin udah nongol lagi," gerutu Prisa karena lagi-lagi Stev mengirimnya pesan.
'Dibaca doang. Kalau emang sibuk jawab aja nggak bisa, next time bisa cari waktu lagi.'
Prisa lalu mencoba untuk membalas pesan itu.
'Hangout kemana?' Prisa sudah menuliskan kata-kata itu, tapi ia ragu dan kembali menghapusnya.
"Nggak-nggak, dikiranya gue cewek gampangan."
Lalu Prisa kembali menuliskan sebuah kalimat penolakan. 'Sorry, gue besuk ada acara jadi-'
Dan lagi-lagi Prisa menghapusnya, bahkan sebelum kalimat itu selesai ia tulis.
"Sayang banget kalau tawarannya ditolak, lagian dia bisa gue pamerin sama temen-temen gue. Cowok tampan kaya dia masa mau dianggurin gitu aja."
Setelah sekian lama bergelut dengan tulisan akhirnya Prisa membalasnya.
'Nggak ada, tapi syaratnya harus gue yang nentuin tempatnya.'
'Oke siap, kamu kirim alamatnya. Aku jemput besuk jam 7 malam?'
"Siap-siap gue kerjain lo, siapa suruh berani modusin gue," ucap Prisa diikuti kekehan kecilnya.
Rupanya dari kejauhan gerak-gerik Prisa sedang diawasi oleh Bi Irma. Ketika melihat Bi Irma sedang mengintip sesuatu membuat Pak Karto penasaran sehingga ia dengan iseng mengagetinya.
"Dor.."
"Copot copot copot," ucap Bi Irma latah. "Eh buset, kamu ngapain ngagetin aku."
"Kamu sendiri lagi ngapain, hobi banget ngintipin orang. Matamu bintitan baru tau rasa."
"Suka-suka aku, orang aku ini lagi menjalankan misi dari Non Freya."
"Misi apa to Ma Ma.. Kamu itu ngomongnya udah kaya orang sukses aja."
"Kalau nggak tau itu diem aja, nggak usah ganggu kerjaan orang. Udah sana pergi."
Pak Karto malah senyum-senyum sambil menatap wajah Prisa.
"Kalau misinya ini sih, aku juga mau Ma."
"Sana pergi. Kalau sampai aku ketauan sama Non Prisa, kamu yang akan aku jadiin kambing hitam."
"Cantiknya," celoteh Pak Karto saat matanya sudah menatap kagum pada paras ayu seorang Prisa.
__ADS_1
BERSAMBUNG...