My Husband My Enemy

My Husband My Enemy
Tidak sepantasnya


__ADS_3

Freya mengayunkan langkahnya menuju ke ruangan Alano dengan santai. Tangannya sibuk menenteng rantang susun yang berwarna merah muda, sangat pas dengan suasana hatinya yang kebetulan juga sedang ceria.


Freya melenggang dengan senyum merekah dan penuh percaya diri. Hingga akhirnya ia menghentikan langkahnya begitu Ana-sekretaris Alano memanggilnya. 


"Mbak Freya mau ke ruangannya Pak Alano ya?" 


Perempuan itu menolehkan kepalanya ke arah sumber suara. 


"Iya, dia ada di dalam kan?" 


"Pak Alano baru aja keluar, apa kalian nggak papasan?" 


Freya menggeleng sambil melirik rantangnya. Senyumnya pun pudar bersamaan dengan helaan napas panjangnya, ia seolah kecewa karena ternyata Alano sudah pergi lebih dulu. 


"Ya udah aku nitip ini ya." 


"Iya Mbak." 


Freya sudah membalikkan badannya untuk melangkah pergi, namun tiba-tiba ada yang mengganggu pikirannya sehingga ia harus kembali menoleh ke belakang. 


"Emm.. Kalau boleh tau Alano keluar kemana ya dan sama siapa?" 


"Tadi ada perempuan kesini, kalau nggak salah namanya Jasmine. Terus nggak lama Pak Alano keluar sama perempuan itu. Kalau kemananya saya kurang tau mbak."


"Jasmine?" gumam Freya. 


Setelah melangkah pergi dari hadapan Ana, pikiran Freya mulai menerka-nerka mengenai kedatangan Jasmine ke kantor Alano. Firasatnya mulai berprangka buruk pada mereka berdua. 


"Mereka cuma sahabat, nggak bakal lebih dari itu." Freya meyakinkan dirinya sendiri. 


Sambil mengemudikan mobilnya, Freya mencoba menghubungi Mesha. Ia butuh masukan dari sahabatnya mengenai kedekatan Alano dan Jasmine. 


Sudah hampir 5 kali Freya menghubungi Mesha, tapi belum ada satu pun panggilannya yang terjawab. Meski sudah hampir menyerah, tapi Freya terus mencoba hingga kemudian terdengar suara Mesha. 


"Kenapa Frey, lo tau kan gue lagi kerja," jawab Mesha dengan suara terdengar kesal. 


"Sha ini gawat!" seru Freya berapi-api begitu Mesha mengangkat telponnya. 


"Apa sih Frey, gawat kenapa?" tanya Mesha.


"Mungkin nggak sih kalau Alano punya pacar." 


"Astaga, lo ganggu gue kerja cuma mau nanya soal itu?" seru Mesha yang hampir tak percaya dengan ucapan Freya. 

__ADS_1


"Jawab aja, mungkin nggak?" 


"Jangan bilang kalau lo suka sama Alano?" 


"Jawab dulu Sha?"


"Gue nggak tau," ketus Mesha. 


"Lo pasti tau, lo kan lebih berpengalaman ketimbang gue. Please tolongin gue.."


"Gue juga minta tolong, please dong Frey kalau mau telpon itu tau tempat dan waktu. Lo mau gue dipecat gara-gara pertanyaan lo yang nggak penting ini."


"Ini penting Sha." 


"Sejak kapan Alano jadi berarti buat hidup lo? Udah deh Frey kalau mau konsultasi soal percintaan, lo salah tempat." 


Mesha langsung mematikan ponselnya membuat Freya kelabakan layaknya orang gila. 


"Sha.. Sha..!! Jangan dimatiin, gue belum selesai ngomong!" 


Freya menggeleng tak percaya sambil menyandarkan kepalanya. "Bener-bener lo Sha, lo nggak setia kawan." 


Menghela napas panjang, Freya kembali mengotak-atik ponselnya. Ia sedang dilema apakah harus menghubungi Alano untuk menanyakan pertanyaan yang sama sekali tidak penting itu, atau ia harus menghubunginya untuk menyingkirkan prasangkanya. 


Tapi begitu Freya bertanya pada dirinya sendiri 'apa hak lo nanya-nanya kaya gitu?' 


Namun tetap saja, jika menyangkut tentang kesabaran Freya bukan ahlinya. Ia sudah tidak bisa lagi untuk menahan diri. Ia membuka percakapan terakhirnya dengan Alano, lalu mencoba mengetikkan sesuatu disana. 


'Lo dimana, gue abis dari kantor tapi ternyata lo nggak ada'


Lalu Freya menghapusnya kembali. "Gue kenapa sih, gatel banget," rutuk Freya pada dirinya sendiri sambil membanting ponselnya pelan. 


Tak lama Freya kembali melirik ponselnya yang tergeletak di samping tempat duduknya. Lalu ia mengambil dan mengetikkan kalimat lain. 


'Gue abis ngirim makan siang ke kantor, jangan lupa dimakan ya.'


"Gini nggakpapa kali ya, nggak keliatan banget kan kalau gue kepo sama kehidupan dia?" ujarnya lagi sebelum akhirnya ia menekan tombol kirim pada layarnya.


"Tapi ntar dia kegeeran nggak? Aduhh jangan sampai ketauan kalau gue diem-diem suka sama dia," rutuk Freya lagi.


Saat Freya hendak menghapus pesan itu, ternyata ia sudah lebih dulu menekan ikon kirim. 


"Mampus! Kenapa jadi gini sih." Buru-buru Freya mengetikkan sesuatu di bawah pesannya agar Alano tidak salah paham. 

__ADS_1


"Kebetulan gue juga habis nganter makanan ke kantor papa, jadi gue pikir sekalian aja bawa buat lo. Jadi lo nggak perlu mikir yang macem-macem' 


Detik selanjutnya tubuh Freya lemas, ia seakan sudah terjun bebas ke laut.


"Lo ngapain sih pakai nambah-nambahin chat segala. Kalau gini Alano malah makin curiga sama lo Frey." Freya membentur-benturkan kepalanya di setir mobil sambil mengacak-acak rambutnya. Ia kesal bukan main setelah mendapat ujian bertubi-tubi. 


Belum selesai dengan rasa malunya karena telah mengirim pesan 'sok perhatian' itu, pesan balasan dari Alano seketika membuat dadanya sesak hingga ia seakan kesulitan untuk bernapas. 


'Gue nggak mikir yang macem-macem, tapi tumben aja lo ngirim makanan ke gue. Lo mulai ada rasa ya sama gue?' 


"Kacau.. Bener-bener kacau," kesal Freya.


Freya memutuskan untuk kembali ke rumah. Ia harus menenangkan diri agar ketika bertemu Alano nanti, ia bisa berpikir jernih untuk mencari alibi yang kuat. 


***


Waktu sudah menunjukkan jam dua siang, Alano yang baru tiba di kantor di kejutkan dengan rantang susun yang berada di atas mejanya. Namun ia kemudian teringat dengan pesan teks yang Freya kirimkan. 


Dengan penuh semangat Alano membuka rantang itu. Ia menghirup dalam-dalam aroma yang keluar dari makanan itu yang  sukses untuk memanggil cacing-cacing diperutnya untuk kembali bekerja. 


Meski Alano sudah makan siang di luar, namun begitu melihat makanan yang di bawa Freya ia kembali bersemangat. 


Saking serius dan lahapnya Alano makan, ia sampai tidak sadar jika ada seseorang yang sudah masuk ke ruangannya. 


"Al, lo laper?" tanya Jasmine bengong. 


"Hah!" Alano tentu terkesiap ketuk mendengar suara Jasmine. "Bukan, cuma ini sayang aja kalau nggak di makan." 


"Kamu ngapain balik lagi Jas?" tanya Alano ketika sadar jika sebenarnya Jasmine sudah keluar dari ruangannya. 


"Ini… (Tangan Jasmine mengambil sebuah kaca mata yang ada di sofa) kacamata gue ketinggalan. Tapi ngomong-ngomong itu pasti dari Freya," tebak Jasmine sebelum keluar. 


"Sok tau kamu." 


"Terus siapa, simpenan lo?" ucap Jasmine sambil terkekeh pelan. 


"Kalau ngomong," lirik Alano dengan tajam.


...BERSAMBUNG......



Ini visualnya Freya, cantik banget ya😍 Nyesel kalau Alano sampai sia-siain gadis seperti Freya, iya kan?

__ADS_1


Terus dukung author dengan cara like, komen dan masukkan novel ini ke daftar buku favorit kalian, jangan lupa ya..


Salam rindu dari Haraa Boo😚


__ADS_2