My Husband My Enemy

My Husband My Enemy
Pengakuan


__ADS_3

"Freya, kamu disini?" pekik Naufal yang kebetulan sedang ada di cafe yang sama dengan Freya. 


Freya sedang melamun sehingga ia tidak mendengar pertanyaan Naufal. 


Mesha yang sadar segera menepuk tangan Freya untuk membuyarkan lamunan nya. Lalu Mesha mengkode Freya dengan matanya agar gadis itu mau menengok ke samping kanannya. 


"Eh Naufal. Maaf aku tadi nggak denger kamu ngomong." 


"Kebetulan kita ketemu disini boleh ikut gabung?" tanya Naufal. 


Mesha yang sejak awal sudah tertarik dengan Naufal langsung menyambutnya dengan hangat. 


"Boleh boleh, silahkan," ucap Mesha sambil menarikkan kursi untuk Naufal, sementara Freya hanya mengangguk sambil tersenyum. 


"Oh iya perkenalkan aku Mesha, sahabatnya Freya." Mesha dengan percaya dirinya langsung menyodorkan tangannya begitu Naufal sudah duduk di sampingnya. 


"Naufal."


"Namanya cakep, kaya orangnya," celetuk Mesha dengan senyum malu-malu. 


"Frey, rencananya aku memang ada agenda buat ngundang kamu ke kantor. Kalau kamu ada waktu bisa tolong kabari aku, ini permintaan dari papa kamu," ucap Naufal. 


"Untuk apa ya?" tanya Freya serius. 


Naufal melirik Mesha, menandakan jika perbincangan ini tidak melibatkan orang lain sehingga Naufal tidak bisa mengatakan alasannya. 


"Mungkin bisa kita bicarakan kalau kita udah ada di kantor. Emm.. Boleh aku minta nomor kamu?"


"Dengan senang hati," ucap Mesha tiba-tiba. Rupanya sejak tadi Mesha sudah menopang dagu sambil memandang wajah Naufal. Ia seakan-akan membayangkan jika dirinya lah yang sedang dimintai nomor oleh Naufal. 


"Maklumin aja, dia kelamaan jomblo makanya sedikit geser," kata Freya yang langsung mendapat kekehan dari Naufal. 


Mesha yang tidak terima langsung memukul punggung tangan Freya. "Enak aja lo! Gini-gini gue lebih normal daripada lo. Cinta bertepuk sebelah tangan itu lebih sakit dari apapun Frey, serius?!" 


"Mesha!!" Freya melotot ke arah Mesha. Mulut sahabatnya itu memang tidak bisa di kontrol. Padahal disana ada Naufal, jelas itu akan menjadi tanda tanya besar di benak pria itu. 


Beruntung Naufal tidak menanggapi ucapan Mesha. Sehingga Freya tidak perlu bersusah payah untuk membohongi pria itu. 


Setelah cukup lama mereka berbincang, mereka akhirnya memutuskan untuk pulang. Terlebih Freya juga sudah cukup lama berada di cafe itu. 

__ADS_1


"Kamu bawa mobil sendiri Frey?" tanya Naufal.


"Aku tadi dijemput Mesha jadi pulangnya juga dianter sama dia, memangnya kenapa?" 


"Kalau kamu juga mau bareng nggak papa. Aku bisa nganter kamu kemana pun kamu pergi," goda Mesha. 


"Aku bawa mobil kok, kebetulan ini aku juga mau balik ke kantor. Kalian hati-hati ya." 


"Iya, kamu juga. Makasih udah traktir kita hari ini. Next time giliran aku."


"Bener ya, aku tunggu loh." 


Mesha memberengut melihat keakraban Freya dan Naufal. Dan dari situlah Mesha bisa menyimpulkan jika sebenarnya Naufal tertarik dengan Freya, dan Mesha sudah bisa menebak jika Freya tidak peka akan hal itu. 


"Cowok tadi siapa Frey, kok gue baru tau?" tanya Mesha saat mereka sudah berada di dalam mobil.


"Dia pengacara di kantor papa."


"Tajir dong, ganteng pula. Alamak, itu yang namanya cowok idaman. Kalau lo ketemu dia lagi, ajak gue ya."


Freya terdiam dan kembali fokus pada lamunannya. 


"Siapa," tanya Freya malas. 


"Tuh, Pak pengacara."


"Nggak usah ngaco."


"Dibilangin juga. Gue itu udah berpengalaman soal cowok jadi lo nggak perlu ngeraguin gue."


"Lo pasti nggak percaya sama gue. Tapi ya serah lo deh. Kalau lo nggak mau, itu justru bagus. Jadi mulai sekarang dia milik gue. Lo nggak boleh berubah pikiran, oke?" 


Sesampainya di rumah, Freya langsung disambut dengan tatapan tajam Alano. Pria itu sudah berdiri di bawah tangga sambil memasukkan kedua tangannya di saku celana. 


"Darimana aja kamu, bukannya istirahat malah pergi," ketus Al. 


Freya tidak memperdulikan itu, ia terus melangkah sampai akhirnya ia melewati Alano begitu saja. 


"Jadi diam-diam lo sering ketemu cowok itu. Lo suka sama dia?" tanya Al dengan senyum sinisnya tanpa menoleh ke belakang. 

__ADS_1


Freya menghentikan langkahnya. Ia menarik napas panjang lalu membalikkan badannya. 


"Itu bukan urusan lo." 


"Itu jadi urusan gue karena lo masih istri gue!" bentak Al dengan nada tinggi. 


"Jadi sekarang lo gunain status itu buat ngancem gue. Serah lo Al." 


Saat Freya ingin kembali melangkahkan kakinya tiba-tiba Alano berteriak memanggil namanya. 


"Freya, diam di tempat!" geram Alano. 


Freya tidak menggubris, ia tetap melangkahkan kakinya hingga tanpa Freya ketahui rupanya Alano sudah menyusul langkahnya. Dan tak disangka Alano langsung menarik tubuhnya, menempelkan bibirnya di bibir merah jambu milik Freya. 


Dalam beberapa detik, Alano mulai mengakses bibir Freya. Ia mulai menggila seakan-akan ini adalah balasan atas rasa cemburunya. 


Pikiran Freya ingin menolak, ia ingin menjauhkan diri dari Alano, tapi hatinya berkata lain. Freya tak kuasa untuk melawan hingga perlahan matanya mulai tertutup. 


Freya menikmati itu, ia mengikuti apa yang dilakukan oleh Alano. Ia sudah dikuasai oleh gairah sesaat yang tentu akan membuatnya tersiksa. 


Freya mengabaikan rasa sakit hatinya. Untuk saat ini ia ingin menganggap jika Al adalah miliknya. Meski ini akan berakhir dengan penyesalan, namun setidaknya Al tahu jika dirinya memang benar-benar menginginkan Al menjadi suaminya, bukan sekedar suami bayangan. 


Saat Freya berada di puncak mimpi indahnya, tiba-tiba Alano melepas bibirnya. Alano langsung berlari meninggalkan Freya yang masih terpaku di tempatnya. 


Freya hanya bisa memandang kepergian Al tanpa berniat untuk memanggilnya. 


Setelah sekian detik mematung di anak tangga, Freya kembali melanjutkan langkahnya dengan wajah lesu diikuti oleh senyum getirnya. 


Freya diliputi kebimbangan. Ia tidak mengerti kenapa Al melakukan ini. Dan yang lebih bodoh lagi, ia tidak keberatan dan seakan pasrah atas apa yang akan terjadi. 


Saat tangan Freya sudah memegang gagang pintu, tiba-tiba ada sebuah tangan yang melingkar di perutnya. Freya perlahan menunduk dan ia langsung mengenali siapa pemilik tangan itu ketika Freya memandang cincin yang melekat di jari manisnya. 


Itu adalah cincin pernikahan mereka. 


"Entah kapan semua ini bermula, tapi ada yang berbeda setiap kali aku menatapmu. Berkali-kali aku mencoba untuk menolak perasaan ini, tapi itu semakin tak terkendali saat aku melihat kamu dengan pria itu. Freya, maafin aku." 


...BERSAMBUNG......


Setiap kisah memiliki ceritanya masing-masing. Begitu juga dengan kehidupan Al dan Freya, semua butuh proses☺

__ADS_1


Tetep disini ya😍


__ADS_2