My Husband My Enemy

My Husband My Enemy
Tertangkap basah


__ADS_3

Alano tengah menatap fokus layar monitor nya. Ia tidak ingin melewatkan satu detik pun agar ia bisa mengetahui siapa orang yang telah meneror Freya. 


Tak berselang lama, Alano melotot sambil mendekatkan wajahnya. Ia melihat seorang wanita masuk ke toilet sebelum Freya datang. Itu artinya dia memang sudah mengintai Freya di pesta itu.


Alano mencoba memperbesar layarnya, namun gambar itu tidak terlalu jelas dan wanita yang ada di gambar juga tidak menunjukkan wajahnya karena tertutup oleh topi dan juga masker. Namun dari pakaiannya, Alano tahu jika wanita itu mengenakan seragam pelayan. 


Itu berarti kemungkinannya ada dua, entah dia sengaja menyamar dengan mengenakan pakaian pelayan atau mungkin dia memang seorang pelayan yang sengaja dibayar untuk melakukan hal itu. 


"Apa hanya ini yang kamu dapat, kenapa resolusi gambarnya sangat buruk. Seharusnya mereka bisa memasang kamera CCTV yang lebih bagus dari ini, keamanannya juga sangat payah. Segera hubungi Manajer hotel itu, saya perlu memberikan teguran keras," ucap Alano pada Toni yang kebetulan berdiri di samping kursinya. 


"Baik Bos." Toni sudah membalikkan badannya namun Alano tiba-tiba memanggilnya kembali. 


"Kamu juga harus selidik wanita ini, gimana pun caranya kamu harus segera menemukan dia." 


"Baik Bos." 


***


Di rumah, Freya yang asik menonton serial drama korea tiba-tiba diganggu oleh suara ponselnya. Sebenarnya ia malas untuk mengangkatnya, namun begitu tahu jika yang menghubunginya adalah papanya, Freya meraih ponsel itu dan menjawabnya. 


"Iya pa, ada apa.. Udah kangen ya sama putrinya yang paling cantik se-Indonesia raya," jawab Freya sambil tertawa riang.


"Iya.. Iya.. Makanya papa mau minta kamu untuk dateng ke rumah."


"Kapan pa?" tanya Freya tanpa mengalihkan matanya pada layar TV-nya. 


"Besuk siang. Papa tunggu ya, jangan lupa ajak Al juga, ada sesuatu yang perlu papa bicarain sama kalian," ucap Hartono. 


"Soal apa Pa, terus kalau Al nggak bisa gimana?" 


"Pasti bisa, bilang aja papa yang nyuruh."


"Papa belum jawab pertanyaan Freya, papa mau bicara soal apa?" 


"Kejutan, nanti kita bicarakan di rumah, oke?"


"Ahh papa gitu, bikin penasaran aja." 


"Papa tutup dulu ya, masih ada meeting soalnya." 


"Iya deh." 

__ADS_1


Freya sudah tidak sabar menantikan hari esok. Biasanya jika papanya ingin mengatakan sesuatu secara langsung, itu pasti ada kaitannya dengan suatu hal yang amat penting. Dan sudah lama papanya tidak pernah mengadakan pertemuan seperti ini, terakhir terjadi ketika Freya digosipkan bermalam di hotel dengan Alano. Namun kali ini nada suaranya tidak menyiratkan sebuah amarah. Apa itu artinya akan ada kabar baik?


'Papa mau ngomongin soal apa ya, jangan bilang dia juga mau nanyain soal cucu kaya temennya Al kemarin. Nggak nggak! Gue belum siap denger pertanyaan itu dari papa'


Setiap kali mendengar deru mobil di halaman depan rumahnya maka Freya akan langsung membuka tirai kamarnya. Ia seakan sudah terbiasa dengar suara itu, dan belakangan ini hampir setiap hari ketika Alano pulang kerja Freya akan langsung turun membukakan pintu untuk Alano. 


Entah perasaan apa yang merasuki Freya, tapi sepertinya ia mulai tertarik dengan sosok Alano setelah mendengar cerita dari Jasmine. 


Ceklek, 


Alano langsung nyelonong masuk tanpa menatap wajah Freya. Alih-alih tersenyum pada istrinya itu, pria itu langsung berjalan ke kamarnya dengan wajah masam. 


Freya yang merasa diabaikan langsung menoleh ke belakang dengan dahi berkerut. 


'Bener-bener ya! Dia pikir gue patung apa sampai orang segede gini dilewatin gitu aja. Tau gini biar bibi aja yang bukain pintu,' kesal Freya.


Saat Freya ingin kembali ke kamarnya, Bi Irma tiba-tiba memanggilnya. 


"Tuan kenapa Non, mukanya asem bener kaya kurang jatah," ucap Bi Irma sambil menggodanya.


"Bi Irma apa-apaan sih," ketus Freya. 


"Maaf Non, kan bibi cuma nebak." 


"Tapi tebakkannya nggak masuk akal."


"Nggak masuk akal gimana sih Non, kan Non sama Tuan itu suami istri, sah-sah aja kalau minta jatah, malah itu memang kewajiban istri Non."


"Ya tapi kan aku dan Alano…" 


"Iya bibi tau, tapi bibi berharap suatu saat Non Freya sama Tuan bisa saling mencintai biar bisa…" 


Bi Irma memberi kode pada Freya dengan mengetuk-ngetukkan jari telunjuk kanan dan telunjuk kiri. 


Freya tentu paham dengan gerakan tangan yang Bi Irma tunjukkan. Namun Freya tak ingin menanggapinya. Ia langsung meninggalkan Bi Irma sambil menggelengkan kepala. 


"Liat aja nanti, bibi jamin Tuan Alano bakal cinta mati sama Non Freya. Yang satunya ganteng, satunya cantik. Ahh.. Udah cocok banget," ucap Bi Irma sambil cengengesan dengan gaya leluconnya. 


Freya berjalan mengendap-endap menuju ke kamar Alano. Freya hanya penasaran kenapa Alano kembali jutek padanya, padahal belakangan ini pria itu sudah mulai lunak meskipun sangat pelit berbicara. 


Tanpa sepengetahuan Freya, Bi Irma rupanya melihat gelagat mencurigakan yang ia tunjukkan. Apalagi sekarang Freya sedang berusaha mengintip Alano setelah berhasil membuka pintunya, hal itu tentu akan menjadi bahan candaan untuk Bi Irma. 

__ADS_1


Perlahan Bi Irma mendekati Freya. Ia sudah berdiri persis di belakang gadis itu sambil ikut mengintip ke dalam kamar Alano. 


"Ehemmm.." 


Deg!


Mendengar suara deheman, jantung Freya seakan berhenti berdetak. Dengan gerakan pelan, Freya mulai menegakkan punggung sambil menggaruk tengkuk lehernya meskipun tidak gatal. 


'Mampus gue, kenapa gue bisa ketauan. Gue harus jawab apa sekarang.' 


Freya kelabakan, ia sampai tak berani menoleh ke belakang karena ia pikir Alano sudah memergokinya. 


"Non Freya lagi ngintipin apa? Masuk aja Non, orang udah sah juga," goda Bi Irma.


Freya menghela napas panjang setelah mengenali suara itu. Lalu ia menoleh ke belakang sambil berkacak pinggang. 


Bi Irma yang melihat wajah garangnya Freya mulai ketakutan. Namun sebelum Freya sempat membuka suara, Bi Irma sudah lebih dulu menyelanya. 


"Jangan teriak-teriak disini Non, nanti kedengeran sama Tuan," bisik Bi Irma untuk meredam amarah Freya. 


Sebelum Freya menanggapi ucapan Bi Irma, tiba-tiba mata Bi Irma melotot sambil menggerakkan lehernya seperti sebuah kode untuk menyuruh Freya menoleh ke belakang. Tapi Freya sama sekali tidak mengerti maksud Bi Irma, ia malah balik memelototi Bi Irma. 


"Kalian ngapain di depan kamar saya." 


Gubrak! 


Setelah mendengar suara itu barulah Freya tahu. Ia mencoba mengatur napasnya dan mulai berpikir untuk mencari alasan. 


"Ngapain bi?" tanya Alano pada Bi Irma.


Bi Irma tak punya pilihan selain menjawab pertanyaan Alano. Namun sebelum ia menjawab, Freya sudah memberinya ancaman dengan memelototinya sambil menunjukkan kepala tangannya di dada.


"Itu.. Tuan…" jawab Bi Irma gugup. 


"Itu apa, cepetan ngomong bi," bentak Alano. 


"Non Freya sepertinya mau masuk ke kamar Tuan tapi nggak berani, makanya saya nyuruh dia buat masuk Tuan," jawab Bi Irma dengan suara pelan karena ia juga takut dengan tatapan Freya. 


"Bibi!!!" geram Freya tanpa suara. 


"Maafin bibi Non, bibi takut sama Tuan." 

__ADS_1


Tubuh Freya langsung lemas seketika. Ia sudah tertangkap basah dan tidak ada jalan untuk kabur dari Alano. 


...BERSAMBUNG.....


__ADS_2