
Freya sudah berlari keluar meski papanya terus memanggilnya, bahkan Alano pun tak bisa untuk mencegahnya. Sejujurnya bukan tak bisa, tapi lebih tepatnya Alano ingin membiarkan Freya menenangkan diri. Hanya itu yang bisa Alano lakukan untuk Freya karena di sisi lain Alano juga tidak ingin terang-terangan menentang keputusan papa mertuanya.
Setelah berpamitan pada Hartono dan meminta maaf atas nama Freya, Alano bergegas untuk menyusul Freya. Jika suasana hati Freya sedang kacau seperti sekarang, tidak ada tempat lain yang akan gadis itu kunjungi selain makam almarhum mamanya.
Namun saat dalam perjalanan menuju kesana, Alano tiba-tiba mendapat telpon dari Toni.
"Ada apa Ton?"
"Kita berhasil mendapatkan wanita itu bos."
"Serius, dimana dia sekarang?" tanya Alano penuh semangat. Kini sedikit demi sedikit ia bisa menguak siapa pelakunya.
"Maaf bos, ta-pi dia.. Dia sudah meninggal," jawab Toni lemah karena ia tahu jika jawabannya pasti akan memicu kemarahan Alano.
Refleks Alano langsung membanting setirnya ke kiri dan mengerem secara mendadak.
"Kita terlambat bos, saat anak buah kita sampai di rumah wanita itu, dia sudah tergeletak di lantai. Polisi menduga jika dia bunuh diri karena mereka tidak menemukan tanda-tanda bekas luka," jelas Toni.
"Tidak mungkin jika semua ini hanya kebetulan, mereka pasti sudah menghabisinya lebih dulu untuk menghilangkan barang bukti. Kurang ajar!" Alano memukul setir mobilnya untuk meluapkan amarahnya. Andai saja pelakunya sekarang ada di hadapan Alano, Alano akan langsung membunuhnya hanya dalam hitungan detik. Tidak akan ada pertimbangan apapun karena dia sudah berani bermain-main dengan nyawa orang yang tidak bersalah.
Melihat begitu nekadnya tindakan sang pelaku, sejenak Alano justru meragukan tuduhannya pada Citra. Selama beberapa kali bertemu wanita itu, dia sama sekali tidak menunjukkan gelagat mencurigakan.
"Siapa sebenarnya dia, siapa yang sudah mengincar Freya dan siapa yang menyimpan dendam padanya. Jika bukan karena dendam, dia tidak akan berbuat sejauh ini?" gumam Alano.
Tak ingin membuang waktu, Alano kembali melajukan mobilnya untuk menjemput Freya. Meski gadis itu membawa mobil sendiri, tapi sangat berbahaya jika ia membiarkan Freya pergi seorang diri.
***
"Kita harus segera mempercepat rencana kita sebelum ada yang mencurigai."
"Ma.. Mama…" teriak seorang gadis memanggil mamanya.
Wanita tadi buru-buru menutup telponnya lalu bangkit menghampiri putrinya.
"Iya sayang, kenapa?"
__ADS_1
"Ma, Prisa mau keluar sama temen-temen boleh ya?"
Wanita yang tidak lain adalah Citra mencoba mempertimbangkan permintaan anaknya sambil melirik jam yang melingkar di tangannya.
"Ini udah jam 8, mau kemana malem-malem begini?"
"Biasa ma, temen Prisa ulang tahun dan dia mau traktir teman-temennya. Boleh ya, Prisa janji nanti kalau udah selesai Prisa langsung pulang."
Citra terdiam sejenak.
"Boleh ya ma, please…"
"Ponselnya nggak boleh dimatiin ya dan kalau mama telpon kamu harus angkat. Pokoknya mama akan pantau kamu dari rumah."
"Siip. Prisa berangkat ya ma?" teriak Prisa sambil melambaikan tangan kearah mamanya.
"Janji ya?"
"Iya."
Begitu melihat Prisa keluar, Alano mencoba mengikuti kemana perginya gadis itu.
"Mau kemana dia?" gumam Alano.
Mobil yang membawa Prisa akhirnya berhenti di sebuah club malam. Namun Prisa tidak keluar sendiri, di dalam mobil ternyata sudah ada temen-temennya dan rata-rata mereka juga mengenakan baju yang seksi seperti yang dikenakan Prisa.
Alano hanya tersenyum sinis saat melihat mereka. Sedikitpun Alano tidak tertarik dengan tubuh mereka meskipun ada beberapa bagian yang secara sengaja di ekspose.
Saat mereka sudah memasuki club, Alano mulai bimbang antara harus ikut masuk atau menunggu mereka di luar.
Akhirnya setelah berpikir cukup lama, Alano memutuskan untuk masuk. Entah kenapa begitu Alano masuk, tempat seperti ini seakan sudah tidak lagi menarik. Padahal dulu sebelum ia menikah, ia sering menghabiskan malamnya di tempat seperti ini hanya untuk sekedar minum. Sekalipun Alano tidak pernah mau disentuh oleh wanita-wanita yang berada disini karena pada dasarnya Alano memang tidak menyukai para wanita dengan label 'murahan'
Cukup lama Alano memantau mereka, namun sama sekali tidak ada hal yang mencurigakan, mereka terlihat menikmati suasana malam tanpa membahas sesuatu yang berhubungan dengan teror itu.
Alano akhirnya memutuskan untuk pulang saat jam dipergelangan tangannya menunjuk ke arah angka 11 lebih 23 menit. Namun saat Alano sampai di mobil dan ia hendak menjalankan mobilnya, ia melihat Prisa keluar dengan tubuh sempoyongan. Awalnya Alano mengabaikannya dan ia sudah menjalankan mobilnya, tetapi saat Alano melirik ke kaca spion ia melihat ada dua orang pria yang menggoda Prisa.
__ADS_1
Mengingat kenangan buruknya dengan Freya, Alano ragu untuk menolong Prisa. Tapi Alano melihat dengan jelas jika kedua pria itu sudah menarik paksa Prisa dan tidak ada satu orang pun yang menolongnya.
Akhirnya Alano memundurkan mobilnya hingga nyaris menabrak kedua pria yang menggoda Prisa. Begitu turun, Alano langsung menghajar kedua orang itu habis-habisan hingga wajahnya babak belur. Bagi Alano tidak ada ampun bagi pencundang seperti mereka.
Dengan susah payah Alano memapah Prisa dan membawanya masuk ke mobilnya. Beruntung kali ini Alano sudah tahu alamat Prisa, ia tidak mau mengambil resiko yang sama seperti yang pernah terjadi pada Freya.
Di dalam mobil Alano mencoba menggali informasi dari Prisa. Keadaan Prisa yang seperti itu sangat menguntungkan bagi Alano karena kemungkinan untuk berbicara jujur sangatlah besar.
"Prisa, lo tau kan gue siapa?" tanya Alano.
Prisa tertawa sambil memicingkan matanya saat menatap Alano. "Hehehe.. Lo tu calon suami gue, pria idaman gue.. Tapi sayang, wanita itu itu udah lebih dulu rebut lo dari gue."
Alano mengerutkan dahinya. "Wanita tua, siapa yang kamu maksud wanita tua?"
"Siapa lagi, istri lo tu."
Alano terkekeh pelan saat tahu jika wanita tua yang disebutkan Prisa adalah Freya. Ia tidak membenarkan tapi juga tidak menyangkal ucapan Prisa karena jika dilihat dari sudut yang berbeda setiap orang pasti punya penilaiannya sendiri. Namun itu terdengar lucu.
"Terus kalau lo nggak suka sama Freya kenapa sekarang malah mau jadi saudara tirinya?" tanya Alano lagi.
"Sebenarnya gue juga ogah, itu kan keinginannya mama."
"Kenapa lo nggak nolak sama seperti Freya?"
"Gue mah bodo amat, lagian dari gue bayi gue juga nggak tau siapa papa gue. Jadi selama Om Hartono baik sama gue sama mama, gue terserah mama."
Alano menjeda pertanyaannya. Karena fakta yang baru saja ia dengar sudah cukup mengejutkannya.
"Gue juga pengen punya papa. Dulu waktu gue kecil, gue sering diledekin katanya gue ini anak haram. Dan sepertinya tuduhan itu bener karena sampai sekarang mama nggak bisa nunjukin foto papa bahkan namanya pun mama nggak mau ngasih tau." Lagi lagi Prisa menambahkan kekehan kecil setiap ia selesai berbicara.
...BERSAMBUNG......
Spil visualnya Shaquil Alano dulu ya, yang suka jangan lupa untuk kasih like 😍
__ADS_1